Minggu, 04 Oktober 2026

Lulus, Cilok dan Ya Udah Saya Bingung Mau Ngasih Judul Apa.

Sebulan lalu saya habis ujian kompetensi. Soal-soal latihannya saya pelajari dari ChatGPT. Jadi selama beberapa waktu saya merasa sudah belajar cukup serius.

Lalu tibalah hari ujian. Ujian dimulai pukul 12.30 WIB. Saya tidak sempat makan siang. Itu kesalahan pertama. Masuk ruang ujian, mulai membaca soal. Lima menit pertama masih optimis. Lima belas menit kemudian mulai pusing. Setengah jam kemudian mulai bertanya-tanya apakah selama ini saya benar-benar belajar atau hanya rajin membuka soal. Wkwkw. 

Jam 15.45 WIB, asam lambung saya naik. Akhirnya saya keluar sebelum waktu ujian habis. Bukan karena sudah yakin semua jawabannya benar. Justru karena saya berpikir “Kalau saya baca ulang soal ini lima kali pun, kalau otak saya tidak tahu jawabannya, ya tetap tidak tahu. Kita tidak perlu mempermalukan diri sendiri lebih lama.” Wkwkwk.

Sampai perjalanan pulang naik kereta pun saya masih pesimis. Rasanya ingin menangis. Tapi bingung juga mau menangisi apa. Toh saya sudah mengerjakan semampunya.

Akhirnya saya beli cilok ayam. Ciloknya habis. Sedihnya masih. Saya ketiduran. Singkat padat, sampai rumah.

Lalu beberapa waktu kemudian pengumuman keluar. Ternyata saya lulus. Dan bukan sekadar lulus. Nilainya lumayan besar. Alhamdulillah.

Sampai sekarang saya juga tidak tahu harus mengambil hikmah apa dari kejadian ini. Apakah ini tentang jangan menyerah? Tentang percaya pada proses? Tentang tetap tenang menghadapi ujian? Entahlah.

Yang saya tahu, pada hari ujian saya sudah berusaha belajar. Saat ujian saya sudah mengerjakan sebisa saya. Saat merasa tidak sanggup, saya pulang. Saat pesimis, saya makan cilok. Saat lelah, saya tidur. Dan ternyata lulus.

Jadi untuk sementara saya tidak akan memaksakan diri mencari makna kehidupan dari semua ini. Saya sedang bahagia. Saya mau menikmati saja. Toh tidak semua kejadian harus menghasilkan kebijaksanaan. Ada juga yang cukup menghasilkan, Alhamdulillah, ternyata lulus.

Dan hari ini saya sedang menikmati kebahagiaan sederhana itu. Sambil tetap sedikit curiga pada sistem penilaian manusia. Karena kalau setelah keluar ujian dengan perasaan hancur ternyata nilainya bagus, berarti yang bermasalah mungkin bukan kemampuan saya. Mungkin memang saya saja yang dramatis.



-Saya pasti pulang-
Share:

Sabtu, 03 Oktober 2026

Muka Saya Bergaris Tiga?

Di postingan sebelumnya saya menulis mengenai adidas yang menuai kecaman publik dan seruan boikot global pada September 2026 setelah melibatkan mantan tentara Israel (IDF), Shalev Biton, dalam kampanye iklan lokal untuk layanan "Single Shoe Service" di Israel.
 
Hubungannya dengan saya? Saya penyuka barang yang casual sporty. Ketika membeli sepatu kerja, misalnya, saya berpikir bahwa sepatu itu minimal harus enak dipakai jalan jauh.

Karena saya kerja di lapangan? Noooo. Kerja saya duduk 8 jam. Tapi ada saat-saat tertentu ketika saya banyak bergerak. Misalnya saat dinas luar. Biasanya sesi olahraga harian saya ganti dengan jalan-jalan pagi atau malam di tempat-tempat yang agak jauh dari hotel, tetapi saya tempuh dengan berjalan kaki. Bisa 3–5 km sekali jalan. Males kalo harus bawa sepatu double. 

Kenyamanan tetap menjadi pertimbangan saya ketika memilih sepatu. Berbagai merek sport juga pernah saya beli. Sebut saja Puma, Nike, Adidas, 910, Skechers, dan lain-lain.

Biasanya sudah saya keranjangin lama, kemudian saya checkout ketika memang sedang butuh dan kebetulan diskonnya besar. 

Nah, pernah ada kejadian, waktu melewati Sport Station, teman saya tiba-tiba nyeletuk, “Aku kalau lihat kamu tuh Adidas banget. Tiap lihat Adidas apa pun, itu kamu banget. Entah kenapa aku selalu mikir kamu yang pakai.”

Kemudian menjelang tidur, kami ngobrol lagi. Dan pembahasan itu kembali muncul ketika dia sedang scroll HP. “Lihat sepatu ini. Ini kamu banget.”

Apa sih? Muka aku bergaris tiga? Wkkwkw. Akhirnya saya minta penjelasan.

Jadi, kata teman saya, Adidas itu punya karakter desain yang khas. Casual, sporty, tetapi tetap clean. Banyak desainnya mengambil bentuk klasik atau retro, tetapi tidak terasa kuno. Sederhana, tetapi tetap punya karakter.

Bukan tipe desain yang terlalu ramai, terlalu feminin, terlalu mewah, atau terlalu berusaha kelihatan keren. Ada kesan effortless. Dipakai olahraga bisa. Dipakai jalan-jalan bisa. Dipadukan dengan outfit casual juga masuk. Dan katanya, entah kenapa, karakter seperti itu yang dia lihat pada saya.

Saya suka sesuatu yang nyaman dan fungsional, tetapi tetap enak dilihat. Tidak harus mengikuti tren. Tidak harus kelihatan mahal. Tidak harus mencolok. Apa ya kalimat yang pas. Saya suka sesuatu yang punya karakter, tetapi tidak berisik. Nah. 

Dan ternyata, itu yang menurut dia terasa “Adidas banget.” Yang lucu, justru Adidas bukan merek yang paling sering saya beli. Wkwkkw. 

Jadi kesimpulannya, saya bukan penggemar Adidas. Saya cuma berkepribadian Adidas. Dan sekarang saya jadi penasaran. Jangan-jangan teman saya sebenarnya bukan sedang mengenali selera saya. Tapi sedang mengiklankan Adidas kepada saya secara personal.

Kalau besok saya tiba-tiba beli Samba, berarti marketingnya berhasil. Wkkwkw. 



-Saya pasti pulang-
Share:

Single Shoe Service

Ini malam minggu tapi postingan ini agak serius. Saya tulis karena saya agak "akrab" dengan brand ini. 

Ada kalanya sebuah iklan dimaksudkan untuk terlihat inklusif, tetapi justru jatuh pada momen dan konteks yang membuatnya terasa sangat tidak sensitif. Itulah yang terjadi pada Adidas pada September 2026. Perusahaan ini menuai kecaman dan seruan boikot setelah melibatkan Shalev Biton, mantan anggota militer Israel (IDF) yang kehilangan satu kakinya, dalam promosi lokal “Single Shoe Service” di Israel. Layanan tersebut pada dasarnya ditujukan bagi orang yang hanya membutuhkan satu sepatu karena memiliki perbedaan atau kehilangan anggota tubuh.

Di atas kertas, idenya terdengar sederhana, bagaimana kalau orang tidak harus membeli sepasang sepatu ketika memang hanya membutuhkan satu?

Masalahnya bukan sesederhana itu.

Iklan tersebut muncul ketika perang di Gaza masih menjadi sumber kontroversi dan penderitaan kemanusiaan yang sangat besar. Bagi banyak warga Palestina dan mereka yang menyoroti kondisi di Gaza, menjadikan amputasi seorang mantan tentara Israel sebagai bagian dari materi promosi terasa sangat problematis. Terlebih lagi, kehilangan anggota tubuh bukanlah isu yang abstrak bagi warga Gaza.

WHO dan PBB telah melaporkan tingginya jumlah warga Gaza yang mengalami amputasi akibat konflik, termasuk anak-anak. Karena itu, sesuatu yang mungkin dimaksudkan Adidas sebagai kampanye inklusivitas bagi penyandang disabilitas dapat dibaca sangat berbeda ketika ditempatkan dalam konteks tersebut.

Kritik pun berkembang lebih jauh. Sejumlah pihak menilai kampanye itu berpotensi memberikan kesan bahwa pengalaman seorang mantan tentara Israel sedang dijadikan simbol inspiratif, sementara pada saat yang sama terdapat ribuan warga Palestina yang mengalami kehilangan anggota tubuh dalam situasi perang. Israel sendiri tengah menghadapi tuduhan genosida terkait tindakannya di Gaza, tuduhan yang menjadi bagian dari proses hukum dan perdebatan internasional yang masih berlangsung.

Lalu media sosial melakukan apa yang biasanya dilakukan sebagai tupoksinya. Memperbesar semuanya.

Seruan boikot menyebar, kritik bermunculan, dan Adidas akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf. Perusahaan menjelaskan bahwa iklan tersebut merupakan inisiatif tim lokal Adidas di Israel, bukan bagian dari kampanye pemasaran global. Adidas juga menegaskan bahwa “Single Shoe Service” memang dibuat dengan tujuan inklusivitas dan untuk memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas.

Dan mungkin di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Sebuah program bisa saja memiliki niat inklusif. Sebuah layanan bisa saja benar-benar bermanfaat. Tetapi komunikasi publik tidak pernah hanya soal niat. Ia juga soal konteks, siapa yang ditampilkan, kapan pesan itu disampaikan, dan bagaimana pesan tersebut akan diterima oleh orang-orang yang hidup dalam realitas yang berbeda.

Karena kadang-kadang, masalahnya bukan pada satu sepatu.

Masalahnya adalah pada cerita tentang siapa yang kehilangan kaki, bagaimana kaki itu hilang, dan siapa yang sedang diminta melihat kisah tersebut sebagai sesuatu yang inspiratif.


-Saya pasti pulang-
Share:

Jumat, 02 Oktober 2026

Tidak jadi belajar APi

Hari ini niatnya belajar API. Ternyata nggak jadi. Karena sebelum belajar API, saya harus bikin nama aplikasi yang memakai API tersebut. Nah. Di sinilah saya tersesat.
Karena ini aplikasi pemerintahan, namanya tidak boleh nyleneh. Harus terdengar resmi, masuk akal, punya kepanjangan yang jelas, tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek, dan yang paling penting aman dibawa rapat pimpinan.

Akhirnya saya googling. Cari inspirasi nama aplikasi pemerintahan. Tidak ketemu.

Saya tanya AI. AI memberikan banyak sekali pilihan. Saya baca satu-satu.

Lalu mulai muncul pertanyaan-pertanyaan yang semakin tidak berhubungan dengan API. “Jumlah suku katanya berapa?”, “Enak nggak kalau disebut dalam rapat?”, “Ada aura pemerintahannya nggak?”, “Aura pemerintahannya biru atau navy?”, “Sky blue?” “Biru aja ternyata banyak banget versinya. Idih.”

Lalu saya mulai mikir warna. Aplikasi terakhir, saya berhasil memaksa atasan menerima warna pilihan saya, pink. Kali ini kayaknya saya nggak bisa maksa lagi. Kalau saya bikin hitam aja gimana? Biar garang. Grrrrrr. Tapi takutnya malah dikira aplikasi penjualan organ. Hueeeee.

Akhirnya balik lagi ke AI. “Nama ini aman nggak dibawa rapat pimpinan?” Karena ini bagian yang paling dag-dig-dug. Saya sebenarnya nggak terlalu suka direvisi. Ya, semua orang juga nggak suka direvisi, sih. Tapi saya punya spesifikasi tambahan, Saya tidak suka aplikasi buatan saya direvisi bagian tampilannya.

Karena kalau saya sudah menentukan tampilan, biasanya di kepala saya sudah ada dunia kecilnya sendiri. Misalnya saya bikin tema Sailor Moon. Ya mohon diterima saja, Pak. Yang penting aplikasinya berjalan dengan baik, sesuai fungsi, datanya benar, API-nya nyambung, dan tidak error. Kenapa yang dipermasalahkan warna? Toh Sailor Moon juga menyelamatkan dunia.

Akhirnya hari ini saya tidak belajar API. Saya belajar bahwa membuat aplikasi pemerintahan itu ternyata dimulai dari mencari nama, menghitung suku kata, membaca aura warna, mempertimbangkan persepsi publik, memprediksi ekspresi pimpinan, dan berdamai dengan kemungkinan revisi.

API-nya? Besok saja. Kalau nama aplikasinya sudah ketemu. Kalau belum ya udahlah buat nama apliksinya API, kalo ditanya kepanjangannya ya yang sebenarnya saja. Aku Pusing Ini. API. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Text Di Belakang Truk : Lupa Nama, Ingat Rasa.

Hari ini aku berangkat ke kantor naik sepeda. Jarak rumah ke kantor sekitar 3,5 km. Kok tahu? Kalo kamu nanya kenapa saya tahu jarak dengan detail tanpa buka map tanpa pakai skala peta, artinya kamu nggak deket-deket banget sama saya. Idih, paragraf pertama udah pick me banget emang saya. Wkwkkw. 

Dari rumah ke kantor, kalau jalan kaki 30–40 menit. Naik motor 7 menit. Naik mobil 12 menit. Naik sepeda ternyata 20 menit saat berangkat dan 34 menit saat pulang.

Ngapain dihitung? Ya nggak tahu. Otak saya memang suka begitu. Hal-hal random bisa tiba-tiba dianggap penting dan dicatat dengan sangat serius. Jarak. Waktu tempuh. Perbandingan. Selisih. Pola.

Kenapa waktu tempuh yang diperlukan ketika berkendara dengan sepeda saat pulang lebih lama 14 menit daripada berangkat? Menarik. Tapi nama orang? Bisa hilang dalam hitungan detik. Dan ini bukan teori.

Saya pernah dimarahi seorang pejabat gara-gara saya tidak tahu nama beliau. “Masak kamu nggak tahu nama saya?”. Dalam hati saya bilang, sumpah, enggak tahu. Kenapa saya harus tahu?

Bukan karena saya meremehkan beliau. Bukan karena saya merasa beliau tidak penting. Memang otak saya tidak otomatis menyimpan nama orang hanya karena orang tersebut pejabat. Faktanya, saya sebenarnya bisa ingat detail lain.

Saya bisa ingat orang itu datang kapan, duduk di mana, pakai baju apa, ngomong soal apa, bahkan mungkin ingat urutan percakapannya. Tapi namanya? Hilang.

Seolah-olah otak saya punya sistem penyimpanan yang agak aneh. Informasi yang punya pola disimpan. Angka dan waktu disimpan. Hal random yang sebenarnya tidak berguna, simpan dulu siapa tahu berguna. Nama manusia yang baru saja memperkenalkan diri, kita putuskan nanti. 

Makanya kadang orang mengira saya sombong. Padahal saya bukan tidak memperhatikan orang. Saya justru sering memperhatikan terlalu banyak hal. Hanya saja perhatian saya tidak selalu diarahkan ke hal yang dianggap penting oleh orang lain.

Buat saya, “Desi” itu cuma nama. Tapi kalau bilang, Desi yang kemarin datang jam 9, pakai blouse lurik, duduk dekat printer, terus ngomong soal pagu TPPnya tidak keluar.

Otak saya, ohhh Desi Ratnasari. Datanya langsung ketemu. Jadi kalau suatu hari saya lupa nama kamu, mohon jangan tersinggung. Bisa jadi saya masih ingat banyak hal tentang kamu.

Hanya saja nama kamu tidak lolos sistem seleksi internal. Bukan sombong. Ini sistem informasinya memang kacau. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 01 Oktober 2026

Empat Anak Tangga

Gara-gara turun gunung sambil lari, lututku linu dan sakit bukan main. Awalnya kupikir, “Ah, paling capek biasa.” Ternyata bukan. Jalan biasa masih aman. Lancar. Bahkan kalau cuma jalan dari parkiran ke kantor, lutut masih bisa diajak kerja sama. Masalahnya muncul kalau lutut harus menanggung beban.

Squat? Linu. Naik turun tangga? Linu. Sampai kemudian harus menekan gas mobil saat macet di tanjakan. Selain linu, sakit bukan main dan mobilnya mundur! 

Untung ruanganku di lantai 1. Tapi jangan salah. Untuk masuk kantor, ternyata ada 4 anak tangga menuju ruangan. Empat. ANAK. TANGGA. Yang kalau lutut sedang sehat, keberadaan mereka bahkan tidak pernah tercatat dalam sejarah hidupku.

Sekarang? Setiap pagi dan sore, empat anak tangga itu terasa seperti pendakian menuju puncak Everest. Naik satu. Tarik napas. Naik dua. Evaluasi kehidupan. Naik tiga. Mulai mempertanyakan keputusan ikut lari waktu turun gunung. Naik empat. Pengen pulang. Wkwkwk.

Karena sudah nggak tahan, akhirnya pergi ke dokter. Diagnosisnya Patellofemoral Pain Syndrome. Dokter juga memberikan salep yang mengandung diclofenac sodium untuk membantu meredakan nyeri. Dan ini bagian yang membuatku merasa seperti menemukan cheat code kehidupan. Begitu lutut mulai linu, segera oles. Beberapa saat kemudian dunia normal kembali.

Jadi sekarang aku sedang belajar bahwa ternyata usia 40 itu bukan berarti nggak boleh lari, nggak boleh naik gunung, atau nggak boleh olahraga. Boleh. Tapi mungkin tubuh mulai punya aturan baru “Boleh, tapi jangan sok jago.” Wkwkwkw.

Dan ternyata benar. Dulu empat anak tangga cuma tangga. Sekarang empat anak tangga adalah personal trainer gratis yang setiap pagi menguji mental. Semoga lutut segera pulih. Karena aku masih punya banyak rencana olahraga. Tapi untuk sementara, biarkan Everest yang di kantor itu kulewati dengan penuh kehormatan. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Rabu, 30 September 2026

Bukan Babi

Temanku sedang punya masalah dan bilang, kalo dia sedang tidak ingin diganggu. Lah? Dia yang hubungin duluan, dia yang cerita duluan, lantas ditutup dengan tidak ingin diganggu. Memangnya aku pengganggu? Apakah selama ini aku diam-diam bekerja sebagai petugas gangguan? Apakah keberadaanku mengganggu ketertiban umum?

Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin dia cuma sedang butuh ruang. Bukan sedang membuat pengumuman bahwa aku adalah gangguan bagi kehidupan manusia.

Gara-gara itu, aku teringat masa SMA. Dulu aku pernah diputusin pacar dengan alasan, maaf ya ki kita ga bisa nerusin, soalnya pacaran itu haram. Heh, semprul kali kau. Dan sebagai anak SMA yang belum punya kemampuan analisis kehidupan yang memadai, rasanya seperti, hah? Pacaran haram? Aku haram? Aku bukan babi. Lalu ketika seminggu kemudian doi minta balikan karena nggak kuat menahan rindu yang menggebu, ceileh, aku bilang dengan singkat padat penuh emosi, dengan satu tarikan nafas, Domain Expansion! Nggak dulu, makasih! End! 

Sebenarnya aku paham. Tapi mungkin karena siang tadi dan saat SMA itu aku mendadak emosi mendengar hal-hal semacam itu, jadi aku menyimpulkan hal yang agak belok. 

Tidak semua orang yang menjauh sedang mengatakan bahwa saya buruk, mengganggu, tidak layak, atau tidak cukup baik. Kadang mereka cuma sedang punya masalah. Kadang mereka memang cuma sedang ingin sendiri. Kadang ya mereka memang makhluk brengsek yang terfilter oleh Allah dengan kata-kata dari mulut dan kelakuan mereka sendiri. Dan itu tidak harus menjadi referendum tentang harga diri saya.

Tapi satu hal perlu diluruskan. AKU BUKAN PENGGANGGU. DAN AKU BUKAN BABI.


-Saya pasti pulang-
Share:

Selasa, 29 September 2026

Dream Body. Catatan Sebelum Tidur Supaya Besok Tidak Lagi Lagi Makan Tahu Isi 5 Biji.

Yep, saya habis makan tahu isi 5 biji. Lalu kolesterol? Tentu tidak. Tapi ah gimana ya. 

Saya sudah punya dream body sejak puber. Dulu, Britney adalah salah satu role model saya dalam urusan dream body. Saya suka tubuh yang skinny, tapi berotot. Perut yang defined, lengan yang terlihat kuat, badan yang ramping tapi nggak ringkih.

Cuma dulu agak malu mengakuinya. Karena setiap kali ngomong soal perempuan dengan otot perut atau lengan yang berisi otot, respons beberapa teman perempuan saya kurang lebih, “Iyuh.” Jadi ya sudah. Saya simpan saja sebagai selera pribadi. 

Lucunya, bertahun-tahun kemudian dunia berubah. Medsos membuat saya dengan mudah menemukan perempuan-perempuan dengan abs yang grrrr. Sangar. Kuat. Ramping. Dan bukannya “iyuh”, saya malah mikir, “Nah. Ini dia.”

Ternyata selera saya nggak berubah. Dream body saya dari dulu bentuknya masih itu-itu juga: skinny, tapi berotot. Ini penting untuk dibedakan. Saya mau skinny, bukan skinny karena kurang makan.

Karena buat saya, tubuh yang bagus bukan cuma soal angka di timbangan. Saya suka tubuh yang terlihat ringan, tapi punya tenaga. Ramping, tapi kuat. Feminin, tapi grrrr.

Dan saya pernah mewujudkannya. Jadi saya tahu ini bukan sekadar angan-angan. Saya pernah sampai di sana. Tinggal jalan pulang lagi. Pelan-pelan.

Kali ini juga nggak perlu dipamerkan ke siapa-siapa. Saya cuma ingin melihat diri sendiri di kaca dan berpikir, “Yep. There she is.”

Dan kalau nanti saya jadi terlalu sering ngaca, ya maaf. Cara saya menikmati hasil kerja keras saya sendiri ya Ngaca teroooosss. 

-Saya pasti pulang-
Share:

Senin, 28 September 2026

Ketika Smartwatch Mengabarkan Bahwa Hidup Saya Puas

Belakangan ini smartwatch-ku mulai aneh. Kemarin muncul notifikasi “Bahagia.” Hari ini muncul lagi “Puas.” Sejak kapan smartwatch ikut menilai kehidupan emosional pemiliknya? Setahuku selama ini kerjaannya cuma ngasih tahu “Sudah 7.000 langkah.” “Detak jantung sekian.” “Tidurmu kurang.” “Kalori terbakar sekian.” Sekarang tiba-tiba naik level menjadi “Kamu bahagia.” Waduh.

Yang bikin aku makin notice, di versi sebelumnya aku nggak pernah melihat notif semacam ini. Jadi ketika sekarang muncul kata “Bahagia” dan “Puas”, rasanya seperti Huawei sedang mencoba masuk ke wilayah yang selama ini bahkan aku sendiri kadang bingung menjawabnya. Sekarang tiba-tiba dia ikut memberi komentar tentang perasaanku. Wah. Berani juga. Wkwkw.

Setelah cari tahu, ternyata smartwatch ini tidak sedang membaca pikiran. Fitur tersebut menggunakan berbagai data aktivitas dan kondisi tubuh untuk memberikan gambaran mengenai emotional wellbeing. Jadi kurang lebih pesannya bukan “Saya tahu isi hatimu.”. Melainkan “Dari data yang saya punya, sepertinya hidupmu sedang cukup baik.”

Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu membuatku berhenti sebentar. Mungkin memang iya. Mungkin akhir-akhir ini aku sedang bahagia. Bukan bahagia yang perlu diumumkan. Bukan bahagia yang harus terlihat sempurna di media sosial. Bukan juga bahagia yang berarti hidup sedang bebas masalah. Lebih seperti rasa nyaman karena akhirnya tidak terlalu sibuk melawan hidup.

Aku mulai bisa menikmati hal-hal kecil tanpa merasa semuanya harus punya makna besar. Kopi tetap kopi. Kucing tetap kucing. Pekerjaan ya dikerjakan. Kalau ada yang tidak perlu ditanggapi, ya tidak ditanggapi. Kalau ada yang bukan kewenanganku, ya bukan urusanku. Kalau ada orang yang salah paham tentang aku, ya ternyata dunia tetap berputar. Dan mungkin di situlah letak kepuasannya.

“Puas.” Bukan berarti hidup sudah sempurna. Hanya saja, mungkin aku sudah tidak menuntut hidup untuk menjadi sempurna agar aku bisa menikmatinya. Dan kalau dipikir-pikir lagi, itu cukup keren. Karena ternyata menjadi dewasa bukan selalu tentang punya lebih banyak. Kadang justru tentang lebih sedikit hal yang perlu kita pedulikan. Lebih sedikit drama. Lebih sedikit pembuktian. Lebih sedikit kebutuhan untuk menjelaskan diri. Lebih sedikit keinginan untuk memenangkan semua perdebatan. Dan lebih banyak ruang untuk hidup. Jadi, Huawei, Terima kasih atas analisisnya. Saya terima.

Untuk sekali ini, mesin dan perasaan saya ternyata sepakat. Tapi kalau besok notifikasinya berubah menjadi “Stres”, kita perlu duduk dan evaluasi ulang. Bisa jadi bukan hidup saya yang bermasalah. Bisa jadi cuma ada orang yang mulai bikin saya ingin mematikan notifikasi. Atau, paling realistis belum minum kopi.


-Saya pasti pulang-
Share:

Ternyata Si Jutek Ini Punya Hidden Talent Yang Selama Ini Disembunyikan Negara

Belakangan ini saya sedang punya proyek pribadi membuka diri selebar-lebarnya untuk mencoba banyak hal baru. Salah satunya adalah menantang diri sendiri untuk nyanyi dan dance di sebuah acara kantor yang isinya teman cewek semua.

Selama ini kalo acara kantor, jangankan dance, nyanyi aja saya ogah. Saya tahu suara saya nggak jelek-jelek amat, tapi aduh gimana ya. Malu! Teman-teman saya satu per satu maju. Nyanyi lagu Nusantara. Anggun. Syahdu. Penuh penghayatan.  Pokoknya aura perempuan Indonesia yang kadang lucu  dan gemas juga kalo joget dangdut. Lalu tiba-tiba saya maju kedepan. Musik berubah. K-POP. Dan saya mulai dance.

Saya sempat melihat sekeliling. Saya bisa melihat beberapa pasang mata langsung terbelalak. Mungkin dalam hati mereka "Ini Rizki? Yang biasanya diem? Yang mukanya kayak lagi menolak proposal? Kok sekarang malah dance?" Wkwkw.

Manusia memang punya banyak versi. Ada versi yang serius. Ada versi yang ngoding. Ada versi yang suka ngopi dan baca buku. Dan ternyata ada juga versi yang bisa tiba-tiba K-Pop dance di tengah lagu-lagu Nusantara. Sejujurnya, saya sering dance dirumah, didepan kaca. Dan saat ini saya sedang belajar untuk tidak terlalu membagi image tentang diri sendiri dikantor atau dirumah atau ketika didepan teman akrab. Sudah saya bilang, saya mau apa adanya, seadanya. Saya hampir berhasil melakukannya. 

Selama ini kalian hanya mengenal versi kantor saya. Kalian belum mendapatkan DLC-nya. Ternyata di balik wajah datar, gaya hidup kalem, dan aura “tolong jangan ganggu kalau tidak penting”, dirumah saya sering ikut-ikutan dance ala penyanyi didepan kaca. Ciaaaa ketipu banget. Wkwk.

Dan ternyata menyenangkan juga sesekali menghancurkan ekspektasi orang terhadap diri saya sendiri. Selama ini mungkin saya terlalu sibuk menjadi versi diri yang dianggap “saya banget”. Sekarang saya sedang belajar, Kalau mau serius ya udah serius. Kalau mau diem ya saya yang 70% memang diem. Kalau mau jutek, ya memang bawaan lahir kalo itu sih. Tapi kalau tiba-tiba mau nyanyi dan dance? YA GAS.

Karena ternyata hidup terlalu singkat kalau saya cuma mau melakukan hal-hal yang sesuai dengan image yang selama ini melekat pada diri saya. Kadang saya memang perlu sedikit keluar jalur, mencoba sesuatu yang bahkan tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan sendiri. Dan ternyata, rasanya seru juga melihat orang-orang terkejut ketika saya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga. 

Dan kalau masih ada yang tidak percaya bahwa saya bisa dance. Silakan. Saya juga masih dalam tahap percaya diri. Tapi hari itu saya mendapat validasi yang cukup berbahaya. Dance saya di-approve oleh teman saya yang memang jago banget dance. Nah, kalau sudah dapat approval dari ahlinya, kayaknya saya punya alasan untuk sedikit sombong. Ternyata selama ini bukan nggak bisa dance. Cuma belum menemukan momentum untuk mempermalukan diri sendiri di depan umum. Wkkwkw

So, here I am, Si jutek sedang keluar dari zona nyaman, menghancurkan image sendiri, dan apparently. Ready to rock the world. Wkwkwk.


-Saya pasti pulang-
Share:

Ternyata, Bisa Menolak Juga Sebuah Keahlian

Hari ini saya merasa bangga pada diri sendiri.

Bukan karena mendapat pujian soal seberapa cepat saya bekerja, seberapa banyak yang bisa saya kerjakan, atau prestasi-prestasi semacam itu di tempat kerja. Justru karena sesuatu yang kelihatannya sederhana. Saya dianggap paling bisa untuk menolak. Wkwkkw.

Hari ini dalam rapat, atasan saya menjelaskan bahwa bidang dimana saya ditempatkan diminta bekerja sama dengan salah satu dinas. Dari pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, ketika bekerja sama dengan dinas ini, permintaan bekerja sama ini kadang melampaui batas kewenangan yang seharusnya bidang saya kerjakan. Bidang saya jadi repot sendiri padahal pekerjaan itu bukan kewenangan di bidang saya. Karena tidak ada hubungannya dengan aplikasi, pada awal rapat saya tidak menduga atasan saya akan memilih saya sebagai perwakilan dari bidang.

Saya mengernyit. Atasan saya tahu pasti bahwa keputusan itu membuat banyak pertanyaan di kepala saya. Atasan saya memberikan alasan kenapa saya yang dipilih padahal pekerjaan ini tidak berkaitan dengan aplikasi. Dia bilang, karena saya paling bisa menolak. Jika dinas tersebut meminta untuk bekerja diluar kewenangan bidang, hanya saya yang bisa menolak dengan tegas. Wow.

Saya spontan tertawa, teman-teman yang lain mengangguk-mengangguk. Beberapa mengiyakan. Beberapa menceritakan kembali bagaimana permintaan dinas tersebut di tahun-tahun sebelumnya selalu di iyakan dan berakhir dengan kerepotan pada bidang saya. Dan entah kenapa, mendengar itu rasanya menyenangkan sekali.

Dari dulu saya memahami bahwa justru salah satu bentuk profesionalitas adalah tahu apa yang memang menjadi tanggung jawab saya, dan apa yang seharusnya dikembalikan kepada pemilik kewenangannya.

Bukan menolak untuk lepas tangan. Bukan pula karena tidak mau membantu. Tetapi karena setiap pekerjaan punya ruang, batas, tanggung jawab, dan konsekuensinya masing-masing. Dan ternyata, kemampuan mengenali batas itu juga sebuah kompetensi.

Hari ini saya pulang dengan perasaan sedikit lebih bangga kepada diri sendiri. Mungkin saya belum menjadi orang yang paling hebat. Tapi setidaknya, saya mulai menjadi seseorang yang tahu kapan harus berkata “Bisa saya bantu.” dan kapan harus berkata “Maaf, ini bukan kewenangan kami.”

Ternyata, setelah bertahun-tahun belajar menjadi orang yang bisa mengerjakan banyak hal, salah satu pencapaian yang paling membuat saya bahagia justru ketika orang lain percaya bahwa saya cukup tahu batasan.


-Saya pasti pulang-
Share:

Life 4.0. Saat Pintunya Ditutup Pelan, Bukan Dibanting.

Pintunya Ditutup Pelan, Bukan Dibanting. Ada hal-hal yang tidak perlu diakhiri dengan suara keras. Banyak penyelesaian tidak membutuhkan penjelasan panjang. Tidak semua kekecewaan harus diumumkan. Dan tidak setiap pintu yang saya tinggalkan harus dibanting agar orang lain tahu bahwa saya sudah selesai.

Saya hanya perlu menutupnya pelan-pelan. Lantas langsung reda? Tidak. Tapi tetap bisa kok menutup pintu dengan pelan, tanpa dibanting. Saya ingin mereka tahu bahwa keputusan saya bukan tiba-tiba. Bahwa sebelum sampai pada titik ini, ada banyak hal yang sudah saya tahan. Ada percakapan yang berulang. Ada kesempatan yang diberikan berkali-kali. Ada harapan yang pelan-pelan saya kecilkan sendiri. 

Sampai akhirnya saya sadar. Sudah waktunya berhenti. Bukan karena orang lain sepenuhnya jahat. Bukan pula karena saya sepenuhnya benar. Tidak. Tidak semua seperti film-film yang ada endingnya. Tidak ada ending juga adalah sebuah ending. Dan ending dengan tanpa ending bukan berarti harus ada sequel berikutnya. Di September 2026, saya belajar bahwa tidak semua hal harus dimenangkan. Lalu reda? Tidak. Tapi saya tetap bisa menutup pintu dengan pelan, tanpa dibanting.

Cukup diterima. Ada yang cukup dimaafkan. Termasuk diri sendiri. Kata siapa diri sendiri tidak perlu minta maaf pada diri sendiri? Perlu. Supaya penyesalan tidak berlarut-larut. Akui bahwa diri sendiri pernah salah dan ya manusiawi. Maafkan dulu diri sendiri. Dan lain kali tidak akan membuat keputusan bodoh semacam itu lagi. 

Maka kali ini, pintunya ditutup pelan. Tidak ada bantingan. Tidak ada pidato terakhir. Tidak ada kalimat, “Lihat saja nanti kamu akan menyesal.” Tidak ada keinginan untuk menang. Hanya ada satu kalimat sederhana di dalam hati. “Terima kasih sudah pernah menjadi bagian dari hidupku. Sekarang, aku ingin melanjutkan hidupku.” 

Menutup pintu pelan bukan berarti saya masih berharap pintu itu dibuka kembali. Saya menutupnya dengan tenang karena saya sudah benar-benar menerima bahwa ada ruangan yang memang tidak perlu saya masuki lagi. Saya tidak membenci rumahnya. Saya hanya tahu bahwa saya tidak lagi tinggal di sana. Dan mungkin itu salah satu bentuk kedewasaan yang paling sunyi. 

Ada hal-hal yang dulu terasa seperti akhir dunia. Hari ini, ketika saya menoleh ke belakang, ternyata hanya sebuah bab. Memang pernah penting. Memang pernah membuat saya menangis. Memang pernah membuat saya mempertanyakan diri sendiri. Tetapi hidup ternyata terus berjalan. Saya masih bisa tertawa. Masih bisa menikmati kopi pagi. Masih bisa membaca buku yang tertunda. Masih bisa pulang dan merasa nyaman di rumah sendiri. Masih bisa menemukan hal-hal kecil yang membuat saya bahagia.

Jadi kalau suatu hari ada pintu lain yang harus saya tinggalkan, tidak apa-apa. Di hidup saya versi 4.0, saya sedang belajar satu hal penting: bahwa tidak semua pintu harus dipertahankan hanya karena saya pernah begitu ingin masuk ke dalamnya. Tidak semua tempat yang pernah saya sebut rumah harus saya tinggali selamanya. Dan tidak semua orang yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan saya harus terus punya tempat yang sama dalam hidup saya.

Jika memang diperlukan, saya akan menutup pintu-pintu yang lain. Tapi kali ini, saya akan menutupnya dengan sangaaaaattt pelan. Pelan sekali. Sedemikian pelan sampai kalau bisa, tidak terdengar suara “krietttt” sedikit pun. 

Saya tahu, ada pintu-pintu yang ketika ditutup, apinya masih menyala di dalam diri saya. Ada kecewa yang tidak langsung padam hanya karena saya sudah memutuskan untuk pergi. Ada hal-hal yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk benar-benar saya lepaskan. Saya tidak ingin berpura-pura menjadi seseorang yang sudah sepenuhnya tenang hanya demi terlihat dewasa.

Kalau masih marah, ya saya akan mengakui bahwa saya marah. Kalau masih sedih, saya akan membiarkan diri saya sedih. Kalau masih kecewa, saya tidak akan buru-buru menyebutnya sebagai keikhlasan. Saya hanya tidak ingin membawa semua itu sampai menjadi alasan untuk membanting pintu. Karena mungkin, dewasa bukan tentang tidak pernah marah.

Jadi saya akan menutup pintu itu pelan-pelan. Sambil belajar menerima bahwa beberapa hal memang tidak mendapatkan akhir seperti yang saya harapkan. Sambil mengumpulkan kembali bagian-bagian diri saya yang sempat tertinggal. Sambil melepaskan satu per satu harapan yang ternyata memang sudah waktunya dilepaskan. Saya berjanji kepada diri sendiri: saya akan melepaskan segala sesuatu dengan hormat.

Bukan karena semuanya pantas mendapatkan penghormatan. Tetapi karena saya pantas menjadi seseorang yang tidak perlu merusak apa pun hanya untuk membuktikan bahwa saya pernah terluka. Saya akan berjalan pulang. Pulang kepada diri saya sendiri. Dan kali ini, saya ingin tinggal lebih lama di sana. Karena setelah sekian lama mencari rumah di banyak tempat, saya akhirnya mulai mengerti, rumah yang paling perlu saya jaga ternyata adalah diri saya sendiri.



-Saya pasti pulang-
Share:

Jumat, 25 September 2026

Dari Kursi Belakang

Saya sudah pernah ada di kursi driver. Di kursi penumpang di samping driver. Pernah juga dibaris kedua. Kali ini saya ada dibaris paling akhir. 

Karena saya duduk di kursi penumpang baris paling akhir, disebelah kanan, tepat di pinggir jendela, pemandangannya dominan sebelah kanan. Leher kiri saya jadi lumayan agak kaku. Tapi kaki kanan saya sangat kaku. Tidak bisa lurus karena terganjal ban cadangan. Maka sepanjang 5 jam perjalanan itu kaki kiri saya lurus, kaki kanan saya nangkring. Apa kabar lutut  kanan saya yang cideranya belum sembuh? Jangan ditanya. 

Saat sampai di rest area, pak supir istirahat. Karena saya di kursi paling belakang pojok maka otomatis saya paling akhir turun. Sambil menunggu penumpang lain turun mata saya melihat kaca sebelah kiri. Ada  peringatan jika terjadi sesuatu pecahkan kaca, dengan apa? Saya tidak melihat tools untuk memecahkan kaca itu. Mungkin dengan kepala? Ah sudahlah, saya harus segera turun, saya pingin pipis. 

Saya inisiatif naik paling awal, supaya tidak menganggu penumpang lain jika mereka sudah naik duluan. Saya dari lahir memang sudah sat set, cidera lutut tidak lantas saya tidak sat set sedikitpun. Saya kembali duduk ditempat semula. Mengoleskan krim anti radang di lutut sebelah kanan saya sebelum pak supir kembali jalan. Sebelum penumpang lain naik. Eh, dari kursi ini, kegiatan saya tidak terlalu terekspos, saya bebas mengoleskan krim ke lutut saya. 

Mobil kembali jalan. Karena baru saja jalan, penumpang yang tadinya tidur, kembali segar. Mereka kembali berceloteh. Penumpang disamping pak supir berusaha membaca map. Karena saya di kursi pojok paling belakang, saya tidak punya keharusan bisa membaca map. Saya juga tidak punya keharusan membuat pak supir tetap mendelik demi keamanan perjalanan. 

Penumpang dibaris tengah tertawa terbahak-bahak. Membahas lagu yang sedang didendangkan radio. Dari kursi pojok paling belakang, saya tidak terlalu nyambung mereka membahas apa. Ternyata tidak terlalu buruk berada di kursi pojok paling belakang, aku bisa bebas melamun melihat pembatas jalan tol, tidur kembali, bangun lagi untuk mengoles krim anti radang, tidur lagi, semua bebas saya lakukan tanpa harus punya peran apa-apa dalam perjalanan ini. 

-Saya pasti pulang-
Share:

Selasa, 22 September 2026

Saya Punya Hobi Yang Tidak Berguna

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang dengan beberapa orang. Tiga orang, dengan saya empat tepatnya. Salah satu yang jadi bahan pembicaraan adalah mengenai kucing. Dari empat yang sedang berkumpul itu, ada satu yang tidak suka kucing. Dan saya adalah yang paling suka kucing. Dua yang lainnya suka kucing, dibuktikan dengan setidaknya pernah memelihara kucing.

Salah satu dari mereka menanyakan kucing saya yang sebentar lagi melahirkan. Berapa total kucing saya. Berapa jumlah pengeluaran untuk kebutuhan kucing-kucing saya setiap bulannya dan sebagainya. Lalu teman saya yang tidak suka kucing berkata, "Dih segitunya, buat apa sih pelihara kucing? Manfaatnya apa coba?". Kemudian pembicaraan jadi satu versus dua. Saya? Sibuk mikir. Sibuk mikir sampai malamnya, sampai berhari-hari. 

Sebenarnya saya sudah pernah dengar kata-kata apa manfaat dari sesuatu yang saya kerjakan. Pada saat itu saya sedang suka menanam kaktus. Saya dikomentari oleh seseorang yang suka menanam buah dan sayur dengan kata-kata yang kurang lebih sama. Apa sih manfaat menanam kaktus? Berduri, nggak bisa dimanfaatkan lagi. Saya diam dan kemudian sibuk bermalam-malam sampai saya tanyakan ke google (pada saat itu belum musim curhat sama AI), saya tanya manfaat menanam kaktus. 

Memelihara kucing, menanam kaktus, fotografi, koleksi orang-orangan kertas. Wah ternyata memang hobi saya tidak berguna, bagi orang lain. Tapi bagi saya melakukan hal-hal itu menyenangkan. Membahagiakan. 

Jika ia tidak terlalu berguna. Apakah kemudian kamu jadi tidak cinta? Saya rasa hati saya tetap memilih cinta. Tetap memilih merawat. Tanpa alasan. Seperti mengenal manusia. Ya kenal aja. Saya tidak berfikir apakah orang itu saat ini berguna atau masih berguna atau kelak bisa berguna.

Jika ditanya mengenai kesukaan saya pada kucing, pada kaktus dan semacamnya, saya pasti tidak bisa menjawab. Mungkin bisa tapi tidak terlalu detail. Mungkin yang keluar dari mulut saya hanya ya karena saya bahagia aja melakukan hal-hal itu. Bukan karena sesuatu itu, tanaman itu, hewan itu, makanan itu, keadaan itu, situasi itu, manusia itu memiliki manfaat. Haruskah aku mulai melakukan hal-hal yang bermanfaat saja? Sesuatu yang memiliki nilai jual? Sesuatu yang menghasilkan uang? Sesuatu yang bisa membackup aku jika kesulitan? Haruskah?

Saya melakukan hobi, mengenal orang atau semacamnya. Ya buat contoh memelihara kucing saja, menurutku bukan perkara dia bermanfaat atau tidak bagi aku. Aku tidak memelihara makhluk hidup hanya karena dia bisa memberi keuntungan tertentu. Ada kasih sayang, companionship, dan tanggung jawab di situ. Sama seperti aku menyayangi seseorang, bukan karena setiap saat dia harus memberikan manfaat untukku. Menurutku, tidak semua hubungan harus diukur dari manfaat. Kucing bukan barang yang kita pelihara karena fungsi tertentu. Mereka makhluk hidup yang bisa aku sayangi, temani, dan aku rawat. Nilai keberadaannya tidak menjadi lebih tinggi hanya karena dia berguna bagi manusia.


-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 17 September 2026

Hai, apa kabar?

Hai, apa kabar? Setelah hampir sebulan, siang malam hanya melihat halaman visual studio code yang isinya 404, keluar rumah dalam keadaan mata yang jadi agak juling, hari ini rasanya senang sekali pagi-pagi main badmintont pakai kolor kesayangan yang udah buluk, bisa makan tahu isi dan sambal kecap sembari nonton nadia omara, namatin A Bo na fide killer sembari nerusin nonton serial walking death. Nikmat mana yang kau dustakan? 

Ngomong-ngomong tentang nikmat yang aku dustakan. Agaknya beberapa bulan sebelum bulan ini, banyak sekali. Setelah aku hanya punya waktu untuk satu hal saja, nikmat-nikmat yang aku dustakan itu baru terasa. Seperti hal paling remeh misalnya celana kolor buluk kesayangan. Bagaimanapun harus aku masukan dalam daftar nikmat Allah. Dengan celana kolor itu, aku leluasa duduk, nangkring, jongkok, berdiri, dari ngoding tiba-tiba bangun buat dumbell farmers walk saat aku buntu dengan 404. Coba bayangkan aku pakai rok span. 

Hai, apa kabar? Kalian tahu, sebulan sebelum bulan ini, saya membuka hati, hidup, pikiran saya untuk orang disekitar saya selebar-lebarnya. Hal yang tidak pernah terpikir untuk melakukannya karena.. karena apa ya? Ya karena saya memang agak sedikit terancam jika terlalu dekat dengan orang lain. Wkwkw. Tapi bulan itu full saya ikut banyak sekali kegiatan. Saya ikut olahraga berkelompok (selama ini saya olahraga sendiri), saya berbincang dengan orang asing, saya bekerja dengan orang baru, saya menerima telpon dari orang yang butuh dukungan dalam hal pekerjaan (biasanya saya hanya menerima chat), saya ikut teman saya makan-makanan yang biasanya tidak saya makan (duren). Biar apa? Saya ingin melihat warna lain dalam hidup sebelum saya mati. Hanya itu. Dan apa? Beberapa saya bisa teruskan, beberapa tidak. Dan ternyata tidak terlalu menakutkan. Saya hanya terlalu rapat menutup pintu. Mereka mengira pintu itu gerbang menuju lab kimia yang salah sentuh dikit meledak. Tapi kalo duren saya tetap nggak bisa. Hahaha.

Hai, apa kabar? Pernah kepikiran buat beres-beres gallery photo? beres-beres kontak? beres-beres isi lemari baju? Kalo isi lemari baju sering ya. Karena dari 2023 aku sudah menganut aliran minimalis dimana aku memang tidak banyak punya barang hanya untuk terlihat update (disamping hemat juga), maka memang tidak banyak isi lemari yang ada dirumahku. Satu masuk, satu keluar. Beres-beres gallery photo, beres-beres desktop laptop, beres-beres media sosial? Owgh ya sering sekali. Tapi beres-beres kontak? Baru sempet tadi pagi. Dan rasanya melegakan. Banyak kontak yang saya sendiri lupa siapa, seperti orang-orang yang buka jastip kopi, ojol, dan semacamnya. Rasanya ringan, nggak cuma hpnya, tapi juga hatinya. Ihi. 

Dan ya akhirnya, saya juga beres-beres postingan saya di blog ini. Tidak saya hapus karena sayang. Tapi dibaca lagi oleh saya yang pernah mengalami pasang surut dan semuanya saya tulis di blog ini, rasanya kok wagu. Wkwkw. Apalagi membayangkan dibaca orang. Lebih wagu lagi. Jadi saya memutuskan untuk membereskan postingan-postingan yang sudah lalu. Kemudian membuka lembaran baru? TIDAK. Semakin saya bertambah umur, saya tidak suka hal-hal semacam membuka lembaran baru. Saya hari ini adalah gabungan dari hal benar dan hal salah yang saya putuskan di masa lalu. Saya sangat bangga melihat diri saya yang sekarang. Sangat kenal dengan diri saya sendiri. Tahu benar harus kemana. Tahu mana yang harus dilakukan. Tahu apa yang harus dihentikan. Maka saya memutuskan mencintai diri saya sebenar-benarnya, seutuh-utuhnya, seadanya. Lebih dulu. Ketimbang orang lain. Siapapun itu. 

Jadi, Hai, apa kabar? Saya sangat baik, tenang dan konsentrasi penuh pada hal-hal baik saat ini. Kelak jika hidup saya kembali tidak baik-baik, itu wajar. Nanti juga baik lagi. :D




-Saya pasti pulang-
Share: