Rabu, 30 September 2026
Selasa, 29 September 2026
Dream Body. Catatan Sebelum Tidur Supaya Besok Tidak Lagi Lagi Makan Tahu Isi 5 Biji.
Saya sudah punya dream body sejak puber. Dulu, Britney adalah salah satu role model saya dalam urusan dream body. Saya suka tubuh yang skinny, tapi berotot. Perut yang defined, lengan yang terlihat kuat, badan yang ramping tapi nggak ringkih.
Cuma dulu agak malu mengakuinya. Karena setiap kali ngomong soal perempuan dengan otot perut atau lengan yang berisi otot, respons beberapa teman perempuan saya kurang lebih, “Iyuh.” Jadi ya sudah. Saya simpan saja sebagai selera pribadi.
Lucunya, bertahun-tahun kemudian dunia berubah. Medsos membuat saya dengan mudah menemukan perempuan-perempuan dengan abs yang grrrr. Sangar. Kuat. Ramping. Dan bukannya “iyuh”, saya malah mikir, “Nah. Ini dia.”
Ternyata selera saya nggak berubah. Dream body saya dari dulu bentuknya masih itu-itu juga: skinny, tapi berotot. Ini penting untuk dibedakan. Saya mau skinny, bukan skinny karena kurang makan.
Karena buat saya, tubuh yang bagus bukan cuma soal angka di timbangan. Saya suka tubuh yang terlihat ringan, tapi punya tenaga. Ramping, tapi kuat. Feminin, tapi grrrr.
Dan saya pernah mewujudkannya. Jadi saya tahu ini bukan sekadar angan-angan. Saya pernah sampai di sana. Tinggal jalan pulang lagi. Pelan-pelan.
Kali ini juga nggak perlu dipamerkan ke siapa-siapa. Saya cuma ingin melihat diri sendiri di kaca dan berpikir, “Yep. There she is.”
Dan kalau nanti saya jadi terlalu sering ngaca, ya maaf. Cara saya menikmati hasil kerja keras saya sendiri ya Ngaca teroooosss.
Senin, 28 September 2026
Ketika Smartwatch Mengabarkan Bahwa Hidup Saya Puas
Belakangan ini smartwatch-ku mulai aneh. Kemarin muncul notifikasi “Bahagia.” Hari ini muncul lagi “Puas.” Sejak kapan smartwatch ikut menilai kehidupan emosional pemiliknya? Setahuku selama ini kerjaannya cuma ngasih tahu “Sudah 7.000 langkah.” “Detak jantung sekian.” “Tidurmu kurang.” “Kalori terbakar sekian.” Sekarang tiba-tiba naik level menjadi “Kamu bahagia.” Waduh.
Yang bikin aku makin notice, di versi sebelumnya aku nggak pernah melihat notif semacam ini. Jadi ketika sekarang muncul kata “Bahagia” dan “Puas”, rasanya seperti Huawei sedang mencoba masuk ke wilayah yang selama ini bahkan aku sendiri kadang bingung menjawabnya. Sekarang tiba-tiba dia ikut memberi komentar tentang perasaanku. Wah. Berani juga. Wkwkw.
Setelah cari tahu, ternyata smartwatch ini tidak sedang membaca pikiran. Fitur tersebut menggunakan berbagai data aktivitas dan kondisi tubuh untuk memberikan gambaran mengenai emotional wellbeing. Jadi kurang lebih pesannya bukan “Saya tahu isi hatimu.”. Melainkan “Dari data yang saya punya, sepertinya hidupmu sedang cukup baik.”
Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu membuatku berhenti sebentar. Mungkin memang iya. Mungkin akhir-akhir ini aku sedang bahagia. Bukan bahagia yang perlu diumumkan. Bukan bahagia yang harus terlihat sempurna di media sosial. Bukan juga bahagia yang berarti hidup sedang bebas masalah. Lebih seperti rasa nyaman karena akhirnya tidak terlalu sibuk melawan hidup.
Aku mulai bisa menikmati hal-hal kecil tanpa merasa semuanya harus punya makna besar. Kopi tetap kopi. Kucing tetap kucing. Pekerjaan ya dikerjakan. Kalau ada yang tidak perlu ditanggapi, ya tidak ditanggapi. Kalau ada yang bukan kewenanganku, ya bukan urusanku. Kalau ada orang yang salah paham tentang aku, ya ternyata dunia tetap berputar. Dan mungkin di situlah letak kepuasannya.
“Puas.” Bukan berarti hidup sudah sempurna. Hanya saja, mungkin aku sudah tidak menuntut hidup untuk menjadi sempurna agar aku bisa menikmatinya. Dan kalau dipikir-pikir lagi, itu cukup keren. Karena ternyata menjadi dewasa bukan selalu tentang punya lebih banyak. Kadang justru tentang lebih sedikit hal yang perlu kita pedulikan. Lebih sedikit drama. Lebih sedikit pembuktian. Lebih sedikit kebutuhan untuk menjelaskan diri. Lebih sedikit keinginan untuk memenangkan semua perdebatan. Dan lebih banyak ruang untuk hidup. Jadi, Huawei, Terima kasih atas analisisnya. Saya terima.
Untuk sekali ini, mesin dan perasaan saya ternyata sepakat. Tapi kalau besok notifikasinya berubah menjadi “Stres”, kita perlu duduk dan evaluasi ulang. Bisa jadi bukan hidup saya yang bermasalah. Bisa jadi cuma ada orang yang mulai bikin saya ingin mematikan notifikasi. Atau, paling realistis belum minum kopi.
Ternyata Si Jutek Ini Punya Hidden Talent Yang Selama Ini Disembunyikan Negara
Belakangan ini saya sedang punya proyek pribadi membuka diri selebar-lebarnya untuk mencoba banyak hal baru. Salah satunya adalah menantang diri sendiri untuk nyanyi dan dance di sebuah acara kantor yang isinya teman cewek semua.
Selama ini kalo acara kantor, jangankan dance, nyanyi aja saya ogah. Saya tahu suara saya nggak jelek-jelek amat, tapi aduh gimana ya. Malu! Teman-teman saya satu per satu maju. Nyanyi lagu Nusantara. Anggun. Syahdu. Penuh penghayatan. Pokoknya aura perempuan Indonesia yang kadang lucu dan gemas juga kalo joget dangdut. Lalu tiba-tiba saya maju kedepan. Musik berubah. K-POP. Dan saya mulai dance.
Saya sempat melihat sekeliling. Saya bisa melihat beberapa pasang mata langsung terbelalak. Mungkin dalam hati mereka "Ini Rizki? Yang biasanya diem? Yang mukanya kayak lagi menolak proposal? Kok sekarang malah dance?" Wkwkw.
Manusia memang punya banyak versi. Ada versi yang serius. Ada versi yang ngoding. Ada versi yang suka ngopi dan baca buku. Dan ternyata ada juga versi yang bisa tiba-tiba K-Pop dance di tengah lagu-lagu Nusantara. Sejujurnya, saya sering dance dirumah, didepan kaca. Dan saat ini saya sedang belajar untuk tidak terlalu membagi image tentang diri sendiri dikantor atau dirumah atau ketika didepan teman akrab. Sudah saya bilang, saya mau apa adanya, seadanya. Saya hampir berhasil melakukannya.
Selama ini kalian hanya mengenal versi kantor saya. Kalian belum mendapatkan DLC-nya. Ternyata di balik wajah datar, gaya hidup kalem, dan aura “tolong jangan ganggu kalau tidak penting”, dirumah saya sering ikut-ikutan dance ala penyanyi didepan kaca. Ciaaaa ketipu banget. Wkwk.
Dan ternyata menyenangkan juga sesekali menghancurkan ekspektasi orang terhadap diri saya sendiri. Selama ini mungkin saya terlalu sibuk menjadi versi diri yang dianggap “saya banget”. Sekarang saya sedang belajar, Kalau mau serius ya udah serius. Kalau mau diem ya saya yang 70% memang diem. Kalau mau jutek, ya memang bawaan lahir kalo itu sih. Tapi kalau tiba-tiba mau nyanyi dan dance? YA GAS.
Karena ternyata hidup terlalu singkat kalau saya cuma mau melakukan hal-hal yang sesuai dengan image yang selama ini melekat pada diri saya. Kadang saya memang perlu sedikit keluar jalur, mencoba sesuatu yang bahkan tidak pernah saya bayangkan akan saya lakukan sendiri. Dan ternyata, rasanya seru juga melihat orang-orang terkejut ketika saya melakukan sesuatu yang sama sekali tidak mereka duga.
Dan kalau masih ada yang tidak percaya bahwa saya bisa dance. Silakan. Saya juga masih dalam tahap percaya diri. Tapi hari itu saya mendapat validasi yang cukup berbahaya. Dance saya di-approve oleh teman saya yang memang jago banget dance. Nah, kalau sudah dapat approval dari ahlinya, kayaknya saya punya alasan untuk sedikit sombong. Ternyata selama ini bukan nggak bisa dance. Cuma belum menemukan momentum untuk mempermalukan diri sendiri di depan umum. Wkkwkw
So, here I am, Si jutek sedang keluar dari zona nyaman, menghancurkan image sendiri, dan apparently. Ready to rock the world. Wkwkwk.
Ternyata, Bisa Menolak Juga Sebuah Keahlian
Hari ini saya merasa bangga pada diri sendiri.
Bukan karena mendapat pujian soal seberapa cepat saya bekerja, seberapa banyak yang bisa saya kerjakan, atau prestasi-prestasi semacam itu di tempat kerja. Justru karena sesuatu yang kelihatannya sederhana. Saya dianggap paling bisa untuk menolak. Wkwkkw.
