Jumat, 17 April 2026

Apa Itu Tadi

Tadi pagi dengan terpaksa aku turun gunung ke ruang pelayanan. Padahal biasanya aku figuran, pemain di belakang layar. Temanku bilang harus diperbaiki dari databaseAku mengernyit, arti database pun aku sangsi dia paham. 

Aku tidak melakukan 3S layaknya orang di ruang pelayanan. Langsung to the point aku bertanya masalahnya apa? Kronologisnya bagaimana? Kudengarkan tamu itu bercerita. Mengulang dengan semangat seolah pokoknya kantor saya salah! Kalian salah! Hayo gimana solusinya! Duar!

Belum selesai dia cerita, aku langsung paham kemana alurnya. Ah masalah berat apanya, 5 menit jadi ini sih, kesombonganku mengudara tanpa keluar dalam bentuk suara. Kesombonganku menyamar dalam bentuk keadaan : membuka laptop, menunjukan deretan koding warna-warni dengan background hitam. Biar terlihat misterius. Ah brengsek, bukan. Mataku punya silinder parah, background cerah membuatnya cepat lelah dan kemudian memerah mirip banteng mau nyeruduk. 

Ku minta tamu itu sebut NIP nya. Dia bilang lupa. Suara dalam hatiku nyinyir : "mana ada NIP lupa". "Nama lengkap saja pak", kataku kemudian. Yang dia sebut namamu. Lengkap. Aku minta dia mengeja, huruf per huruf. Persis. Aku menatapnya. Ini adalah tatapan pertama antara aku dan tamu itu. Tamu itu terlihat gugup. Seolah membuat kesalahan. Padahal tidak.

Benar-benar sesuai prediksiku, 5 menit jadi, masalah selesai. Tamu yang punya nama sama dengan namamu itu berterima kasih. Bla bla bla kemudian menyalamiku dan pamit. Terlihat bahagia. Temanku yang sedari tadi duduk disampingku pun berucap sama, "terima kasih ya" lalu pergi, katanya makan siang.

Ruang pelayanan itu sekarang sepi. Padahal ini siang. Tapi hari Jumat selalu terasa berbeda kan? Sendirian disana dengan lampu yang tidak semua dinyalakan karena sedang efisiensi dan AC yang terasa sangat dingin membuatku sedikit tidak nyaman. Apa itu tadi? 


-Saya pasti pulang-
Share:

Ruang Sapa

Beberapa teman kerja pernah bertanya 
Kenapa pesan chatnya di whatsapp selalu lambat dibalas
Saat itu aku tengah sibuk 
Buka tutup direct message instagram

Kemudian pernah aku lupa buka instagram
Sampai terlambat tahu berita di dunia
Pun tak jadi masalah besar
Aku sedang suka melihat-lihat status whatsapp




-Saya pasti pulang-
Share:

Jarak

Apakahkamumerindukankuakhirakhirini? Karenaakutidak.

Tanpa spasi kalimatku tetap terbaca
Karena itu kalimat pendek
Karena kalimat itu pasaran
Sering kita dengungkan
Namun jika aku menulis dalam 100 halaman A4
Tanpa aku akal-akali, aku pasti lelah
Matamupun pasti muak
Terlihat sepele namun spasi ternyata entitas krusial dalam sebuah tulisan ya
Kedekatan yang terus menerus ternyata juga bukan hal yang baik
Manusia biasa seperti kita menyebutnya apa?

J A R A K


-Saya pasti pulang-
Share:

Rabu, 15 April 2026

Dee

Kalo penulis yang satu ini sudah tidak asing lagi ya. My Favorit! Selain puisinya Bapak Joko Pinurbo tentu, saya memfavoritkan beliau. Sejak mengeluarkan serial supernova-nya, saya selalu membeli on time tiap ada buku dari beliau yang terbit. Nggak ada yang luput. Swear! Bahkan saya pernah menang lomba menulis surat untuk beliau. Lihat di link ini kalo nggak percaya. Judul surat ini adalah SURAT INI HARUS SAMPAI. Metal-metal begini bahasa cinta saya adalah Words of Affirmation tahu. Haha!

Dewi Lestari Simangunsong, yang lebih dikenal dengan nama pena Dee Lestari, merupakan salah satu figur paling fenomenal dalam kancah sastra dan hiburan Indonesia karena kemampuannya yang luar biasa dalam menggabungkan intelektualitas, spiritualitas, dan narasi yang emosional. Lahir di Bandung pada 20 Januari 1976, ia awalnya merambah dunia publik sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi (RSD) yang populer di era 90-an, namun transformasi terbesarnya terjadi pada tahun 2001 ketika ia merilis novel debutnya yang berjudul Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh. 

Novel tersebut seketika mendobrak pakem sastra Indonesia dengan menyajikan jalinan plot yang berani mencampurkan konsep sains kuantum, filsafat eksistensial, dan romansa modern dalam gaya bahasa yang sangat segar. Keberaniannya mengeksplorasi tema-tema yang tidak lazim dalam fiksi populer menjadikan Dee sebagai pionir penulis yang mampu menjembatani selera pasar luas dengan kedalaman pemikiran yang filosofis, yang kemudian berlanjut hingga seri Supernova mencapai enam volume dan menetapkan standar tinggi bagi genre fiksi kontemporer tanah air.

Perjalanan kreatif Dee Lestari tidak berhenti pada kesuksesan seri epiknya, melainkan terus berkembang melalui eksplorasi berbagai bentuk cerita, mulai dari kumpulan prosa dan cerita pendek yang legendaris seperti Filosofi Kopi dan Rectoverso sebuah proyek hibrida unik yang memadukan musik dan sastra hingga novel sejarah bertajuk Aroma Karsa yang menonjolkan riset mendalam mengenai dunia penciuman dan mitologi Jawa. 

Sebagai seorang penulis, Dee dikenal dengan kedisiplinan risetnya yang sangat ketat, di mana setiap detail teknis dalam ceritanya selalu didasarkan pada fakta yang solid sebelum dibalut dengan imajinasi yang melankolis namun kuat. Selain dedikasinya di dunia literasi, ia juga tetap menjadi pencipta lagu yang ulung, melahirkan banyak hits yang dibawakan oleh penyanyi papan atas Indonesia, membuktikan bahwa dirinya adalah seorang seniman multidimensi yang sejati. Dengan segala pencapaiannya, Dee Lestari bukan sekadar seorang novelis, melainkan arsitek cerita yang telah berhasil mengubah cara pembaca Indonesia memandang hubungan antara ilmu pengetahuan, cinta, dan pencarian makna hidup yang paling dalam.

Berikut adalah daftar karya-karya utama dari Dee Lestari (Dewi Lestari)
  1. Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (2001)
  2. Akar (2002)
  3. Petir (2004)
  4. Partikel (2012)
  5. Gelombang (2014)
  6. Inteligensi Embun Pagi (2016)
  7. Filosofi Kopi (2006) 
  8. Rectoverso (2008) 
  9. Madre (2011) 
  10. Perahu Kertas (2009)
  11. Aroma Karsa (2018)
  12. Rapijali (2021)
  13. Di Balik Jendela (2010) 
  14. Rantai Tak Putus (2020) 
Dibawah ini adalah cuplikan kata-kata dari salah satu novelnya mbak Dee yang akan selalu aku ingat. Karena memenangkan lomba, karena sampai saya tuliskan dalam buku harian saya saking indahnya.

Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal Hidup
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam Cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.
Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian. Gerakmu tiada pasti. 
Namun aku terus di sini.
Mencintaimu.
Entah kenapa.


-Saya pasti pulang-
Share:

The Decision Book - Mikael Krogerus dan Roman Tschappeler

Judul buku : The Decision Book
Penulis : Mikael Krogerus
Penerbit : W.W Northon and company
Jumlah halaman : 137 halaman
Bahasa : Inggris

Minggu ini saya sangat produktif, jadi sangat banyak hal berguna yang saya lakukan. Tujuannya apa? Biar nggak kebanyakan scroll-scroll shopee sama ig. Kenapa tidak? Kan itu hp sendiri, kan itu kuota sendiri, kan kan kan. Iya benar, saya memang menganut hidup apa adanya, termasuk menahan diri untuk tidak hanya scroll-scroll hp adalah apa adanya saya. Saya pusing lihat berita lalu lalang cepet banget berubah. saya nggak suka target di smartwatch yang sudah saya set tidak goal, ya itu apa adanya versi saya. Nggak perlu maaf memaafkan kalo apa adanya versi kamu beda sama saya. Haha! Oke stop yapping and we start the review.

Karena buku ini berbahasa inggris, tadinya saya mikir mau review buku ini pakai bahasa inggris. Tapi batal. Saya keburu mau baca buku baru saya yang baru saya beli yang kayaknya lebih seru dan dari pada saya nanti malah lupa point-point pentingnya (kalo saya sampai lupa artinya buku ini di MATA (pakai kapital karena MATA saya besar) saya b aja).

Terus terang beli buku ini karena fomo. Buku ini dibahas oleh seorang podcaster kemudian saya ikutan beli. The Decision Book” adalah buku yang ditulis oleh Mikael Krogerus dan Roman Tschäppeler yang menjelaskan kepada pembaca secara singkat mengenai  50 model pikiran dan konsep untuk membantu dalam pengambilan keputusan yang strategis. Karena bahasanya ringkas jadi buku ini sangat mudah dipahami, dan kayaknya cocok dengan orang yang sedang belajar berpikir strategis dan kritis dalam segala hal. Tidak hanya pada manajemen bekerja, tapi juga pengambilan keputusan pribadi. Untuk saya yang udah biasa mengambil keputusan tanpa mikir lama, karena saya yakin kalo hasilnya gagal saya masih punya rencana b,c,d, dan bisa tanggung jawab, kalo hasil dari keputusan saya bener sesuai rencana ya saya lebih bisa tanggung jawab lagi. Menyala banget kepercayaan diri ini. 

Setiap model pikiran dijelaskan dengan singkat dan diilustrasikan dengan contoh-contoh praktis yang relevan. Lalu ditambahkan tools untuk mengambil keputusan seperti “SWOT Analysis” (Analisis SWOT), “Pareto Principle” (Prinsip Pareto), “Cost-Benefit Analysis” (Analisis Biaya-Manfaat), “Decision Tree” (Pohon Keputusan), dan banyak lagi. Buku ini nggak ada kurangnya. Tapi kurang tepat kalo saya yang baca. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Psikologi Kematian - Komaruddin Hidayat

Judul buku : Psikologi Kematian
Penulis : Komaruddin Hidayat
Jumlah halaman : 163 Halaman
Bahasa : Indonesia
Penerbit : Mizan
Harga : 0 (Dikasih teman)
Cetakan 1 Tahun 2005

Buku ini adalah pemberian teman. Dua tahun yang lalu saat dia kasih buku ini, dia kasih catatan juga, "kamu harus baca buku ini Ki!" katanya. FYI, teman saya itu psikolog. Jadi saya pikir ini buku diberikan ke saya karena dia tahu saya suka baca dan dia punya buku baru tentang psikologi, sudah titik. 

Sampai akhirnya dua tahun kemudian yaitu tahun 2026 buku ini baru saya baca ketika saya lapar sekali dengan bacaan yang ada "isinya". Buku ini terlihat kuno dilihat dari cover dan jenis kertasnya. Kertas yang dipakai masih kertas warna putih. Dengan kondisi mata saya yang silinder parah dan pterygium, agak cepat lelah saya bacanya. 

Tapi namanya juga rayap buku (bukan lagi kutu), ketika sampai dihalaman 14, kemudian saya tidak bisa lagi menahan diri untuk membaca halaman-halaman berikutnya sampai selesai.

Membahas soal kematian bisa menimbulkan sebuah pemberontakan yang menyimpan kepedihan pada setiap jiwa manusia. Yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba dan punahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran ini lalu memunculkan sebuah protes berupa penolakan bahwa masing-masing kita tidak mau mati. Setiap orang berusaha menghindari semua jalann yang mendekatkan ke pintu kematian. Jiwa kita selalu mendambakan dan membayangka  keabadian. Pemberontakan dan penolakan akan kematian ini telah melahirkan dua mazhab psikologi kematian. 

Mazhab pertama adalah mazhab religius, yaitu mereka yang menjadikan agama sebagai rujukan bahwa keabadian setalah mati itu ada dan untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi, seseorang yang religisu menjadikan kehidupan akhirat sebagai obyek dan target paling tinggi. Kehidupan dunia selayaknya dinikmati, tetapi bukan tujuan akhir dari kehidupan. Apapun yang dilakukan di dunia dimaksudkan sebagai investasi kejayaan di akhirat.

Yang kedua adalah mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin akan adanya kehidupan setelah mati. Namun secara psikologis keduanya memiliki kesamaan, yaitu spirit heorisme yang mendambakan keabadian hidup agar dirinya selalu dikenang sepanjang masa. Untuk memenuhi keinginan itu, setiap orang ingin menyumbangkan sesuatu yang besar dalam hidupnya, minimal untuk keluarganya. Maka setiap orang berusaha untuk meninggalkan warisan berupa potret diri, karya tulis, kuburan dan ada yang membuat patung besar. Ini semua secara psikologis menceritakan satu hal : Bahwa setiap orang sesungguhnya menolak kematian, ingin hidup dikenang sebagai pahlawan agar jiwanya tetap hidup.

Buku ini dikeluarkan tahun 2005, apakah ketika dibaca tahun 2026 masih relate? Ya masih, karena mau tahun kapan mati itu pasti datang. Kebetulan sampai tahun 2026 belum ada sih cara mencegah kematian datang. Ada yang mencoba kabur dari kiamat tapi kalo kabur dari kematian? kayaknya hanya ada di film drakula aja ya. 



-Saya pasti pulang-
Share:

Minggu, 12 April 2026

Jam Dua

Kau sampai Jogja jam berapa?
Kutunggu di spot es krim dekat tugu

Tapi aku lebih suka kopi

Apa sampai sini saja?

Eh tapi kau tahu? 
Campuran kopi dan es krim enak lho

Pakai vespa, jangan lupa helm dua
Jam dua, kalau kau memaksa




-Saya pasti pulang-
Share: