Di antara kekuasaan Allah ialah menciptakan Adam tanpa bapak dan ibu, menciptakan Hawa tanpa ibu, menciptakan Isa tanpa bapak, serta menciptakan manusia lainnya dari bapak dan ibu.
Ketika Allah Ta’ala hendak menciptakan Nabi Isa as., Dia mengutus malaikat Jibril dalam bentuk manusia kepada Maryam. Pada waktu itu Maryam sedang menyendiri di suatu tempat di sebelah timur rumahnya.
Tatkala melihat Jibril, ia pun memohon perlindungan kepada Allah agar ia menjauh darinya.
Jibril menjawab bahwa ia adalah utusan Allah yang datang kepadanya untuk mengaruniainya seorang anak laki-laki yang akan menjadi nabi. “Sesungguhnya aku adalah utusan Tuhanmu untuk mengaruniaimu seorang anak yang suci,” kata Jibril.
Maryam menjawab, “Bagaimana aku bisa mempunyai anak, sedangkan manusia tidak pernah menyentuhku dan aku bukan seorang yang berbuat keji.”
Jibril menjawab, “Ini adalah suatu perkara yang mudah bagi Tuhanmu. Dia menjadikannya sebagai tanda bagi manusia atas kekuasaan-Nya dan sebagai rahmat bagi orang-orang yang beriman kepada-Nya. Hal itu telah diputuskan dan pasti terjadi.”
Akhirnya Maryam pun hamil. Ketika tiba waktu melahirkan, ia mendatangi sebuah pohon kurma dan melahirkan di bawahnya.
Kemudian ia datang membawa bayi Isa kepada kaumnya. Mereka menyangka bahwa bayi itu adalah hasil hubungan yang tidak benar, sehingga mereka ingin menghukum Maryam dengan merajamnya.
Maka Maryam memberi isyarat kepada mereka untuk bertanya kepada bayinya. Orang-orang itu berkata, “Bagaimana kami bisa berbicara dengan seorang bayi?”
Ternyata bayi Isa menjawab, “Sesungguhnya aku adalah hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil), menjadikanku seorang nabi, dan memberkati aku di mana pun aku berada. Dia memerintahkanku untuk mendirikan salat dan menunaikan zakat selama aku hidup, berbakti kepada ibuku, dan tidak menjadikanku orang yang sombong. Kesejahteraan bagiku pada hari aku dilahirkan, hari aku wafat, dan hari aku dibangkitkan kembali.”
Setelah itu, barulah orang-orang menyadari kesucian Maryam.
Kenabian Isa as.
Allah mengutus Isa sebagai nabi ketika ia mencapai umur 30 tahun, setelah menerima wahyu dari Tuhannya serta mempelajari Taurat dan Injil.
Allah Swt. berfirman:
“Dan Allah mengajarinya Al-Kitab, hikmah, Taurat, dan Injil, serta mengangkatnya sebagai rasul kepada Bani Israil.”
(Q.S. Ali Imran: 48)
Mulailah Isa menyampaikan ajaran sebagai rasul, mengajak kaumnya untuk mengikutinya, dan berusaha mengembalikan bangsa Yahudi dari penyimpangan. Ia mencegah mereka dari kesesatan dan menjelaskan apa yang mereka perselisihkan tentang halal dan haram, serta menghalalkan bagi mereka sebagian yang sebelumnya diharamkan.
(Q.S. Az-Zukhruf: 63–64)
Pemberitahuan tentang Kedatangan Muhammad Saw.
Di antara tugas Isa adalah memberitahukan tentang kedatangan utusan Allah setelahnya bernama Ahmad, yaitu Muhammad Saw.
Allah Swt. berfirman, menceritakan ucapan Isa:
“Wahai Bani Israil, sesungguhnya aku adalah utusan Allah kepadamu, membenarkan Taurat yang ada di hadapanku dan memberi kabar gembira tentang seorang rasul yang akan datang setelahku, yang bernama Ahmad.”
(Q.S. As-Saff: 6)
Isa menyebutkan nama Muhammad dengan sebutan nabi dan Mesias serta dengan kata Paraclet.
Paraclet berasal dari kata Yunani Periklytos yang terdapat dalam Injil terjemahan Yunani. Maknanya dalam bahasa Yunani adalah Muhammad dan Ahmad.
Al-Allamah Abdul Wahhab An-Najjar pernah bertanya kepada Dr. Carloni Uno, seorang orientalis Italia, tentang arti kata tersebut.
Ia menjawab, “Para pendeta mengatakan artinya penghibur.”
Abdul Wahhab bertanya lagi, “Saya bertanya kepada seorang ahli bahasa, bukan kepada pendeta.”
Ia menjawab, “Artinya adalah yang memiliki banyak pujian.”
Abdul Wahhab bertanya, “Apakah itu sesuai dengan kata Ahmad?”
Dr. Carloni menjawab, “Ya.”
Pembantu-pembantu Isa
Tatkala Isa melihat kaumnya tetap menentang dan kafir terhadap ajarannya kecuali sedikit, ia pun berkata, “Siapakah yang mau menjadi penolongku di jalan Allah?”
Murid-muridnya yang beriman menyambut seruannya dan menyatakan keimanan mereka dengan berani, meskipun jumlah mereka sedikit.
Para pembantu Nabi Isa disebut Al-Hawariyyun, dan jumlahnya dua belas orang laki-laki.
Allah Swt. berfirman:
“Siapakah penolong-penolongku untuk (menegakkan agama) Allah?” Para Hawariyyun berkata, “Kamilah penolong-penolong Allah. Kami beriman kepada Allah dan saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang muslim.”
(Q.S. Ali Imran: 52–53)
Mukjizat-mukjizat Isa
Para pemuka agama merasa terancam, lalu Isa mencela perbuatan mereka dan membongkar keburukan mereka di hadapan manusia.
Mereka kemudian menuntut Isa agar menunjukkan bukti kerasulannya. Maka Allah memberinya berbagai mukjizat:
Membuat burung dari tanah lalu meniupnya hingga menjadi burung hidup dengan izin Allah.
Menyembuhkan orang buta sejak lahir dengan izin Allah.
Menyembuhkan penyakit belang dengan izin Allah.
Menghidupkan orang mati dengan izin Allah.
Memberitahukan apa yang dimakan dan disimpan manusia di rumah mereka.
(Q.S. Ali Imran: 49–50)
Permusuhan Orang Yahudi terhadap Isa
Meskipun telah ditunjukkan berbagai mukjizat, orang-orang Yahudi tetap keras dan memusuhi Isa. Mereka menghalangi dakwahnya dan bersekongkol melawannya.
Ketika tidak berhasil menghentikan dakwah Isa, mereka menghasut penguasa Romawi dengan menuduh bahwa ajarannya mengancam kekuasaan.
Akhirnya dikeluarkan perintah untuk menangkap dan menyalib Isa.
Namun Allah menyelamatkannya. Seorang pengkhianat diserupakan dengan Isa sehingga ia yang ditangkap.
Allah Swt. berfirman:
“Mereka tidak membunuhnya dan tidak pula menyalibnya, tetapi yang diserupakan bagi mereka.”
(Q.S. An-Nisa’: 157)
Akhir Kehidupan Isa
Allah berfirman bahwa Isa tidak dibunuh, melainkan diangkat kepada-Nya.
“Sesungguhnya Aku akan mewafatkanmu dan mengangkatmu kepada-Ku serta membersihkanmu dari orang-orang kafir.”
(Q.S. Ali Imran: 55)
Sebagian ulama berpendapat bahwa Isa diangkat ke langit dengan jasad dan ruhnya. Dalam hadis disebutkan bahwa ia akan turun kembali ke bumi sebagai tanda hari kiamat untuk menegakkan keadilan.
Pendapat lain menyatakan bahwa Isa wafat seperti nabi-nabi lainnya, lalu diangkat derajatnya di sisi Allah. Hakikatnya, Allah lebih mengetahui tentang hal tersebut.
Keesaan Allah dalam Dakwah Isa
Dari ayat-ayat Al-Qur’an dapat dipahami bahwa Isa adalah utusan Allah yang mengajak kepada tauhid, yaitu mengesakan Allah dalam ibadah.
Ibadah hanya untuk Allah semata. Zat-Nya tidak tersusun dan sifat-sifat-Nya tidak dapat disamakan. Allah Maha Suci dari memiliki anak.
(Q.S. An-Nisa’: 170)
0 komentar:
Posting Komentar