Hari ini Tara mendengar kabar. Tidak baik, tidak buruk. Tapi sempat membuat salah satu teman Tara bilang, "Hai, are u okay?" sambil mencolek tangan Tara. Mungkin mengira kebiasaan mules ditengah makan Tara kambuh. Tara mengangguk, melanjutkan memutar spaggheti digarpu dan memasukannya kedalam mulut. Seolah nama yang disebut barusan tidak pernah Tara kenal.
Ketiga teman Tara melanjutkan pembicaraan.
"Iya, jadi tu katanya polanya adalah chat genit, habis itu diajak ngopi di kafe" ucap Dania.
"And thats tottaly random person, yang penting cewek" Nana menyambung sembari mengambil tisu dihadapan Tara.
"Jaman sekarang mana ada sih cuma sampai kafe doank?" Dania menyambung lagi.
Otak Tara tidak sinkron dengan tangan yang lancar menjejalkan spageti kedalam mulut. Lalu menyelesaikan episode makan itu dengan menyeruput es kopi dalam satu tarikan, langsung habis sampai ke dasar. Entah perasaan saja, atau memang sekarang harga kopi dan mili yang didapatkan tidak sesuai. "Atau mungkin aku memang miskin saja" Keluh Tara dalam hati.
Seolah menyadari Tara yang sedari tadi diam, Mila bilang "Lu sekali-kali ngomong napa, jangan-jangan kamu kenal ya".
"Lah mana kenal sama manusia sih dia, kamu tahu kenapa dia nggak pernah jadi penerima tamu lagi? Ya karena sama pejabat aja dia nggak kenal"
"Pejabatnya tersinggung terus laporan ke Pak Kepala" Dania tergelak.
Semua tertawa, Tara ikut tertawa didalamnya. Entah menertawakan apa? menertawakan Tara yang susah mengingat nama orang? Menertawakan kenyataan bahwa mungkin, Tara pernah jadi salah satu dari random person yang dimaksud? Atau menertawakan bahwa suara hati Tara berisik ingin membela dan bilang ke ketiga temannya itu bahwa orang yang dimaksud itu sebenarnya hanya anjing kecil yang sedang berakting seperti badjingan. Untuk menakuti maling? Tidak! Tidak ada maling. Dia hanya butuh di validasi bahwa dirinya penting di dunia seseorang. Seorang kakak pertama yang butuh dipuk-puk juga seperti si bungsu. Seorang anak yang seumur hidup hanya berusaha menyenangkan orang-orang disekitarnya. Bla bla bla. Tapi ah buat apa membela, anjing kecil ini jadi anjing beneran hanya jika dengan Tara. Dan toh semua sudah berlalu. Tara memilih diam dan ikut tertawa.