Agama Bangsa Arab Sebelum Islam
Bangsa Arab terbagi atas tiga bagian, Arab Baidah, Aaribah, dan Musta’ribah.
Arab Baidah adalah suku bangsa Arab yang telah punah. Yang termasuk golongan ini adalah kaum Aad, Tsamud, Jadis, Thasm, ‘Imlaq, Amiim, Jurhum, dan Jaasim. Mereka ini adalah suku-suku bangsa yang sudah tidak ada lagi.
Arab Aaribah adalah penduduk Yaman dan sekitarnya, yaitu suku Qahtan.
Arab Musta’ribah adalah penduduk Hijaz, Najd, dan sekitarnya. Mereka ini adalah anak-anak Ismail putra Nabi Ibrahim as., yaitu bapak yang menurunkan Nabi Muhammad Saw.
Mereka ini terdiri dari suku-suku yang banyak, dibagi lagi dalam anak-anak suku yang disebut Bathn dan Fakhadz, yang terbesar adalah Rabiah dan Mudhar, di mana suku Quraisy berasal.
Suku Quraisy adalah suku tertinggi di antara Arab Musta’ribah. Mereka yang merawat Ka’bah dan tugas ini menimbulkan kepemimpinan mereka atasnya. Mereka pun memiliki keistimewaan-keistimewaan yang tidak dimiliki suku-suku lain di sekitarnya.
Pecahan-pecahan Quraisy adalah Bani Hasyim, Umayyah, Naufal, Abdud Daar, Asad, Taim, Makhzum, Adiy, Jumah, dan Sahm. Masing-masing suku ini mempunyai satu jabatan atau lebih dalam pemerintahan di Makkah.
Jabatan-jabatan dari suku Quraisy dan pecahan-pecahannya adalah:
As-Sidanah, yaitu pekerjaan menutup Ka’bah dan membukanya bagi orang-orang yang datang ke sana, disebut juga Al-Hijabah.
As-Siqayah, yaitu pekerjaan memberi minum orang-orang haji lantaran sedikitnya air di Makkah. Maka yang mengurusi pekerjaan ini membuat wadah-wadah air dari kulit yang diletakkan di halaman Ka’bah. Di situ ditempatkan air-air tawar dari sumur-sumur yang diangkut dengan unta-unta. Demikianlah keadaan mereka hingga digali sumur Zamzam dan tugas memberi minum dilakukan oleh Bani Hasyim.
Ar-Rifadah, yaitu dana yang dikeluarkan oleh Quraisy dalam setiap musim (pekan raya) dari harta mereka untuk dibuat makanan bagi orang-orang fakir dan tugas ini dilaksanakan oleh Bani Naufal, kemudian Bani Hasyim.
Al-Liwa’, yaitu nama bendera Quraisy. Bilamana mereka hendak perang, dikeluarkanlah bendera itu dan diserahkan kepada seorang di antara mereka yang sudah mereka sepakati bersama, atau kalau tidak maka diserahkan kepada pemegangnya, yaitu dari Bani Umayyah.
An-Nadwah, yaitu sebuah bangunan yang didirikan oleh Quraisy di samping Ka’bah untuk bermusyawarah. Di situ berkumpul pemuka-pemuka Quraisy untuk bermusyawarah, dan tidak boleh seorang pun masuk ke situ kecuali orang yang sudah berumur 40 tahun. Setiap perkawinan dilakukan di situ, demikian pula bendera perang, juga pemakaian cadar oleh seorang gadis Quraisy yang sudah balig dilakukan di situ. Darun Nadwah ini diurusi oleh Bani Abdid Daar.
Al-Qiyadah dan Al-Masyurah. Al-Qiyadah ialah tugas memimpin rombongan, pelakunya berjalan di depan rombongan dalam perjalanan mereka, baik untuk berperang atau berdagang. Tugas ini dijalankan oleh Bani Umayyah dan pelakunya di antara mereka pada permulaan Islam adalah Abu Sufyan bapak Muawiyah. Adapun Al-Masyurah ialah tugas memberi nasihat dalam urusan-urusan penting. Tugas ini dijalankan oleh Bani Asad. Kaum Quraisy selalu mengemukakan urusannya kepada Bani Asad untuk bermusyawarah.
Al-Qubbah dan Al-Hukumah. Al-Qubbah adalah tempat di mana mereka mengumpulkan dan mempersiapkan pasukan, sedangkan Al-Hukumah ialah pemutusan perkara antara manusia bila terjadi sengketa antara sesama mereka atau dengan kata lain At-Tahkim.
As-Safarah, yaitu tugas sebagai duta untuk melakukan perundingan perdamaian bila terjadi perang antara suku-suku. Duta terakhir bangsa Quraisy di zaman Jahiliyah adalah Umar bin Khattab.
Pasar Ukaz
Pasar Ukaz terletak di dekat Thaif. Ia adalah sebuah pasar di mana orang-orang berdatangan dari segenap penjuru dalam bulan-bulan haram. Di situ mereka memasang kemah-kemah dan berjual beli serta bertukar barang. Maka pasar ini menjadi tempat pertemuan musiman dari para ahli pidato dan penyair yang masing-masing memperlihatkan kebolehannya.
Tahun Gajah
Pada tahun ini datang pasukan gajah yang dipimpin oleh Abrahah dari negeri Habasyah untuk merobohkan Ka’bah. Namun serangan mereka berhasil digagalkan dengan pertolongan Allah yang mengirimkan burung-burung Ababil, yang menjatuhkan batu-batu kecil yang mengandung penyakit kepada pasukan Abrahah.
Peristiwa ini terjadi pada pertengahan abad ke-6 Masehi. Pada tahun ini pula dilahirkan Nabi besar Muhammad Saw sebagai nabi terakhir bagi umat manusia.
Kelahiran Nabi Muhammad Saw.
Beliau adalah keturunan dari Ismail as.
Nasabnya dari pihak bapak: Muhammad bin Abdullah bin Abdul Muthalib bin Hasyim bin Abdu Manaf bin Qushay bin Kilab bin Murroh bin Ka'ab bin Lu’ay bin Ghalib bin Fihr bin Malik bin Nadhar bin Kinanah bin Khuzaimah bin Mudrikah bin Ilyas bin Mudhar bin Nizar bin Ma’ad bin Adnan.
Nasabnya dari pihak ibu: Muhammad bin Aminah binti Wahab bin Abdu Manaf bin Zuhrah bin Kilab.
Bapak dan ibunya bertemu nasabnya pada kakeknya Kilab. Muhammad Saw. dilahirkan di Makkah pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun Gajah yang bertepatan dengan tanggal 20 Nisan tahun 571 Masehi.
Maka jarak antara kelahiran beliau dengan kelahiran Isa as. adalah 571 tahun, antara Isa hingga wafatnya Musa as. adalah 1716 tahun, antara Musa dan Ibrahim as. adalah 545 tahun, antara Ibrahim dan air bah yang terjadi pada masa Nabi Nuh as. adalah 1080 tahun, antara air bah Nabi Nuh as. dan Adam as. 2242 tahun, sehingga jarak antara kelahiran Muhammad Saw. dan Adam as. 6155 tahun berdasarkan riwayat yang masyhur dari para ahli sejarah.
Muhammad Saw. dibesarkan di Makkah sebagai anak yatim karena ayahnya Abdullah wafat di Madinah dua bulan sebelum beliau lahir. Pada waktu itu ayahnya sedang berdagang di Syam dan singgah di Madinah dalam keadaan sakit hingga wafat di rumah pamannya dari Bani Najjar.
Ayahnya tidak meninggalkan apa-apa kecuali seekor unta dan seorang hamba sahaya perempuan.
Pada waktu itu bangsa Arab mempunyai kebiasaan untuk menyerahkan penyusuan anak-anak mereka kepada perempuan lain di dusun dengan harapan agar anak tersebut di kemudian hari mempunyai tubuh yang kuat dan ucapan yang fasih. Berdasarkan kebiasaan inilah kakeknya Abdul Muthalib menyerahkan cucunya Muhammad Saw. kepada Halimah binti Dzu’aib As-Sa’diyah, salah seorang perempuan dari Bani Sa’ad, untuk menyusui beliau.
Setelah Muhammad Saw. berusia 4 tahun, Halimah mengembalikannya kepada ibunya. Menurut riwayat, selama ia menyusui Nabi Saw. sering terjadi hal-hal yang luar biasa pada diri beliau.
Wafatnya Ibu Nabi Muhammad Saw.
Ketika Nabi Saw. mencapai usia 6 tahun, pergilah ibunya ke tempat paman-pamannya dari Bani Najjar, kemudian kembali bersama beliau. Dalam perjalanan pulang, wafatlah ibunya di suatu tempat bernama Abwa’, yaitu sebuah desa yang terletak antara Makkah dan Madinah.
Setelah itu Nabi Saw. diasuh oleh Ummu Aiman dan dipelihara oleh kakeknya Abdul Muthalib yang merupakan salah seorang terkemuka di Makkah pada waktu itu. Abdul Muthalib sangat mencintai cucunya.
Setelah 2 tahun dipelihara kakeknya, kemudian Abdul Muthalib wafat dalam usia 140 tahun dan Nabi Saw. dipelihara oleh pamannya Abu Thalib, ayah dari Imam Ali ra.
Perjalanan Pertama
Tatkala Nabi Saw. mencapai usia 13 tahun, beliau pergi bersama pamannya Abu Thalib ke Syam.
Di suatu tempat beliau berjumpa dengan seorang pendeta Yahudi bernama Buhairah, dan ada pula yang mengatakan pendeta Nasrani. Pendeta itu memahami adanya keistimewaan pada diri Nabi Saw. dan berkata kepada Abu Thalib: “Sesungguhnya anak saudara ini akan mendapatkan kedudukan yang tinggi, maka jagalah dia baik-baik.”
Kemudian pulanglah Abu Thalib bersama Nabi Saw. ke Makkah.
Perjalanan Kedua
Ketika Nabi Saw. mencapai usia 25 tahun, beliau pun pergi ke Syam untuk kedua kalinya dengan membawa barang dagangan milik Khadijah binti Khuwailid, seorang wanita ternama dan kaya yang mempercayakan kepada beliau.
Dalam perjalanan ini Nabi Saw. disertai seorang hamba Khadijah bernama Maisarah. Dalam perjalanan itu beliau bertemu dengan rahib bernama Nasthur, dan ia pun memahami adanya keistimewaan pada diri Nabi Saw. sebagaimana yang pernah dilihat oleh Buhairah.
Setelah selesai berdagang, kembalilah mereka ke Makkah.
Perkawinan Muhammad Saw.
Setibanya di Makkah dari perjalanan dagang ini, beliau kawin dengan Khadijah binti Khuwailid, yaitu dua bulan sesudah kedatangannya.
Setelah itu Nabi Saw. pindah ke rumah Khadijah untuk memulai lembaran baru dari kehidupannya. Umur Khadijah pada waktu itu 40 tahun.
Dari perkawinan itu lahir 3 orang putra yaitu Al-Qasim, Abdullah dan Thayyib, yang semuanya meninggal di waktu kecil, serta 4 orang putri yaitu Zainab, Ruqayyah, Ummu Kultsum dan Fatimah.
Keempat putri itu hidup sampai mereka besar. Yang tertua dari mereka kawin dengan Abil Ash ibnu Rabi’ bin Abdus Syam. Ruqayyah kawin dengan Utbah bin Abi Lahab, sedangkan Ummu Kultsum kawin dengan Utaibah bin Abi Lahab.
Ruqayyah dan Ummu Kultsum kemudian kawin lagi dengan Usman bin Affan. Adapun yang termuda yaitu Fatimah Az-Zahra ra. kawin dengan Ali bin Abi Thalib ra.
Penyelesaian Perkara oleh Muhammad Saw.
Ketika Rasulullah Saw. mencapai usia 35 tahun, kebetulan orang Quraisy sedang membangun Ka’bah dan hendak meletakkan Hajarul Aswad di tempatnya di sebelah timur.
Mereka berselisih mengenai siapa yang akan meletakkan Hajarul Aswad, sampai hampir saja mereka berkelahi karena pekerjaan ini adalah suatu pekerjaan yang mulia.
Kemudian diputuskan bahwa siapa yang lebih dahulu masuk dari pintu Shafa, dialah yang akan memutuskan perkara ini.
Ternyata Muhammad Saw. yang masuk pertama kali, maka beliau memutuskan untuk meletakkannya di atas sorbannya dan masing-masing suku memilih seorang wakil yang memegang ujung sorban dan mengangkatnya bersama-sama hingga tiba di tempatnya. Lalu Nabi Saw. mengambil Hajarul Aswad dan menaruhnya di tempatnya, maka selesailah persoalannya.
Bangsa Arab Sebelum Pengangkatan Muhammad Saw. sebagai Rasul
Di antara mereka ada yang mengingkari penyembahan berhala dan membenci perbuatan-perbuatan jahiliyah.
Mereka itu antara lain adalah Qais bin Sa’idah Al-Ayadi, orang bijak dan ahli pidato yang wafat sebelum pengangkatan Muhammad Saw. sebagai nabi.
Kemudian Abu Said bin Zaid, paman Umar bin Khattab, yang wafat di Damaskus sebelum pengangkatan Muhammad Saw. sebagai nabi. Kemudian Waraqah bin Naufal, anak paman Khadijah, yang bertemu dengan Nabi Saw. sebelum pengangkatan dan menguatkan serta memberitakan akan keberhasilan dakwahnya.
Di antara mereka ada yang tidak memeluk satu agama apa pun.
Nabi Saw. mempunyai kebiasaan suka menyendiri dan merenungkan keadaan alam ini. Beliau berdiam mengasingkan diri di Gua Hira yang terletak 3 mil dari Makkah, jauh dari kesibukan-kesibukan hidup.
Muhammad Saw. sebagai Nabi
Tatkala Muhammad Saw. mencapai usia 40 tahun, turunlah wahyu pertama yang dibawa oleh Jibril di Gua Hira.
Wahyu itu ialah firman Allah Swt.:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang telah menciptakan. Dia menciptakan manusia dari segumpal darah.”
Adalah Waraqah bin Naufal, anak paman Khadijah binti Khuwailid, seorang yang masyhur di Makkah karena keluasan ilmunya dalam hal ihwal agama-agama samawi.
Tatkala Jibril turun membawa wahyu kepada Nabi Saw., Khadijah pergi menemuinya dan memberitahukan kepadanya tentang peristiwa tersebut. Waraqah berkata:
“Demi Tuhan yang nyawa Waraqah berada di tangan-Nya, jika engkau benar, wahai Khadijah, telah datang malaikat agung yang pernah datang kepada Musa, dan sesungguhnya ia (Muhammad) adalah nabi dari umat ini.”
Penyiaran Dakwah
Mulailah Rasulullah Saw. menyiarkan dakwah kepada kaumnya secara khusus dan umat-umat yang lain secara umum, yaitu seruan untuk memeluk agama Islam yang memberi petunjuk kepada manusia agar mencapai kebahagiaan di dunia dan akhirat.
Pertama kali beliau menyiarkan agama Islam secara diam-diam, kemudian berubah menjadi terang-terangan.
Orang pertama yang menerima ajakan Rasulullah Saw. ialah Abu Bakar bin Abi Quhafah yang termasuk pemuka Quraisy yang disegani.
Dari kaum wanita adalah Khadijah binti Khuwailid istrinya, dan dari anak-anak adalah Ali bin Abi Thalib, dan dari sahaya adalah Zaid bin Haritsah. Kemudian makin lama makin banyak pengikutnya.
Dalam menyiarkan agama Islam, Nabi Saw. mengalami gangguan besar dari kaumnya. Mereka melempari beliau dengan batu dan kotoran, namun beliau tetap sabar dan tabah dalam menyiarkan dakwah Islam, sehingga mereka melancarkan segala usaha untuk menghentikan dakwahnya.
Beliau tetap tekun dalam pekerjaannya yang mulia, hingga tampaklah kebenaran dan lenyaplah kebatilan.
Dakwah secara diam-diam dilakukan selama 3 tahun, kemudian turun wahyu yang menyerukan untuk berdakwah secara terang-terangan.
Kaum Quraisy bermusyawarah untuk memutuskan cara guna menghentikan dakwah Muhammad Saw. Maka diputuskan untuk mengirim utusan kepada Nabi Saw. untuk membujuknya.
Namun usaha mereka sia-sia belaka, karena dakwah Nabi Saw. bukanlah untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kemaslahatan seluruh umat manusia sebagaimana diperintahkan oleh Allah Swt.
Hijrah Pertama ke Negeri Habasyah
Tatkala gangguan kaum kafir Quraisy makin bertambah sengit dengan melakukan penganiayaan dan penyiksaan terhadap kaum muslimin, maka Nabi Saw. memutuskan untuk hijrah ke Habasyah.
Kemudian berangkatlah 11 orang laki-laki dan 4 orang perempuan ke negeri Habasyah (Ethiopia) di bawah pimpinan Ja’far bin Abi Thalib. Setelah itu menyusul yang lain, sehingga seluruh kaum Muhajirin berjumlah 83 laki-laki dan 18 perempuan.
Tatkala kaum Quraisy mendengar kabar itu, mereka mengutus delegasi kepada Najasyi, raja Habasyah, yang di antara mereka terdapat Abdullah bin Abi Rabi’ah dan Amru bin Ash.
Setibanya mereka di hadapan Najasyi, berkatalah Amru bin Ash sebagai juru bicara kaum musyrikin kepada raja:
“Telah datang ke negerimu anak-anak bodoh dari negeri kami yang telah meninggalkan agama kaum mereka dan tidak memeluk agama baru. Mereka datang membawa agama yang mereka buat dan tidak kita kenal. Sedangkan kami diutus kepadamu oleh pemuka-pemuka kaum mereka dan keluarga mereka untuk mengembalikan orang-orang ini kepada negeri mereka.”
Raja kemudian bertanya kepada kaum muslimin, yang dijawab oleh Ja’far bin Abi Thalib sebagai juru bicara: “Wahai raja, kami sebelumnya adalah orang-orang jahiliyah yang menyembah berhala, memakan bangkai, melakukan perbuatan keji, memutuskan hubungan keluarga, dan yang kuat menindas yang lemah. Lalu Allah mengutus kepada kami seorang rasul dari golongan kami yang kami kenal nasabnya, kejujurannya, dan kesuciannya. Maka ia menyuruh kami menyembah Allah, tidak menyekutukan-Nya dengan sesuatu apa pun, meninggalkan berhala-berhala yang kami sembah, menyuruh berkata benar, menyambung tali kekeluargaan, berbuat baik terhadap tetangga, tidak menumpahkan darah, melarang zina dan dusta, melarang memakan harta anak yatim, serta menyuruh kami mengerjakan salat, puasa, dan zakat. Maka kami beriman kepadanya dan membenarkannya.”
Tatkala Ja’far bin Abi Thalib membacakan sebagian surah Maryam, menangislah Najasyi, lalu berkata:
“Sesungguhnya agama ini dan agama yang dibawa Isa berasal dari satu sumber.”
Kemudian ia berkata kepada utusan Quraisy: “Pergilah kamu berdua, demi Allah aku tidak akan menyerahkan mereka kepada kalian.”
Hijrah Kedua ke Habasyah
Sesudah kembalinya kaum Muhajirin, Hamzah bin Abi Thalib dan Umar bin Khattab masuk Islam.
Pada waktu kaum muslimin berjumlah 40 orang laki-laki dan 11 perempuan, Islam semakin kuat dengan masuknya Umar bin Khattab, kemudian terus tersebar di kalangan suku-suku Arab.
Maka kaum Quraisy merasa takut dan bermaksud membunuh Nabi Saw. serta memboikot beliau dan keluarganya Bani Hasyim di Syi’ib Makkah sampai mereka menyerahkan Nabi Saw. untuk dibunuh.
Kaum Quraisy menulis isi boikot dalam lembaran kulit yang digantungkan di Ka’bah.
Maka Nabi Saw. menyuruh sahabat-sahabatnya berhijrah ke Habasyah untuk kedua kalinya. Jumlah kaum Muhajirin saat itu 83 orang laki-laki dan 18 perempuan, dan ikut pula kaum muslimin dari Yaman, yaitu Abu Musa Al-Asy’ari dan kaumnya.
Penghentian Boikot
Nabi Saw. dan kaumnya terkepung di dalam Syi’ib selama 3 tahun tanpa menerima makanan kecuali secara sembunyi-sembunyi, sehingga mereka sampai memakan dedaunan.
Kemudian orang-orang Quraisy menghentikan pemboikotan, sedangkan lembaran kulit yang berisi pengumuman boikot itu telah dimakan rayap.
Maka keluarlah Nabi Saw. dari tempat tersebut. Peristiwa ini terjadi pada tahun ke-10 kenabian.
Berdakwah di Thaif
Abu Thalib, paman Nabi Saw., adalah seorang yang membela beliau dengan sepenuh hati. Pada tahun ke-10 kenabian, wafatlah Abu Thalib sehingga gangguan Quraisy semakin berat.
Karena itu Nabi Saw. pergi berdakwah ke Thaif bersama Zaid bin Haritsah. Di sana beliau tinggal selama sebulan menyeru Bani Tsaqif, namun mereka menolak bahkan mengganggu beliau hingga kakinya berdarah karena lemparan batu.
Zaid bin Haritsah melindungi beliau hingga mereka berlindung di bawah pohon anggur milik Utbah dan Syaibah bin Rabi’ah. Mereka lalu mengutus seorang sahaya bernama Addas untuk memberikan anggur kepada Nabi Saw.
Ketika hendak memakannya, Nabi Saw. mengucapkan basmalah. Addas terkejut dan berkata bahwa ucapan itu tidak biasa di negeri tersebut.
Setelah berbincang dan Nabi Saw. menceritakan kisah Nabi Yunus, Addas pun masuk Islam dan berkata bahwa tidak ada orang yang lebih baik dari beliau.
Tersebarnya Islam di Madinah
Nabi Saw. terus berdakwah hingga pada tahun ke-11 kenabian, sebagian orang dari Yatsrib (Madinah) beriman.
Kemudian pada tahun ke-12 kenabian datang 12 orang dan membaiat Nabi Saw., lalu kembali ke Madinah untuk menyebarkan Islam.
Pada tahun ke-13 kenabian, datang 70 laki-laki dan 2 perempuan dari Madinah dan membaiat Nabi Saw., sehingga bertambah banyak pengikut Islam di sana.
Hijrah ke Madinah
Karena gangguan Quraisy semakin hebat, Nabi Saw. memutuskan untuk hijrah ke Madinah bersama kaum muslimin secara sembunyi-sembunyi.
Kaum Quraisy pun bersepakat untuk membunuh beliau. Maka Nabi Saw. keluar bersama Abu Bakar dan bersembunyi di Gua Tsur pada hari Kamis, 1 Rabi’ul Awwal.
Setelah 3 hari, mereka keluar dari gua dengan ditemani penunjuk jalan Abdullah bin Uraiqith hingga tiba di Quba pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal.
Di antara para pengejar adalah Suraqah bin Malik. Namun setiap kali ia mendekat, kudanya terjatuh hingga ia menyadari usahanya gagal.
Nabi Saw. kemudian tiba di Madinah, mendirikan masjid di Quba, dan disambut dengan baik oleh penduduk Madinah yang membantu beliau dalam menyebarkan agama Islam.
Pasukan Pertama yang Dipimpin oleh Nabi Saw.
Pasukan pertama yang dipimpin Nabi Saw. ialah pasukan yang berangkat bersama beliau pada tahun 2 Hijriah untuk menyerang Waddan dan memerangi Bani Dhamrah, karena mereka melanggar janji damai yang telah diadakan di antara kedua belah pihak.
Jumlah pasukan Nabi Saw. pada waktu itu 60 orang prajurit, akan tetapi tidak terjadi perang, bahkan diadakan perjanjian untuk kedua kalinya.
Setelah itu terjadi 27 kali ghazwat (peperangan) yang kesemuanya dimenangkan oleh kaum muslimin, kecuali ghazwat Uhud dan awal peperangan Hunain.
Peperangan-peperangan di mana Rasulullah Saw. ikut berperang semuanya berjumlah 9 peperangan, yaitu Perang Badar (2 kali), Uhud, Khandaq, Bani Quraidhah, Bani Musthaliq, Khaibar, Hunain, dan Thaif.
Peperangan Badar Besar
Peperangan Badar besar terjadi pada tahun 2 Hijriah, antara 313 prajurit muslimin dengan 1.000 prajurit Quraisy.
Pertempuran ini merupakan penentuan antara yang hak dan yang batil, karena di situ kaum muslimin mendapat kemenangan dan berhasil menawan 70 orang Quraisy serta membunuh 70 orang dari mereka.
Adapun kaum muslimin hanya kehilangan 12 orang yang tewas sebagai syuhada.
Badar adalah nama desa yang terletak antara Makkah dan Madinah.
Tebusan Tawanan dengan Mengajar
Tawanan-tawanan Quraisy pada waktu itu terbagi dua bagian, yaitu orang-orang kaya dan orang-orang miskin.
Adapun orang-orang kaya ditebus oleh keluarga mereka dengan harta, sedangkan orang-orang miskin tebusannya ialah tiap-tiap orang harus mengajar membaca dan menulis kepada sepuluh orang anak di Madinah.
Perang Ghathafan
Perang Ghathafan terjadi tahun 3 Hijriah. Peperangan ini sebenarnya tidak begitu penting, akan tetapi dalam perang ini terjadi suatu peristiwa besar.
Pada waktu itu keluar 450 orang dari Bani Tsa’labah dan Muharib di bawah pimpinan Dutsur bin Harits Al-Muharibi yang ingin menyerbu Madinah. Maka keluarlah Nabi Saw. dengan pasukannya dan lari musuh ke gunung-gunung.
Tatkala Nabi Saw. sedang beristirahat dan menjemur bajunya yang basah sambil duduk di bawah pohon, tiba-tiba muncul Dutsur secara diam-diam hendak membunuh beliau seraya berkata:
“Siapakah yang akan melindungimu, hai Muhammad?”
Beliau menjawab: “Allah Ta’ala.”
Maka orang itu merasa takut dan pedangnya terjatuh dari tangannya. Lalu Nabi Saw. mengambilnya seraya berkata: “Siapakah yang dapat melindungimu dariku?”
Dutsur menjawab: “Tidak ada.”
Maka Nabi Saw. memaafkannya dan ia pun masuk Islam serta mengajak kaumnya memeluk agama Islam.
Perang Uhud
Kaum musyrikin Quraisy ingin membalas kekalahan mereka dalam Perang Badar.
Tiga ribu prajurit Quraisy yang lengkap persenjataannya berhadapan dengan prajurit muslimin yang berjumlah 1.000 orang, dikurangi 300 orang munafik di bawah pimpinan Abdullah bin Ubay.
Ketika kedua pasukan bertemu, Nabi Saw. menyuruh 50 pemanah muslimin agar menjaga tempat strategis, baik menang atau kalah.
Pertempuran pun terjadi dan kemenangan awal berada di pihak muslimin. Namun para pemanah meninggalkan posisi mereka untuk mengambil rampasan perang, kecuali pemimpinnya Abdullah bin Jubair.
Kaum musyrikin memanfaatkan kesempatan itu untuk menyerang balik dan mencerai-beraikan kaum muslimin.
Nabi Saw. tetap bertahan bersama para sahabatnya, walaupun wajah beliau terluka dan giginya patah.
Korban tewas di pihak muslimin berjumlah 70 orang, di antaranya Hamzah paman Nabi Saw., dan di pihak Quraisy 33 orang tewas.
Uhud adalah nama gunung di dekat Madinah.
Perang Khandaq atau Ahzab
Perang Khandaq atau Ahzab terjadi pada tahun 5 Hijriah.
Kaum Quraisy bersekutu dengan orang-orang Yahudi untuk memerangi kaum muslimin dengan jumlah 10.000 orang di bawah pimpinan Abu Sufyan bin Harb. Kaum muslimin tidak langsung menghadapi mereka, tetapi menggali parit (khandaq) atas saran Salman Al-Farisi. Mereka terkepung selama 15 hari dan mengalami kesulitan besar, ditambah dengan pengkhianatan Bani Quraidhah.
Akhirnya Allah mengirim angin kencang yang menghancurkan pasukan musuh, sehingga kaum muslimin selamat.
Perang Khaibar
Perang Khaibar terjadi pada tahun 7 Hijriah. Khaibar adalah kota yang dihuni oleh orang-orang Yahudi yang pernah bersekutu dengan Quraisy.
Nabi Saw. menyerang mereka dengan 1.600 prajurit dan mengepung selama 6 hari hingga berhasil mengalahkan mereka pada hari ketujuh.
Dalam perang ini Ali bin Abi Thalib menunjukkan keberanian yang luar biasa.
Perang Mu’tah
Perang Mu’tah terjadi pada tahun 8 Hijriah. Sebenarnya ini bukan ghazwah, tetapi sariyah karena Rasulullah Saw. tidak ikut langsung.
Nabi Saw. mengirim 3.000 prajurit di bawah pimpinan Zaid bin Haritsah untuk menghadapi tentara Romawi di dekat Palestina.
Beliau berpesan agar tidak membunuh wanita, anak-anak, orang tua, serta tidak merusak tanaman dan tempat ibadah.
Ketika bertemu pasukan Romawi yang berjumlah sekitar 200.000 orang, terjadilah pertempuran hebat.
Zaid bin Haritsah gugur, lalu digantikan Ja’far bin Abi Thalib yang juga gugur. Akhirnya pimpinan dipegang oleh Khalid bin Walid hingga kaum muslimin selamat.
Perjanjian Hudaibiyah
Pada tahun 6 Hijriah, Nabi Saw. pergi ke Makkah untuk umrah bersama 1.500 orang tanpa membawa senjata perang.
Kaum Quraisy menghalangi mereka di Hudaibiyah, namun tidak terjadi pertempuran dan justru dibuat perjanjian damai antara kedua pihak.
Pengiriman Surat kepada Raja-raja
Setelah perjanjian, Nabi Saw. mengirim surat kepada raja-raja untuk mengajak mereka masuk Islam.
Di antaranya kepada Kaisar Romawi, Raja Persia, Najasyi Raja Habasyah, Raja Bahrain, dan Raja Oman.
Sebagian menyambut baik, sebagian menolak, bahkan ada yang menghina utusan.
Penaklukan Makkah
Pada tahun 8 Hijriah, Quraisy melanggar perjanjian. Maka Nabi Saw. memimpin 10.000 pasukan menuju Makkah.
Beliau memerintahkan agar tidak berperang kecuali jika diserang. Namun terjadi pertempuran kecil dan kaum muslimin menang.
Penduduk Makkah diberi ampunan, kecuali beberapa orang yang melakukan kejahatan besar.
Penaklukan Makkah terjadi pada 20 Ramadhan tahun 8 Hijriah.
Penghancuran Berhala
Nabi Saw. menghancurkan berhala-berhala di Ka’bah yang berjumlah sekitar 360.
Beliau juga mengirim pasukan untuk menghancurkan berhala di berbagai tempat.
Hari Pengampunan
Saat penaklukan Makkah, Nabi Saw. memaafkan musuh-musuhnya, termasuk Abu Sufyan yang sebelumnya memusuhi Islam.
Beliau berkata bahwa hari itu adalah hari kasih sayang dan pengampunan.
Perang Hunain
Perang Hunain terjadi pada tahun 8 Hijriah.
Pada awalnya kaum muslimin mengalami kekalahan karena kurang waspada, namun akhirnya mereka bangkit dan memenangkan perang.Sebanyak 70 musuh terbunuh dan banyak yang tertawan, sedangkan di pihak muslimin gugur 4 orang syuhada.
Ekspedisi Tabuk
Ekspedisi Tabuk terjadi pada tahun 9 Hijriah. Dalam ekspedisi itu tidak terjadi perang, akan tetapi peristiwa ini menunjukkan kegotongroyongan dan pembelanjaan harta di saat masyarakat dalam keadaan sulit, tanah dalam keadaan tandus dan air dalam keadaan surut.
Ketika Nabi Saw. mendengar pasukan Romawi yang terdiri dari ribuan orang sedang bersiap-siap untuk menyerang kaum muslimin di negeri mereka, beliau meminta bantuan kepada sahabat-sahabatnya agar membantu pasukan Islam dengan perlengkapan yang dibutuhkan.
Maka Usman menyumbang dengan uang 10.000 dinar dan 300 unta serta 50 ekor kuda. Sedangkan Abu Bakar menyumbang seluruh hartanya yaitu 4.000 dirham, dan Umar bin Khattab menyumbang separuh hartanya. Banyak pula sahabat lain yang mengikuti jejak mereka.
Adapun kaum perempuan, mereka menyumbangkan perhiasan-perhiasan mereka.
Kemudian berangkatlah Rasulullah Saw. dengan pasukan yang terdiri dari 30.000 orang. Tatkala mereka tiba di Tabuk, mereka tidak melihat pasukan musuh, akan tetapi penduduk setempat datang mengajak damai dengan membayar jizyah (pajak) dan mengadakan perjanjian perdamaian dengan mereka.
Haji Wada’
Haji Wada’ terjadi pada tahun 10 Hijriah. Pada waktu itu ikut serta bersama Nabi Saw. kira-kira 114.000 orang haji, belum termasuk sejumlah besar suku-suku Arab yang menunjukkan betapa luasnya tersebar Islam dalam waktu yang relatif singkat.
Pada haji Wada’, Nabi Saw. berkhutbah di hadapan kaum muslimin yang sangat banyak jumlahnya. Isi khutbah antara lain: Sesungguhnya darahmu dan hartamu adalah haram atas kamu (untuk diganggu).
Takutlah kepada Allah dalam memperlakukan perempuan, karena kamu mengambil mereka sebagai istri dengan amanat Allah. Segala sesuatu yang termasuk perkara jahiliyah tidak berlaku lagi. Dua perkara kutinggalkan pada kamu, yaitu Kitab Allah (Al-Qur’an) dan sunnahku. Jangan kamu kembali menjadi kafir dengan saling membunuh di antara kamu. Pada saat itu turun wahyu: “Hari ini Aku sempurnakan bagimu agamamu dan Aku sempurnakan nikmat-Ku atas kamu dan Aku ridha Islam sebagai agamamu.”
Pasukan Usamah
Setelah kembali dari haji Wada’, Nabi Saw. menyiapkan pasukan di bawah pimpinan Usamah bin Zaid menuju Balqa’ dekat Mu’tah untuk menghukum Bani Ghassan.
Usia Usamah saat itu 17 tahun, dan bawahannya terdiri dari para sahabat besar seperti Abu Bakar, Umar, Abu Ubaidah, dan Sa’ad. Hal ini menunjukkan bahwa kepemimpinan didasarkan pada kecakapan, bukan usia.
Sakitnya Nabi Saw.
Sakit Nabi Saw. dimulai dengan rasa pusing setelah menyiapkan pasukan Usamah. Ketika sakitnya bertambah, beliau meminta izin kepada istri-istrinya untuk dirawat di rumah Aisyah dan semuanya setuju.
Ketika berada di rumah Aisyah, beliau meminta air dingin untuk meringankan panas tubuhnya. Karena sakit, beliau menyuruh Abu Bakar menjadi imam salat bagi para sahabat.
Suatu ketika, Nabi Saw. keluar dengan kepala dibalut kain dan berpegangan pada Ali dan Al-Fadhl, lalu duduk di mimbar dan menyampaikan khutbah terakhirnya.
Isi khutbah tersebut antara lain:
“Aku mendengar kalian takut akan kematian nabimu. Ketahuilah bahwa aku akan pergi kepada Tuhanku dan kalian akan menyusulku. Maka aku berwasiat agar kalian memperlakukan kaum Muhajirin dan Anshar dengan baik.”
Wafatnya Nabi Saw.
Akhirnya pada hari Senin, 12 Rabi’ul Awwal tahun 11 Hijriah, wafatlah Rasulullah Saw. dalam usia 63 tahun.
Terkejutnya Para Sahabat
Ketika berita wafatnya Nabi Saw. tersebar, para sahabat sangat terkejut. Bahkan Umar sempat mengingkari wafatnya Nabi Saw.
Kemudian Abu Bakar berkata:
“Barang siapa menyembah Muhammad, maka Muhammad telah wafat. Barang siapa menyembah Allah, maka Allah hidup dan tidak akan mati.”
Beliau juga membacakan ayat bahwa Muhammad adalah seorang rasul yang sebelumnya telah berlalu rasul-rasul, dan bahwa semua manusia akan mati.
Setelah itu para sahabat menjadi tenang.
Istri-istri Nabi Saw.
Selain Khadijah binti Khuwailid, Nabi Saw. memiliki istri-istri lain setelah wafatnya Khadijah, yaitu Saudah binti Zam’ah, Aisyah binti Abu Bakar, Hafshah binti Umar, Ummu Habibah binti Abu Sufyan, Ummu Salamah, Zainab binti Jahsy, Juwairiyah binti Al-Harits, Shafiyyah binti Huyay, dan Maimunah binti Al-Harits.
Penulis-penulis Wahyu
Di antara penulis wahyu Rasulullah Saw. adalah Ali bin Abi Thalib, Zaid bin Tsabit, Ubay bin Ka’ab, Utsman bin Affan, Khalid bin Said, Abban bin Said, dan Al-Ala bin Hadhrami.
Kewajiban Salat
Ditetapkan pada tahun ke-11 kenabian melalui peristiwa Isra’ Mi’raj, yaitu perjalanan Nabi Saw. dari Masjidil Haram ke Masjidil Aqsha dan naik ke Sidratul Muntaha untuk menerima perintah salat lima waktu.
Jihad
Diwajibkan pada tahun pertama Hijrah. Pada tahun itu pula Nabi Saw. membangun Masjid Nabawi di Madinah dan ditetapkan azan dalam Islam.
Kewajiban Puasa dan Zakat
Pada tahun kedua Hijriah, kiblat dipindahkan dari Baitul Maqdis ke Ka’bah setelah sebelumnya selama 16 bulan menghadap Baitul Maqdis.
Pada tahun itu diwajibkan puasa Ramadan, zakat bagi orang kaya, zakat fitrah, serta disyariatkan salat hari raya.
Pengharaman Khamer
Pada tahun ketiga Hijriah, khamer diharamkan dalam Islam.
Belajar Bahasa Ibrani
Pada tahun ke-4 Hijriah, Rasulullah Saw. menyuruh Zaid bin Tsabit mempelajari bahasa Ibrani agar dapat berkomunikasi dengan kaum Yahudi.
Kewajiban Haji
Pada tahun kelima Hijriah diwajibkan haji sebagai pertemuan besar umat Islam dari seluruh dunia. Pada tahun itu juga dibatalkan kebiasaan menyamakan anak angkat dengan anak kandung dalam hal warisan.
0 komentar:
Posting Komentar