Tampilkan postingan dengan label Kie. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Kie. Tampilkan semua postingan

Kamis, 07 Mei 2026

Nom De Plume

Nom De Plume adalah istilah Prancis yang berarti "nama pena" atau nama samaran yang digunakan penulis untuk menerbitkan karyanya alih-alih nama aslinya. Tujuannya apa? Kenapa nggak pakai nama asli? Tulisan adalah jendela jiwa. Tak hanya tentang bahagia dan hal positif yang tertuang ditulisan. Disitu ada kesedihan, ada kekesalan yang tidak bisa diungkapkan, ada trauma, ada kemarahan, ada banyak hal. Maka, beberapa penulis butuh untuk menyembunyikan nama aslinya. Tidak hanya nama, tapi identitas aslinya, kehidupan aslinya. Nama pena memungkinkan penulis untuk menulis hal diluar batas kewajaran. Semacam alter ego. 

Di Indonesia sendiri ada beberapa penulis yang menggunakan nama pena seperti Tere Liye, Andrea Hirata, Gol A Gong, Asma Nadia dan Remy Sylado.

Padahal harusnya kan seseorang bangga dengan hasil karyanya? Oh no no baby no no. Jika aku menulis novel tentang pembunuhan, yang rapi dan tersusun, jika kemudian pembaca membaca tulisanku itu, dan ternyata pembacanya mengenalku dalam kehidupan sehari-hari dia akan berfikir, minimal : "Kok bisa orang pendiam seperti itu tulisannya kriminal banget?", atau yang lebih parah berfikir : "Jangan-jangan dia memang pernah melakukan pembunuhan?". 

Dengan menggunakan nama pena, sifat asli yang kalem (idih) dan pikiran yang plenger dan dituangkan melalui tulisan akan terpisah. Penulis hanya akan dinilai dari tulisan yang tercetak saja. Tidak bercampur dengan bagaimana kelakukannya dalam kehidupan sehari-hari.

Lalu ada korelasinya dengan orang yang memiliki akun media sosial lebih dari satu. Kalo dua masih oke. Mungkin yang satu untuk bisnis. Kalo punya lebih dari dua? Atau mungkin akun media sosialnya berganti-ganti nama tiap bulan? Atau tiap bulan bikin akun media sosial baru tapi yang difollow itu-itu saja? Ya positif thinking saja, mungkin lupa password. Ehe.



-Saya pasti pulang-
Share:

Rabu, 06 Mei 2026

Kisah Para Nabi

Hai, sudah dua bulan saya membuat menu khusus kisah para nabi. Letaknya ada di header. Karena isinya nyicil, jadi agak lama saya menyelesaikan. Sumbernya dapat dari buku, ada juga dari googling dari sumber-sumber yang inshaallah bisa dipercaya. 

Walaupun isinya nyicil dan proses nulisnya lama, tapi alhamdulillah ada beberapa pengujung dengan keyword "kisah nabi" yang sampai juga di halaman kisah nabi di blog ini. Tapi rasanya kurang greget karena jumlah pengunjungnya tidak signifikan. Maka dari itu saya buat post tentang menu ini. Supaya pengunjung yang mencari kisah para nabi, kisah 25 nabi, bisa langsung terarah menuju menu itu. Semoga bermanfaat ya. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Selasa, 05 Mei 2026

Jari-jari

Setelah ketampar fakta bahwa tanpa jempol, kita tidak bisa memasang kancing baju, kali ini tanpa telunjuk, ternyata menulis ide (mengetik di komputer) adalah hal yang agak merepotkan untuk dilakukan. Semula saya hendak memisahkan post mengenai tanpa jempol dan tanpa telunjuk ini, tapi kayaknya ribet banget. Jadi dijadikan satu saja biar nyambung

Ini sebenarnya gimana? Tanpa jempol dan tanpa telunjuk? Sabar. 

Pernah lihat orang yang suka mencabuti kutikula kuku dengan mulut saat bengong? Ya, saya melakukannya, tapi tidak digigit. Saya cabut pakai tangan. Kenapa? Nggak tahu. Itu semacam perilaku dibawah alam sadar. Tiba-tiba sudah berdarah. Perilaku itu dilakukan dimanapun, kapanpun. Dan nggak kapok-kapok. Disamping mencabuti kutikula, saya juga membunyikan jari-jari saya dimanapun, kapanpun. Konon kalo tidur juga (saya nggak sadar ya). Kalo kata web aladokter :
Orang yang suka mencabuti kutikula kuku atau kulit di sekitar kuku secara impulsif dan berulang-ulang sering dikaitkan dengan perilaku Dermatillomania (gangguan ekskoriasi) atau Onychotillomania. Kebiasaan ini biasanya dipicu oleh kecemasan, stres, kebosanan, atau sifat perfeksionis, dan dilakukan untuk mengurangi ketegangan, meskipun sering berujung pada luka atau infeksi

Saya nggak mau self diagnosis dan juga nggak mau sampai periksa ke dokter juga karena saya belum berfikir ini penting jadi intinya ya saya melakukan itu. Usaha saya untuk menghentikannya? Minta bantuan orang sekitar, kalo lihat saya begitu, tolong diperhatikan, ditampol, dan sebagainya. Padahal nggak selalu ada orang disekitar saya. Gagal.

Saya pernah ikut perawatan kuku, ikutin teman saya, biar kukunya cantik jadi kan sayang kalo saya kelopek-kelopek. Sudah pasti. Kalo ini probabilitas kegagalannya 100%. Selain saya nggak pernah punya kuku panjang, kalopun memotong kuku, saya type yang memotong sangat sangat pendek. Saya juga nggak bisa karena kuku warna warni menghambat saya bekerja, saya nggak betah, seperti ada benda asing menempel dan rasanya tidak nyaman, sumuk! Enyah!

Tidak singkat, 2016 kemudian saya mengalami infeksi karena mencabut kutikula pada jari jempol. Infeksinya sampai urat yang menghubungkan jempol ke bahu merah dan terlihat menonjol. Macam habis kena petir. Jempol bengkak. Dan praktis tidak bisa digunakan untuk apa-apa. Kalo menjempoli terbalik masih bisa lah. Dan, kalian tahu, tanpa jempol kita tidak bisa memasang kancing baju. Kamu bisa coba. Sekarang kancingkan atau buka kancing pakai empat jari aja. Susah kan? Ini baru jempol. Bergunanya jempol ternyata ya.

Ditahun 2021, saya masuk rumah sakit karena jari manis yang saya patah-patahin ternyata cidera dan bengkak. Kenapa saya sampai masuk rumah sakit? Karena saya sedang ada disalatiga dan saya masih harus nyetir sampai wonogiri. Jadi saya butuh pertolongan pertama pada saat itu juga karena keadaan mendesak. Mungkin karena itu perjalanan takziah jadi saya cemas, sepanjang jalan terus menerus membunyikan jari. Tapi juga tidak karena selalu cemas. Saat bengong saya juga melakukan itu. 

Ditahun ini, diminggu kemarin. Selain jempol, saya harus mengalami pengalaman tanpa telunjuk. Ternyata tanpa telunjuk, kegiatan mengetik, walaupun itu mengetik coding pendek, mudah, dan sehari-hari dilakukan tidak dapat dilakukan juga. Semuanya jadi tidak bisa dilakukan autopilot dan cukup bikin stress. 

Kenapa telunjuknya? Karena nunjuk kuburan kah? Haha, sayangnya bukan. Semua ini disebabkan oleh mencabut kutikula (lagi).

Jadi, kelima jari kita itu ternyata semuanya berguna. Tidak ada satu maka agak terganggulah aktifitas kita. Bersyukurlah memiliki jari yang lengkap dan sehat semua. Meskipun akhirnya kekuatan genggaman tangan jadi sangat lemah. Membuka botol air kemasan susah. Masalah kebiasaan mencabut kutikula dan matah-matahin jari sendiri kita pikirkan nanti. Yang penting semua jari hari ini sudah bisa dipakai lagi.



-Saya pasti pulang-
Share:

Jumat, 01 Mei 2026

Di Kuburan Banyak Bunga Kamboja

Suatu pagi aku bertemu kakek tua yang suka mancing di kali
Marah-marah dia bilang
Setiap hari mancing tidak dapat ikan
Tapi aku lirik ember itu penuh ikan

Sorenya aku bertemu kakek tua itu di taman 
Marah-marah lagi dia bilang
Dari pagi sampai sore, tak ada bunga yang mekar
Tapi keranjangnya penuh bunga

Siangnya sebelum kakek itu memanggilku lagi
Aku bertanya lebih dulu
Kakek ingin ikan apa? Dengan sopan
Kakek ingin bunga apa? Dengan santun

Sarden, kembung, cakalang! 
Katanya sambil teriak-teriak menggila
Kamboja! Kamboja! Kamboja!
Kali ini dia mengambil parang

Lalu kenapa kau mancing di kali? 
Kulempar pancing dan embernya
Lalu kenapa kau pergi ke taman mawar? 
Kubuang keranjang bunganya

Lalu Kau berharap apa? 
Kubanting kakek itu sekaligus parang ditangannya
Kutendang otaknya yang hanya pemanis kepala
Menggelinding otak itu ke kuburan ketemu kamboja yang ia harapkan



-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 30 April 2026

Introvert Di Adopsi?

Pada forum yang resmi, semua orang adalah asing, aturan jelas, maka sebagai seorang social introvert (saya tidak asal mendeklarasikan diri ya, ini sudah ada hasil test nya) seperti saya tidak ada halangan rintangan atau apapun yang mencegah saya masuk kedalam forum tersebut dengan sangat gemilang. Saya bisa mengeluarkan pendapat, sanggahan dan sebagainya dengan lancar seperti seorang adult profesional. Wkwk.  Contohnya adalah forum atau kelompok di pekerjaan. 

Tapi, jika itu adalah pertemuan yang lebih santai seperti misalnya reuni atau ngopi bareng dengan jumlah peserta lebih dari 3 orang, atau misalnya temanku bawa temannya lagi, entah kenapa saya sangat canggung. Harusnya nggak entah kenapa sih, itu adalah hal lumrah di kehidupan saya. Cuma dengan perbedaan yang mencolok antara kehidupan kerja dan kehidupan pribadi, "Orang asing" agak mengernyitkan kening. Dan saya MALAS nggak bisa menjelaskannya. 

Saya punya teman, lingkupnya sangat kecil. Lalu bagaimana saya biasanya menemukan mereka dan akhirnya berteman? Saya diadopsi oleh mereka. Wkwkk.

Istilah "introvert diadopsi" (oleh ekstrovert) merujuk pada dinamika sosial di mana seorang ekstrovert mengambil inisiatif untuk menjalin pertemanan, membawa introvert ke lingkungan baru, dan membuat suasana lebih cair. Ini terjadi karena ekstrovert adalah inisiator sosial, sementara introvert lebih hemat energi dan merasa aman dengan pendamping yang aktif pada suatu forum santai. 

Menurut chatgpt, berikut adalah alasan kenapa introvert sering "diadopsi":
  1. Ekstrovert aktif membuka percakapan dan membawa suasana sosial, sementara introvert (sebagai yang "diadopsi") sering kali menjadi pendengar yang baik, pendalam hubungan, dan penstabil emosi.
  2. Ekstrovert mendapatkan energi dari berinteraksi, sehingga mereka senang merangkul orang lain, termasuk membawa introvert ke acara sosial.
  3. Introvert cenderung hemat energi dan lebih memilih lingkungan yang akrab. Diadopsi oleh ekstrovert membantu mereka bersosialisasi tanpa harus memimpin interaksi.
  4. Dalam hubungan, ekstrovert sering bertindak sebagai co-regulator (penstabil mood), membuat introvert merasa aman di bawah "asuhan" sosial mereka.
Ini bukan soal dominasi, melainkan hubungan timbal balik di mana ekstrovert membutuhkan teman bicara yang suportif seperti introvert, dan introvert membutuhkan jembatan untuk keluar dari zona nyaman seperti ekstrovert. 

Menurut teman saya yang mengasessment saya, Introvert sendiri dibagi menjadi beberapa macam. Dan Sosial Introvert seperti saya memiliki ciri mencolok seperti : 
  1. Introvert sosial lebih memilih bergaul dengan sedikit orang atau orang yang sudah dikenal. Menurut para terapis, tanda-tanda introvert sosial adalah:Hanya bergaul dengan teman-teman dekat atau komunikasi empat mata;
  2. Menikmati aktivitas sendirian tanpa merasa kesepian;
  3. Merasa lelah setelah berinteraksi dengan orang banyak untuk waktu lama;
  4. Lebih memilih komunikasi lewat teks atau daring.
Contoh social introvert adalah Rhea Freeman, mentor dan penulis You’ve Got This sering menjadi pembicara di depan umum, termasuk di radio dan TV. Padahal, ia seorang introvert.

Ketika mendengar istilah introvert, kita sering berfikir bahwa sama dengan pemalu. Padahal aslinya beda sekali. Introvert tidak sama dengan pemalu. Introvert adalah tipe kepribadian yang memfokuskan energi pada dunia internal (pikiran/perasaan) dan butuh menyendiri untuk mengisi energi. Pemalu adalah rasa takut, cemas, atau ketidaknyamanan dalam situasi sosial. Introvert bisa sangat percaya diri, hanya saja lebih suka situasi tenang.







-Saya pasti pulang-
Share:

Saya Punya Member Point Kopi :D

Apa pengalaman kalian dengan kopi point nya Indomart? Enak, ada dimana saja, mudah didapatkan baik online maupun online, kalo minum ditempat bisa sekalian jajan. Saya ceritain pengalaman saya mengenai kopi point.

Pengantarnya selalu sama ya. Saya orangnya itu-itu saja. Pesan kopi yang itu-itu saja. Di jam itu-itu saja. Dengan ukuran gula, es, cup yang itu-itu saja. Nah, yang jadi lucu adalah. Ternyata pola itu diingat oleh salah satu barista di salah satu gerai point kopi di kota saya. Oke sampai sini belum lucu. Krik krik krik. 

Pada suatu siang, seperti biasa saya sendirian, jalan kaki, kepanasan dan pesan kopi. Siang itu sepi. Tak ada antrian. Saya lihat plank menu diatas. Ya sama kaya kalian mestinya kalau mau pesan kopi di point indomart, liat-liat plank yang sampai seberapa kali kalian lihat pun nggak akan hapal kan? Tapi sebenarnya semesta tahu, saya tidak akan ganti menu. dan mbak barista itu adalah bagian dari semesta, mata saya yang berkeliling di plank atas itu langsung terhenti ketika sapaan mbak barista itu agak beda siang itu. Bukan menanyakan mau pesan apa, tapi langsung bilang, seperti biasa kak? 

Jyujyur jangyal. Karena salam pembukanya biasanya nggak gitu deh. Saya nggak siap donk, apa harus dipersiapkan. Ya! 
Spontan saya bilang, "hah eh iya eh biasanya saya pesan apa mbak?"
"Palm latte sugar, upsize, normal sugar, normal ice" Mbak barista itu senyum.
Saya balas senyumnya, tapi pupil mata saya pasti membesar karena merasa bahagia diperhatikan sebegitunya.
Mbak barista melanjutkan, "Kak sayang kalo ga bikin member, kakak kan beli kopi hampir setiap hari lho"

Saya memang seriiiing sekali ditanya member. Tapi alasan utama saya adalah ::drumroll::, males usaha daftar, males dilabelin, kemalasan saya bisa sangat total pokoknya pada hal-hal tertentu. 
Tapi karena mbak tadi sudah sangat ramah dan sampai ingat pesanan saya tanpa saya harus bilang. Kalo nantinya ketemu lagi kemudian saya tetep nggak bikin member kok saya nggak enak. Dih. Wkwkw. Asli nggak enak. Maka dikantor saya daftar member. 16 digit nomor KTP yang biasanya malas sekali diketik kali ini saya mau usaha sedikit deh. dan berhasil. 

Besokannya masih dijam yg sama, tapi agak mendung, ngos-ngosan karena jalan kaki dari kantor ke Indomart, kali ini sebelum mbak barista itu bilang apa-apa saya udah pamer duluan. Saya punya member mbak. Saya dan dia tertawa bareng.

Tapi sedihnya, suatu siang saya nggak lagi menemukan dia di Indomart dekat kantor saya itu. Kata teman sesama baristanya dia dirolling ke Indomart lain? Dan kenapa hari ini saya cerita tentang point kopi adalah karena tadi siang saya agak gabut jadi muter-muter tak tentu arah, yang akhirnya memutuskan untuk beli kopi di suatu Indomart yang nggak kaya biasanya saya beli. Guess what? Saya ketemu mbak barista itu dan kita kaya orang yang udah kenal lama. Dia bilang, andaikan tahu nomor hp saya, dia akan ngabarin kalo di rolling. Saya dan dia bahkan janjian mau nongkrong berdua minggu depan. Duh gong banget ini sih. 





-Saya pasti pulang-
Share:

Jangan Dibuang Ketika Gorengannya Sudah Habis Dimakan

Sudah pernah dengar istilah food waste? Food waste adalah makanan layak konsumsi yang terbuang pada tahap akhir rantai pasok, yaitu di tingkat ritel, jasa boga, hingga konsumen (rumah tangga). Masalah ini mencakup makanan yang tidak habis dimakan, makanan kedaluwarsa, atau sisa dapur yang dibuang begitu saja ke TPA. Kita sering menyebutnya mubazir. 

Kenapa tiba-tiba food waste? Sebenarnya tidak tiba-tiba. Setiap malam jumat karena rumah paling dekat dengan mushola, maka saya punya kewajiban beli jajanan, salah satu yang wajib adalah gorengan. Nah, di gorengan itu kan selalu diberi cabai, saat pengajian selesai, gorengannya habis, cabainya selalu sisa banyak. Saya punya kebiasaan tidak membuang cabai tersebut tapi saya pakai untuk masak sehari-hari. Alasannya? Biar hemat? Tidak. Saya nggak tega buangnya. 

Lalu saya mikir, seandainya cabai harganya sedang murah, apakah saya akan tetap melakukan hal yang sama pada cabai sisa gorengan? Dan ternyata suatu waktu ketika cabai harganya murah meriah mantul. Saya tetap tidak bisa membuang cabai sisa gorengan. Saya nggak ngerti apakah kebiasaan saya wajar atau termasuk ke pelit? Itulah kenapa tiba-tiba tulisan saya mengenai food waste

Dari hasil saya googling, saya akhirnya menemukan istilah food waste dan informasi didalamnya ternyata lumayan bikin terbelalak ya. Karena ternyata Indonesia adalah penyumbang food waste nomor 2. Berikut adalah kutipan beritanya yang diambil dari gemini AI :
Pada tahun 2025, Indonesia sering disorot sebagai salah satu negara penghasil food waste (sampah makanan) terbesar di dunia, sering kali menempati posisi ke-2 terbesar atau setidaknya masuk dalam jajaran tertinggi, dengan perkiraan timbulan sampah makanan mencapai belasan hingga puluhan juta ton per tahun. Sisa makanan mendominasi total sampah di Indonesia pada 2025.

Kaget? Sama. Badan Pangan Nasional menyebutkan jika jumlah sampah makanan yang dihasilkan di Indonesia, seharusnya dapat menghidupi 29-47% populasi rakyat Indonesia. Sengaja saya bold supaya terngiang-ngiang. Tidak hanya saat baca.

Dari semua fakta yang saya dapatkan tersebut, saya tidak lagi merasa jika cabai yang saya simpan dari sisa beli gorengan adalah hal pelit. Oh ya, saya juga mengolah kembali MBG milik Satu (saya selalu menyimpan kotak makan kosong didalam tas Satu untuk menjaga jika menu MBG hari itu tidak cocok) yang kemudian setiap hari pula dibawa pulang kerumah dengan alasan utama anak-anak yaitu KETIDAK COCOKAN MENU. Setelah saya olah kembali, saya makan! 

Kemudian, saya punya aturan belanja kebutuhan rumah tangga seminggu sekali yaitu hari Minggu, maka jika hari Sabtu saya masih punya persediaan makanan mentah untuk dimasak, bagaimanapun saya akan mencoba menghabiskannya sampai kulkas kosong mlompong. Saya nggak apa-apa, saya nggak keberatan dan akan terus melanjutkan kebiasaan-kebiasaan yang ternyata mampu mengurangi food waste yang dilakukan manusia Indonesia setiap harinya.





-Saya pasti pulang-
Share:

Minggu, 26 April 2026

Apa sih Kindle?

Ini iklan wara-wiri banget di algorima media sosial saya. Yang tadinya mikir b aja, akhirnya penasaran juga, benda apa sih ini? Dari hasil cari sana-sini akhirnya dapat kesimpulan. Saya bilang kesimpulan karena saya belum pernah lihat secara fisik, langsung dan nyata. Kindle adalah perangkat pembaca buku elektronik (e-book reader) yang dibuat oleh Amazon. 

Sederhananya, Kindle itu seperti “buku digital” yang bisa menyimpan ratusan sampai ribuan buku dalam satu alat. Fungsi utama Kindle adalah membaca buku digital (e-book), menyimpan banyak buku dalam satu perangkat, bisa mengatur ukuran tulisan, cahaya, dan tampilan. 
Ciri khas Kindle yang tidak dimiliki oleh gadget lain adalah layarnya menggunakan teknologi e-ink yaitu terlihat seperti kertas, tidak silau di mata, baterai tahan lama (bisa sampai berminggu-minggu)
ringan dan mudah dibawa, bisa dipakai membaca di bawah sinar matahari

Katanya, kalau kamu suka baca buku, Kindle itu praktis banget karena nggak perlu bawa buku fisik banyak-banyak. Padahal kan bawa buku juga paling satu, buku yang sedang dibaca aja ya?

Ini perbedaan Kindle vs tablet   rekomendasi tipe Kindle biar kamu kebayang sebelum beli. Siapa yang mau beli sih? Ya itu kata-kata dari chatgpt, saya males edit. Perbedaan Kindle vs Tablet yaitu :

1. Fungsi utama
Kindle khusus untuk membaca buku, Tablet (HP/iPad) bisa banyak hal (game, medsos, YouTube, dll)
Jadi Kindle itu fokus banget buat baca, tanpa distraksi. Ya kalo gitu tinggal pakai mode pesawat aja nggak sih? atau kalau distraksinya gara-gara tukang cilok lewat gimana? 
 
2. Layar
Kindle pakai e-ink (mirip kertas, tidak silau), Tablet layar LED (terang, tapi bisa bikin mata cepat lelah).  Kindle lebih nyaman buat baca lama. Tapi hp saya bisa lho mode baca, sama nggak sih hasilnya? 

3. Baterai
Kindle tahan berminggu-minggu, ya karena yang dibuka kan mungkin bukan aplikasi yang nyedot daya banyak ya. Bayangin kalo cuma sebesar pdf, maka daya yang dibutuhkan hanya untuk menyalakan layar dan layarnya juga pakai e-ink yang klaimnya tidak silau maka daya dibutuhkan lebih dikit lagi, logikanya sih gitu. Tablet biasanya cuma 1–2 hari. 

4. Fleksibilitas
Kindle hanya baca buku, Tablet serbaguna. Kalo ada tablet dengan harga yang sama, kenapa tidak lebih memilih beli tablet? Karena kelebihan layar e-ink nya itu. 

Kalo saya lihat harganya ada di kisaran 2.500.000 sampai dengan 8.000.000 rupiah. Apakah ada tablet dengan harga segitu? Ada. Sangat banyak. Bedanya layarnya buka  e-ink saja. 

Hasil browsing disini. Saya bisa simpulkan seperti ini. 
  1. Menyediakan Banyak Buku. Tapi bukunya (dalam bentuk ebook) tetap harus beli. Bukan bajakan ya. dan kalo kamu punya tablet, ada aplikasi yang khusus untuk membaca buku juga (nanti kita bahas di postingan lain) lalu bedanya apa?
  2. Harga Bukunya Murah. Dalam katalognya, ada banyak sekali buku yang dibanderol terjangkau, bahkan beberapa di antaranya lebih mudah dibandingkan versi fisik. Katanya bisa unduh versi demo dulu. Bukannya kita kalo beli ebook macam gramedia juga ada versi demonya dulu. Bedanya apa?
  3. Langsung bisa menemukan Arti Kata yang kita nggak paham. Apa susahnya buka tab baru kemudian googling untuk mencari arti dari kata tersebut. Seberapa susahnya?
  4. Dapat Menandai Kalimat Favorit. Biasanya, ketika menemukan kalimat atau quote menarik, pada buku fisik, kamu akan menandainya dengan pulpen atau stabilo. Di Hp saya fitur baca ebook nya bisa melakukan hal yang sama. Bedanya apa?
  5. Layarnya Dapat Dikustomisasi. Semua hp dan tab bisa. Bedanya apa? 

Satu-satunya perbedaan yang saya temukan adalah jenis layar E-inknya. Kalo kamu pilih mana? Apakah wort it? Ih saya bener-bener penasaran. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Apakah Setrika Ada Fitur Lain Selain Menghaluskan?

Postingan ini agak aneh. Kalo menganggu skip saja. Tiba-tiba jadi kepikiran nih, waktu beli kulkas aku mikir dan browsing kulkas yang bagus apa, waktu beli tv juga, mesin cuci juga minimal mikir mau yang bukaan depan apa atas, tapi waktu aku beli setrika, kenapa aku nggak browsing dulu setrika yang bagus apa? Apakah fitur yang ada pada setrika tersebut. Saya sudah pernah beli setrika 2x. Lah? Iya betul, saya baru pisah dari ibuk sekitar 6 tahun, jadi baru 6 tahun juga saya pernah beli alat-alat elektronik sendiri. Biasanya segala-galanya sudah ada yang handle

Kemarin-kemarin ada mbak, jadi urusan beli-beli juga aku kasih uang aja,. mbaknya yang beli setrika dan lain-lain. Kali ini karena sudah tidak ada mbak, maka aku nyetrika. Dan sambil nyetrika malam ini saya kepikiran waktu beli setrika aku nggak mikir fitur nyetrika itu apa saja. Yang penting ada setrika ya udah nyetrika. Ya daripada aku penasaran aku browsing.

Jadi menurut chatgpt, setrika (terutama setrika listrik modern) punya berbagai fitur yang memudahkan proses menyetrika dan menjaga pakaian tetap aman. Berikut fitur-fitur yang umum ada:
1. Pengatur Suhu (Termostat)
Fitur ini memungkinkan kamu mengatur tingkat panas sesuai jenis kain (katun, sutra, wol, dll). Ini penting agar pakaian tidak rusak atau terbakar. Sepanjang aku punya setrika kayaknya semua setrika ada pengatur suhunya deh. Jadi apakah ini menonjol? saya rasa kok tidak.

2. Lapisan Anti Lengket (Non-stick Soleplate)
Bagian alas setrika biasanya dilapisi bahan anti lengket supaya kain tidak menempel atau gosong saat disetrika. Nah kalo ini saya masih inget nih, waktu jaman jadi anak kost, setrikanya kadang ada yang lengket. Oke lah kalo gitu memang ini penting untuk diperhatikan ketika beli setrika ya. Karena kalo lengket ya hobi nyetrika kita jadi terganggu ya. 
 
3. Elemen Pemanas
Komponen utama yang mengubah listrik menjadi panas sehingga setrika bisa digunakan. Untuk hal ini muka saya gini -> -_____-. Ya emang ada setrika yang nggak pakai elemen pemanas? Lah ini mah wajib.
 
4. Kabel Fleksibel
Kabel yang lentur dan kuat agar mudah digerakkan saat menyetrika dan tidak cepat rusak. Oke masuk.
 
5. Saklar / Selector Switch
Digunakan untuk menyalakan/mematikan setrika sekaligus memilih tingkat panas. Nah ini di setrika saya, yang saya lihat adanya selector switch tidak ada saklat on/off tuh. Kalo dicolokin ya nyala, kalo enggak dicolokin ya mati. Ada juga tombol untuk mengeluarkan uap, tapi saya jarang pake karena saya mikirnya kalo ini setrika saya masukin air ke tangkinya (ada tangkinya) maka saya takut nyetrum karena kaitannya dengan listrik. Ya pokoknya wedi kesetrum! -_- (Ndeso memang saya!) Wkwk.
 


Masih kata chatgpt, ada fitur Tambahan (pada setrika modern / uap) selain fitur dasar, ada juga fitur lebih canggih:
6. Uap (Steam)
Menghasilkan uap air untuk melunakkan serat kain sehingga lebih mudah dirapikan dan hasilnya lebih halus. Wah brarti setrika pilihan mbak saya sudah modern ya karena ada fitur uap.

7. Tangki Air
Tempat menyimpan air yang akan diubah menjadi uap (khusus setrika uap). Nah ini yang saya bilang tadi. Weslah pokoke wedi nyetrum!
 
8. Semprotan Air (Spray)
Menyemprotkan air ke pakaian agar bagian yang kusut lebih mudah disetrika. Saya lebih suka pakai trika atau beli di toko obat-obatan laundry. Pilihan wanginya banyak dan bikin bingung waktu mau pakai, kali ini pakai pewangi yang mana ya. Aduhay. 
 
9. Anti Tetes (Anti-drip)
Mencegah air menetes dari setrika saat suhu rendah. Ini saya nggak tahu, nanti saya lihat apakah kalo suhunya rendah ada yang netes? 
 
10. Auto Shut-off (Keamanan)
Setrika akan mati otomatis jika terlalu lama tidak digunakan mengurangi risiko kebakaran. Ini semua setrika sekarang ada kan? 
 
11. Anti Kerak (Anti-calc)
Mencegah penumpukan kerak dari air pada setrika uap agar lebih awet.


Kemudian analisis mengenai setrika ini pun berlanjut, nyetrikanya berhenti dulu demi saya yang terlalu kepo tentang persetrikaan. Waktu aku nyari dengan keyword setrika di shopee, rata-rata harga yang keluar adalah setrika dengan harga kisaran 100.000 s.d 180.000 rupiah. Perbedaan yang tidak terlalu mencolok, jadi tidak terlalu menarik juga untuk dianalisa. Kesimpulan analisa harga melalui shopee, jika range harganya tidak terlalu jauh berbeda, maka fitur setrika yang ada pastilah rata-rata air. 

Tapi beda hasil waktu chatgpt yang bilang bahwa ada setrika dengan harga yang 2x lipat. Saya jadi tertarik buat beli analisis lebih lanjut. 

Jadi ada satu setrika dengan claim tapak setrika DynaGlide yaitu teknologi lapisan alas setrika inovasi Philips yang dirancang lebih licin, anti-lengket, dan tahan gores dibandingkan lapisan konvensional seperti aluminium atau keramik. Teknologi ini memungkinkan setrika meluncur halus di atas semua jenis kain, mempercepat penyetrikaan, serta efektif menjangkau sela kancing. Saya nggak lagi ngiklan sumpah. Cuma lagi berbagi pikiran aja. Ya Ngapain pikiran kalian banyak tapi nggak saya tambahi. Kan.















Ini hasil pencarian chatgpt ya. Bukan saya ngarang. Jadi nggak saya tutupi juga itu merk-merk yang terpampang. Tapi karena browsing ini saya jadi pengin beli juga dan membuktikan bedanya apa setrika yang tapaknya pakai tapak kuda besi biasa dan tapak DynaGlide (sounds very modern, intellectual, futuristic right? plakkk) Ya kan biasanya perbandingan hanya berkisar diantara smartphone, perbandingan smartwatch, ya kali aja bisa kan bikin chanel semacam David Gadgetin tapi khusus peralatan rumah tangga, setrika, magic com gitu-gitu. 





-Saya pasti pulang-
Share:

Sedot WC

Ceritanya saya habis sedot WC. Diusia saya ini, saya baru pertama kali ini mengalami yang namanya mengingat-ngingat tiang listrik yang keberapa yang ditempelin iklan nomor telepon sedot WC. Kenapa ga browsing? Bisa sih, tapi saya mikir usahanya orang yang menawarkan sedot wc melalui tempel iklan di tiang listrik. Dan sekaligus penasaran juga apakah nomor telepon sedot WC yang nempel di tiang-tiang listrik itu beneran apa nggak. 

Harga sedot wc sekitar 300.000 s.d 400.000. Orangnya ramah. Dan prosesnya hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Bau? itu kekhawatiran saya pertama kali waktu mau manggil jasa sedot wc, tapi ternyata tidak sama sekali. Tidak ribet dan senyaman itu. Terimakasih jasa sedot wc yang sudah effort ngiklan di tiang listrik perumahan-perumahan se Indonesia. Ternyata nomor hp kalian nggak fake dan bisa dihubungi secepat kilat.


-Saya pasti pulang-
Share:

Jumat, 24 April 2026

Angka, Polaritas, dan Proporsi

Tidak tiba-tiba semuanya jadi bisa diterima. Rasional dalam satu malam. Tapi sudah membosankan. Sudah hapal, sudah bosan, sangat bosan, bosan sekali. Jika ini ujian, saat soalnya belum keluar. Saya sudah keluar, membawa semua jawaban bernilai 100. Karena pintar? Justru karena sangat bodoh dan akhirnya harus remedial berkali-kali. Pengawas ujian sudah bosan. Saya-nya belum.

Betul mungkin kata Pythagoras, Angka adalah hakikat segala sesuatu, bahwa alam semesta disusun berdasarkan prinsip matematika dan proporsi geometris, alam fisik memiliki pola tersembunyi yang dapat dijelaskan melalui angka, polaritas, dan proporsi.

Apa yang hilang? Apa yang dimiliki? Pak polisi bilang, syarat kehilangan harus memiliki. Saya kehilangan pak. Pak polisi siap mencatat. Dengan pulpen dan kertas, semacam formulir laporan. Tolong dicatat pak, saya kehilangan perasaan kehilangan. Pak polisi mencatat strip, strip, strip lagi. Sampai akhir hanya strip, mending dari pada tak ada yang dicatat. Kemudian kulihat dia ambil nafas dalam, serakah sekali pada pasokan oksigen disekitar, memang hak milik dia? Kemudian dia hembuskan nafas sisa-sisa kesabaran yang panjang. Huuuuhhhh. Seharusnya yang keluar karbondioksida sih pak, bukan sisa kesabaran.

Temanku memberi saran agar aku kuliah lagi. Pada jurusan yang menantang. Aku melirik, temanku tahu, lirikanku artinya, klasik, ide lawas, kuno, ide itu ditolak hanya dengan lirikan mataku yang besaaar seperti barongsai. Temanku yang satu memberi ide agar aku daftar jadi dosen. Aku mengernyit. Tak terbesit. Sebenarnya aku diuntungkan dengan keadaan ini, tidurku nyenyak! 

Kedua temanku kembali memotong kue dan menyeruput kopi. Seolah plafon kafe itu memberi kunci jawaban, tiba-tiba aku punya ide, 
"Bagaimana kalo aku ambil cuti panjang?"
"Mau ngapain?"
"Biasa dia cuti panjang cuma mau lari-lari"
Aku memberi isyarat serius, 
"Kalian pasti tahu"
"Apa? Mau kemana?"
"Ziarah ke makam Pythagoras"
Teman-temanku angkat tangan. Menjejalkan sedotan dari gelas kopiku, lalu menyuruhku wudhu. 



-Saya pasti pulang-
Share:

Senin, 20 April 2026

Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari

Tulisan ini terinspirasi dari buku What I Talk About When I Talk About Running milik Haruki Murakami. Tulisan saya bukan Apa yang Saya Bicarakan Saat Saya Berbicara Tentang Lari melainkan Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari.

Pada dasarnya saya tidak suka berkompetisi. Jiwa kompetisi saya dari 10 sepertinya 0. Dalam hal apa? Apapun. Satu-satunya yang bisa membuat saya berkompetisi adalah diri saya sendiri melawan diri saya sendiri untuk memenangkan diri saya sendiri. Tapi apakah kemudian saya menjadi orang yang kolaboratif? Mudah diajak kerja sama? TIDAK. Saya lebih suka melakukan segala sesuatu sendiri. Maka ketika saya mulai berlari di tahun 2017, motivasi saya bukan untuk mendapatkan medali, bukan untuk menang perlombaan, bukan untuk suatu hal yang kaitannya memenangkan sesuatu, apapun itu. 100% karena saya butuh berolahraga untuk menyalurkan dorongan dalam diri saya yang ingin bergerak, tapi tidak suka keramaian. 

Sejak kapan saya lari? Sejak tahun 2017. Pada tahun itu belum musim klub lari di kota saya, belum semusim sekarang yang semua orang mengenal apa itu pace, belum seperti sekarang dimana banyak sekali ajang lomba lari yang dapat medali. 

Pernah ingin dapat medali? Pernah. Tapi nggak pernah saya realisasikan. Untuk ikut lomba kira-kira harus mengeluarkan biaya 200.000 rupiah per orang. Nantinya akan dapat jersey, produk sponsor, dan photo-photo kekinian. Saya tidak mau mengeluarkan uang 200.000 untuk mendapatkan jersey dengan produk sponsor yang tertempel dijersey yang saya bayar. Kalo mau, saya dong yang dibayar karena pakai jersey dengan produk sponsor itu. Wkwkw. Intinya, 200.000 rupiah kalo ditambahkan 2.400.000 bisa dapat smart watch yang saya dengan sangat suka rela beli, tapi kalo 200.000 dapat jersey yang ditempelin produk sponsor saya nggak mau. Bingung kan? Nggak usah bingung, saya rela beli ayam McD sesuai harga pada umumnya, kemudian karena jumlah pesanan saya agak banyak, saya diberi stiker yang kalo ditempel dimobil saya, lain kali kalo saya beli ayamnya McD lagi saya dapat harga lebih murah dari harga normal dengan tanda stiker McD itu. Apakah kemudian saya mau pasang stiker itu? TIDAK. Saya tidak ingin dilabeli. Kecuali, saya duluan yang ingin label itu.

Pertama kali lari apa yang dipikirkan? Waktu pertanyaan ini dilontarkan teman saya yang belum terbiasa lari, saya tersenyum. Karena itu adalah hal yang paling ribet yang pernah saya pikirkan sebelum lari. Saya takut ketemu orang. Apalagi orang yang dikenal. Wkwkw. Sebelum itu terjadi, otak saya sudah buat skenario yang menakut-nakuti diri saya sendiri. Gimana kalo begini, gimana kalo begitu. Tapi saya tetap lari. Sampai hari ini. Dan hari ini pikiran itu tidak ada lagi. Diri saya yang takut kalah dengan diri saya yang mau nggak mau butuh lari untuk mengeluarkan energi. Saya memang menghindari keramaian ketika membuat rute berlari. Tapi bukan lagi untuk menghindari orang yang dikenal. 

Saya ingat pertama kali lari saya kurang pemanasan. Hasilnya? Ya karena saya nggak sakti-sakti amat akhirnya saya cidera, wkkwwk. Setelah itu saya berusaha cari-cari tahu tentang bagaimana teknik lari yang benar, pemanasan itu bagaimana, makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan sebelum lari. Dan saya pakai pelatih! Iya betul, di tahun 2018 akhirnya saya memutuskan memakai pelatih. Bukan supaya jadi atlit, tapi untuk bisa berlari dengan benar, tanpa cidera. Karena sepertinya saya sudah sangat jatuh cinta dengan olahraga ini. 

Selama menekuni hobi saya ini, beberapa kali saya mengalami cidera sekalipun sudah terbiasa. Ini paling sering, entah sudah ke berapa kali saya mengalami runner's toe (disebabkan oleh trauma berulang berupa pendarahan di bawah kuku (hematoma subungual) akibat gesekan kuku dengan sepatu saat berlari), runner's knee sekali karena selama 30 hari saya lari tiap pagi tanpa istirahat sehari pun, plantar fasciitis (nyeri tumit) 1 kali tapi dua minggu nggak hilang karena half marathon. Saya juga pernah kesrempet mobil saat lari. Kalo dikejar orang gila termasuk cidera nggak? Karena ini juga pernah. Wkwk.

Apakah kaki menjadi besar setelah berlari? Sejak lahir, ibu saya menurunkan kaki yang memang sudah besar. Jadi kalo maksudnya berotot, iya. Tapi kalo kaki kamu ramping kemudian lari jadi besar, sepertinya tidak. 

Jika kamu mau mulai lari, selain pemanasan, musik yang kamu sukai akan sangat membantu. Apalagi kalo tempo nya agak cepat. Tapi, disesuaikan dengan kesukaan saja. Ini tips. 

Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari? Mengutip dari tulisan milik Haruki Murakami. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ranah pekerjaan, berkompetisi dengan orang lain bukanlah cara hidup yang kucari. Jika saya pernah menang lomba menulis, atau rangking 1 saat diklat penanganan insiden kebocoran akses data dikantor atau menjadi ketua tim untuk suatu proyek pekerjaan, maka itu bukan karena saya niat berkompetisi, swear! Wkwkw. Pokoknya saya jadi diri sendiri sajalah tahu-tahu menjadi ini itu. 

Manusia memiliki nilai di dalam diri mereka dan cara hidup masing-masing, begitu juga aku. Perbedaan kadang menimbulkan ketidak setujuan dan kombinasi berbagai ketidaksetujuan itu bahkan dapat menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas. Hasilnya, terkadang saya harus menerima kritik yang tak beralasan. Tentu saja tidak menyenangkan jika disalahpahami atau dikritik orang lain. Hal itu merupakan pengalaman yang menyakitkan dan kadang membuat hati sangat terluka.

Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, sedikit demi sedikit aku memahami bahwa kepedihan ataupun sakit hati merupakan hal yang diperlukan dalam hidup. Fakta bahwa manusia dapat menciptakan diri mereka sendiri sebagai makhluk individu yang mandiri karena setiap orang berbeda satu sama lain, jika dipikirkan oleh otakku adalah hal itu tepat. Dan jika diotakmu tidak tepat, ya tidak apa-apa. 

Ambillah contoh, aku yang terbiasa bekerja dengan kode pemrograman, menulis buku ketika dirumah, bukan di pelayanan, bukan bertemu langsung dengan manusia, maka ketika ada kesalahan pada aplikasi, aku akan lebih cepat bisa menyelesaikan masalah tersebut ketimbang orang lain yang berbeda bidang dengan aku. Jika ada detail bahasa yang kurang tepat, aku akan lebih ngeh ketimbang orang lain yang tidak hobi membaca apalagi menulis buku. Tapi kemudian aku tidak terlalu pintar membuka percakapan dengan orang asing sekalipun itu dengan anak kecil, berbeda dengan temanku yang suka bersosialisasi dengan banyak orang. Dan aku tetap menjalani hidupku yang berbeda itu dengan baik. Tidak apa kan? Fakta bahwa aku bisa dengan tenang menjalani diri sebagai aku tanpa pernah menjadi orang yang "tidak enakan" karena tidak sama dengan orang lain adalah ASET terbesarku. Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi mandiri dan menjadi diri sendiri di dunia ini.

Pada saat aku dikritik tanpa alasan atau ketika seseorang yang aku yakin memahamiku ternyata tidak, aku akan berlari lebih lama. Dengan berlari lebih lama dari biasanya, aku dapat menggunakan energi fisik untuk menghilangkan bagian yang menyakitkan itu. Berlari juga membuatku mampu mengurai kebuntuan. Aku tidak pernah berfikir bahwa sifatku akan disukai orang lain. Sebaliknya, kupikir dengan keteguhan hati tetap menjadi diri sendiri, aku akan menjadi orang yang tidak disukai dan itu dimataku justru lebih terlihat alami dari pada mendengarkan orang lain berbaik-baik padaku yang ujung-ujungnya ternyata cuma memanfaatkan minta tolong yang kemudian di lain waktu ketika manfaat sudah didapat, dia akan act like a stranger bukan mengulurkan pertemanan yang tulus. Tapi bukan berarti aku suka dibenci ya, itu hal lain. 

Kadang-kadang ketika saya berlari, saya juga melihat langit yang indah, sawah yang hijau, kucing gendut yang lucu. Tapi sebenarnya itu hanya pemandangan sekelebat, aku tidak terlalu memikirkan hal-hal yang saya lihat itu. Sekalipun kadang saya photo, yang aku butuhkan hanya terus berlari dalam ruang hampaku yang sangat nyaman ditemani lagu-lagu favorit. Bagiku hal seperti itu sudah sangat menakjubkan. TIDAK PEDULI APA KATA ORANG, tidak peduli gebrakan apa yang orang lain lakukan. :)

-Saya pasti pulang-
Share:

Minggu, 19 April 2026

Apakah Aneh Jika Saya Tidak Suka Bola?

Apakah Aneh Jika Saya Tidak Suka Bola? Tidak aneh sama sekali. Minat pada olahraga adalah preferensi pribadi yang dibentuk oleh didikan, budaya, kepribadian, dan bagaimana kamu menghabiskan waktu luang. Jutaan orang menjalani kehidupan yang baik-baik saja, tetap penuh dan kaya secara sosial tanpa peduli dengan sepak bola.

Mengapa itu normal? 

Di banyak negara dan subkultur, sepak bola bukanlah hal utama. Ada aktivitas lain (musik, teknologi, seni, rekreasi luar ruangan) menempati ruang sosial dan emosional yang sama. Kemudian orang yang tumbuh di keluarga atau kelompok pertemanan yang tidak mengikuti sepak bola jarang mengembangkan keterikatan padanya. Dalam hal ini, hampir semua teman saya suka bola, begadang demi nonton bola, dan ketika pagi hari pembicaraannya adalah tentang bola yang sudah ditonton semalam dirumah masing-masing.

Beberapa orang lebih menyukai hobi yang menyendiri atau membutuhkan konsentrasi tinggi, yang lain lebih menyukai kegiatan fisik atau komunal tidak semua orang menganggap olahraga tim yang kompetitif menarik. Kegemaran sepak bola membutuhkan waktu dan investasi emosional jika kegiatan lain memberikan nilai lebih, sikap apatis adalah hal yang rasional.

Kenapa tiba-tiba saya kepikiran pertanyaan seperti pada judul? Sebenarnya tidak tiba-tiba, tapi kemarin-kemarin di tempat kerja, karena teman-teman membicarakan bola, saya jadi ingat masa SMP dan SMA saya dimana teman-teman saya heboh tentang score bola yang mereka tonton, kehebatan para pemain bola yang mereka sukai, tapi saya hanya diam, plonga plongo. Apakah saya pernah nonton bola? Pernah. Karena saya penasaran saya nonton bola dan nggak betah. Kemudian saya juga pernah nonton bola karena paksaan tiket gratisan sebagai pegawai umbies. Saya malah lebih excited sama langit sore yang ternyata bisa seindah itu terlihat dari bangku stadion. 

Apakah ada juga yang tidak suka sepak bola? Tidak menyukai sepak bola bukan berarti kekurangan. Itu hanya salah satu aspek budaya. Tidak usah takut dikucilkan. Wkwk.

Saya lebih suka proyek pemrograman akhir pekan dan olahraga individu. Berlari, berenang yang saya lakukan sendiri. Bukan nonton pertandingan dan tidak ikut pertandingan juga. 

Tapi sepertinya seseorang yang tumbuh di lingkungan di mana olahraga atau seni lain mendominasi kehidupan komunitas, seseorang yang mengikuti olahraga secara santai untuk acara-acara besar (Piala Dunia, Super Bowl) mungkin agak terheran dengan saya nggak suka sepak bola. Intinya, sikap acuh tak acuh terhadap sepak bola adalah hal biasa dan dapat diterima secara sosial. Hal itu mencerminkan selera pribadi, bukan kekurangan karakter. 

-Saya pasti pulang-
Share:

Jumat, 17 April 2026

Apa Itu Tadi

Tadi pagi dengan terpaksa aku turun gunung ke ruang pelayanan. Padahal biasanya aku figuran, pemain di belakang layar. Temanku bilang harus diperbaiki dari databaseAku mengernyit, arti database pun aku sangsi dia paham. 

Aku tidak melakukan 3S layaknya orang di ruang pelayanan. Langsung to the point aku bertanya masalahnya apa? Kronologisnya bagaimana? Kudengarkan tamu itu bercerita. Mengulang dengan semangat seolah pokoknya kantor saya salah! Kalian salah! Hayo gimana solusinya! Duar!

Belum selesai dia cerita, aku langsung paham kemana alurnya. Ah masalah berat apanya, 5 menit jadi ini sih, kesombonganku mengudara tanpa keluar dalam bentuk suara. Kesombonganku menyamar dalam bentuk keadaan : membuka laptop, menunjukan deretan koding warna-warni dengan background hitam. Biar terlihat misterius. Ah brengsek, bukan. Mataku punya silinder parah, background cerah membuatnya cepat lelah dan kemudian memerah mirip banteng mau nyeruduk. 

Ku minta tamu itu sebut NIP nya. Dia bilang lupa. Suara dalam hatiku nyinyir : "mana ada NIP lupa". "Nama lengkap saja pak", kataku kemudian. Yang dia sebut namamu. Lengkap. Aku minta dia mengeja, huruf per huruf. Persis. Aku menatapnya. Ini adalah tatapan pertama antara aku dan tamu itu. Tamu itu terlihat gugup. Seolah membuat kesalahan. Padahal tidak.

Benar-benar sesuai prediksiku, 5 menit jadi, masalah selesai. Tamu yang punya nama sama dengan namamu itu berterima kasih. Bla bla bla kemudian menyalamiku dan pamit. Terlihat bahagia. Temanku yang sedari tadi duduk disampingku pun berucap sama, "terima kasih ya" lalu pergi, katanya makan siang.

Ruang pelayanan itu sekarang sepi. Padahal ini siang. Tapi hari Jumat selalu terasa berbeda kan? Sendirian disana dengan lampu yang tidak semua dinyalakan karena sedang efisiensi dan AC yang terasa sangat dingin membuatku sedikit tidak nyaman. Apa itu tadi? 


-Saya pasti pulang-
Share:

Ruang Sapa

Beberapa teman kerja pernah bertanya 
Kenapa pesan chatnya di whatsapp selalu lambat dibalas
Saat itu aku tengah sibuk 
Buka tutup direct message instagram

Kemudian pernah aku lupa buka instagram
Sampai terlambat tahu berita di dunia
Pun tak jadi masalah besar
Aku sedang suka melihat-lihat status whatsapp




-Saya pasti pulang-
Share:

Jarak

Apakahkamumerindukankuakhirakhirini? Karenaakutidak.

Tanpa spasi kalimatku tetap terbaca
Karena itu kalimat pendek
Karena kalimat itu pasaran
Sering kita dengungkan
Namun jika aku menulis dalam 100 halaman A4
Tanpa aku akal-akali, aku pasti lelah
Matamupun pasti muak
Terlihat sepele namun spasi ternyata entitas krusial dalam sebuah tulisan ya
Kedekatan yang terus menerus ternyata juga bukan hal yang baik
Manusia biasa seperti kita menyebutnya apa?

J A R A K


-Saya pasti pulang-
Share:

Minggu, 12 April 2026

Buku Yang Aku Baca Terakhir Sangat Tipis

Buku yang aku baca terakhir sangat tipis
Covernya hanya hitam dan putih
Buku yasin saja lebih effort
Mulanya aku memandang sebelah mata
Tapi sejak halaman pertama aku terpana
Tiap halamannya berisi kalimat hangat
Hanya saja aku tak suka endingnya
Terlalu singkat, aku kehilangan


-Saya pasti pulang-
Share:

Jumat, 10 April 2026

Gempita

Katanya sih harus ada yang ditunggu dalam hidup
Biar hidup tetap gempita
Seperti misalnya :
Gajian tiap tanggal satu
Tunjangan kinerja 
Suara tukang paket
Dapat photo langit yang estetik
Kopi enak saat makan siang
Sesion baru film kesayangan
Kedatangan teman lama
Mawar didepan rumahku tumbuh
Atau karma yang datang padamu



-Saya pasti pulang-
Share:

Maha Pemaaf #1

Aku tak perlu malam sunyi
Aku sangat yakin Kau selalu ada
Seperti yang sudah-sudah
Siang ini pun

Buku yang kemarin belum selesai kubaca
Ada buku baru yang ingin aku beli
Tapi ketika aku ke toko buku
Buku yang best seller bukan buku yang ingin aku beli

Kerasnya kepalaku tak pernah membuatku bertanya
Siapa dan apa tak pernah mempengaruhi yang aku putuskan
Pada Engkau pun
Tapi Tuhan, katanya Kau kan Maha Pemaaf



-Saya pasti pulang-
Share: