Kamis, 22 Oktober 2026

Toko Sembako

Aku tidak sering berkhayal, tapi pernah. Di khayalanku, aku membuka toko sembako. Tidak perlu pakai seragam, tidak perlu pusing memikirkan pengembangan aplikasi, apalagi menghadapi server mati di hari libur. Tidak usah ini, tidak usah itu. Namanya juga berkhayal, terserah saya, dong. Jadi, kalau saat membaca paragraf pertama kamu ingin bilang, “Banyakin bersyukur,” atau “Ya sudah, resign saja sana,” tolong jaga dulu isi hatinya yang busuk. Sssttt. Kalau tidak suka, di kanan atas browser ada tanda silang. Wkwkwk.

Tentu saja, khayalan itu kemudian ditampar oleh diri sendiri. “Heh! Memangnya kamu saja yang berusia 40 tahun? Memangnya kamu saja programmer perempuan di dunia ini? Memangnya kamu baru jadi perempuan? Kamu sudah bodoh dan berkurang kemampuannya? Lalu apa yang membuatmu ingin kabur?” Aku pun terdiam. Ya dari tadi berkhayal juga aku diam. Aku nggak berkhayal sambil jaipongan juga.

Aku bosan melihat orang terbelalak ketika tahu usiaku. Bukan karena aku berusaha menyembunyikannya. Sama sekali tidak. Hanya saja, industri tempatku berkecimpung banyak diisi Gen Z, dan rupanya usia 40 tahun masih bisa menjadi informasi yang mengejutkan bagi sebagian orang. Mereka mungkin punya bayangan tertentu tentang programmer yaitu anak muda, laki-laki, berkutat dengan kode, dan entah bagaimana harus selalu mengikuti perkembangan teknologi terbaru.

Ketika bertemu aku, bayangan itu bertabrakan dengan kenyataan. Aku bosan harus menjadi semacam anomali yang perlu dijelaskan keberadaannya.

Apakah aku satu-satunya programmer berusia 40 tahun? Tentu tidak. Lalu, masalahnya apa? Apakah aku mulai meragukan kemampuan sendiri, bosan dengan pekerjaan, atau sekadar ingin hidup tanpa perlu memikirkan server yang mati saat hari libur? Aku tidak tahu. Barangkali aku hanya sedang ingin membayangkan kehidupan yang berbeda. Dan untuk saat ini, sepertinya aku tidak harus punya jawaban atas semuanya. Wkwkwk.


-Saya pasti pulang-
Share:

Programmer Senior, Katanya.

Sebentar lagi mungkin akan ada perkumpulan programmer. Membayangkan pesertanya didominasi Gen Z, aku jadi membayangkan di antara mereka. Perempuan, 40 tahun, programmer aplikasi pemerintahan. Apakah mereka ngeh? Tidak. Tapi ketika aku sudah berkumpul dengan "gerombolanku" mereka (si gen z) itu akan mulai mengajak ngobrol dan terbelalak karena aku bilang angkatan 2014, kemudian terbelalak lagi karena dalam satu perangkat daerah hanya ada 2 orang IT, kemudian terbelalak lagi karena aku pasti datang sendirian tanpa supir tanpa teman. Dari tahun ke tahun begitu skenarionya. Wkwkw. 
Mereka mungkin datang membawa laptop dengan spesifikasi terbaru, framework kekinian, dan istilah-istilah yang terdengar seperti nama karakter anime. Sementara aku datang membawa pengalaman hidup, aplikasi warisan, dan trauma ringan melihat query yang tidak pakai index. Wkwk.

Mereka mungkin akan membicarakan mengenai developer yang menyembunyikan source code pemrograman aplikasi mereka, mereka mungkin akan bicara bagaimana AI bisa membangun aplikasi baru dalam waktu singkat. Sementara aku hanya bisa mengangguk-angguk sambil membayangkan aku yang sehari-hari hanya mencari tahu kenapa aplikasi yang kemarin baik-baik saja mendadak punya kepribadian seperti remaja puber. 
Aku juga tidak berencana menyamar menjadi anak muda. Tidak perlu mengganti gaya berpakaian, belajar bahasa gaul, atau tiba-tiba bilang literally setiap tiga kalimat. Tidak.
Semoga pertemuan berjalan lancar. Semoga ilmunya bertambah. Semoga tidak ada yang bertanya kenapa aplikasi masih pakai PHP 7.2. Amin yang paling teknis.
-Saya pasti pulang-

Share:

Selasa, 20 Oktober 2026

Lagi Bosan.

Akhir-akhir ini aku bosan banget lihat medsos. Sampai Threads yang tadinya kupikir bakal jadi tempat nongkrong dalam jangka waktu lama, ternyata dalam sekejap juga bikin bosan. Scroll sebentar. Bosan. Scroll lagi. Bosan. Tutup. Buka lagi. Bosan lagi. 

Akhirnya karena bingung mau ngapain, aku malah kebanyakan nulis blog. Apa saja ditulis. Hal yang kupikirkan. Hal yang baru kualami. Hal yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Kadang setelah selesai nulis aku malah mikir, “Ini oversharing nggak sih?” Terus malu sendiri.

Tapi siapa juga yang mau baca blog? Jadi sebenarnya aku oversharing sama siapa? Ke orang yang nyasar lewat Google? Dan sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku begini. Bosen.

Dulu aku pernah nulis di Multiply. Dari pertama kali dia buka, sampai akhirnya Multiply tutup permanen. Sebelum itu dan sesudahnya juga sempat mampir ke mana-mana. Friendster. Kaskus sampai akunku pernah mau dibeli orang saking sesepuhnya. Plurk. Facebook. Twitter. YM. 

Twitter bahkan sekarang sudah berubah jadi X, seolah-olah dia mengalami krisis identitas di usia tertentu. Dan zaman dulu kalau kenal orang dari internet, bisa lho sampai kopi darat. Anak jaman sekarang nyebutnya meet up. Yang semula cuma tahu dari username lalu jadi tahu muka aslinya kaya apa, suaranya kaya apa, kehidupan sebenarnya kaya apa. Hai kalian, anjar, sopie pilosopiana, bang mario agus, ayip, hilda, pipet weleri, baskoro baskom, sakti, yan, yuliana arifiani, tanti, mas bayu, om heri dan sebagai-sebagainyaaaa teman yang semula cuma ketemu di MIRC room #tegalku akhirnya nyamperin ke warnet dan berlanjut chit chat sampai sekarang. 

Sekarang dipikir-pikir agak ajaib juga. Saya tumbuh bersama internet, pindah dari satu platform ke platform lain, menyaksikan beberapa platform mati, beberapa berganti nama, beberapa ditinggalkan begitu saja. Dih. Nggak tahu lah. Besok juga mungkin pindah platform lagi. Wwkkw.


-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 15 Oktober 2026

Dua Keping Citato


Kemarin aku membeli Citato, lalu menyisakan sekitar dua keping. Karena buru-buru pulang, aku lupa membuangnya ke tempat sampah yg sebelumnya sudah aku cari-cari ternyata sedang dibuang oleh OBku. Kemudian bungkusnya cuma kutaruh begitu saja di meja kantor. Tidak terpikir untuk melakukan apa-apa karena, ya, cuma dua keping Citato. Mau dimakan besok juga paling sudah melempem. Ternyata pagi ini aku menemukan sesuatu yang membuat hatiku mendadak lembek, padahal yang seharusnya lembek itu Citato kalau tidak diselamatkan. Bungkus Citato-ku ternyata sudah distaples oleh OB kantor supaya keripiknya tidak melempem.

Coba bayangkan, seseorang melihat sisa camilan di meja, lalu berinisiatif menutupnya kembali dengan stapler. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang meminta. Tidak ada pula keuntungan material yang akan diperoleh dari menyelamatkan dua keping Citato milik orang lain. Bahkan kalau keripiknya melempem pun, mungkin tidak akan ada rapat evaluasi khusus untuk membahas kerugian negara akibat hilangnya kerenyahan dua keping kentang berbumbu. Namun, beliau tetap melakukannya.

Aku tidak tahu apakah beliau memang terbiasa merapikan barang yang ditinggalkan orang lain atau sekadar tidak tega melihat bungkus makanan terbuka. Aku juga tidak tahu apakah beliau sadar bahwa tindakan sekecil itu bisa membuat seseorang terharu pada pagi hari. Yang jelas, aku merasa diperhatikan melalui sesuatu yang bahkan tidak pernah kuminta. Bukan karena Citato-nya mahal, bukan pula karena dua keping keripik itu begitu berharga. Justru karena tidak ada alasan besar untuk melakukannya, tetapi seseorang tetap melakukannya.

Mungkin beginilah bentuk kebaikan yang sering luput dari perhatian kita. Tidak selalu berupa pertolongan besar, nasihat bijak, atau pengorbanan dramatis yang pantas dijadikan adegan film dengan musik latar menyedihkan. Kadang kebaikan hanya berupa bungkus makanan yang ditutup kembali, barang yang dirapikan, atau sesuatu yang dijaga agar tetap baik meskipun bukan milik sendiri. Pelakunya mungkin sudah lupa lima menit kemudian, sementara penerimanya malah sibuk memikirkan kejadian itu sambil menahan haru.

Terima kasih, atas penyelamatan aset pangan pribadi ini. Semoga kebaikan kecil yang dilakukan tanpa banyak pikir itu kembali kepada beliau dalam bentuk yang menyenangkan. Dan semoga aku juga tidak terlalu sibuk mengejar hal-hal besar sampai lupa bahwa dunia bisa terasa lebih hangat hanya karena seseorang mau peduli pada hal yang kelihatannya sepele.

Hari ini aku belajar bahwa perhatian tidak selalu perlu diumumkan, dan kebaikan tidak harus menunggu sesuatu yang besar untuk dilakukan. Kadang cukup dua keping Citato, satu stapler, dan seseorang yang punya inisiatif sederhana.

-Saya pasti pulang-
Share:

Rabu, 14 Oktober 2026

Surat Terbuka Untuk Whatsapp

Aku sudah menghilangkan centang biru WhatsApp karena ingin hidup lebih santai. Salah satu efeknya, aku jadi tidak merasa harus buru-buru membalas pesan hanya karena sudah membacanya. Aku juga tidak lagi sibuk memikirkan siapa yang sudah melihat statusku. Mau dilihat, silakan. Tidak dilihat, ya sudah. Aku posting karena ingin posting, karena menemukan sesuatu yang lucu, karena ingin berbagi, atau karena sedang ingin saja. Tidak ada agenda tersembunyi, tidak ada target audiens, apalagi strategi pemasaran personal. Aku bukan sedang membangun citra, aku cuma sedang bersenang-senang.

Lalu entah sejak kapan WhatsApp menambahkan tombol love pada status. Sekilas, fitur yang menyenangkan, ya? Orang bisa memberikan respons tanpa harus mengetik pesan. Masalahnya, orang yang mengetuk love jadi ketahuan sudah melihat status kita. Nah, di sinilah persoalannya dimulai. Bukan karena aku keberatan orang melihat statusku, bukan pula karena aku tidak suka diberi love. Silakan saja kalau memang suka. Aku hanya merasa ada sesuatu yang berubah ketika respons itu menjadi terlihat. Tiba-tiba, aktivitas posting yang tadinya terasa bebas berubah sedikit menjadi seperti panggung yang menyediakan tombol penilaian penonton.

Padahal, aku tidak sedang meminta penilaian. Aku tidak sedang mengadakan survei kepuasan penonton. Aku juga tidak sedang menguji seberapa menarik diriku, seberapa lucu statusku, atau seberapa banyak orang yang tertarik dengan apa yang kubagikan. Aku cuma ingin posting sesuatu yang kusukai, lalu melanjutkan hidup. Selesai. Tidak perlu laporan evaluasi setelah kegiatan posting dilaksanakan. WKWKWK.

Aku baru menyadari bahwa ternyata ada perbedaan antara tidak keberatan dinilai dan tidak ingin merasa sedang dinilai. Orang lain tentu punya penilaian terhadap apa pun yang mereka lihat. Itu hak mereka dan aku tidak bisa mengatur isi kepala orang lain. Namun, aku juga tidak ingin aktivitas sehari-hariku berubah menjadi sesuatu yang kulakukan sambil memikirkan penilaian mereka. Aku tidak ingin setelah mengunggah sesuatu, pikiranku malah sibuk bertanya apakah status itu menarik, mengapa seseorang memberi love pada status yang satu tetapi tidak pada status lainnya, atau apa yang dipikirkan orang setelah melihatnya. Ya ampun, hidup sudah cukup banyak urusannya. Masa posting status juga harus disertai analisis hasil dan pembahasan?

Jadi, WhatsApp, terima kasih atas fitur love-nya. Aku tahu niatmu mungkin baik. Namun, kalau boleh memilih, aku lebih suka menikmati kebebasan berekspresi tanpa merasa sedang mengikuti ujian di hadapan penonton. Sayangnya, aku tidak bisa mengatur fitur yang kamu sediakan, sama seperti aku tidak bisa mengatur apa yang orang lain pikirkan tentangku. Yang bisa kuatur adalah bagaimana aku menyikapinya. Aku akan tetap posting kalau ingin, membagikan sesuatu yang kusukai, dan melanjutkan hidup tanpa harus menghitung siapa yang memberi respons dan siapa yang tidak.




-Saya pasti pulang-
Share:

Kekacauan Ini Sangat Konsisten

Saya punya proses kehidupan yang agak rumit antara hari Minggu dan Senin. Misi utama saya setiap hari Minggu adalah tidur siang yang lamaaaaa.

Masalahnya, tidur siang yang terlalu lama kemudian membuat saya tidak bisa tidur tepat waktu pada Minggu malam.

Malamnya saya “Ya sudah, nanti juga ngantuk.” Ternyata tidak. Jam 10 tidak ngantuk. Jam 11 tidak ngantuk. Jam 12 masih bisa mikir. Jam 1 mulai menyesal. Jam 2 mulai negosiasi dengan Tuhan.

Lalu Senin pagi datang. Saya berpikir "Minggu depan saya tidak akan tidur siang lama-lama.” Kemudian hari Minggu datang. Kemudian saya tidur siang lamaaaaa lagi. Bangun sore.

Malamnya tidak bisa tidur. Seninnya ngantuk. Dan begitu seterusnya. Sepertinya saya sedang menjalankan program yang bug-nya sudah diketahui tetapi tetap dipakai setiap minggu.


-Saya pasti pulang-
Share:

Kuat Olahraga, Nggak Kuat Berdiri Lama

Pernah nggak kalian upacara atau apel, lalu tiba-tiba mual, pandangan berkunang-kunang, dan kalau dipaksakan lama-lama pandangan gelap? Kalau tetap dipaksa, bisa sampai pingsan.

Tapi kalau sebelum dunia berubah jadi layar hitam kalian jongkok duluan, tiba-tiba sembuh. Nah, itu yang terjadi pada saya. Setiap Senin.

Yang bikin bingung, saya sebenarnya kuat olahraga. Jalan jauh kuat. Olahraga kuat. Bahkan kalau sudah olahraga, badan saya bisa diajak kerja sama. Tapi disuruh berdiri diam agak lama? Tubuh saya langsung mengajukan keberatan. Awalnya saya kira saya cuma manja sama upacara. Ternyata ada penjelasan fisiologisnya.

Kemungkinan saya mengalami presyncope, yaitu kondisi ketika tubuh sudah hampir pingsan tetapi kita belum benar-benar kehilangan kesadaran. Salah satu penyebabnya bisa berupa respons vasovagal atau tekanan darah yang turun ketika berdiri lama.

Saat berdiri diam, darah lebih mudah berkumpul di kaki. Sementara ketika kita berjalan atau olahraga, otot kaki terus berkontraksi dan membantu memompa darah kembali ke atas. Jadi olahraga dan berdiri lama itu ternyata bukan perkara yang sama. Saya bisa kuat lari, tapi bisa kalah oleh upacara. 

Dan kenapa jongkok bisa langsung membantu? Karena dengan mengubah posisi tubuh, aliran darah ke otak bisa membaik lagi. Makanya kalau sudah mulai mual, berkunang-kunang, atau pandangan mulai menyempit, jangan sok kuat. Jongkok atau duduk sebelum benar-benar pingsan.

Apakah ini bawaan lahir? Bisa saja seseorang memang punya kecenderungan tubuh seperti ini sejak lama. Tapi bukan berarti tidak ada solusi. Yang penting adalah mengenali pemicu dan tahu cara mencegahnya. Kalo saya cara agak mengurangi atau memperlambat mualnya datang adalah terus menggerakan kaki saya dalam keadaan berdiri. 


-Saya pasti pulang-
Share: