Sulaiman Mengerti Omongan Semut
Allah mengaruniai Dawud dan Sulaiman ilmu syariat dan hukum-hukum. Kedua nabi ini menyadari kadar kenikmatan yang diberikan Allah kepada mereka, maka keduanya berkata: “Segala puji bagi Allah yang telah melebihkan kami dari banyak hamba-Nya yang beriman yang tidak diberi ilmu sebagaimana telah diberikan kepada kami.”
Ketika Dawud meninggal, Sulaiman mewarisinya sebagai satu-satunya putra yang mewarisi kenabian dan kerajaan. Kemudian ia memanggil pejabat-pejabat dan orang-orang pandai di situ, dan mengingatkan mereka akan besarnya kenikmatan Allah atasnya serta mengakui karunia-Nya.
“Allah telah memberikan keutamaan kepadaku, maka Ia mengajariku bahasa hewan dan burung, dan menjadikan aku mengerti pembicaraan mereka. Ini di samping pemberian Allah kepadaku berupa kerajaan dan kenabian. Sesungguhnya kenikmatan-kenikmatan yang besar ini berasal dari keutamaan dan kebaikan-Nya. Hal itu jelas dan tidak samar bagi setiap orang.”
Pada suatu hari Sulaiman memanggil pasukannya, maka berkumpullah tentaranya berupa jin, manusia, dan burung-burung yang taat kepadanya. Berangkatlah Sulaiman dengan pasukannya hingga tiba di suatu lembah yang banyak terdapat semut.
Maka Sulaiman mendengar seekor semut berkata kepada teman-temannya: “Hai semut-semut, ini Sulaiman dan pasukannya berjalan menuju kalian, maka cepatlah bersembunyi di lubang-lubang, sehingga mereka tidak menghancurkan dan membinasakan kalian dengan injakan mereka, sedangkan kalian tidak menyadari kehadiran mereka.”
Sulaiman mendengar apa yang dikatakan semut, maka ia pun gembira atas hal itu dan merasa bersyukur atas pemberian Allah kepadanya berupa kenabian, keadilan, dan rahmat. Maka ia pun berkata kepada Tuhannya: “Wahai Tuhanku, jadikanlah aku selalu bersyukur atas kenikmatan-Mu dan masukkanlah aku dengan keutamaan dan rahmat-Mu ke dalam golongan orang-orang saleh yang Engkau ridhai.”
Kenikmatan-Kenikmatan yang Dikhususkan Allah bagi Sulaiman
Sebagaimana Sulaiman berdoa kepada Tuhannya agar mengampuninya, ia pun berdoa agar diberikan kekuasaan yang tidak pernah diberikan kepada orang lain. Maka Allah mengabulkan doanya dan memberinya sebagai berikut:
Pertama, Allah memberi kekuasaan atas angin untuk bertiup sesuai perintahnya ke tempat yang dikehendakinya.
Kedua, Allah menundukkan setan-setan untuk melayani Sulaiman. Di antara mereka ada yang membangun istana dan benteng, dan ada yang menyelam di laut untuk mengeluarkan mutiara dan batu-batu mulia. Allah juga memberikan kekuasaan kepada Sulaiman atas setan-setan yang kafir sehingga ia dapat mengikat mereka untuk mencegah kejahatan mereka.
Kekuasaan ini semua disediakan Allah bagi Sulaiman, serta membolehkannya bertindak sesuai kehendaknya. Ia dapat memberi atau tidak memberi kepada siapa pun yang dikehendakinya. Di samping itu, ia juga mendapat kedudukan mulia di sisi Tuhannya dan tempat yang baik di akhirat, yaitu surga.
Sulaiman dan Ratu Saba’
Kerajaan Saba’ terletak di Yaman, dengan ibu kota Ma’rib yang berjarak perjalanan tiga hari dari Sana’a. Negeri ini dinamakan Saba’ karena di sana tinggal keturunan Saba’ bin Yasyjub bin Ya’rub bin Qathan. Ia adalah raja pertama yang menawan tawanan dan membawanya ke Yaman.
Menurut para ahli sejarah, ia mendirikan kota Saba’ dan bendungan Ma’rib. Ketika terjadi banjir besar di Ma’rib, penduduknya berpencar ke berbagai wilayah Arab, sehingga orang Arab sering membuat perumpamaan tentang perpecahan mereka.
Dalam kitab Perjanjian Lama, Saba’ disebut sebagai Syaba’. Negeri ini merupakan pusat perdagangan penting dan terkenal akan kekayaannya berupa emas.
Al-Qur’an menceritakan kisah kunjungan Ratu Saba’ kepada Sulaiman tanpa menyebutkan namanya, namun para ahli tafsir menyebut bahwa ia bernama Balqis.
Dialog antara Burung Hudhud dan Sulaiman
Sulaiman memahami bahasa burung, dan di antara burungnya terdapat burung Hudhud. Pada suatu hari Sulaiman mencari Hudhud, namun tidak menemukannya. Ia berkata: “Ke mana gerangan burung Hudhud ini? Apakah ia telah menghilang?”
Sulaiman pun marah dan berniat menghukumnya, kecuali jika Hudhud datang dengan alasan yang jelas.
Tidak lama kemudian, Hudhud datang dan berkata: “Aku mengetahui sesuatu yang engkau tidak ketahui. Aku datang dari kerajaan Saba’ dengan membawa berita yang benar. Aku mendapati seorang perempuan yang memerintah mereka dan memiliki kerajaan besar. Namun mereka menyembah matahari, bukan Allah.”
Hudhud menjelaskan bahwa setan telah menyesatkan mereka sehingga tidak mendapat petunjuk untuk menyembah Allah.
Sulaiman menjawab: “Kami akan menyelidiki apakah engkau benar atau berdusta.”
Surat dari Sulaiman kepada Balqis
Untuk membuktikan kebenaran Hudhud, Sulaiman mengirim surat kepada Balqis. Isi surat itu:
“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang. Janganlah kamu sombong terhadapku dan datanglah kepadaku dalam keadaan berserah diri.”
Balqis mengumpulkan para pemuka kaumnya untuk bermusyawarah. Mereka berkata bahwa mereka memiliki kekuatan untuk berperang, namun keputusan diserahkan kepadanya.
Balqis berkata: “Sesungguhnya raja-raja apabila memasuki suatu negeri, mereka akan merusaknya dan menghinakan penduduknya.”
Ia kemudian memutuskan untuk mengirim hadiah kepada Sulaiman untuk mengetahui sikapnya.
Jawaban Sulaiman atas Hadiah Balqis
Utusan Balqis datang membawa hadiah, namun Sulaiman menolaknya. Ia berkata bahwa ia tidak membutuhkan harta, melainkan menginginkan mereka beriman kepada Allah.
Ia mengancam bahwa jika mereka tidak beriman, ia akan mengirim pasukan yang tidak dapat mereka lawan.
Singgasana Balqis di Hadapan Sulaiman
Ketika Balqis hendak datang, Sulaiman ingin menunjukkan mukjizatnya. Ia bertanya siapa yang mampu membawa singgasana Balqis.
Seekor jin Ifrit berkata ia mampu membawanya sebelum Sulaiman berdiri dari tempat duduknya. Namun seorang yang memiliki ilmu dari kitab berkata ia mampu membawanya dalam sekejap mata.
Singgasana itu pun hadir di hadapan Sulaiman. Ia bersyukur kepada Allah atas karunia tersebut.
Ketika Balqis datang, ia ditanya tentang singgasana itu. Setelah memperhatikan, ia menyadari bahwa itu adalah miliknya.
Balqis Masuk Istana Sulaiman
Sulaiman memperlihatkan istana dengan lantai kaca yang tampak seperti air. Balqis mengira itu air, lalu menyingkap pakaiannya.
Sulaiman menjelaskan bahwa itu hanyalah kaca. Melihat keajaiban itu, Balqis pun beriman dan berkata:
“Wahai Tuhanku, sesungguhnya aku telah menzalimi diriku, dan kini aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan seluruh alam.”
(Q.S. An-Naml: 44)
Kematian Sulaiman
Al-Qur’an menyebutkan bahwa ketika Sulaiman wafat, tidak ada yang mengetahui kematiannya kecuali rayap yang memakan tongkatnya. Ketika tongkat itu rapuh dan ia jatuh, barulah diketahui bahwa ia telah wafat.
Hal ini menunjukkan bahwa jin tidak mengetahui hal gaib. Mereka tetap bekerja karena mengira Sulaiman masih hidup. Setelah diketahui kematiannya, barulah mereka menyadari bahwa mereka tidak mengetahui perkara gaib.
0 komentar:
Posting Komentar