Rabu, 04 Maret 2026

Kaum Luth

Kaum Luth adalah umat Nabi Luth AS yang hidup sekitar tahun 1950-1870 SM di wilayah Sadum (Sodom) dan Gomorrah, dekat Laut Mati, Yordania. Kaum ini dibinasakan oleh Allah SWT karena perilaku maksiat yang sangat keji, yaitu menyukai sesama jenis (homoseksual dan lesbian) yang belum pernah dilakukan oleh kaum sebelumnya.

Berikut adalah poin-poin penting mengenai kaum Luth berdasarkan kisah dalam Al-Qur'an dan sejarah:

Penduduk Sodom melakukan hubungan sesama jenis (homoseksual) dan lesbian, meninggalkan fitrah lawan jenis. Selain homoseksual, mereka dikenal sering merampok, melakukan perbuatan munkar di tempat pertemuan, dan keji terhadap musafir yang melewati wilayah mereka. Meskipun Nabi Luth telah berdakwah agar mereka bertakwa dan kembali ke jalan yang benar, mereka mengejek, menantang, dan mengancam mengusir Nabi Luth beserta pengikutnya.

Karena penolakan dan keangkuhan mereka, Allah memberikan azab yang pedih. Kota Sodom dihancurkan dengan cara dijungkirbalikkan tanahnya, sehingga yang atas menjadi di bawah. Allah menghujani mereka dengan batu dari tanah yang terbakar (belerang). Seluruh kaum Sodom binasa, termasuk istri Nabi Luth yang berkhianat (ingkar kepada Allah).

Kisah ini menjadi dasar hukum pelarangan perilaku homoseksual dan lesbian (LGBT) dalam Islam dan agama Abrahamik lainnya. Azab tersebut adalah keadilan atas kezaliman dan dosa besar yang melampaui batas yang dilakukan oleh kaum Sodom. Menunjukkan kesabaran seorang Nabi dalam berdakwah meskipun di tengah masyarakat yang sangat rusak moralnya.

Secara arkeologis, banyak yang meyakini bahwa situs kehancuran kaum Sodom berada di sekitar wilayah Laut Mati, Yordania, dengan bukti-bukti geologis kehancuran kota.

Kisah nabi Luth disebutkan beberapa kali dalam Al Quran yaitu :

1. Al-A'raf (7:80–84)
Nabi Luth menegur kaumnya karena melakukan perbuatan keji (hubungan sesama jenis).
Kaumnya justru ingin mengusir beliau.
Allah menyelamatkan Nabi Luth dan pengikutnya, kecuali istrinya.
Kota mereka dihujani batu sebagai azab.
 
2. Hud (11:77–83)
Malaikat datang sebagai tamu dalam wujud manusia tampan.
Kaum Luth berniat berbuat jahat kepada tamu tersebut.
Nabi Luth merasa sedih dan tertekan.
Malaikat memberitahu akan turunnya azab.
Kota dibalikkan dan dihujani batu dari tanah terbakar.
 
3. Al-Hijr (15:57–77)
Diceritakan dialog Nabi Ibrahim dengan para malaikat sebelum menuju kaum Luth.
Malaikat memberi kabar tentang azab.
Kaum Luth tetap membangkang.
Kota mereka dihancurkan saat waktu subuh.
 
4. Al-Anbiya (21:74–75)
Allah menyebutkan bahwa Nabi Luth diberi hikmah dan ilmu.
Diselamatkan dari negeri yang berbuat keji.
 
5. Al-Hajj (22:43–44)
Disebut sebagai contoh kaum yang mendustakan rasul.
Menjadi peringatan bagi kaum Quraisy.
 
6. Asy-Syu'ara (26:160–175)
Nabi Luth menyeru kaumnya agar bertakwa.
Kaumnya tetap membangkang.
Azab berupa hujan batu menimpa mereka.
 
7. An-Naml (27:54–58)
Nabi Luth heran atas perbuatan kaumnya.
Kaumnya ingin mengusir beliau.
Allah menyelamatkan Nabi Luth kecuali istrinya.
Diturunkan hujan yang sangat buruk (azab).
 
8. Al-Ankabut (29:28–35)
Kaumnya melakukan perbuatan keji dan merampok di jalan.
Nabi Luth meminta pertolongan Allah.
Kota dihancurkan dan dijadikan pelajaran bagi orang beriman.
 
