Aku tidak sering berkhayal, tapi pernah. Di khayalanku, aku membuka toko sembako. Tidak perlu pakai seragam, tidak perlu pusing memikirkan pengembangan aplikasi, apalagi menghadapi server mati di hari libur. Tidak usah ini, tidak usah itu. Namanya juga berkhayal, terserah saya, dong. Jadi, kalau saat membaca paragraf pertama kamu ingin bilang, “Banyakin bersyukur,” atau “Ya sudah, resign saja sana,” tolong jaga dulu isi hatinya yang busuk. Sssttt. Kalau tidak suka, di kanan atas browser ada tanda silang. Wkwkwk.
Tentu saja, khayalan itu kemudian ditampar oleh diri sendiri. “Heh! Memangnya kamu saja yang berusia 40 tahun? Memangnya kamu saja programmer perempuan di dunia ini? Memangnya kamu baru jadi perempuan? Kamu sudah bodoh dan berkurang kemampuannya? Lalu apa yang membuatmu ingin kabur?” Aku pun terdiam. Ya dari tadi berkhayal juga aku diam. Aku nggak berkhayal sambil jaipongan juga.
Aku bosan melihat orang terbelalak ketika tahu usiaku. Bukan karena aku berusaha menyembunyikannya. Sama sekali tidak. Hanya saja, industri tempatku berkecimpung banyak diisi Gen Z, dan rupanya usia 40 tahun masih bisa menjadi informasi yang mengejutkan bagi sebagian orang. Mereka mungkin punya bayangan tertentu tentang programmer yaitu anak muda, laki-laki, berkutat dengan kode, dan entah bagaimana harus selalu mengikuti perkembangan teknologi terbaru.
Ketika bertemu aku, bayangan itu bertabrakan dengan kenyataan. Aku bosan harus menjadi semacam anomali yang perlu dijelaskan keberadaannya.
Apakah aku satu-satunya programmer berusia 40 tahun? Tentu tidak. Lalu, masalahnya apa? Apakah aku mulai meragukan kemampuan sendiri, bosan dengan pekerjaan, atau sekadar ingin hidup tanpa perlu memikirkan server yang mati saat hari libur? Aku tidak tahu. Barangkali aku hanya sedang ingin membayangkan kehidupan yang berbeda. Dan untuk saat ini, sepertinya aku tidak harus punya jawaban atas semuanya. Wkwkwk.