Hari ini dalam rapat, atasan saya menjelaskan bahwa bidang dimana saya ditempatkan diminta bekerja sama dengan salah satu dinas. Dari pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, ketika bekerja sama dengan dinas ini, permintaan bekerja sama ini kadang melampaui batas kewenangan yang seharusnya bidang saya kerjakan. Bidang saya jadi repot sendiri padahal pekerjaan itu bukan kewenangan di bidang saya. Karena tidak ada hubungannya dengan aplikasi, pada awal rapat saya tidak menduga atasan saya akan memilih saya sebagai perwakilan dari bidang.
Saya mengernyit. Atasan saya tahu pasti bahwa keputusan itu membuat banyak pertanyaan di kepala saya. Atasan saya memberikan alasan kenapa saya yang dipilih padahal pekerjaan ini tidak berkaitan dengan aplikasi. Dia bilang, karena saya paling bisa menolak. Jika dinas tersebut meminta untuk bekerja diluar kewenangan bidang, hanya saya yang bisa menolak dengan tegas. Wow.
Saya spontan tertawa, teman-teman yang lain mengangguk-mengangguk. Beberapa mengiyakan. Beberapa menceritakan kembali bagaimana permintaan dinas tersebut di tahun-tahun sebelumnya selalu di iyakan dan berakhir dengan kerepotan pada bidang saya. Dan entah kenapa, mendengar itu rasanya menyenangkan sekali.
Dari dulu saya memahami bahwa justru salah satu bentuk profesionalitas adalah tahu apa yang memang menjadi tanggung jawab saya, dan apa yang seharusnya dikembalikan kepada pemilik kewenangannya.
Bukan menolak untuk lepas tangan. Bukan pula karena tidak mau membantu. Tetapi karena setiap pekerjaan punya ruang, batas, tanggung jawab, dan konsekuensinya masing-masing. Dan ternyata, kemampuan mengenali batas itu juga sebuah kompetensi.
Hari ini saya pulang dengan perasaan sedikit lebih bangga kepada diri sendiri. Mungkin saya belum menjadi orang yang paling hebat. Tapi setidaknya, saya mulai menjadi seseorang yang tahu kapan harus berkata “Bisa saya bantu.” dan kapan harus berkata “Maaf, ini bukan kewenangan kami.”
Ternyata, setelah bertahun-tahun belajar menjadi orang yang bisa mengerjakan banyak hal, salah satu pencapaian yang paling membuat saya bahagia justru ketika orang lain percaya bahwa saya cukup tahu batasan.
Life 4.0. Saat Pintunya Ditutup Pelan, Bukan Dibanting.
Jadi kalau suatu hari ada pintu lain yang harus saya tinggalkan, tidak apa-apa. Di hidup saya versi 4.0, saya sedang belajar satu hal penting: bahwa tidak semua pintu harus dipertahankan hanya karena saya pernah begitu ingin masuk ke dalamnya. Tidak semua tempat yang pernah saya sebut rumah harus saya tinggali selamanya. Dan tidak semua orang yang pernah menjadi bagian penting dari perjalanan saya harus terus punya tempat yang sama dalam hidup saya.
Jika memang diperlukan, saya akan menutup pintu-pintu yang lain. Tapi kali ini, saya akan menutupnya dengan sangaaaaattt pelan. Pelan sekali. Sedemikian pelan sampai kalau bisa, tidak terdengar suara “krietttt” sedikit pun.
Saya tahu, ada pintu-pintu yang ketika ditutup, apinya masih menyala di dalam diri saya. Ada kecewa yang tidak langsung padam hanya karena saya sudah memutuskan untuk pergi. Ada hal-hal yang mungkin membutuhkan waktu lama untuk benar-benar saya lepaskan. Saya tidak ingin berpura-pura menjadi seseorang yang sudah sepenuhnya tenang hanya demi terlihat dewasa.
Kalau masih marah, ya saya akan mengakui bahwa saya marah. Kalau masih sedih, saya akan membiarkan diri saya sedih. Kalau masih kecewa, saya tidak akan buru-buru menyebutnya sebagai keikhlasan. Saya hanya tidak ingin membawa semua itu sampai menjadi alasan untuk membanting pintu. Karena mungkin, dewasa bukan tentang tidak pernah marah.
Jadi saya akan menutup pintu itu pelan-pelan. Sambil belajar menerima bahwa beberapa hal memang tidak mendapatkan akhir seperti yang saya harapkan. Sambil mengumpulkan kembali bagian-bagian diri saya yang sempat tertinggal. Sambil melepaskan satu per satu harapan yang ternyata memang sudah waktunya dilepaskan. Saya berjanji kepada diri sendiri: saya akan melepaskan segala sesuatu dengan hormat.
Bukan karena semuanya pantas mendapatkan penghormatan. Tetapi karena saya pantas menjadi seseorang yang tidak perlu merusak apa pun hanya untuk membuktikan bahwa saya pernah terluka. Saya akan berjalan pulang. Pulang kepada diri saya sendiri. Dan kali ini, saya ingin tinggal lebih lama di sana. Karena setelah sekian lama mencari rumah di banyak tempat, saya akhirnya mulai mengerti, rumah yang paling perlu saya jaga ternyata adalah diri saya sendiri.
-Saya pasti pulang-