Jumat, 25 September 2026

Dari Kursi Belakang

Saya sudah pernah ada di kursi driver. Di kursi penumpang di samping driver. Pernah juga dibaris kedua. Kali ini saya ada dibaris paling akhir. 

Karena saya duduk di kursi penumpang baris paling akhir, disebelah kanan, tepat di pinggir jendela, pemandangannya dominan sebelah kanan. Leher kiri saya jadi lumayan agak kaku. Tapi kaki kanan saya sangat kaku. Tidak bisa lurus karena terganjal ban cadangan. Maka sepanjang 5 jam perjalanan itu kaki kiri saya lurus, kaki kanan saya nangkring. Apa kabar lutut  kanan saya yang cideranya belum sembuh? Jangan ditanya. 

Saat sampai di rest area, pak supir istirahat. Karena saya di kursi paling belakang pojok maka otomatis saya paling akhir turun. Sambil menunggu penumpang lain turun mata saya melihat kaca sebelah kiri. Ada  peringatan jika terjadi sesuatu pecahkan kaca, dengan apa? Saya tidak melihat tools untuk memecahkan kaca itu. Mungkin dengan kepala? Ah sudahlah, saya harus segera turun, saya pingin pipis. 

Saya inisiatif naik paling awal, supaya tidak menganggu penumpang lain jika mereka sudah naik duluan. Saya dari lahir memang sudah sat set, cidera lutut tidak lantas saya tidak sat set sedikitpun. Saya kembali duduk ditempat semula. Mengoleskan krim anti radang di lutut sebelah kanan saya sebelum pak supir kembali jalan. Sebelum penumpang lain naik. Eh, dari kursi ini, kegiatan saya tidak terlalu terekspos, saya bebas mengoleskan krim ke lutut saya. 

Mobil kembali jalan. Karena baru saja jalan, penumpang yang tadinya tidur, kembali segar. Mereka kembali berceloteh. Penumpang disamping pak supir berusaha membaca map. Karena saya di kursi pojok paling belakang, saya tidak punya keharusan bisa membaca map. Saya juga tidak punya keharusan membuat pak supir tetap mendelik demi keamanan perjalanan. 

Penumpang dibaris tengah tertawa terbahak-bahak. Membahas lagu yang sedang didendangkan radio. Dari kursi pojok paling belakang, saya tidak terlalu nyambung mereka membahas apa. Ternyata tidak terlalu buruk berada di kursi pojok paling belakang, aku bisa bebas melamun melihat pembatas jalan tol, tidur kembali, bangun lagi untuk mengoles krim anti radang, tidur lagi, semua bebas saya lakukan tanpa harus punya peran apa-apa dalam perjalanan ini. 

-Saya pasti pulang-
Share:

Selasa, 22 September 2026

Saya Punya Hobi Yang Tidak Berguna

Beberapa waktu yang lalu saya sempat berbincang dengan beberapa orang. Tiga orang, dengan saya empat tepatnya. Salah satu yang jadi bahan pembicaraan adalah mengenai kucing. Dari empat yang sedang berkumpul itu, ada satu yang tidak suka kucing. Dan saya adalah yang paling suka kucing. Dua yang lainnya suka kucing, dibuktikan dengan setidaknya pernah memelihara kucing.

Salah satu dari mereka menanyakan kucing saya yang sebentar lagi melahirkan. Berapa total kucing saya. Berapa jumlah pengeluaran untuk kebutuhan kucing-kucing saya setiap bulannya dan sebagainya. Lalu teman saya yang tidak suka kucing berkata, "Dih segitunya, buat apa sih pelihara kucing? Manfaatnya apa coba?". Kemudian pembicaraan jadi satu versus dua. Saya? Sibuk mikir. Sibuk mikir sampai malamnya, sampai berhari-hari. 

Sebenarnya saya sudah pernah dengar kata-kata apa manfaat dari sesuatu yang saya kerjakan. Pada saat itu saya sedang suka menanam kaktus. Saya dikomentari oleh seseorang yang suka menanam buah dan sayur dengan kata-kata yang kurang lebih sama. Apa sih manfaat menanam kaktus? Berduri, nggak bisa dimanfaatkan lagi. Saya diam dan kemudian sibuk bermalam-malam sampai saya tanyakan ke google (pada saat itu belum musim curhat sama AI), saya tanya manfaat menanam kaktus. 

Memelihara kucing, menanam kaktus, fotografi, koleksi orang-orangan kertas. Wah ternyata memang hobi saya tidak berguna, bagi orang lain. Tapi bagi saya melakukan hal-hal itu menyenangkan. Membahagiakan. 

Jika ia tidak terlalu berguna. Apakah kemudian kamu jadi tidak cinta? Saya rasa hati saya tetap memilih cinta. Tetap memilih merawat. Tanpa alasan. Seperti mengenal manusia. Ya kenal aja. Saya tidak berfikir apakah orang itu saat ini berguna atau masih berguna atau kelak bisa berguna.

Jika ditanya mengenai kesukaan saya pada kucing, pada kaktus dan semacamnya, saya pasti tidak bisa menjawab. Mungkin bisa tapi tidak terlalu detail. Mungkin yang keluar dari mulut saya hanya ya karena saya bahagia aja melakukan hal-hal itu. Bukan karena sesuatu itu, tanaman itu, hewan itu, makanan itu, keadaan itu, situasi itu, manusia itu memiliki manfaat. Haruskah aku mulai melakukan hal-hal yang bermanfaat saja? Sesuatu yang memiliki nilai jual? Sesuatu yang menghasilkan uang? Sesuatu yang bisa membackup aku jika kesulitan? Haruskah?

Saya melakukan hobi, mengenal orang atau semacamnya. Ya buat contoh memelihara kucing saja, menurutku bukan perkara dia bermanfaat atau tidak bagi aku. Aku tidak memelihara makhluk hidup hanya karena dia bisa memberi keuntungan tertentu. Ada kasih sayang, companionship, dan tanggung jawab di situ. Sama seperti aku menyayangi seseorang, bukan karena setiap saat dia harus memberikan manfaat untukku. Menurutku, tidak semua hubungan harus diukur dari manfaat. Kucing bukan barang yang kita pelihara karena fungsi tertentu. Mereka makhluk hidup yang bisa aku sayangi, temani, dan aku rawat. Nilai keberadaannya tidak menjadi lebih tinggi hanya karena dia berguna bagi manusia.


-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 17 September 2026

Hai, apa kabar?

Hai, apa kabar? Setelah hampir sebulan, siang malam hanya melihat halaman visual studio code yang isinya 404, keluar rumah dalam keadaan mata yang jadi agak juling, hari ini rasanya senang sekali pagi-pagi main badmintont pakai kolor kesayangan yang udah buluk, bisa makan tahu isi dan sambal kecap sembari nonton nadia omara, namatin A Bo na fide killer sembari nerusin nonton serial walking death. Nikmat mana yang kau dustakan? 

Ngomong-ngomong tentang nikmat yang aku dustakan. Agaknya beberapa bulan sebelum bulan ini, banyak sekali. Setelah aku hanya punya waktu untuk satu hal saja, nikmat-nikmat yang aku dustakan itu baru terasa. Seperti hal paling remeh misalnya celana kolor buluk kesayangan. Bagaimanapun harus aku masukan dalam daftar nikmat Allah. Dengan celana kolor itu, aku leluasa duduk, nangkring, jongkok, berdiri, dari ngoding tiba-tiba bangun buat dumbell farmers walk saat aku buntu dengan 404. Coba bayangkan aku pakai rok span. 

Hai, apa kabar? Kalian tahu, sebulan sebelum bulan ini, saya membuka hati, hidup, pikiran saya untuk orang disekitar saya selebar-lebarnya. Hal yang tidak pernah terpikir untuk melakukannya karena.. karena apa ya? Ya karena saya memang agak sedikit terancam jika terlalu dekat dengan orang lain. Wkwkw. Tapi bulan itu full saya ikut banyak sekali kegiatan. Saya ikut olahraga berkelompok (selama ini saya olahraga sendiri), saya berbincang dengan orang asing, saya bekerja dengan orang baru, saya menerima telpon dari orang yang butuh dukungan dalam hal pekerjaan (biasanya saya hanya menerima chat), saya ikut teman saya makan-makanan yang biasanya tidak saya makan (duren). Biar apa? Saya ingin melihat warna lain dalam hidup sebelum saya mati. Hanya itu. Dan apa? Beberapa saya bisa teruskan, beberapa tidak. Dan ternyata tidak terlalu menakutkan. Saya hanya terlalu rapat menutup pintu. Mereka mengira pintu itu gerbang menuju lab kimia yang salah sentuh dikit meledak. Tapi kalo duren saya tetap nggak bisa. Hahaha.

Hai, apa kabar? Pernah kepikiran buat beres-beres gallery photo? beres-beres kontak? beres-beres isi lemari baju? Kalo isi lemari baju sering ya. Karena dari 2023 aku sudah menganut aliran minimalis dimana aku memang tidak banyak punya barang hanya untuk terlihat update (disamping hemat juga), maka memang tidak banyak isi lemari yang ada dirumahku. Satu masuk, satu keluar. Beres-beres gallery photo, beres-beres desktop laptop, beres-beres media sosial? Owgh ya sering sekali. Tapi beres-beres kontak? Baru sempet tadi pagi. Dan rasanya melegakan. Banyak kontak yang saya sendiri lupa siapa, seperti orang-orang yang buka jastip kopi, ojol, dan semacamnya. Rasanya ringan, nggak cuma hpnya, tapi juga hatinya. Ihi. 

Dan ya akhirnya, saya juga beres-beres postingan saya di blog ini. Tidak saya hapus karena sayang. Tapi dibaca lagi oleh saya yang pernah mengalami pasang surut dan semuanya saya tulis di blog ini, rasanya kok wagu. Wkwkw. Apalagi membayangkan dibaca orang. Lebih wagu lagi. Jadi saya memutuskan untuk membereskan postingan-postingan yang sudah lalu. Kemudian membuka lembaran baru? TIDAK. Semakin saya bertambah umur, saya tidak suka hal-hal semacam membuka lembaran baru. Saya hari ini adalah gabungan dari hal benar dan hal salah yang saya putuskan di masa lalu. Saya sangat bangga melihat diri saya yang sekarang. Sangat kenal dengan diri saya sendiri. Tahu benar harus kemana. Tahu mana yang harus dilakukan. Tahu apa yang harus dihentikan. Maka saya memutuskan mencintai diri saya sebenar-benarnya, seutuh-utuhnya, seadanya. Lebih dulu. Ketimbang orang lain. Siapapun itu. 

Jadi, Hai, apa kabar? Saya sangat baik, tenang dan konsentrasi penuh pada hal-hal baik saat ini. Kelak jika hidup saya kembali tidak baik-baik, itu wajar. Nanti juga baik lagi. :D




-Saya pasti pulang-
Share: