Minggu, 01 Maret 2026

Kaum Ad

Al-Qur'an menyebutkan berbagai kaum terdahulu yang diutus nabi kepadanya, banyak di antaranya dibinasakan karena keingkaran, seperti Kaum 'Ad (Nabi Hud), Kaum Tsamud (Nabi Shaleh), Kaum Madyan/Ashab al-Aikah (Nabi Syu'aib), Kaum Sodom (Nabi Luth), Bani Israil (Nabi Musa/Isa), serta kaum Nabi Nuh, Kaum Tubba', dan Kaum Saba'. Dalam Al-Qur'an, ada beberapa kaum (umat) yang disebut sebagai pelajaran bagi manusia. Biasanya mereka diceritakan karena mendustakan nabi dan akhirnya mendapat azab. Kali ini yang akan kita baca adalah mengenai kaum Ad.

Kaum 'Ad adalah umat kuno yang diutus kepada mereka Nabi Hud AS, dikenal bertubuh raksasa, sangat kuat, dan kaya raya, namun sombong serta menyembah berhala. Akibat menolak dakwah, mengingkari Allah, dan menantang azab, mereka dimusnahkan oleh angin topan dingin yang dahsyat selama 7 malam 8 hari.

Kisah dan Latar Belakang Kaum 'Ad. 
Tempat Tinggal : Kaum 'Ad tinggal di wilayah Al-Ahqaf (bukit-bukit pasir) yang terletak antara Yaman dan Oman. Kekuatan dan Peradaban : Mereka diberkahi fisik yang besar, kuat, dan usia panjang, serta membangun peradaban megah dengan bangunan menjulang tinggi, yang dikenal dengan kota Iram. Kedurhakaan : Meskipun makmur, mereka menyembah berhala (Shamad, Shamud, Hira) dan melakukan kemaksiatan. Dakwah Nabi Hud AS: Nabi Hud AS diutus untuk mengajak mereka menyembah Allah, namun mereka mengejek dan menganggap diri mereka tak terkalahkan.

Azab yang Ditimpakan
Kekeringan: Awalnya, Allah memberikan peringatan berupa kemarau panjang selama tiga tahun yang mengeringkan lahan subur mereka. Angin Topan: Setelah menantang azab, Allah menurunkan azab berupa angin kencang yang sangat dingin (sharsar) selama tujuh malam dan delapan hari. Kehancuran Total: Angin tersebut membinasakan seluruh kaum 'Ad, membuat mereka tumbang bagaikan pohon kurma yang lapuk, hanya meninggalkan puing-puing bangunan mereka.

Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran tentang akibat dari keangkuhan dan kesombongan manusia terhadap kekuasaan Allah SWT. Nabi Hud AS dan pengikutnya yang beriman diselamatkan dari bencana tersebut.


-Saya pasti pulang-
Share:

Tonic Of Wildness

Tadinya saya berpikir, dalam malam-malam yang pernah dilalui, yang ditutupi karena memalukan untuk mengakui kesedihan, bahwa maha masalah sebenar-benarnya adalah pada kesunyian. Tapi ternyata kesunyian yang dialami bukan kesunyian sejati. Pikiran yang kesepian di kota yang hiruk pikuk merindukan hubungan karena menganggap hubungan manusia dengan manusia merupakan hal penting. Hingga tanpa hal tersebut hidup menjadi hampa. Lebih parah, hidup namun mati. 

Di gunung yang kebetulan hari itu tanpa pendaki, di tengah alam murni atau "Tonik rimba" (tonic of wildness) menurut istilah Henry David Thoreau merujuk pada kebutuhan mendasar manusia untuk terhubung kembali dengan alam yang liar, tidak terjamah, dan asli, guna menyegarkan jiwa, pikiran, dan tubuh dari kelelahan hidup modern yang teratur. Konsep ini disampaikan Thoreau dalam bukunya yang terkenal Walden (1854). Kesunyian kemudian berubah menjadi karakter yang berbeda. Kesunyian itu sendiri menjadi sebuah hubungan. Hubungan antara diri sendiri dan dunia. Hubungan antara dirinya dan dirinya sendiri.

Media social membuat banyak orang bertemu dengan banyak orang sesuai minatnya namun juga membuat banyak orang merasa semakin kesepian. Seolah semua orang saling membenci karena kewalahan dengan "teman yang bukan teman". Dan semudah itu menyatakan benci karena merasa aman mengakui mereka bukan teman. Mereka bukan manusia yang memiliki perasaan?

Kalian pernah dengar soal angka Dunbar? Angka Dunbar adalah teori yang dicetuskan oleh antropolog Robin Dunbar, menyatakan batas kognitif manusia untuk mempertahankan hubungan sosial yang stabil dan bermakna adalah sekitar 150 orang. Angka ini mencakup orang yang dikenal secara personal, bukan sekadar kenalan. Meskipun populer, angka ini berkisar antara 100-230 orang. Karena itulah kemudian jumlah komunitas yang bertahan (selama bukan komunitas online) biasanya berjumlah sekitar itu. Dan di media social seperti Instagram, kita bisa bertemu manusia lebih dari jumlah tersebut dalam sejam! Apa yang kalian pikirkan? Persis. Tidak sehat. Otak tidak akan tahan. Itulah sebabnya kita merindukan komunikasi tatap muka lebih dari sebelumnya. 

Dan di atas gunung seperti saat ini. Keheningan membuat saya sadar betapa banyak bunyi-bunyian ditempat lain didunia. Saya tidak mau pergi ketempat ramai. Hari-hari selanjutnya saya akan ke tempat yang lebih sepi.


-Saya pasti pulang-
Share:

Sabtu, 28 Februari 2026

Maret : Perpustakaan Tengah Malam - MATT HAIG

Hai! Saya baru menyelesaikan membaca satu buku fantastis! Akhirnya setelah saya kelaparan akan bacaan fiksi yang "tajam". Nyesel banget juga kenapa baru sekarang aku mood baca buku ini. Oke, here we go.

Judul: Perpustakaan Tengah Malam (The Midnight Library) 
Tebal: 368 
Halaman Bahasa: Indonesia
Penulis : Matt Haig
Tahun : 2020

“Tiap-tiap buku memberikan kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang bisa dijalani.” Itu adalah quotes dari perpustakaan. Tokoh disini adalah Nora Seed yang setelah percobaan bunuh diri dia ada di dunia mati dan hidup. Ya mati enggak, hidup juga enggak. Yang kemudian jiwanya nyasar di perpustakaan yang mana sebenarnya secara nyata perpustakaan tersebut ada ketika dia Sekolah Dasar. Nora kemudian dihadapkan dengan kemungkinan mengubah hidupnya untuk kehidupan yang sama sekali berbeda, kehidupan yang baru sesuai dengan buku-buku yang terdapat di perpustakaan tersebut, mengikuti karir yang berbeda, membatalkan perpisahan lama, mewujudkan mimpinya menjadi ahli glasiologi, menjalani kehidupannya sebagai atlet renang kelas dunia, serta banyak hal lain yang dapat dicoba. 

Dia harus menemukan keinginan serta kebahagiaan di dalam dirinya saat dia melakukan perjalanan di Perpustakaan Tengah Malam untuk memutuskan apa yang benar-benar memuaskan dalam hidup, dan apa yang membuatnya layak untuk dijalani. Nora mencoba kehidupan lainnya yang ingin ia jalani lewat buku-buku di Perpustakaan Tengah Malam, dibantu oleh penjaga perpustakaan, Mrs. Elm. Nora tidak bisa kembali ke Perpustakaan apabila ia tidak merasakan penyesalan saat menjalani kehidupan lainnya yang sedang ia jalani. 

Buku ini berbicara tentang penyesalan, hubungan, mimpi, hewan peliharaan, persahabatan, kemungkinan yang akan terjadi, dan yang paling penting bagaimana menjalani hidup di masa sekarang dan memanfaatkannya sebaik mungkin tanpa atau dengan kita memperoleh kesempatan kedua dalam hidup (seperti Nora Seed).

"Setiap kehidupan mengandung berjuta-juta keputusan. Beberapa besar, beberapa kecil. Tetapi setiap kali satu keputusan menumbangkan keputusan lainnya, hasil akhirnya akan berbeda. Variasi-variasi yang tak bisa diubah terjadi, yang pada gilirannya mengarah pada variasi-variasi lain lagi. Buku-buku ini merupakan portal ke semua kehidupan yang mungkin saja kau jalani." — Perpustakaan Tengah Malam (The Midnight Library), halaman 326


-Saya pasti pulang-
Share:

Ini Tentang Salah Satu Lagu Hipdut

Ini murni pandangan saya pribadi. 

Karena sekarang sering bekerja dengan gen Z, sebagai backsound bekerja otomatis musiknya juga dipengaruhi oleh musik yang kata mereka lagi mereka banget (duh ya pokoknya gitu). Iya betul, lagu bergenre hipdut. Atau hiphop dangdut. Dari yang tadinya biasa saja sampai akhirnya terngiang-ngiang dan bisa diterima dikuping seperti Eaa a nya Dia. Selain itu, ada lagu yang sebenarnya menurut saya pribadi enak juga. Lagunya Naykilla berjudul so asu. Entah bagaimana saya terus mikir, ada keinginan kuat pada diri saya untuk menentang otak agar tidak ingat lagu itu. Kalo saya bilang itu musiknya bagus, brati apanya? Iya saya persis paham itu karena judulnya dan ya pasti harus diucapkan ketika menyanyikannya, walaupun cuma dalam hati. 

Saya terbuka dengan berbagai macam jenis musik. Kalo enak ya didenger kalo enggak ya nggak didenger. Segampang itu. Ketika mendengar lagu ini, saya bilang saya agak punya kesadaran untuk tidak memasukannya ke dalam playlist saya padahal saya rasa lagunya enak. Saya bertanya-tanya, kenapa? Iya betul saya tidak bisa menerima liriknya. Mulut saya tidak bisa mengucapkannya, otak saya tidak mau jika mulut saya mengucapkannya, otak saya tidak mau jika hati saya mendengungkannya, walaupun itu lagunya enak. 

Mungkin, ada yang berpendapat, ya kalo enak didenger aja. Oke gapapa berpendapat. Sekali lagi di paragraph pertama, ini murni pandangan saya pribadi. Ini yang saya pikirkan tentang lagu-lagu dengan judul yang "hmm". Kemudian saya browsing dan ketemu mungkin agak melegakan karena walaupun ini pandangan saya pribadi, saya juga perlu jawaban, kenapa saya demikian?

Menurut Pierre Bourdieu, Dalam bukunya La Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979), Pierre Bourdieu berpendapat bahwa selera (taste) bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan alat untuk membedakan diri (distinction) dan menegaskan status sosial. Selera mencerminkan posisi kelas dan digunakan untuk mempertahankan hierarki, di mana budaya kelas atas dianggap superior dibanding budaya kelas bawah.

Berikut adalah poin-poin kunci mengenai konsep distinction Bourdieu:
  • Selera sebagai Penanda Kelas: Selera estetika, gaya hidup, konsumsi barang, makanan, hingga musik digunakan untuk menunjukkan kelas sosial seseorang.
  • Modal Budaya (Cultural Capital): Individu dari kelas atas menggunakan modal budaya (pengetahuan, selera, pendidikan) untuk membedakan diri dan mengesampingkan kelas yang lebih rendah.
  • Habitus: kebiasaan yang tertanam sejak dini—membentuk selera individu secara tidak sadar, yang kemudian memandu pilihan konsumsi mereka.
  • Dominasi Simbolik: Pilihan estetika kelas atas (misalnya apresiasi seni "tinggi") dijadikan standar universal, sementara selera kelas bawah sering dianggap "norak" atau tidak berbudaya, memperkuat ketimpangan sosial.
  • Arena Pertarungan: Distinction adalah bagian dari perjuangan simbolik yang konstan di mana individu mempertahankan atau mengubah posisi mereka dalam struktur sosial.
Secara ringkas distinction adalah mekanisme di mana "selera" disalahartikan sebagai bakat alami, padahal sebenarnya merupakan produk dari lingkungan sosial yang digunakan untuk melegitimasi ketimpangan sosial dan kekuasaan.

Dalam hal saya pribadi, saya mungkin menggunakan poin nomor 3 sebagai jawaban. Habitus atau kebiasaan. Karena dalam keluarga saya bilang anjing masih oke, but asu itu kasar. Saking dianggap kasar dan tidak sopannya, saat saya dengan tidak sengaja mengucapkannya, mulut saya langsung ciuman sama sandal carvil ayah saya. Jadi sudah jelas, bukan genre lagunya, hanya liriknya saja yang saya tidak cocok. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Senin, 23 Februari 2026

Tenang, Disengaja dan Cukup

Hai, saya baru saja membaca sebuah artikel berjudul "The psychology of Enough (Why Chasing more doesnt Make Us happier)" by Rebecca Bridge, PayD di Medium. 

Salah satu paragraf nya berbunyi : 
The reason we often feel unsatisfied shortly after purchasing new items lies in two main psychological phenomena: hedonic adaptation and choice overload. These mechanisms create a cycle of consumerism where the brain constantly craves more. Minimalist practices act as a "psychological intervention" that breaks this cycle, retraining the brain to find satisfaction in less. 

Iya betul. Pada tahun 2019-2020 saat covid melanda Indonesia, saya ingat betul saya baru saja berkenalan dengan bukunya Fumio Sasaki yang judulnya Goodbye things (Hidup minimalis ala orang jepang). Dan itu saya masukan kedalam salah satu buku favorit saya karena isinya yang menyelamatkan hidup saya dengan tata cara hidup minimalis yang sampai sekarang masih saya terapkan (saat saya menulis artikel ini, saya merasa hampir kembali hedon, itulah alasan saya menulis ini, untuk mengingatkan diri saya sendiri kembali ke jalan yang saya yakini benar).

Mengapa Kita Terus Menginginkan Lebih Banyak? Adaptasi Hedonis (Treadmill): Manusia cenderung cepat kembali ke tingkat kebahagiaan dasar setelah perubahan hidup yang positif atau negatif. Ketika kamu membeli mobil atau gadget baru, kegembiraan awalnya nyata, tetapi segera memudar, dan kamu terbiasa dengan standar baru yang lebih tinggi. Otak kemudian mencari "sensasi" baru, yang mengarah pada pengejaran tanpa henti untuk pembelian berikutnya.

Choice Overload (Paradoks Pilihan): Banyaknya pilihan sebenarnya membuat kita kurang puas dengan keputusan kita dan lebih rentan terhadap penyesalan. Terlalu banyak pilihan menyebabkan kelebihan beban kognitif, sehingga sulit untuk memutuskan, mengurangi kepuasan, dan mendorong kita untuk merasa bahwa kita bisa membuat pilihan yang "lebih baik".

Otak kita dirancang untuk mencari hal-hal baru dan mengumpulkan sumber daya untuk bertahan hidup, yang terkait dengan sistem dopamin. Di zaman modern, naluri ini mendorong kita untuk membeli barang-barang agar merasa istimewa atau untuk "mengikuti gaya hidup orang lain". Kita sering membeli barang untuk mengatasi stres atau untuk meningkatkan suasana hati kita sementara waktu. Namun, "terapi belanja" ini hanya memberikan kepuasan jangka pendek, seringkali menyebabkan kekacauan dan penyesalan. Pada pengalaman saya 5 tahun yang lalu, penyesalan itu muncul disertai rasa muak yang sangat. Seperti hidup tanpa isi. Ya yang penting hidup saja. Segera setelah saya kosongkan isi lemari dan rumah saya (bukan ngerampok ya :D) diri saya kembali hadir dengan sadar pada waktunya.

Interrupting Hedonic Adaptation: By voluntarily reducing the influx of new, "exciting" items, we stop the "high-low" cycle of purchasing. Minimalism teaches us to find contentment with what we have, reducing the reliance on external, material goods for happiness.

Dengan menetapkan batasan (misalnya, aturan "satu masuk, satu keluar," atau menunggu 24 jam sebelum membeli), kita melatih otak untuk memprioritaskan kepuasan jangka panjang daripada kepuasan impulsif dan instan. Ini memperkuat pengendalian diri kita dan mengurangi pengaruh dorongan konsumerisme yang didorong oleh FOMO (Fear of Missing Out). Pada intinya, minimalisme bertindak sebagai alat pelatihan ulang untuk otak, mengalihkannya dari keadaan konsumsi yang konstan dan cemas ke keadaan yang TENANG, DISENGAJA, dan CUKUP. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Februari - The Book of Ikigai Ken Mogi (Untuk Hidup Seimbang, Lebih Bahagia, dan Panjang Umur)

Hai, saya baru menyelesaikan membaca buku berjudul The Book Of Ikigai. The Book of Ikigai (juga diterbitkan dengan judul Awakening Your Ikigai atau The Little Book of Ikigai) karya Ken Mogi, seorang ilmuwan otak (brain scientist) asal Jepang, mengeksplorasi filosofi tradisional Jepang tentang menemukan alasan untuk bangun di pagi hari. Berbeda dengan diagram Venn populer yang sering mengaitkan Ikigai dengan karier dan uang, Ken Mogi menekankan bahwa Ikigai bisa ditemukan dalam hal-hal kecil di keseharian.

Buku ini terdiri dari 185 halaman dan 10 bab. Buku ini dibuka dengan catatan untuk pembaca yaitu lima pilar ikigai : Awali dengan hal kecil, bebaskan dirimu, Keselarasan dan kesinambungan, Kegembiraan dari hal kecil, Hadir ditempat dan waktu sekarang. 

Arti Ikigai sendiri adalah Secara harfiah, Ikigai (生き甲斐) berasal dari kata iki (hidup) dan gai (nilai atau alasan). Jadi, Ikigai adalah "alasan untuk hidup" atau alasan yang membuat seseorang bersemangat untuk bangun di pagi hari. Bab 2 akan membahas mengenai alasan anda bangun pagi. Apa alasannya? Bagi umat muslim kita sholat subuh ya? karena wajib? jika tidak wajib akankah kita tetap bangun pagi? Kalo saya, tetap akan bangun pagi. Pagi hari saya adalah penentu. Dan saya menjalaninya bertahun-tahun hingga dewasa tanpa pernah mengeluh. Bahkan saya dengan alarm pagi lebih dulu saya yang bangun. 

Ikigai hanya mengukuhkan intuisi yang telah kamu miliki, perubahan itu akan berlangsung perlahan dan kecil-kecilan, seperti kehidupan itu sendiri. Dan dari 10 bab saya dapat menyimpulkan bahwa ikigai adalah suatu kegiatan, keadaan, pengalaman yang kadang dianggap tidak penting bagi orang lain tapi membahagiakan bagi kita pribadi. Yang kita rela melakukannya tanpa berpikir bahwa ujungnya mengenai uang. Itu Ikigai, itu sumber kebahagiaan walaupun orang lain tidak paham dimana letaknya kebahagiaan yang kita anggap bahagia itu.

Gajian itu bahagia, dapat proyek diluar pekerjaan tetap juga saya bahagia, beli tas atau sepatu baru bahagia, tapi ini bahagia dengan level yang berbeda. Seperti saya bahagia ketika saya bisa menulis walaupun tidak selalu tulisan saya lolos editor, ketika saya bisa memotret sesuatu yang menurut saya "masuk kehati" tidak harus photo saya masuk ke galery seni, ketika saya melihat langit sore meskipun kadang hujan juga terasa indah, ketika saya main dengan kucing, ketika saya hanyut membaca buku sambil minum kopi. Kebahagiaan-kebahagiaan remeh yang ketika bicara dengan orang yang tidak terlalu dekat dan mengerti kebiasaan saya sehari-hari maka akan terasa seperti "pick me" sekali.

Hal-hal remeh yang menjadi dasar setiap saya bangun pagi. Karena hari ini saya akan melakukan hal-hal demikian itu, dengan suka rela, obat pertama sebelum minum obat yang beneran (jika sakit berlanjut). 

-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 19 Februari 2026

Playlist Februari 2026

Suka mendengarkan musik? Kalo saya hampir selalu. Tiba-tiba kepikiran buat nulis playlist youtube dan spotify saya di bulan ini. Entah buat apa. Ya karena ini blog saya ya suka-suka saya mau nulis apa. :D

1. She and Him - I Thought I saw ur face today'
2. Fifty fifty - Cupid
3. Arctic monkey - No 1 Party Anthem
4. The 1975 - About you
5. Djo - End of Beginning
6. Billie eilish - Wildflower
7. Ardito Pramono - Bitter Love
8. Arctic Monkey - 505
9. Arctic Monkey - I wanna be Yours
10. Mitski - I Love Mine All Mine
11. Olivia Dean - So Easy
12. The walters - I Love You So
13. Laufey - From The Start

Playlist ini dipengaruhi oleh reels yang sering riwa riwi di instagram, soundtrack film yang sedang aku tonton, dan keadaan dan ya kadang dia muter sendiri menyarankan lagu. Tapi karena ada fitur skip ya kalo nggak bisa diterima di kuping ya diskip aja. Nggak usah dipaksain harus bergenre ini itu pokoknya. Iya inilah 13 lagu yang paling sering didenger di Januari - Februari 2026. Dimobil, ditempat kerja, dirumah (kadang tapi sangat jarang).

-Saya pasti pulang-
Share: