Nabi Musa dan Harun

Ini adalah kisah nabi Harun dan Nabi Musa


Allah mengutus Musa dan saudaranya Harun kepada Fir’aun dan para pembesarnya, karena ia seorang yang sombong dan mengaku sebagai Tuhan, serta disembah oleh orang-orang lantaran takut kepadanya.

Kemudian Fir’aun mendengar adanya seorang perempuan cantik bernama Asiyah, maka ia pun mengawininya, sedangkan ia seorang yang beriman kepada Allah dengan sembunyi-sembunyi. Tatkala Fir’aun hendak menggaulinya, seluruh tubuhnya menjadi kaku, sehingga ia tidak bisa mendekatinya dan hanya memandangnya.

Pada suatu hari Fir’aun bermimpi, lalu ia bertanya kepada ahli-ahli sihir tentang tafsirnya. Maka mereka berkata kepadanya: sesungguhnya akan dilahirkan dalam kerajaanmu seorang laki-laki yang menjadi sebab bagi kebinasaanmu dan kebinasaan kaummu. Maka Fir’aun memerintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang dilahirkan. Imran adalah salah seorang menterinya.

Ketika istrinya melahirkan Musa, tidak seorang pun yang menyadari bahwa ia hamil hingga melahirkannya. Allah mewahyukan kepadanya agar ia membuangnya ke Sungai Nil. Ibu Musa membuat sebuah peti dan meletakkan Musa di dalamnya sambil menangis, terutama karena ayahnya telah meninggal pada waktu itu.

Ibu Musa berkata kepada saudara perempuannya: “Lihatlah dia dari jauh.” Lalu ia membuangnya ke sungai, sehingga ia terombang-ambing dipermainkan ombak dan terdampar di istana Fir’aun.

Putri Fir’aun menemukan peti tersebut dan ia adalah seorang yang berpenyakit belang. Ketika ia menyentuh Musa, penyakitnya pun sembuh. Kemudian ia membawanya kepada Asiyah dan memberitahu apa yang terjadi. Asiyah berkata kepada Fir’aun: “Jangan bunuh dia, biarkan dia kita pelihara.” Fir’aun setuju dan menyuruh mendatangkan perempuan-perempuan untuk menyusuinya. Namun Musa tidak mau menyusu kepada seorang pun di antara mereka.

Maka berkatalah saudara perempuan ibu Musa kepada mereka: “Maukah aku tunjukkan kepada kalian suatu keluarga yang sanggup memeliharanya bagi kalian?” Mereka menjawab: “Baiklah.” Kemudian didatangkanlah ibunya, dan Musa pun menyusu dengan sempurna masa penyusuannya. Mereka pun memberi imbalan yang cukup kepadanya, lalu ibunya pergi meninggalkannya.

Ketika umur Musa mencapai 40 tahun, ia mulai mengajak manusia untuk menyembah Allah. Suatu hari ia melihat dua orang laki-laki berkelahi, yang satu dari kaum Qibti dan yang lain dari Bani Israel. Orang Israel meminta tolong kepada Musa, lalu Musa meninju orang Qibti itu hingga mati. Musa pun menyesal dan memohon ampun kepada Allah, dan Allah mengampuninya.

Pada hari kedua, orang Israel itu kembali berkelahi dengan orang Qibti lain dan meminta tolong kepada Musa, namun Musa tidak mau menolongnya. Ketika Fir’aun mengetahui kejadian itu, ia berkata: “Barang siapa melihatnya, hendaklah ia membunuhnya.” Maka Musa pun keluar dari Mesir karena takut hingga tiba di negeri Madyan.

Di sana ia mendapati sebuah sumur yang dipenuhi manusia yang menunggu air untuk memberi minum ternak mereka. Ia juga melihat dua orang perempuan yang terhalang mendapatkan air. Musa membantu keduanya memberi minum kambing mereka.

Ketika keduanya kembali kepada ayah mereka, Syuaib, mereka menceritakan apa yang dilakukan Musa. Ayah mereka berkata kepada salah seorang dari mereka: “Pergilah dan panggillah dia.” Lalu ia datang kepada Musa dengan malu-malu dan berkata: “Sesungguhnya ayahku memanggilmu untuk memberi upah atas bantuanmu.”

Musa datang menemui Syuaib dan menceritakan kisahnya. Syuaib berkata: “Jangan takut.” Kemudian ia menikahkan Musa dengan salah satu putrinya dengan syarat Musa menggembala kambing selama sepuluh tahun. Musa menerima dan menjalankan tugas itu hingga selesai.

Setelah itu Musa meminta izin untuk kembali ke Mesir, dan Syuaib mengizinkannya. Musa pun pergi bersama keluarganya. Ketika tiba di Gunung Thur, Allah berbicara kepadanya dan berfirman: “Sesungguhnya Aku adalah Tuhanmu. Pergilah kepada Fir’aun, sesungguhnya ia telah melampaui batas.”

Musa memohon agar saudaranya Harun diutus bersamanya, dan Allah mengabulkan permohonannya. Keduanya pun pergi menemui Fir’aun dan mengajaknya menyembah Allah. Fir’aun menantang dengan meminta tanda, maka Musa melemparkan tongkatnya yang berubah menjadi ular, dan mengeluarkan tangannya yang bercahaya.

Fir’aun menyebutnya sebagai sihir dan mengumpulkan para penyihir. Namun tongkat Musa menelan semua sihir mereka, sehingga para penyihir itu beriman kepada Allah. Fir’aun murka dan menyiksa mereka, tetapi mereka tetap beriman.

Kemudian Musa membawa pengikutnya keluar, dan Fir’aun mengejar mereka hingga ke laut. Musa memukulkan tongkatnya, lalu laut terbelah menjadi dua belas jalan yang kering. Musa dan kaumnya selamat, sedangkan Fir’aun dan pasukannya tenggelam.

Allah berfirman: “Hari ini Kami selamatkan jasadmu agar menjadi pelajaran bagi orang-orang setelahmu.” (Q.S. Yunus: 92).

Setelah itu Bani Israel melanjutkan perjalanan. Mereka mengalami berbagai ujian seperti kekurangan air dan makanan. Allah memberi mereka air dari batu, menaungi mereka dengan awan, serta menurunkan manna dan salwa. Namun mereka tetap banyak mengingkari nikmat tersebut.

Kemudian Allah menjanjikan kitab kepada Musa. Musa pergi ke Gunung Thur selama 40 hari untuk menerima wahyu, dan sebelum pergi ia berpesan kepada Harun untuk memimpin kaumnya. Selama kepergian Musa, kaumnya menyembah anak sapi yang dibuat oleh Samiri.

Ketika Musa kembali, ia marah dan menegur mereka serta menghancurkan patung tersebut. Mereka pun bertobat kepada Allah.

Selanjutnya Allah memerintahkan Bani Israel memasuki tanah suci, namun mereka menolak karena takut. Akibatnya mereka dihukum tersesat di padang pasir selama 40 tahun.

Dalam perjalanan, Musa juga bertemu dengan seorang hamba saleh untuk belajar darinya. Ia melihat beberapa perbuatan yang tampak aneh, seperti melubangi kapal, membunuh anak kecil, dan memperbaiki dinding. Di akhir, dijelaskan bahwa semua itu memiliki hikmah dari Allah.

Demikianlah kisah perjalanan Musa bersama Bani Israel, penuh pelajaran tentang iman, kesabaran, dan ketaatan kepada Allah.

0 komentar:

Posting Komentar