Saya sudah pernah ada di kursi driver. Di kursi penumpang di samping driver. Pernah juga dibaris kedua. Kali ini saya ada dibaris paling akhir.
Karena saya duduk di kursi penumpang baris paling akhir, disebelah kanan, tepat di pinggir jendela, pemandangannya dominan sebelah kanan. Leher kiri saya jadi lumayan agak kaku. Tapi kaki kanan saya sangat kaku. Tidak bisa lurus karena terganjal ban cadangan. Maka sepanjang 5 jam perjalanan itu kaki kiri saya lurus, kaki kanan saya nangkring. Apa kabar lutut kanan saya yang cideranya belum sembuh? Jangan ditanya.
Saat sampai di rest area, pak supir istirahat. Karena saya di kursi paling belakang pojok maka otomatis saya paling akhir turun. Sambil menunggu penumpang lain turun mata saya melihat kaca sebelah kiri. Ada peringatan jika terjadi sesuatu pecahkan kaca, dengan apa? Saya tidak melihat tools untuk memecahkan kaca itu. Mungkin dengan kepala? Ah sudahlah, saya harus segera turun, saya pingin pipis.
Saya inisiatif naik paling awal, supaya tidak menganggu penumpang lain jika mereka sudah naik duluan. Saya dari lahir memang sudah sat set, cidera lutut tidak lantas saya tidak sat set sedikitpun. Saya kembali duduk ditempat semula. Mengoleskan krim anti radang di lutut sebelah kanan saya sebelum pak supir kembali jalan. Sebelum penumpang lain naik. Eh, dari kursi ini, kegiatan saya tidak terlalu terekspos, saya bebas mengoleskan krim ke lutut saya.
Mobil kembali jalan. Karena baru saja jalan, penumpang yang tadinya tidur, kembali segar. Mereka kembali berceloteh. Penumpang disamping pak supir berusaha membaca map. Karena saya di kursi pojok paling belakang, saya tidak punya keharusan bisa membaca map. Saya juga tidak punya keharusan membuat pak supir tetap mendelik demi keamanan perjalanan.
Penumpang dibaris tengah tertawa terbahak-bahak. Membahas lagu yang sedang didendangkan radio. Dari kursi pojok paling belakang, saya tidak terlalu nyambung mereka membahas apa. Ternyata tidak terlalu buruk berada di kursi pojok paling belakang, aku bisa bebas melamun melihat pembatas jalan tol, tidur kembali, bangun lagi untuk mengoles krim anti radang, tidur lagi, semua bebas saya lakukan tanpa harus punya peran apa-apa dalam perjalanan ini.