9. As-Saffat (37:133–138)
Nabi Luth termasuk rasul.
Kaumnya dihancurkan.
Bekas negeri mereka masih bisa dilihat sebagai pelajaran.
 
10. Al-Qamar (54:33–39)
Kaum Luth mendustakan peringatan.
Mereka menantang Nabi Luth.
Allah membutakan mata mereka sebelum azab datang.
Ditimpa angin dan batu pada waktu subuh.
 
11. At-Tahrim (66:10)
Disebutkan bahwa istri Nabi Luth berkhianat (tidak beriman).
Menjadi contoh bahwa hubungan keluarga tidak menjamin keselamatan jika tidak beriman.




-Saya pasti pulang-
Share:

Selasa, 03 Maret 2026

Kaum Tsamud

Berikutnya setelah kaum Ad adalah Kaum Tsamud. Kaum ini dikenal ahli memahat gunung menjadi untuk menjadi rumah dan bukti tersebut bisa dilihat melalui google bagaimana batu besar menjadi rumah yang besar dan mewah. Dalam alquran kaum tsamud disebut sebanyak 26 kali.

Dari wikipedia :
Kaum Tsamūd merupakan keturunan kaum 'Ad yang selamat dari peristiwa topan yang menghancurkan kaum 'Ad. Setelah selamat dari bencana alam, keturunan mereka mulai meninggalkan ajaran Hud dan menyembah berhala. Nama Tsamūd diambil dari leluhur mereka yang diyakini merupakan cicit dari sam salah satu putra Nuh yang selamat saat banjir. Silsilahnya adalah Tsamūd bin 'Abir bin Iram bin Sam bin Nuh. Pendapat lain menyatakan Tsamūd bin Amid bin Iram.  Iram diyakini sebagai orang yang sama dengan Aram yang disebutkan dalam Alkitab. Nama lain dari Tsamūd adalah Ashab Al-Hijr (Penduduk Al Hijr)
Berikut adalah poin-poin utama mengenai kaum Tsamud:
  • Lokasi: Mereka tinggal di wilayah Al-Hijr (sekarang dikenal sebagai Madain Saleh atau Hegra) di Arab Saudi utara. Inilah kenapa mereka juga disebut sebagai bangsa Hijr.
  • Dakwah Nabi Saleh: Allah mengutus Nabi Saleh AS untuk mengajak mereka menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan berhala. Sebagai bukti kenabiannya, Allah memberikan mukjizat berupa unta betina yang keluar dari batu besar sebagai bukti besarnya kekuatan Allah. 
  • Pembangkangan: Meskipun diberikan kemakmuran, kaum Tsamud tetap sombong dan mendustakan Nabi Saleh. Mereka melanggar larangan dengan membunuh unta mukjizat tersebut.
  • Azab: Akibat kekufuran mereka, Allah membinasakan kaum Tsamud dengan azab berupa suara teriakan yang sangat keras (petir) dan gempa bumi yang dahsyat dalam waktu tiga hari setelah pembunuhan unta tersebut.
  • Peninggalan: Saat ini, situs Madain Saleh telah ditetapkan sebagai Situs Warisan Dunia UNESCO. Meskipun menjadi destinasi wisata, terdapat riwayat yang menyebutkan bahwa Rasulullah SAW melarang umatnya berlama-lama di sana kecuali dengan rasa takut dan tangis atas azab yang pernah terjadi.

Kemusnahan :
Kisah kaum tsamud yang melanggar perintah Allah ada pada Surah Al-A'raf ayat 77. Perintah Allah untuk tidak menyembelih unta betina yang dibawa oleh Nabi Saleh. Nabi Saleh memberikan peringatan kepada mereka dan meninggalkan kaumnya dengan mengikutsertakan para pengikutnya. Mereka juga tidak mengakui Saleh sebagai seorang nabi dan berencana untuk membunuhnya. Pada Surat Al Haqqah ayat 5 dan  Al-Qur'an Surah An-Najm ayat 51 dan Surah Al-Qamar ayat 23 Allah kemudian menimpakan azab kepada kaum Tsamūd berupa petir dengan suara yang menggelegar. Sambaran petir ini menghancurkan tempat tinggal kaum Tsamūd. Penghancuran bangunan ini hingga keadaan tidak berbekas sama sekali. Setiap orang yang merasakan bencana tersebut mengalami kematian.


-Saya pasti pulang-
Share:

Minggu, 01 Maret 2026

Kaum Ad

Al-Qur'an menyebutkan berbagai kaum terdahulu yang diutus nabi kepadanya, banyak di antaranya dibinasakan karena keingkaran, seperti Kaum 'Ad (Nabi Hud), Kaum Tsamud (Nabi Shaleh), Kaum Madyan/Ashab al-Aikah (Nabi Syu'aib), Kaum Sodom (Nabi Luth), Bani Israil (Nabi Musa/Isa), serta kaum Nabi Nuh, Kaum Tubba', dan Kaum Saba'. Dalam Al-Qur'an, ada beberapa kaum (umat) yang disebut sebagai pelajaran bagi manusia. Biasanya mereka diceritakan karena mendustakan nabi dan akhirnya mendapat azab. Kali ini yang akan kita baca adalah mengenai kaum Ad.

Kaum 'Ad adalah umat kuno yang diutus kepada mereka Nabi Hud AS, dikenal bertubuh raksasa, sangat kuat, dan kaya raya, namun sombong serta menyembah berhala. Akibat menolak dakwah, mengingkari Allah, dan menantang azab, mereka dimusnahkan oleh angin topan dingin yang dahsyat selama 7 malam 8 hari.

Kisah dan Latar Belakang Kaum 'Ad. 
Tempat Tinggal : Kaum 'Ad tinggal di wilayah Al-Ahqaf (bukit-bukit pasir) yang terletak antara Yaman dan Oman. Kekuatan dan Peradaban : Mereka diberkahi fisik yang besar, kuat, dan usia panjang, serta membangun peradaban megah dengan bangunan menjulang tinggi, yang dikenal dengan kota Iram. Kedurhakaan : Meskipun makmur, mereka menyembah berhala (Shamad, Shamud, Hira) dan melakukan kemaksiatan. Dakwah Nabi Hud AS: Nabi Hud AS diutus untuk mengajak mereka menyembah Allah, namun mereka mengejek dan menganggap diri mereka tak terkalahkan.

Azab yang Ditimpakan
Kekeringan: Awalnya, Allah memberikan peringatan berupa kemarau panjang selama tiga tahun yang mengeringkan lahan subur mereka. Angin Topan: Setelah menantang azab, Allah menurunkan azab berupa angin kencang yang sangat dingin (sharsar) selama tujuh malam dan delapan hari. Kehancuran Total: Angin tersebut membinasakan seluruh kaum 'Ad, membuat mereka tumbang bagaikan pohon kurma yang lapuk, hanya meninggalkan puing-puing bangunan mereka.

Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur'an sebagai pelajaran tentang akibat dari keangkuhan dan kesombongan manusia terhadap kekuasaan Allah SWT. Nabi Hud AS dan pengikutnya yang beriman diselamatkan dari bencana tersebut.


-Saya pasti pulang-
Share:

Tonic Of Wildness

Tadinya saya berpikir, dalam malam-malam yang pernah dilalui, yang ditutupi karena memalukan untuk mengakui kesedihan, bahwa maha masalah sebenar-benarnya adalah pada kesunyian. Tapi ternyata kesunyian yang dialami bukan kesunyian sejati. Pikiran yang kesepian di kota yang hiruk pikuk merindukan hubungan karena menganggap hubungan manusia dengan manusia merupakan hal penting. Hingga tanpa hal tersebut hidup menjadi hampa. Lebih parah, hidup namun mati. 

Di gunung yang kebetulan hari itu tanpa pendaki, di tengah alam murni atau "Tonik rimba" (tonic of wildness) menurut istilah Henry David Thoreau merujuk pada kebutuhan mendasar manusia untuk terhubung kembali dengan alam yang liar, tidak terjamah, dan asli, guna menyegarkan jiwa, pikiran, dan tubuh dari kelelahan hidup modern yang teratur. Konsep ini disampaikan Thoreau dalam bukunya yang terkenal Walden (1854). Kesunyian kemudian berubah menjadi karakter yang berbeda. Kesunyian itu sendiri menjadi sebuah hubungan. Hubungan antara diri sendiri dan dunia. Hubungan antara dirinya dan dirinya sendiri.

Media social membuat banyak orang bertemu dengan banyak orang sesuai minatnya namun juga membuat banyak orang merasa semakin kesepian. Seolah semua orang saling membenci karena kewalahan dengan "teman yang bukan teman". Dan semudah itu menyatakan benci karena merasa aman mengakui mereka bukan teman. Mereka bukan manusia yang memiliki perasaan?

Kalian pernah dengar soal angka Dunbar? Angka Dunbar adalah teori yang dicetuskan oleh antropolog Robin Dunbar, menyatakan batas kognitif manusia untuk mempertahankan hubungan sosial yang stabil dan bermakna adalah sekitar 150 orang. Angka ini mencakup orang yang dikenal secara personal, bukan sekadar kenalan. Meskipun populer, angka ini berkisar antara 100-230 orang. Karena itulah kemudian jumlah komunitas yang bertahan (selama bukan komunitas online) biasanya berjumlah sekitar itu. Dan di media social seperti Instagram, kita bisa bertemu manusia lebih dari jumlah tersebut dalam sejam! Apa yang kalian pikirkan? Persis. Tidak sehat. Otak tidak akan tahan. Itulah sebabnya kita merindukan komunikasi tatap muka lebih dari sebelumnya. 

Dan di atas gunung seperti saat ini. Keheningan membuat saya sadar betapa banyak bunyi-bunyian ditempat lain didunia. Saya tidak mau pergi ketempat ramai. Hari-hari selanjutnya saya akan ke tempat yang lebih sepi.


-Saya pasti pulang-
Share:

Sabtu, 28 Februari 2026

Maret : Perpustakaan Tengah Malam - MATT HAIG

Hai! Saya baru menyelesaikan membaca satu buku fantastis! Akhirnya setelah saya kelaparan akan bacaan fiksi yang "tajam". Nyesel banget juga kenapa baru sekarang aku mood baca buku ini. Oke, here we go.

Judul: Perpustakaan Tengah Malam (The Midnight Library) 
Tebal: 368 
Halaman Bahasa: Indonesia
Penulis : Matt Haig
Tahun : 2020

“Tiap-tiap buku memberikan kesempatan untuk mencoba kehidupan lain yang bisa dijalani.” Itu adalah quotes dari perpustakaan. Tokoh disini adalah Nora Seed yang setelah percobaan bunuh diri dia ada di dunia mati dan hidup. Ya mati enggak, hidup juga enggak. Yang kemudian jiwanya nyasar di perpustakaan yang mana sebenarnya secara nyata perpustakaan tersebut ada ketika dia Sekolah Dasar. Nora kemudian dihadapkan dengan kemungkinan mengubah hidupnya untuk kehidupan yang sama sekali berbeda, kehidupan yang baru sesuai dengan buku-buku yang terdapat di perpustakaan tersebut, mengikuti karir yang berbeda, membatalkan perpisahan lama, mewujudkan mimpinya menjadi ahli glasiologi, menjalani kehidupannya sebagai atlet renang kelas dunia, serta banyak hal lain yang dapat dicoba. 

Dia harus menemukan keinginan serta kebahagiaan di dalam dirinya saat dia melakukan perjalanan di Perpustakaan Tengah Malam untuk memutuskan apa yang benar-benar memuaskan dalam hidup, dan apa yang membuatnya layak untuk dijalani. Nora mencoba kehidupan lainnya yang ingin ia jalani lewat buku-buku di Perpustakaan Tengah Malam, dibantu oleh penjaga perpustakaan, Mrs. Elm. Nora tidak bisa kembali ke Perpustakaan apabila ia tidak merasakan penyesalan saat menjalani kehidupan lainnya yang sedang ia jalani. 

Buku ini berbicara tentang penyesalan, hubungan, mimpi, hewan peliharaan, persahabatan, kemungkinan yang akan terjadi, dan yang paling penting bagaimana menjalani hidup di masa sekarang dan memanfaatkannya sebaik mungkin tanpa atau dengan kita memperoleh kesempatan kedua dalam hidup (seperti Nora Seed).

"Setiap kehidupan mengandung berjuta-juta keputusan. Beberapa besar, beberapa kecil. Tetapi setiap kali satu keputusan menumbangkan keputusan lainnya, hasil akhirnya akan berbeda. Variasi-variasi yang tak bisa diubah terjadi, yang pada gilirannya mengarah pada variasi-variasi lain lagi. Buku-buku ini merupakan portal ke semua kehidupan yang mungkin saja kau jalani." — Perpustakaan Tengah Malam (The Midnight Library), halaman 326


-Saya pasti pulang-
Share:

Ini Tentang Salah Satu Lagu Hipdut

Ini murni pandangan saya pribadi. 

Karena sekarang sering bekerja dengan gen Z, sebagai backsound bekerja otomatis musiknya juga dipengaruhi oleh musik yang kata mereka lagi mereka banget (duh ya pokoknya gitu). Iya betul, lagu bergenre hipdut. Atau hiphop dangdut. Dari yang tadinya biasa saja sampai akhirnya terngiang-ngiang dan bisa diterima dikuping seperti Eaa a nya Dia. Selain itu, ada lagu yang sebenarnya menurut saya pribadi enak juga. Lagunya Naykilla berjudul so asu. Entah bagaimana saya terus mikir, ada keinginan kuat pada diri saya untuk menentang otak agar tidak ingat lagu itu. Kalo saya bilang itu musiknya bagus, brati apanya? Iya saya persis paham itu karena judulnya dan ya pasti harus diucapkan ketika menyanyikannya, walaupun cuma dalam hati. 

Saya terbuka dengan berbagai macam jenis musik. Kalo enak ya didenger kalo enggak ya nggak didenger. Segampang itu. Ketika mendengar lagu ini, saya bilang saya agak punya kesadaran untuk tidak memasukannya ke dalam playlist saya padahal saya rasa lagunya enak. Saya bertanya-tanya, kenapa? Iya betul saya tidak bisa menerima liriknya. Mulut saya tidak bisa mengucapkannya, otak saya tidak mau jika mulut saya mengucapkannya, otak saya tidak mau jika hati saya mendengungkannya, walaupun itu lagunya enak. 

Mungkin, ada yang berpendapat, ya kalo enak didenger aja. Oke gapapa berpendapat. Sekali lagi di paragraph pertama, ini murni pandangan saya pribadi. Ini yang saya pikirkan tentang lagu-lagu dengan judul yang "hmm". Kemudian saya browsing dan ketemu mungkin agak melegakan karena walaupun ini pandangan saya pribadi, saya juga perlu jawaban, kenapa saya demikian?

Menurut Pierre Bourdieu, Dalam bukunya La Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979), Pierre Bourdieu berpendapat bahwa selera (taste) bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan alat untuk membedakan diri (distinction) dan menegaskan status sosial. Selera mencerminkan posisi kelas dan digunakan untuk mempertahankan hierarki, di mana budaya kelas atas dianggap superior dibanding budaya kelas bawah.

Berikut adalah poin-poin kunci mengenai konsep distinction Bourdieu:
  • Selera sebagai Penanda Kelas: Selera estetika, gaya hidup, konsumsi barang, makanan, hingga musik digunakan untuk menunjukkan kelas sosial seseorang.
  • Modal Budaya (Cultural Capital): Individu dari kelas atas menggunakan modal budaya (pengetahuan, selera, pendidikan) untuk membedakan diri dan mengesampingkan kelas yang lebih rendah.
  • Habitus: kebiasaan yang tertanam sejak dini—membentuk selera individu secara tidak sadar, yang kemudian memandu pilihan konsumsi mereka.
  • Dominasi Simbolik: Pilihan estetika kelas atas (misalnya apresiasi seni "tinggi") dijadikan standar universal, sementara selera kelas bawah sering dianggap "norak" atau tidak berbudaya, memperkuat ketimpangan sosial.
  • Arena Pertarungan: Distinction adalah bagian dari perjuangan simbolik yang konstan di mana individu mempertahankan atau mengubah posisi mereka dalam struktur sosial.
Secara ringkas distinction adalah mekanisme di mana "selera" disalahartikan sebagai bakat alami, padahal sebenarnya merupakan produk dari lingkungan sosial yang digunakan untuk melegitimasi ketimpangan sosial dan kekuasaan.

Dalam hal saya pribadi, saya mungkin menggunakan poin nomor 3 sebagai jawaban. Habitus atau kebiasaan. Karena dalam keluarga saya bilang anjing masih oke, but asu itu kasar. Saking dianggap kasar dan tidak sopannya, saat saya dengan tidak sengaja mengucapkannya, mulut saya langsung ciuman sama sandal carvil ayah saya. Jadi sudah jelas, bukan genre lagunya, hanya liriknya saja yang saya tidak cocok. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Senin, 23 Februari 2026

Tenang, Disengaja dan Cukup

Hai, saya baru saja membaca sebuah artikel berjudul "The psychology of Enough (Why Chasing more doesnt Make Us happier)" by Rebecca Bridge, PayD di Medium. 

Salah satu paragraf nya berbunyi : 
The reason we often feel unsatisfied shortly after purchasing new items lies in two main psychological phenomena: hedonic adaptation and choice overload. These mechanisms create a cycle of consumerism where the brain constantly craves more. Minimalist practices act as a "psychological intervention" that breaks this cycle, retraining the brain to find satisfaction in less. 

Iya betul. Pada tahun 2019-2020 saat covid melanda Indonesia, saya ingat betul saya baru saja berkenalan dengan bukunya Fumio Sasaki yang judulnya Goodbye things (Hidup minimalis ala orang jepang). Dan itu saya masukan kedalam salah satu buku favorit saya karena isinya yang menyelamatkan hidup saya dengan tata cara hidup minimalis yang sampai sekarang masih saya terapkan (saat saya menulis artikel ini, saya merasa hampir kembali hedon, itulah alasan saya menulis ini, untuk mengingatkan diri saya sendiri kembali ke jalan yang saya yakini benar).

Mengapa Kita Terus Menginginkan Lebih Banyak? Adaptasi Hedonis (Treadmill): Manusia cenderung cepat kembali ke tingkat kebahagiaan dasar setelah perubahan hidup yang positif atau negatif. Ketika kamu membeli mobil atau gadget baru, kegembiraan awalnya nyata, tetapi segera memudar, dan kamu terbiasa dengan standar baru yang lebih tinggi. Otak kemudian mencari "sensasi" baru, yang mengarah pada pengejaran tanpa henti untuk pembelian berikutnya.

Choice Overload (Paradoks Pilihan): Banyaknya pilihan sebenarnya membuat kita kurang puas dengan keputusan kita dan lebih rentan terhadap penyesalan. Terlalu banyak pilihan menyebabkan kelebihan beban kognitif, sehingga sulit untuk memutuskan, mengurangi kepuasan, dan mendorong kita untuk merasa bahwa kita bisa membuat pilihan yang "lebih baik".

Otak kita dirancang untuk mencari hal-hal baru dan mengumpulkan sumber daya untuk bertahan hidup, yang terkait dengan sistem dopamin. Di zaman modern, naluri ini mendorong kita untuk membeli barang-barang agar merasa istimewa atau untuk "mengikuti gaya hidup orang lain". Kita sering membeli barang untuk mengatasi stres atau untuk meningkatkan suasana hati kita sementara waktu. Namun, "terapi belanja" ini hanya memberikan kepuasan jangka pendek, seringkali menyebabkan kekacauan dan penyesalan. Pada pengalaman saya 5 tahun yang lalu, penyesalan itu muncul disertai rasa muak yang sangat. Seperti hidup tanpa isi. Ya yang penting hidup saja. Segera setelah saya kosongkan isi lemari dan rumah saya (bukan ngerampok ya :D) diri saya kembali hadir dengan sadar pada waktunya.

Interrupting Hedonic Adaptation: By voluntarily reducing the influx of new, "exciting" items, we stop the "high-low" cycle of purchasing. Minimalism teaches us to find contentment with what we have, reducing the reliance on external, material goods for happiness.

Dengan menetapkan batasan (misalnya, aturan "satu masuk, satu keluar," atau menunggu 24 jam sebelum membeli), kita melatih otak untuk memprioritaskan kepuasan jangka panjang daripada kepuasan impulsif dan instan. Ini memperkuat pengendalian diri kita dan mengurangi pengaruh dorongan konsumerisme yang didorong oleh FOMO (Fear of Missing Out). Pada intinya, minimalisme bertindak sebagai alat pelatihan ulang untuk otak, mengalihkannya dari keadaan konsumsi yang konstan dan cemas ke keadaan yang TENANG, DISENGAJA, dan CUKUP. 


-Saya pasti pulang-
Share: