Jumat, 02 Oktober 2026

Tidak jadi belajar APi

Hari ini niatnya belajar API. Ternyata nggak jadi. Karena sebelum belajar API, saya harus bikin nama aplikasi yang memakai API tersebut. Nah. Di sinilah saya tersesat.
Karena ini aplikasi pemerintahan, namanya tidak boleh nyleneh. Harus terdengar resmi, masuk akal, punya kepanjangan yang jelas, tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek, dan yang paling penting aman dibawa rapat pimpinan.

Akhirnya saya googling. Cari inspirasi nama aplikasi pemerintahan. Tidak ketemu.

Saya tanya AI. AI memberikan banyak sekali pilihan. Saya baca satu-satu.

Lalu mulai muncul pertanyaan-pertanyaan yang semakin tidak berhubungan dengan API. “Jumlah suku katanya berapa?”, “Enak nggak kalau disebut dalam rapat?”, “Ada aura pemerintahannya nggak?”, “Aura pemerintahannya biru atau navy?”, “Sky blue?” “Biru aja ternyata banyak banget versinya. Idih.”

Lalu saya mulai mikir warna. Aplikasi terakhir, saya berhasil memaksa atasan menerima warna pilihan saya, pink. Kali ini kayaknya saya nggak bisa maksa lagi. Kalau saya bikin hitam aja gimana? Biar garang. Grrrrrr. Tapi takutnya malah dikira aplikasi penjualan organ. Hueeeee.

Akhirnya balik lagi ke AI. “Nama ini aman nggak dibawa rapat pimpinan?” Karena ini bagian yang paling dag-dig-dug. Saya sebenarnya nggak terlalu suka direvisi. Ya, semua orang juga nggak suka direvisi, sih. Tapi saya punya spesifikasi tambahan, Saya tidak suka aplikasi buatan saya direvisi bagian tampilannya.

Karena kalau saya sudah menentukan tampilan, biasanya di kepala saya sudah ada dunia kecilnya sendiri. Misalnya saya bikin tema Sailor Moon. Ya mohon diterima saja, Pak. Yang penting aplikasinya berjalan dengan baik, sesuai fungsi, datanya benar, API-nya nyambung, dan tidak error. Kenapa yang dipermasalahkan warna? Toh Sailor Moon juga menyelamatkan dunia.

Akhirnya hari ini saya tidak belajar API. Saya belajar bahwa membuat aplikasi pemerintahan itu ternyata dimulai dari mencari nama, menghitung suku kata, membaca aura warna, mempertimbangkan persepsi publik, memprediksi ekspresi pimpinan, dan berdamai dengan kemungkinan revisi.

API-nya? Besok saja. Kalau nama aplikasinya sudah ketemu. Kalau belum ya udahlah buat nama apliksinya API, kalo ditanya kepanjangannya ya yang sebenarnya saja. Aku Pusing Ini. API. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Text Di Belakang Truk : Lupa Nama, Ingat Rasa.

Hari ini aku berangkat ke kantor naik sepeda. Jarak rumah ke kantor sekitar 3,5 km. Kok tahu? Kalo kamu nanya kenapa saya tahu jarak dengan detail tanpa buka map tanpa pakai skala peta, artinya kamu nggak deket-deket banget sama saya. Idih, paragraf pertama udah pick me banget emang saya. Wkwkkw. 

Dari rumah ke kantor, kalau jalan kaki 30–40 menit. Naik motor 7 menit. Naik mobil 12 menit. Naik sepeda ternyata 20 menit saat berangkat dan 34 menit saat pulang.

Ngapain dihitung? Ya nggak tahu. Otak saya memang suka begitu. Hal-hal random bisa tiba-tiba dianggap penting dan dicatat dengan sangat serius. Jarak. Waktu tempuh. Perbandingan. Selisih. Pola.

Kenapa waktu tempuh yang diperlukan ketika berkendara dengan sepeda saat pulang lebih lama 14 menit daripada berangkat? Menarik. Tapi nama orang? Bisa hilang dalam hitungan detik. Dan ini bukan teori.

Saya pernah dimarahi seorang pejabat gara-gara saya tidak tahu nama beliau. “Masak kamu nggak tahu nama saya?”. Dalam hati saya bilang, sumpah, enggak tahu. Kenapa saya harus tahu?

Bukan karena saya meremehkan beliau. Bukan karena saya merasa beliau tidak penting. Memang otak saya tidak otomatis menyimpan nama orang hanya karena orang tersebut pejabat. Faktanya, saya sebenarnya bisa ingat detail lain.

Saya bisa ingat orang itu datang kapan, duduk di mana, pakai baju apa, ngomong soal apa, bahkan mungkin ingat urutan percakapannya. Tapi namanya? Hilang.

Seolah-olah otak saya punya sistem penyimpanan yang agak aneh. Informasi yang punya pola disimpan. Angka dan waktu disimpan. Hal random yang sebenarnya tidak berguna, simpan dulu siapa tahu berguna. Nama manusia yang baru saja memperkenalkan diri, kita putuskan nanti. 

Makanya kadang orang mengira saya sombong. Padahal saya bukan tidak memperhatikan orang. Saya justru sering memperhatikan terlalu banyak hal. Hanya saja perhatian saya tidak selalu diarahkan ke hal yang dianggap penting oleh orang lain.

Buat saya, “Desi” itu cuma nama. Tapi kalau bilang, Desi yang kemarin datang jam 9, pakai blouse lurik, duduk dekat printer, terus ngomong soal pagu TPPnya tidak keluar.

Otak saya, ohhh Desi Ratnasari. Datanya langsung ketemu. Jadi kalau suatu hari saya lupa nama kamu, mohon jangan tersinggung. Bisa jadi saya masih ingat banyak hal tentang kamu.

Hanya saja nama kamu tidak lolos sistem seleksi internal. Bukan sombong. Ini sistem informasinya memang kacau. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 01 Oktober 2026

Empat Anak Tangga

Gara-gara turun gunung sambil lari, lututku linu dan sakit bukan main. Awalnya kupikir, “Ah, paling capek biasa.” Ternyata bukan. Jalan biasa masih aman. Lancar. Bahkan kalau cuma jalan dari parkiran ke kantor, lutut masih bisa diajak kerja sama. Masalahnya muncul kalau lutut harus menanggung beban.

Squat? Linu. Naik turun tangga? Linu. Sampai kemudian harus menekan gas mobil saat macet di tanjakan. Selain linu, sakit bukan main dan mobilnya mundur! 

Untung ruanganku di lantai 1. Tapi jangan salah. Untuk masuk kantor, ternyata ada 4 anak tangga menuju ruangan. Empat. ANAK. TANGGA. Yang kalau lutut sedang sehat, keberadaan mereka bahkan tidak pernah tercatat dalam sejarah hidupku.

Sekarang? Setiap pagi dan sore, empat anak tangga itu terasa seperti pendakian menuju puncak Everest. Naik satu. Tarik napas. Naik dua. Evaluasi kehidupan. Naik tiga. Mulai mempertanyakan keputusan ikut lari waktu turun gunung. Naik empat. Pengen pulang. Wkwkwk.

Karena sudah nggak tahan, akhirnya pergi ke dokter. Diagnosisnya Patellofemoral Pain Syndrome. Dokter juga memberikan salep yang mengandung diclofenac sodium untuk membantu meredakan nyeri. Dan ini bagian yang membuatku merasa seperti menemukan cheat code kehidupan. Begitu lutut mulai linu, segera oles. Beberapa saat kemudian dunia normal kembali.

Jadi sekarang aku sedang belajar bahwa ternyata usia 40 itu bukan berarti nggak boleh lari, nggak boleh naik gunung, atau nggak boleh olahraga. Boleh. Tapi mungkin tubuh mulai punya aturan baru “Boleh, tapi jangan sok jago.” Wkwkwkw.

Dan ternyata benar. Dulu empat anak tangga cuma tangga. Sekarang empat anak tangga adalah personal trainer gratis yang setiap pagi menguji mental. Semoga lutut segera pulih. Karena aku masih punya banyak rencana olahraga. Tapi untuk sementara, biarkan Everest yang di kantor itu kulewati dengan penuh kehormatan. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Rabu, 30 September 2026

Bukan Babi

Temanku sedang punya masalah dan bilang, kalo dia sedang tidak ingin diganggu. Lah? Dia yang hubungin duluan, dia yang cerita duluan, lantas ditutup dengan tidak ingin diganggu. Memangnya aku pengganggu? Apakah selama ini aku diam-diam bekerja sebagai petugas gangguan? Apakah keberadaanku mengganggu ketertiban umum?

Padahal kalau dipikir-pikir, mungkin dia cuma sedang butuh ruang. Bukan sedang membuat pengumuman bahwa aku adalah gangguan bagi kehidupan manusia.

Gara-gara itu, aku teringat masa SMA. Dulu aku pernah diputusin pacar dengan alasan, maaf ya ki kita ga bisa nerusin, soalnya pacaran itu haram. Heh, semprul kali kau. Dan sebagai anak SMA yang belum punya kemampuan analisis kehidupan yang memadai, rasanya seperti, hah? Pacaran haram? Aku haram? Aku bukan babi. Lalu ketika seminggu kemudian doi minta balikan karena nggak kuat menahan rindu yang menggebu, ceileh, aku bilang dengan singkat padat penuh emosi, dengan satu tarikan nafas, Domain Expansion! Nggak dulu, makasih! End! 

Sebenarnya aku paham. Tapi mungkin karena siang tadi dan saat SMA itu aku mendadak emosi mendengar hal-hal semacam itu, jadi aku menyimpulkan hal yang agak belok. 

Tidak semua orang yang menjauh sedang mengatakan bahwa saya buruk, mengganggu, tidak layak, atau tidak cukup baik. Kadang mereka cuma sedang punya masalah. Kadang mereka memang cuma sedang ingin sendiri. Kadang ya mereka memang makhluk brengsek yang terfilter oleh Allah dengan kata-kata dari mulut dan kelakuan mereka sendiri. Dan itu tidak harus menjadi referendum tentang harga diri saya.

Tapi satu hal perlu diluruskan. AKU BUKAN PENGGANGGU. DAN AKU BUKAN BABI.


-Saya pasti pulang-
Share:

Selasa, 29 September 2026

Dream Body. Catatan Sebelum Tidur Supaya Besok Tidak Lagi Lagi Makan Tahu Isi 5 Biji.

Yep, saya habis makan tahu isi 5 biji. Lalu kolesterol? Tentu tidak. Tapi ah gimana ya. 

Saya sudah punya dream body sejak puber. Dulu, Britney adalah salah satu role model saya dalam urusan dream body. Saya suka tubuh yang skinny, tapi berotot. Perut yang defined, lengan yang terlihat kuat, badan yang ramping tapi nggak ringkih.

Cuma dulu agak malu mengakuinya. Karena setiap kali ngomong soal perempuan dengan otot perut atau lengan yang berisi otot, respons beberapa teman perempuan saya kurang lebih, “Iyuh.” Jadi ya sudah. Saya simpan saja sebagai selera pribadi. 

Lucunya, bertahun-tahun kemudian dunia berubah. Medsos membuat saya dengan mudah menemukan perempuan-perempuan dengan abs yang grrrr. Sangar. Kuat. Ramping. Dan bukannya “iyuh”, saya malah mikir, “Nah. Ini dia.”

Ternyata selera saya nggak berubah. Dream body saya dari dulu bentuknya masih itu-itu juga: skinny, tapi berotot. Ini penting untuk dibedakan. Saya mau skinny, bukan skinny karena kurang makan.

Karena buat saya, tubuh yang bagus bukan cuma soal angka di timbangan. Saya suka tubuh yang terlihat ringan, tapi punya tenaga. Ramping, tapi kuat. Feminin, tapi grrrr.

Dan saya pernah mewujudkannya. Jadi saya tahu ini bukan sekadar angan-angan. Saya pernah sampai di sana. Tinggal jalan pulang lagi. Pelan-pelan.

Kali ini juga nggak perlu dipamerkan ke siapa-siapa. Saya cuma ingin melihat diri sendiri di kaca dan berpikir, “Yep. There she is.”

Dan kalau nanti saya jadi terlalu sering ngaca, ya maaf. Cara saya menikmati hasil kerja keras saya sendiri ya Ngaca teroooosss. 

-Saya pasti pulang-
Share:

Senin, 28 September 2026

Ketika Smartwatch Mengabarkan Bahwa Hidup Saya Puas

Belakangan ini smartwatch-ku mulai aneh. Kemarin muncul notifikasi “Bahagia.” Hari ini muncul lagi “Puas.” Sejak kapan smartwatch ikut menilai kehidupan emosional pemiliknya? Setahuku selama ini kerjaannya cuma ngasih tahu “Sudah 7.000 langkah.” “Detak jantung sekian.” “Tidurmu kurang.” “Kalori terbakar sekian.” Sekarang tiba-tiba naik level menjadi “Kamu bahagia.” Waduh.

Yang bikin aku makin notice, di versi sebelumnya aku nggak pernah melihat notif semacam ini. Jadi ketika sekarang muncul kata “Bahagia” dan “Puas”, rasanya seperti Huawei sedang mencoba masuk ke wilayah yang selama ini bahkan aku sendiri kadang bingung menjawabnya. Sekarang tiba-tiba dia ikut memberi komentar tentang perasaanku. Wah. Berani juga. Wkwkw.

Setelah cari tahu, ternyata smartwatch ini tidak sedang membaca pikiran. Fitur tersebut menggunakan berbagai data aktivitas dan kondisi tubuh untuk memberikan gambaran mengenai emotional wellbeing. Jadi kurang lebih pesannya bukan “Saya tahu isi hatimu.”. Melainkan “Dari data yang saya punya, sepertinya hidupmu sedang cukup baik.”

Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu membuatku berhenti sebentar. Mungkin memang iya. Mungkin akhir-akhir ini aku sedang bahagia. Bukan bahagia yang perlu diumumkan. Bukan bahagia yang harus terlihat sempurna di media sosial. Bukan juga bahagia yang berarti hidup sedang bebas masalah. Lebih seperti rasa nyaman karena akhirnya tidak terlalu sibuk melawan hidup.

Aku mulai bisa menikmati hal-hal kecil tanpa merasa semuanya harus punya makna besar. Kopi tetap kopi. Kucing tetap kucing. Pekerjaan ya dikerjakan. Kalau ada yang tidak perlu ditanggapi, ya tidak ditanggapi. Kalau ada yang bukan kewenanganku, ya bukan urusanku. Kalau ada orang yang salah paham tentang aku, ya ternyata dunia tetap berputar. Dan mungkin di situlah letak kepuasannya.

“Puas.” Bukan berarti hidup sudah sempurna. Hanya saja, mungkin aku sudah tidak menuntut hidup untuk menjadi sempurna agar aku bisa menikmatinya. Dan kalau dipikir-pikir lagi, itu cukup keren. Karena ternyata menjadi dewasa bukan selalu tentang punya lebih banyak. Kadang justru tentang lebih sedikit hal yang perlu kita pedulikan. Lebih sedikit drama. Lebih sedikit pembuktian. Lebih sedikit kebutuhan untuk menjelaskan diri. Lebih sedikit keinginan untuk memenangkan semua perdebatan. Dan lebih banyak ruang untuk hidup. Jadi, Huawei, Terima kasih atas analisisnya. Saya terima.

Untuk sekali ini, mesin dan perasaan saya ternyata sepakat. Tapi kalau besok notifikasinya berubah menjadi “Stres”, kita perlu duduk dan evaluasi ulang. Bisa jadi bukan hidup saya yang bermasalah. Bisa jadi cuma ada orang yang mulai bikin saya ingin mematikan notifikasi. Atau, paling realistis belum minum kopi.


-Saya pasti pulang-
Share:

Ternyata Si Jutek Ini Punya Hidden Talent Yang Selama Ini Disembunyikan Negara

Belakangan ini saya sedang punya proyek pribadi membuka diri selebar-lebarnya untuk mencoba banyak hal baru. Salah satunya adalah menantang diri sendiri untuk nyanyi dan dance di sebuah acara kantor yang isinya teman cewek semua.

Selama ini kalo acara kantor, jangankan dance, nyanyi aja saya ogah. Saya tahu suara saya nggak jelek-jelek amat, tapi aduh gimana ya. Malu! Teman-teman saya satu per satu maju. Nyanyi lagu Nusantara. Anggun. Syahdu. Penuh penghayatan.  Pokoknya aura perempuan Indonesia yang kadang lucu  dan gemas juga kalo joget dangdut. Lalu tiba-tiba saya maju kedepan. Musik berubah. K-POP. Dan saya mulai dance.

Saya sempat melihat sekeliling. Saya bisa melihat beberapa pasang mata langsung terbelalak. Mungkin dalam hati mereka "Ini Rizki? Yang biasanya diem? Yang mukanya kayak lagi menolak proposal? Kok sekarang malah dance?" Wkwkw.

Manusia memang punya banyak versi. Ada versi yang serius. Ada versi yang ngoding. Ada versi yang suka ngopi dan baca buku. Dan ternyata ada juga versi yang bisa tiba-tiba K-Pop dance di tengah lagu-lagu Nusantara. Sejujurnya, saya sering dance dirumah, didepan kaca. Dan saat ini saya sedang belajar untuk tidak terlalu membagi image tentang diri sendiri dikantor atau dirumah atau ketika didepan teman akrab. Sudah saya bilang, saya mau apa adanya, seadanya. Saya hampir berhasil melakukannya. 

Selama ini kalian hanya mengenal versi kantor saya. Kalian belum mendapatkan DLC-nya. Ternyata di balik wajah datar, gaya hidup kalem, dan aura “tolong jangan ganggu kalau tidak penting”, dirumah saya sering ikut-ikutan dance ala penyanyi didepan kaca. Ciaaaa ketipu banget. Wkwk.

Dan ternyata menyenangkan juga sesekali menghancurkan ekspektasi orang terhadap diri saya sendiri. Selama ini mungkin saya terlalu sibuk menjadi versi diri yang dianggap “saya banget”. Sekarang saya sedang belajar, Kalau mau serius ya udah serius. Kalau mau diem ya saya yang 70% memang diem. Kalau mau jutek, ya memang bawaan lahir kalo itu sih. Tapi kalau tiba-tiba mau nyanyi dan dance? YA GAS.

Karena ternyata hidup terlalu singkat kalau saya cuma mau melakukan hal-hal yang sesuai dengan image yang selama ini melekat pada diri saya. Kadang saya memang perlu sedikit keluar jalur, mencoba sesuatu yang bahkan tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan sendiri. Dan ternyata, rasanya seru juga melihat orang-orang terkejut ketika saya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga. 

Dan kalau masih ada yang tidak percaya bahwa saya bisa dance. Silakan. Saya juga masih dalam tahap percaya diri. Tapi hari itu saya mendapat validasi yang cukup berbahaya. Dance saya di-approve oleh teman saya yang memang jago banget dance. Nah, kalau sudah dapat approval dari ahlinya, kayaknya saya punya alasan untuk sedikit sombong. Ternyata selama ini bukan nggak bisa dance. Cuma belum menemukan momentum untuk mempermalukan diri sendiri di depan umum. Wkkwkw

So, here I am, Si jutek sedang keluar dari zona nyaman, menghancurkan image sendiri, dan apparently. Ready to rock the world. Wkwkwk.


-Saya pasti pulang-
Share: