Minggu, 04 Oktober 2026
Sabtu, 03 Oktober 2026
Muka Saya Bergaris Tiga?
Single Shoe Service
Ini malam minggu tapi postingan ini agak serius. Saya tulis karena saya agak "akrab" dengan brand ini.
Ada kalanya sebuah iklan dimaksudkan untuk terlihat inklusif, tetapi justru jatuh pada momen dan konteks yang membuatnya terasa sangat tidak sensitif. Itulah yang terjadi pada Adidas pada September 2026. Perusahaan ini menuai kecaman dan seruan boikot setelah melibatkan Shalev Biton, mantan anggota militer Israel (IDF) yang kehilangan satu kakinya, dalam promosi lokal “Single Shoe Service” di Israel. Layanan tersebut pada dasarnya ditujukan bagi orang yang hanya membutuhkan satu sepatu karena memiliki perbedaan atau kehilangan anggota tubuh.
Di atas kertas, idenya terdengar sederhana, bagaimana kalau orang tidak harus membeli sepasang sepatu ketika memang hanya membutuhkan satu?
Masalahnya bukan sesederhana itu.
Iklan tersebut muncul ketika perang di Gaza masih menjadi sumber kontroversi dan penderitaan kemanusiaan yang sangat besar. Bagi banyak warga Palestina dan mereka yang menyoroti kondisi di Gaza, menjadikan amputasi seorang mantan tentara Israel sebagai bagian dari materi promosi terasa sangat problematis. Terlebih lagi, kehilangan anggota tubuh bukanlah isu yang abstrak bagi warga Gaza.
WHO dan PBB telah melaporkan tingginya jumlah warga Gaza yang mengalami amputasi akibat konflik, termasuk anak-anak. Karena itu, sesuatu yang mungkin dimaksudkan Adidas sebagai kampanye inklusivitas bagi penyandang disabilitas dapat dibaca sangat berbeda ketika ditempatkan dalam konteks tersebut.
Kritik pun berkembang lebih jauh. Sejumlah pihak menilai kampanye itu berpotensi memberikan kesan bahwa pengalaman seorang mantan tentara Israel sedang dijadikan simbol inspiratif, sementara pada saat yang sama terdapat ribuan warga Palestina yang mengalami kehilangan anggota tubuh dalam situasi perang. Israel sendiri tengah menghadapi tuduhan genosida terkait tindakannya di Gaza, tuduhan yang menjadi bagian dari proses hukum dan perdebatan internasional yang masih berlangsung.
Lalu media sosial melakukan apa yang biasanya dilakukan sebagai tupoksinya. Memperbesar semuanya.
Seruan boikot menyebar, kritik bermunculan, dan Adidas akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf. Perusahaan menjelaskan bahwa iklan tersebut merupakan inisiatif tim lokal Adidas di Israel, bukan bagian dari kampanye pemasaran global. Adidas juga menegaskan bahwa “Single Shoe Service” memang dibuat dengan tujuan inklusivitas dan untuk memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas.
Dan mungkin di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Sebuah program bisa saja memiliki niat inklusif. Sebuah layanan bisa saja benar-benar bermanfaat. Tetapi komunikasi publik tidak pernah hanya soal niat. Ia juga soal konteks, siapa yang ditampilkan, kapan pesan itu disampaikan, dan bagaimana pesan tersebut akan diterima oleh orang-orang yang hidup dalam realitas yang berbeda.
Karena kadang-kadang, masalahnya bukan pada satu sepatu.
Masalahnya adalah pada cerita tentang siapa yang kehilangan kaki, bagaimana kaki itu hilang, dan siapa yang sedang diminta melihat kisah tersebut sebagai sesuatu yang inspiratif.
Jumat, 02 Oktober 2026
Tidak jadi belajar APi
Text Di Belakang Truk : Lupa Nama, Ingat Rasa.
Hari ini aku berangkat ke kantor naik sepeda. Jarak rumah ke kantor sekitar 3,5 km. Kok tahu? Kalo kamu nanya kenapa saya tahu jarak dengan detail tanpa buka map tanpa pakai skala peta, artinya kamu nggak deket-deket banget sama saya. Idih, paragraf pertama udah pick me banget emang saya. Wkwkkw.
Dari rumah ke kantor, kalau jalan kaki 30–40 menit. Naik motor 7 menit. Naik mobil 12 menit. Naik sepeda ternyata 20 menit saat berangkat dan 34 menit saat pulang.
Ngapain dihitung? Ya nggak tahu. Otak saya memang suka begitu. Hal-hal random bisa tiba-tiba dianggap penting dan dicatat dengan sangat serius. Jarak. Waktu tempuh. Perbandingan. Selisih. Pola.
Kenapa waktu tempuh yang diperlukan ketika berkendara dengan sepeda saat pulang lebih lama 14 menit daripada berangkat? Menarik. Tapi nama orang? Bisa hilang dalam hitungan detik. Dan ini bukan teori.
Saya pernah dimarahi seorang pejabat gara-gara saya tidak tahu nama beliau. “Masak kamu nggak tahu nama saya?”. Dalam hati saya bilang, sumpah, enggak tahu. Kenapa saya harus tahu?
Bukan karena saya meremehkan beliau. Bukan karena saya merasa beliau tidak penting. Memang otak saya tidak otomatis menyimpan nama orang hanya karena orang tersebut pejabat. Faktanya, saya sebenarnya bisa ingat detail lain.
Saya bisa ingat orang itu datang kapan, duduk di mana, pakai baju apa, ngomong soal apa, bahkan mungkin ingat urutan percakapannya. Tapi namanya? Hilang.
Seolah-olah otak saya punya sistem penyimpanan yang agak aneh. Informasi yang punya pola disimpan. Angka dan waktu disimpan. Hal random yang sebenarnya tidak berguna, simpan dulu siapa tahu berguna. Nama manusia yang baru saja memperkenalkan diri, kita putuskan nanti.
Makanya kadang orang mengira saya sombong. Padahal saya bukan tidak memperhatikan orang. Saya justru sering memperhatikan terlalu banyak hal. Hanya saja perhatian saya tidak selalu diarahkan ke hal yang dianggap penting oleh orang lain.
Buat saya, “Desi” itu cuma nama. Tapi kalau bilang, Desi yang kemarin datang jam 9, pakai blouse lurik, duduk dekat printer, terus ngomong soal pagu TPPnya tidak keluar.
Otak saya, ohhh Desi Ratnasari. Datanya langsung ketemu. Jadi kalau suatu hari saya lupa nama kamu, mohon jangan tersinggung. Bisa jadi saya masih ingat banyak hal tentang kamu.
Hanya saja nama kamu tidak lolos sistem seleksi internal. Bukan sombong. Ini sistem informasinya memang kacau.
Kamis, 01 Oktober 2026
Empat Anak Tangga
Gara-gara turun gunung sambil lari, lututku linu dan sakit bukan main. Awalnya kupikir, “Ah, paling capek biasa.” Ternyata bukan. Jalan biasa masih aman. Lancar. Bahkan kalau cuma jalan dari parkiran ke kantor, lutut masih bisa diajak kerja sama. Masalahnya muncul kalau lutut harus menanggung beban.
Squat? Linu. Naik turun tangga? Linu. Sampai kemudian harus menekan gas mobil saat macet di tanjakan. Selain linu, sakit bukan main dan mobilnya mundur!
Untung ruanganku di lantai 1. Tapi jangan salah. Untuk masuk kantor, ternyata ada 4 anak tangga menuju ruangan. Empat. ANAK. TANGGA. Yang kalau lutut sedang sehat, keberadaan mereka bahkan tidak pernah tercatat dalam sejarah hidupku.
Sekarang? Setiap pagi dan sore, empat anak tangga itu terasa seperti pendakian menuju puncak Everest. Naik satu. Tarik napas. Naik dua. Evaluasi kehidupan. Naik tiga. Mulai mempertanyakan keputusan ikut lari waktu turun gunung. Naik empat. Pengen pulang. Wkwkwk.
Karena sudah nggak tahan, akhirnya pergi ke dokter. Diagnosisnya Patellofemoral Pain Syndrome. Dokter juga memberikan salep yang mengandung diclofenac sodium untuk membantu meredakan nyeri. Dan ini bagian yang membuatku merasa seperti menemukan cheat code kehidupan. Begitu lutut mulai linu, segera oles. Beberapa saat kemudian dunia normal kembali.
Jadi sekarang aku sedang belajar bahwa ternyata usia 40 itu bukan berarti nggak boleh lari, nggak boleh naik gunung, atau nggak boleh olahraga. Boleh. Tapi mungkin tubuh mulai punya aturan baru “Boleh, tapi jangan sok jago.” Wkwkwkw.
Dan ternyata benar. Dulu empat anak tangga cuma tangga. Sekarang empat anak tangga adalah personal trainer gratis yang setiap pagi menguji mental. Semoga lutut segera pulih. Karena aku masih punya banyak rencana olahraga. Tapi untuk sementara, biarkan Everest yang di kantor itu kulewati dengan penuh kehormatan.
Rabu, 30 September 2026
Bukan Babi
Selasa, 29 September 2026
Dream Body. Catatan Sebelum Tidur Supaya Besok Tidak Lagi Lagi Makan Tahu Isi 5 Biji.
Saya sudah punya dream body sejak puber. Dulu, Britney adalah salah satu role model saya dalam urusan dream body. Saya suka tubuh yang skinny, tapi berotot. Perut yang defined, lengan yang terlihat kuat, badan yang ramping tapi nggak ringkih.
Cuma dulu agak malu mengakuinya. Karena setiap kali ngomong soal perempuan dengan otot perut atau lengan yang berisi otot, respons beberapa teman perempuan saya kurang lebih, “Iyuh.” Jadi ya sudah. Saya simpan saja sebagai selera pribadi.
Lucunya, bertahun-tahun kemudian dunia berubah. Medsos membuat saya dengan mudah menemukan perempuan-perempuan dengan abs yang grrrr. Sangar. Kuat. Ramping. Dan bukannya “iyuh”, saya malah mikir, “Nah. Ini dia.”
Ternyata selera saya nggak berubah. Dream body saya dari dulu bentuknya masih itu-itu juga: skinny, tapi berotot. Ini penting untuk dibedakan. Saya mau skinny, bukan skinny karena kurang makan.
Karena buat saya, tubuh yang bagus bukan cuma soal angka di timbangan. Saya suka tubuh yang terlihat ringan, tapi punya tenaga. Ramping, tapi kuat. Feminin, tapi grrrr.
Dan saya pernah mewujudkannya. Jadi saya tahu ini bukan sekadar angan-angan. Saya pernah sampai di sana. Tinggal jalan pulang lagi. Pelan-pelan.
Kali ini juga nggak perlu dipamerkan ke siapa-siapa. Saya cuma ingin melihat diri sendiri di kaca dan berpikir, “Yep. There she is.”
Dan kalau nanti saya jadi terlalu sering ngaca, ya maaf. Cara saya menikmati hasil kerja keras saya sendiri ya Ngaca teroooosss.
Senin, 28 September 2026
Ketika Smartwatch Mengabarkan Bahwa Hidup Saya Puas
Belakangan ini smartwatch-ku mulai aneh. Kemarin muncul notifikasi “Bahagia.” Hari ini muncul lagi “Puas.” Sejak kapan smartwatch ikut menilai kehidupan emosional pemiliknya? Setahuku selama ini kerjaannya cuma ngasih tahu “Sudah 7.000 langkah.” “Detak jantung sekian.” “Tidurmu kurang.” “Kalori terbakar sekian.” Sekarang tiba-tiba naik level menjadi “Kamu bahagia.” Waduh.
Yang bikin aku makin notice, di versi sebelumnya aku nggak pernah melihat notif semacam ini. Jadi ketika sekarang muncul kata “Bahagia” dan “Puas”, rasanya seperti Huawei sedang mencoba masuk ke wilayah yang selama ini bahkan aku sendiri kadang bingung menjawabnya. Sekarang tiba-tiba dia ikut memberi komentar tentang perasaanku. Wah. Berani juga. Wkwkw.
Setelah cari tahu, ternyata smartwatch ini tidak sedang membaca pikiran. Fitur tersebut menggunakan berbagai data aktivitas dan kondisi tubuh untuk memberikan gambaran mengenai emotional wellbeing. Jadi kurang lebih pesannya bukan “Saya tahu isi hatimu.”. Melainkan “Dari data yang saya punya, sepertinya hidupmu sedang cukup baik.”
Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu membuatku berhenti sebentar. Mungkin memang iya. Mungkin akhir-akhir ini aku sedang bahagia. Bukan bahagia yang perlu diumumkan. Bukan bahagia yang harus terlihat sempurna di media sosial. Bukan juga bahagia yang berarti hidup sedang bebas masalah. Lebih seperti rasa nyaman karena akhirnya tidak terlalu sibuk melawan hidup.
Aku mulai bisa menikmati hal-hal kecil tanpa merasa semuanya harus punya makna besar. Kopi tetap kopi. Kucing tetap kucing. Pekerjaan ya dikerjakan. Kalau ada yang tidak perlu ditanggapi, ya tidak ditanggapi. Kalau ada yang bukan kewenanganku, ya bukan urusanku. Kalau ada orang yang salah paham tentang aku, ya ternyata dunia tetap berputar. Dan mungkin di situlah letak kepuasannya.
“Puas.” Bukan berarti hidup sudah sempurna. Hanya saja, mungkin aku sudah tidak menuntut hidup untuk menjadi sempurna agar aku bisa menikmatinya. Dan kalau dipikir-pikir lagi, itu cukup keren. Karena ternyata menjadi dewasa bukan selalu tentang punya lebih banyak. Kadang justru tentang lebih sedikit hal yang perlu kita pedulikan. Lebih sedikit drama. Lebih sedikit pembuktian. Lebih sedikit kebutuhan untuk menjelaskan diri. Lebih sedikit keinginan untuk memenangkan semua perdebatan. Dan lebih banyak ruang untuk hidup. Jadi, Huawei, Terima kasih atas analisisnya. Saya terima.
Untuk sekali ini, mesin dan perasaan saya ternyata sepakat. Tapi kalau besok notifikasinya berubah menjadi “Stres”, kita perlu duduk dan evaluasi ulang. Bisa jadi bukan hidup saya yang bermasalah. Bisa jadi cuma ada orang yang mulai bikin saya ingin mematikan notifikasi. Atau, paling realistis belum minum kopi.
Ternyata Si Jutek Ini Punya Hidden Talent Yang Selama Ini Disembunyikan Negara
Belakangan ini saya sedang punya proyek pribadi membuka diri selebar-lebarnya untuk mencoba banyak hal baru. Salah satunya adalah menantang diri sendiri untuk nyanyi dan dance di sebuah acara kantor yang isinya teman cewek semua.
Selama ini kalo acara kantor, jangankan dance, nyanyi aja saya ogah. Saya tahu suara saya nggak jelek-jelek amat, tapi aduh gimana ya. Malu! Teman-teman saya satu per satu maju. Nyanyi lagu Nusantara. Anggun. Syahdu. Penuh penghayatan. Pokoknya aura perempuan Indonesia yang kadang lucu dan gemas juga kalo joget dangdut. Lalu tiba-tiba saya maju kedepan. Musik berubah. K-POP. Dan saya mulai dance.
Saya sempat melihat sekeliling. Saya bisa melihat beberapa pasang mata langsung terbelalak. Mungkin dalam hati mereka "Ini Rizki? Yang biasanya diem? Yang mukanya kayak lagi menolak proposal? Kok sekarang malah dance?" Wkwkw.
Manusia memang punya banyak versi. Ada versi yang serius. Ada versi yang ngoding. Ada versi yang suka ngopi dan baca buku. Dan ternyata ada juga versi yang bisa tiba-tiba K-Pop dance di tengah lagu-lagu Nusantara. Sejujurnya, saya sering dance dirumah, didepan kaca. Dan saat ini saya sedang belajar untuk tidak terlalu membagi image tentang diri sendiri dikantor atau dirumah atau ketika didepan teman akrab. Sudah saya bilang, saya mau apa adanya, seadanya. Saya hampir berhasil melakukannya.
Selama ini kalian hanya mengenal versi kantor saya. Kalian belum mendapatkan DLC-nya. Ternyata di balik wajah datar, gaya hidup kalem, dan aura “tolong jangan ganggu kalau tidak penting”, dirumah saya sering ikut-ikutan dance ala penyanyi didepan kaca. Ciaaaa ketipu banget. Wkwk.
Dan ternyata menyenangkan juga sesekali menghancurkan ekspektasi orang terhadap diri saya sendiri. Selama ini mungkin saya terlalu sibuk menjadi versi diri yang dianggap “saya banget”. Sekarang saya sedang belajar, Kalau mau serius ya udah serius. Kalau mau diem ya saya yang 70% memang diem. Kalau mau jutek, ya memang bawaan lahir kalo itu sih. Tapi kalau tiba-tiba mau nyanyi dan dance? YA GAS.
Karena ternyata hidup terlalu singkat kalau saya cuma mau melakukan hal-hal yang sesuai dengan image yang selama ini melekat pada diri saya. Kadang saya memang perlu sedikit keluar jalur, mencoba sesuatu yang bahkan tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan sendiri. Dan ternyata, rasanya seru juga melihat orang-orang terkejut ketika saya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga.
Dan kalau masih ada yang tidak percaya bahwa saya bisa dance. Silakan. Saya juga masih dalam tahap percaya diri. Tapi hari itu saya mendapat validasi yang cukup berbahaya. Dance saya di-approve oleh teman saya yang memang jago banget dance. Nah, kalau sudah dapat approval dari ahlinya, kayaknya saya punya alasan untuk sedikit sombong. Ternyata selama ini bukan nggak bisa dance. Cuma belum menemukan momentum untuk mempermalukan diri sendiri di depan umum. Wkkwkw
So, here I am, Si jutek sedang keluar dari zona nyaman, menghancurkan image sendiri, dan apparently. Ready to rock the world. Wkwkwk.
Ternyata, Bisa Menolak Juga Sebuah Keahlian
Hari ini saya merasa bangga pada diri sendiri.
Bukan karena mendapat pujian soal seberapa cepat saya bekerja, seberapa banyak yang bisa saya kerjakan, atau prestasi-prestasi semacam itu di tempat kerja. Justru karena sesuatu yang kelihatannya sederhana. Saya dianggap paling bisa untuk menolak. Wkwkkw.
Hari ini dalam rapat, atasan saya menjelaskan bahwa bidang dimana saya ditempatkan diminta bekerja sama dengan salah satu dinas. Dari pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, ketika bekerja sama dengan dinas ini, permintaan bekerja sama ini kadang melampaui batas kewenangan yang seharusnya bidang saya kerjakan. Bidang saya jadi repot sendiri padahal pekerjaan itu bukan kewenangan di bidang saya. Karena tidak ada hubungannya dengan aplikasi, pada awal rapat saya tidak menduga atasan saya akan memilih saya sebagai perwakilan dari bidang.
Saya mengernyit. Atasan saya tahu pasti bahwa keputusan itu membuat banyak pertanyaan di kepala saya. Atasan saya memberikan alasan kenapa saya yang dipilih padahal pekerjaan ini tidak berkaitan dengan aplikasi. Dia bilang, karena saya paling bisa menolak. Jika dinas tersebut meminta untuk bekerja diluar kewenangan bidang, hanya saya yang bisa menolak dengan tegas. Wow.
Saya spontan tertawa, teman-teman yang lain mengangguk-mengangguk. Beberapa mengiyakan. Beberapa menceritakan kembali bagaimana permintaan dinas tersebut di tahun-tahun sebelumnya selalu di iyakan dan berakhir dengan kerepotan pada bidang saya. Dan entah kenapa, mendengar itu rasanya menyenangkan sekali.
Dari dulu saya memahami bahwa justru salah satu bentuk profesionalitas adalah tahu apa yang memang menjadi tanggung jawab saya, dan apa yang seharusnya dikembalikan kepada pemilik kewenangannya.
Bukan menolak untuk lepas tangan. Bukan pula karena tidak mau membantu. Tetapi karena setiap pekerjaan punya ruang, batas, tanggung jawab, dan konsekuensinya masing-masing. Dan ternyata, kemampuan mengenali batas itu juga sebuah kompetensi.
Hari ini saya pulang dengan perasaan sedikit lebih bangga kepada diri sendiri. Mungkin saya belum menjadi orang yang paling hebat. Tapi setidaknya, saya mulai menjadi seseorang yang tahu kapan harus berkata “Bisa saya bantu.” dan kapan harus berkata “Maaf, ini bukan kewenangan kami.”
Ternyata, setelah bertahun-tahun belajar menjadi orang yang bisa mengerjakan banyak hal, salah satu pencapaian yang paling membuat saya bahagia justru ketika orang lain percaya bahwa saya cukup tahu batasan.
Life 4.0. Saat Pintunya Ditutup Pelan, Bukan Dibanting.
Jadi kalau suatu hari ada pintu lain yang harus saya tinggalkan, tidak apa-apa. Di hidup saya versi 4.0, saya sedang belajar satu hal penting: bahwa tidak semua pintu harus dipertahankan hanya karena saya pernah begitu ingin masuk ke dalamnya. Tidak semua tempat yang pernah saya sebut rumah harus saya tinggali selamanya. Dan tidak semua orang yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan saya harus terus punya tempat yang sama dalam hidup saya.
Jika memang diperlukan, saya akan menutup pintu-pintu yang lain. Tapi kali ini, saya akan menutupnya dengan sangaaaaattt pelan. Pelan sekali. Sedemikian pelan sampai kalau bisa, tidak terdengar suara “krietttt” sedikit pun.
Saya tahu, ada pintu-pintu yang ketika ditutup, apinya masih menyala di dalam diri saya. Ada kecewa yang tidak langsung padam hanya karena saya sudah memutuskan untuk pergi. Ada hal-hal yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk benar-benar saya lepaskan. Saya tidak ingin berpura-pura menjadi seseorang yang sudah sepenuhnya tenang hanya demi terlihat dewasa.
Kalau masih marah, ya saya akan mengakui bahwa saya marah. Kalau masih sedih, saya akan membiarkan diri saya sedih. Kalau masih kecewa, saya tidak akan buru-buru menyebutnya sebagai keikhlasan. Saya hanya tidak ingin membawa semua itu sampai menjadi alasan untuk membanting pintu. Karena mungkin, dewasa bukan tentang tidak pernah marah.
Jadi saya akan menutup pintu itu pelan-pelan. Sambil belajar menerima bahwa beberapa hal memang tidak mendapatkan akhir seperti yang saya harapkan. Sambil mengumpulkan kembali bagian-bagian diri saya yang sempat tertinggal. Sambil melepaskan satu per satu harapan yang ternyata memang sudah waktunya dilepaskan. Saya berjanji kepada diri sendiri: saya akan melepaskan segala sesuatu dengan hormat.
Bukan karena semuanya pantas mendapatkan penghormatan. Tetapi karena saya pantas menjadi seseorang yang tidak perlu merusak apa pun hanya untuk membuktikan bahwa saya pernah terluka. Saya akan berjalan pulang. Pulang kepada diri saya sendiri. Dan kali ini, saya ingin tinggal lebih lama di sana. Karena setelah sekian lama mencari rumah di banyak tempat, saya akhirnya mulai mengerti, rumah yang paling perlu saya jaga ternyata adalah diri saya sendiri.
-Saya pasti pulang-