-Saya pasti pulang-
Nom De Plume
-Saya pasti pulang-
Orang yang suka mencabuti kutikula kuku atau kulit di sekitar kuku secara impulsif dan berulang-ulang sering dikaitkan dengan perilaku Dermatillomania (gangguan ekskoriasi) atau Onychotillomania. Kebiasaan ini biasanya dipicu oleh kecemasan, stres, kebosanan, atau sifat perfeksionis, dan dilakukan untuk mengurangi ketegangan, meskipun sering berujung pada luka atau infeksi
Saya nggak mau self diagnosis dan juga nggak mau sampai periksa ke dokter juga karena saya belum berfikir ini penting jadi intinya ya saya melakukan itu. Usaha saya untuk menghentikannya? Minta bantuan orang sekitar, kalo lihat saya begitu, tolong diperhatikan, ditampol, dan sebagainya. Padahal nggak selalu ada orang disekitar saya. Gagal.
Saya pernah ikut perawatan kuku, ikutin teman saya, biar kukunya cantik jadi kan sayang kalo saya kelopek-kelopek. Sudah pasti. Kalo ini probabilitas kegagalannya 100%. Selain saya nggak pernah punya kuku panjang, kalopun memotong kuku, saya type yang memotong sangat sangat pendek. Saya juga nggak bisa karena kuku warna warni menghambat saya bekerja, saya nggak betah, seperti ada benda asing menempel dan rasanya tidak nyaman, sumuk! Enyah!
Tidak singkat, 2016 kemudian saya mengalami infeksi karena mencabut kutikula pada jari jempol. Infeksinya sampai urat yang menghubungkan jempol ke bahu merah dan terlihat menonjol. Macam habis kena petir. Jempol bengkak. Dan praktis tidak bisa digunakan untuk apa-apa. Kalo menjempoli terbalik masih bisa lah. Dan, kalian tahu, tanpa jempol kita tidak bisa memasang kancing baju. Kamu bisa coba. Sekarang kancingkan atau buka kancing pakai empat jari aja. Susah kan? Ini baru jempol. Bergunanya jempol ternyata ya.
Ditahun 2021, saya masuk rumah sakit karena jari manis yang saya patah-patahin ternyata cidera dan bengkak. Kenapa saya sampai masuk rumah sakit? Karena saya sedang ada disalatiga dan saya masih harus nyetir sampai wonogiri. Jadi saya butuh pertolongan pertama pada saat itu juga karena keadaan mendesak. Mungkin karena itu perjalanan takziah jadi saya cemas, sepanjang jalan terus menerus membunyikan jari. Tapi juga tidak karena selalu cemas. Saat bengong saya juga melakukan itu.
Ditahun ini, diminggu kemarin. Selain jempol, saya harus mengalami pengalaman tanpa telunjuk. Ternyata tanpa telunjuk, kegiatan mengetik, walaupun itu mengetik coding pendek, mudah, dan sehari-hari dilakukan tidak dapat dilakukan juga. Semuanya jadi tidak bisa dilakukan autopilot dan cukup bikin stress.
Kenapa telunjuknya? Karena nunjuk kuburan kah? Haha, sayangnya bukan. Semua ini disebabkan oleh mencabut kutikula (lagi).
Jadi, kelima jari kita itu ternyata semuanya berguna. Tidak ada satu maka agak terganggulah aktifitas kita. Bersyukurlah memiliki jari yang lengkap dan sehat semua. Meskipun akhirnya kekuatan genggaman tangan jadi sangat lemah. Membuka botol air kemasan susah. Masalah kebiasaan mencabut kutikula dan matah-matahin jari sendiri kita pikirkan nanti. Yang penting semua jari hari ini sudah bisa dipakai lagi.
Pada tahun 2025, Indonesia sering disorot sebagai salah satu negara penghasil food waste (sampah makanan) terbesar di dunia, sering kali menempati posisi ke-2 terbesar atau setidaknya masuk dalam jajaran tertinggi, dengan perkiraan timbulan sampah makanan mencapai belasan hingga puluhan juta ton per tahun. Sisa makanan mendominasi total sampah di Indonesia pada 2025.
Kaget? Sama. Badan Pangan Nasional menyebutkan jika jumlah sampah makanan yang dihasilkan di Indonesia, seharusnya dapat menghidupi 29-47% populasi rakyat Indonesia. Sengaja saya bold supaya terngiang-ngiang. Tidak hanya saat baca.
Dari semua fakta yang saya dapatkan tersebut, saya tidak lagi merasa jika cabai yang saya simpan dari sisa beli gorengan adalah hal pelit. Oh ya, saya juga mengolah kembali MBG milik Satu (saya selalu menyimpan kotak makan kosong didalam tas Satu untuk menjaga jika menu MBG hari itu tidak cocok) yang kemudian setiap hari pula dibawa pulang kerumah dengan alasan utama anak-anak yaitu KETIDAK COCOKAN MENU. Setelah saya olah kembali, saya makan!
Kemudian, saya punya aturan belanja kebutuhan rumah tangga seminggu sekali yaitu hari Minggu, maka jika hari Sabtu saya masih punya persediaan makanan mentah untuk dimasak, bagaimanapun saya akan mencoba menghabiskannya sampai kulkas kosong mlompong. Saya nggak apa-apa, saya nggak keberatan dan akan terus melanjutkan kebiasaan-kebiasaan yang ternyata mampu mengurangi food waste yang dilakukan manusia Indonesia setiap harinya.