Kenabian Ishaq dan Ya’qub
Ishaq as. adalah putra Ibrahim as. dari istrinya Sarah. Dari keturunannya muncul nabi-nabi Bani Israil, di antaranya adalah putranya, Ya’qub as. Kenabian itu terdapat dalam keturunan Ibrahim dari kedua putranya, Ismail dan Ishaq, sebagaimana firman Allah Swt.:
“Kami telah menjadikan dalam keturunannya (Ibrahim) kenabian dan Al-Kitab.”
Al-Qur’an telah memuat kenabian Ishaq. Ia termasuk orang yang saleh, dan Allah mengkhususkannya dengan berkah-Nya, sebagaimana Dia telah mengkhususkan bapaknya. Malaikat juga memberitahu bapaknya, Ibrahim, mengenai hal itu.
Allah Swt. menyuruh Nabi-Nya Muhammad untuk mengingat hamba-hamba-Nya, yaitu Ibrahim, Ishaq, dan Ya’qub, serta kekuatan mereka dalam ketaatan dan kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka berupa kenabian. Allah telah memilih mereka karena sifat-sifat mulia, yaitu keadaan mereka yang selalu ingat akan akhirat.
Oleh karena itu, mereka termasuk orang-orang yang terpilih di sisi Allah di antara putra-putra bangsa mereka (Q.S. Shad: 45–47). Dalam nash Al-Qur’an ini terdapat pelajaran bagi orang mukmin bahwa akhirat adalah tujuan utama, sehingga ia mengerjakan amal saleh untuk memperoleh perlindungan Allah dan mendapatkan keridaan-Nya.
Sekelumit tentang Kehidupan Ishaq dan Ya’qub
Al-Qur’an tidak menyebutkan secara khusus tentang kehidupan Ishaq, demikian pula kehidupan putranya, Ya’qub, kecuali kisah tentang kehilangan putranya Yusuf dan peristiwa-peristiwa yang berkaitan dengannya, yang akan disebutkan dalam kisah Yusuf as.
Di sini disebutkan secara ringkas riwayat ahli Kitab mengenai Ishaq dan Ya’qub.
Tatkala Ibrahim merasa ajalnya hampir tiba, Ishaq belum menikah. Ibrahim tidak ingin mengawinkannya dengan perempuan Kanaan yang tidak mengenal Allah. Oleh karena itu, ia menugaskan seorang pelayannya untuk pergi ke Harran di Irak guna membawa seorang perempuan dari keluarganya.
Pelayan itu pergi dengan pemeliharaan Allah dan akhirnya memilih Rafqah binti Batiwael bin Nahur, saudara Ibrahim. Dengan demikian, Rafqah adalah putri dari keponakan Ibrahim. Pelayan itu membawanya kepada Ibrahim, lalu ia dinikahkan dengan Ishaq.
Setelah dua puluh tahun pernikahan, Ishaq dikaruniai dua anak kembar. Yang pertama bernama Aish (dalam tradisi Arab disebut Al-Aish), dan yang kedua Ya’qub, yang juga disebut Israil. Keduanya lahir hampir bersamaan, bahkan Ya’qub keluar sambil memegang kaki saudaranya.
Ishaq lebih mencintai Aish karena ia lahir lebih dahulu, sedangkan ibunya, Rafqah, lebih mencintai Ya’qub karena ia lebih kecil.
Pada suatu hari, Ishaq menginginkan suatu makanan dan meminta Aish untuk mengambilkannya. Namun Ya’qub lebih dahulu membawakan makanan itu dengan persetujuan ibunya. Ishaq pun mendoakannya.
Ketika Aish mengetahui hal itu, ia marah kepada saudaranya dan mengancamnya. Mengetahui hal ini, ibunya memberi isyarat kepada Ya’qub agar pergi mengunjungi saudaranya, Laban, di kota Harran, Irak, dan tinggal di sana hingga kemarahan saudaranya mereda, sekaligus untuk menikah dengan putri pamannya.
Ya’qub pun pergi dan tinggal di sana. Ia bekerja pada pamannya, dan sebagai imbalannya ia ingin menikahi putrinya yang bernama Rachel. Namun pamannya menikahkannya terlebih dahulu dengan putrinya yang lebih tua, yaitu Uyah.
Keesokan harinya, Ya’qub berkata kepada pamannya bahwa ia sebenarnya menginginkan Rachel. Pamannya menjawab bahwa bukan kebiasaan mereka menikahkan anak yang lebih muda sebelum yang lebih tua. Jika ia menginginkan Rachel, maka ia harus bekerja lagi selama tujuh tahun.
Ya’qub pun bekerja tujuh tahun lagi hingga akhirnya dapat menikahi Rachel.
Pamannya juga memberikan masing-masing putrinya seorang hamba sahaya: Uyah diberi Zulfa, dan Rachel diberi Balhah. Keduanya kemudian diberikan kepada Ya’qub, sehingga ia memiliki empat istri. Dari mereka, ia dikaruniai dua belas anak.
Setelah dua puluh tahun tinggal bersama pamannya, Ya’qub meminta izin untuk kembali kepada keluarganya, dan pamannya mengizinkannya.
Ketika hampir tiba di negeri Kana’an (Palestina), ia mengetahui bahwa saudaranya datang menemuinya dengan empat ratus orang. Ia merasa takut, lalu berdoa dan mengirim hadiah besar kepada saudaranya.
Hati saudaranya pun menjadi lunak setelah melihat hadiah tersebut. Ia kemudian pergi ke Gunung Sa’ir dan meninggalkan tempat itu bagi Ya’qub.
Ya’qub kemudian pergi menemui ayahnya, Ishaq, dan tinggal bersamanya di kota Hebron (Al-Khalil). Ishaq hidup hingga usia 180 tahun dan dimakamkan di gua tempat ayahnya, Ibrahim, dimakamkan.
Cucu-cucu (Al-Asbath)
Mereka adalah anak-anak Ya’qub yang berjumlah dua belas orang beserta keturunannya. As-Sibth dalam bangsa Yahudi seperti suku dalam bangsa Arab. Mereka berasal dari satu bapak, dan setiap anak Ya’qub menjadi asal bagi satu suku dari Bani Israil. Dengan demikian, seluruh Bani Israil berasal dari dua belas anak Ya’qub.
Di antara suku-suku tersebut tampak kenabian sebagai berikut:
- Suku Lewi: terdapat nabi-nabi Musa, Harun, Ilyas, dan Ilyasa’.
- Suku Yahuda: terdapat nabi-nabi Dawud, Sulaiman, Zakariya, Yahya, dan Isa.
- Suku Bunyamin: terdapat Nabi Yunus.
0 komentar:
Posting Komentar