Nabi Ismail

Kenabian Ismail

Allah menyebutkan tentang kenabian Ismail dengan firman-Nya: "Dan ceritakanlah di dalam Al-Kitab, bahwa Ismail adalah seorang yang menepati janji, seorang rasul dan nabi."


Kelahiran Ismail

Setelah Ibrahim kembali dari Mesir ke Palestina bersama istri dan hamba sahaya istrinya yang bernama Hajar, Ibrahim menginginkan seorang anak. Kemudian ia berdoa kepada Allah agar dikaruniai anak yang saleh: "Wahai Tuhanku, berilah aku anak yang saleh."

Nampaknya Sarah merasakan apa yang terlintas di hati Ibrahim, maka ia berkata: "Sesungguhnya Tuhan mengharamkan anak dariku, maka aku berpendapat supaya engkau kawin dengan sahayaku Hajar, barangkali Allah memberimu anak darinya."

Karena Sarah sudah lanjut usia dan tidak bisa diharapkan untuk menghasilkan anak, maka Ibrahim kawin dengan Hajar yang kemudian menurunkan Ismail sebagaimana yang diceritakan dalam Kitab Kejadian.

Adapun Ismail, aku telah mendengar perkataanmu mengenai dia, dan inilah Aku memberkatinya, mengembangkan serta memperbanyak dengan jumlah yang banyak sekali, yaitu melahirkan dua belas pemimpin. Aku menjadikannya suatu umat yang besar. 

Ini adalah berita gembira mengenai umat Muhammad, karena sesungguhnya Muhammad adalah keturunan Ismail. Begitu pula bangsa Arab Hijaz dan janji yang tidak terjadi dalam keturunan Ismail kecuali melalui Muhammad Saw. dan umatnya.


Hijrah ke Wadi Makkah

Setelah Ibrahim mendapat anak bernama Ismail dari istrinya Hajar, maka Sarah meminta Ibrahim agar meninggalkannya karena kecemburuannya membuat ia tidak bisa hidup bersama Hajar.

Ibrahim mengabulkan keinginannya karena suatu hal yang dikehendaki Allah, maka Allah mewahyukan kepada Ibrahim agar membawa Hajar dan Ismail yang masih menyusu pergi bersama-sama ke Makkah.

Dengan bimbingan Allah mereka tiba di suatu tempat yang kering dan tandus, yaitu tempat di mana akan dibangun Ka'bah.

Ibrahim menurunkan Hajar dan anaknya di tempat yang tandus dan tidak ada air, kemudian meninggalkan keduanya.

Maka Hajar mengikutinya dengan sedih dan berkata: "Kemanakah engkau pergi? Apakah Allah yang menyuruhmu melakukan hal ini?"

Ibrahim menjawab: "Ya."

Hajar berkata: "Kalau begitu Allah tidak akan menyia-nyiakan kami."

Memancarnya Air Zamzam

Hajar melaksanakan perintah Allah dengan sabar. Ia makan dari bekalnya dan minum dari air yang ditinggalkan Ibrahim sampai habis.

Maka hauslah ia dan putranya. Hajar terus memandang putranya yang kehausan, sehingga ia tidak tahan menyaksikan pemandangan yang menyedihkan ini.

Hajar bangkit dan kebingungan, ia berlari-lari kecil dan hampir kehilangan kesadarannya.

Ia naik ke suatu tempat yang tinggi bernama Shafa, barangkali melihat air, ternyata ia tidak melihat apa-apa.

Kemudian ia pun turun dan berlari-lari kepayahan sampai tiba di suatu tempat lain yang tinggi bernama Marwah.

Ia memandang dari tempat itu barangkali melihat sesuatu, kemudian kembali lagi ke Shafa, lalu memandang lagi barangkali ia melihat sesuatu.

Hal itu dilakukan hingga tujuh kali.

Kemudian pada terakhir kalinya ketika tiba di Marwah, ia mendengar suara, lalu ia menoleh dan tiba-tiba berdiri seorang malaikat di tempat sumur Zamzam yang menghentakkan sayapnya hingga tampak air.

Hajar menyaksikan pemandangan yang mengesankan ini, maka ia pun diliputi rasa gembira, kemudian mulailah ia mengambil air itu dan memberi minum anaknya serta mengenyangkan dirinya dengan air itu.

Memancarlah burung-burung ke situ dan serombongan suku Jurhum sedang berjalan di dekat tempat ini, maka mereka melihat burung berputar-putar di sekitarnya.

Mereka saling berkata: "Sesungguhnya burung ini terbang di dekat air, apakah kamu mengetahui bahwa di sekitar lembah ini ada air?"

Mereka menjawab: "Tidak."

Kemudian mereka mengirim salah seorang dari mereka untuk menyelidiki kabar itu.

Orang itu segera kembali kepada rombongan dengan membawa kabar gembira tentang adanya air, lalu mereka datang kepada Hajar seraya berkata: "Bila engkau menghendaki, kami akan tinggal bersamamu untuk menghiburmu dan air itu adalah airmu."

Maka Hajar pun menyambut mereka dan mereka pun tinggal di dekatnya hingga Ismail menjadi dewasa dan kawin dengan perempuan Jurhum serta belajar bahasa Arab.


Pengorbanan Ismail

Ibrahim meninggalkan anaknya Ismail di Makkah, akan tetapi ia sering menjenguknya. Pada salah satu kunjungannya Ibrahim melihat dalam tidurnya bahwa Allah menyuruhnya menyembelih putranya Ismail. Mimpi nabi-nabi adalah benar, karena sama dengan wahyu dari Allah.

Oleh karena itu Ibrahim bertekad untuk melaksanakan perintah Allah itu.

Ibrahim menceritakan hal itu kepada anaknya Ismail yang hanya satu-satunya pada saat itu.

Maka Ismail menjawab: "Wahai ayahku, lakukanlah apa yang diperintahkan Allah kepadamu dan engkau akan mendapatiku sebagai orang yang sabar dan rela dengan kehendak Allah itu."

Setelah keduanya sepakat dan bertekad melaksanakan perintah itu, maka Ibrahim membaringkan putranya dengan wajah tertelungkup agar ia bisa menyembelih dari belakang dan tidak memandang wajah anaknya ketika menyembelih.

Ibrahim mulai menyembelih, namun pisaunya tidak mempan, dan ketika itu Allah berseru kepadanya: "Hai Ibrahim, berhentilah menyembelih anakmu, telah Aku puji dan Kami telah mendapati pada dirimu ketaatan dan kesungguhan dalam melaksanakan perintah Tuhanmu.

Ini adalah ujian besar yang nyata yang telah Kami ujikan terhadap imanmu dengannya, sehingga kamu termasuk orang-orang yang beruntung, maka ambillah kibas ini dan sembelihlah sebagai tebusan bagi putramu."


Siapakah Anak yang Disembelih Itu?

Dalam ajaran Islam, mayoritas ulama berpendapat bahwa anak yang diperintahkan untuk disembelih oleh Nabi Ibrahim adalah Nabi Ismail, bukan Nabi Ishaq.

Hal ini didasarkan pada urutan kisah dalam Al-Qur’an. Setelah peristiwa penyembelihan, Allah kemudian memberi kabar gembira kepada Ibrahim tentang kelahiran Ishaq sebagai nabi yang saleh. Urutan ini menunjukkan bahwa Ishaq belum lahir saat peristiwa ujian tersebut terjadi, sehingga yang diuji adalah Ismail.

Sementara itu, dalam tradisi Yahudi (yang tertulis dalam Kitab Kejadian), disebutkan bahwa anak yang disembelih adalah Ishaq. Perbedaan ini menjadi salah satu perbedaan utama antara pandangan Islam dan Yahudi mengenai kisah tersebut.

Sebagian ulama seperti Ibnu Katsir menjelaskan bahwa penyebutan Ishaq dalam sebagian riwayat Bani Israil kemungkinan merupakan tambahan atau perubahan, karena secara logika sejarah dan nasab, Ismail adalah anak pertama Ibrahim dan tinggal di wilayah Hijaz, tempat berkembangnya keturunan Arab hingga lahirnya Nabi Muhammad.

Kesimpulannya:

  • Pandangan Islam: anak yang disembelih adalah Ismail
  • Pandangan Yahudi/Kristen: anak yang disembelih adalah Ishaq

Perbedaan ini menunjukkan adanya variasi tradisi dalam memahami kisah yang sama dalam agama-agama samawi.


Ibrahim dan Ismail Membangun Ka’bah

Nabi Ibrahim lama tinggal jauh dari putranya, Nabi Ismail. Setelah sekian waktu, Ibrahim datang ke Makkah untuk melaksanakan perintah besar dari Allah, yaitu membangun Ka'bah sebagai rumah pertama yang didirikan untuk beribadah kepada-Nya.

Ketika bertemu, Ibrahim menyampaikan maksud tersebut kepada Ismail. Dengan penuh ketaatan, Ismail berkata bahwa ia siap membantu ayahnya dalam menjalankan perintah Allah. Maka keduanya pun mulai membangun Ka’bah bersama-sama hingga selesai. Tempat pijakan Ibrahim saat meninggikan bangunan itu kemudian dikenal sebagai Maqam Ibrahim.

Setelah Ka’bah selesai dibangun, Allah memerintahkan kepada Ibrahim dan Ismail untuk menjaga kesuciannya, membersihkannya dari segala bentuk kesyirikan, kotoran, dan penyembahan berhala. Ka’bah dijadikan tempat suci bagi orang-orang yang thawaf, beriktikaf, rukuk, dan sujud kepada Allah.

Dalam Al-Qur’an juga diceritakan bahwa Ibrahim berdoa agar negeri tempat Ka’bah berdiri, yaitu Makkah, menjadi negeri yang aman dan diberi rezeki berupa buah-buahan bagi penduduknya yang beriman kepada Allah dan hari akhir. Allah mengabulkan doa tersebut, menjadikan Makkah sebagai negeri yang aman dan makmur, meskipun berada di wilayah yang tandus.

Namun Allah juga menegaskan bahwa rezeki di dunia diberikan kepada semua manusia, baik yang beriman maupun yang kafir, sedangkan balasan di akhirat akan diberikan sesuai dengan keimanan dan amal perbuatan masing-masing.

Pembangunan Ka’bah ini menjadi peristiwa penting dalam sejarah Islam, karena menjadi pusat ibadah umat Muslim di seluruh dunia hingga saat ini.

 

0 komentar:

Posting Komentar