Selasa, 06 Oktober 2026

COD, Sistem Pembayaran atau Celah Kejahatan?

Hari ini saya mendapat chat dari kurir J&T. “Bu, apakah punya paket COD dengan resi sekian?” Saya jawab: tidak. Memang saya tidak memesan apa pun minggu ini. 

Setelah itu saya malah berpikir, sebenarnya COD itu menarik sebagai studi kasus tentang bagaimana sebuah sistem yang dibuat untuk memudahkan transaksi bisa sekaligus menciptakan banyak titik untuk merugikan orang lain.

Bayangkan alurnya. Seseorang memasukkan nama, nomor telepon, dan alamat kita ke sebuah pesanan. Barang dikirim secara COD. Kurir datang. Kita tidak merasa memesan.

Kalau kita menolak, yang rugi bisa penjual karena biaya pengiriman dan retur. Kurir sudah membuang waktu dan tenaga. Penerima juga terganggu. Kalau penerima lengah dan membayar, pelaku mendapatkan keuntungan. Sederhana.

Dan yang lebih menarik, pelakunya bahkan tidak selalu harus menjual barang kepada kita.

Dalam kasus yang diberitakan pada 2025, seorang konten kreator di Lumajang menerima 17 paket COD yang tidak pernah ia pesan selama tujuh hari, dengan total nilai sekitar Rp21 juta. Barangnya bukan satu-dua jenis: ada TV, PlayStation, laptop, headphone, kasur, sampai akuarium. Ia menduga datanya digunakan untuk membuat pesanan palsu dan kemudian melaporkannya sebagai dugaan doxing.

Ada juga kasus konsumen yang memang sedang menunggu barang belanjaannya, tetapi kemudian menerima paket COD palsu dengan nominal yang sama. Ia baru sadar setelah membandingkan resi dan ekspedisi dengan pesanan aslinya.

Artinya, celahnya bukan cuma “orang membeli barang lalu barangnya tidak sesuai”. Celahnya bisa jauh lebih sederhana, data orang, dibuat pesanan, dikirim COD, seseorang membayar. Atau, data orang, dibuat pesanan palsu, penjual mengirim barang, penerima menolak, penjual menanggung kerugian.

Jadi pertanyaan saya kemudian, pelaku kejahatan ini untungnya apa? Kalau korbannya membayar, jelas, uang. Kalau korbannya menolak, pelaku mungkin tidak mendapatkan uang secara langsung. Tetapi ia tetap bisa mendapatkan sesuatu yang lain, mengganggu korban, menyalahgunakan data pribadi, merugikan penjual, atau sekadar membuat orang lain kerepotan.

Dan di sinilah saya mulai mempertanyakan desain sistemnya. COD memang punya manfaat. Tidak semua orang nyaman atau bisa menggunakan pembayaran digital. Tetapi ketika identitas penerima dapat digunakan untuk membuat pesanan yang tidak pernah ia buat, sementara kurir menjadi orang yang harus berhadapan langsung dengan penerima, penjual menanggung risiko retur, dan konsumen harus terus-menerus membuktikan bahwa ia tidak pernah memesan. Saya jadi bertanya, Apakah kemudahan COD masih sebanding dengan celah yang diciptakannya?

Bahkan J&T sendiri dalam syarat pengirimannya menyebut bahwa pengirim wajib memberikan identitas penerima secara benar, dan paket yang ditolak penerima dapat berujung pada proses retur. Dan ini yang menurut saya sering luput. Ketika sistem disalahgunakan, korban kejahatan bukan cuma pembeli. Penjual bisa rugi. Kurir bisa repot. Ekspedisi ikut menangani komplain. Dan penerima yang tidak pernah memesan apa-apa tiba-tiba harus menjadi “petugas keamanan” untuk transaksi yang bahkan tidak pernah ia lakukan.

Jadi saya tidak sedang mengatakan bahwa semua COD buruk. Saya cuma merasa, kalau sebuah fitur pembayaran bisa dengan relatif mudah dipakai untuk mengerjai pembeli, penjual, bahkan kurir, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya perilaku penggunanya. Mungkin desain sistemnya juga.

Karena teknologi yang baik bukan cuma yang memudahkan orang melakukan transaksi. Tapi juga yang membuat orang yang tidak pernah melakukan transaksi sulit untuk dijadikan korban.



-Saya pasti pulang-
Share:

Short Hair Era

Saya cenderung menjadi orang yang itu-itu saja. Termasuk gaya rambut. Bahkan sebelum saya berhijab pun model rambut saya ya panjang, lurus, diikat dua saat berangkat sekolah SD, diikat seperti ekor kuda saat SMP s.d SMA, digerai saat dirumah. 

Banyak trend berlalu lalang, ada trend shaggy, trend ikal dipinggir saja biar kaya pacarnya pendekar harum, diikal seluruhnya, diwarnai seperti agnes monica, di catok, diluruskan maksimal sepeti papan, dan banyak lagi tapi tidak ada satupun yang saya ikuti. Alasannya? Nggak tahu. Saya juga bingung kenapa saya nggak ngikutin trend ya, padahal ngikutin juga kan gapapa. Wkkwk. 

Dua tahun kebelakang rambutku rontok. Baca reels kebanyakan bilang, kerontokan dikarenakan stress, stress berkepanjangan, stress parah, bla bla bla. Eh saya malah stress ini baca reels begitu. Sedih. Dari pakai tonic sampai minyak kemiri hasilnya nihil. Karena putus asa ya udah ke salon. Niatnya potong rambut aja. Ternyata ibuk salonnya bilang, wah ini sih rontoknya karena rambut mbak tebal dan banyak. Singkat kata potong rambut layering. Biar beban kulit kepalanya nggak terlalu berat. 

Dan ternyataaaa berhasil. Wkkwkw. Selama ini saya kira rambut saya rontok karena stres. Ternyata bukan. Rambut saya cuma terlalu tebal, terlalu banyak, dan terlalu panjang. Jadi bukan rambut saya yang bermasalah. Jumlah nya saja yang kebanyakan.

Setelah dipotong, kerontokan jauh berkurang. Rambut terasa lebih sehat, lebih ringan, dan perawatannya juga lebih gampang. Karena sehat, sekarang rambut saya sudah panjang lagi.

Dan ya saya mau potong lagi. Bukan karena kapok punya rambut panjang. Justru sebaliknya. Saya suka sekali rambut panjang saya. Bisa diikat dua. Persis Sailor Moon. Huhuhu.

Tapi ternyata saya harus adaptasi dengan short hair era. Toh rambut pendek itu praktis. Cepat kering. Tidak perlu ritual panjang hanya untuk keramas. Tidak terlalu banyak rambut yang harus dipelihara. Dan yang paling penting, lebih sedikit drama.

Tapi sebenarnya saya lebih suka rambut panjang. Jadi untuk sementara, selamat tinggal rambut Sailor Moon. Kita akan bertemu lagi nanti kapan-kapan.  Sekarang saya mau kembali menjadi perempuan yang keramas tanpa merasa sedang mencuci karpet.


-Saya pasti pulang-
Share:

Dedikasi Tingkat Tinggi Bahkan dalam Urusan Bermalas-malasan

Aku orang yang perfectionis. Dari dulu sampai sekarang.  Perfectionisme ini sekaligus kelebihan dan kekurangan.

Dulu aku sering berpikir, “Gimana ya caranya berhenti jadi perfectionis?” Sekarang? Terserah. Mau berhenti, mau enggak, ya sudah. Aku akan hidup dengan menerima kenyataan bahwa memang begini adanya. Aku perfectionis.

Perfectionisku agak mengkhawatirkan. Aku ingin segala hal perfect. Termasuk bermalas-malasan. Kalau sudah membuat jadwal bahwa hari ini adalah hari untuk bermalas-malasan, maka aku akan menjalankannya dengan penuh dedikasi. Tidak setengah-setengah. Rebahan? Total. Tidak produktif? Maksimal. Tidak merasa bersalah karena tidak melakukan apa-apa? Sempurna.

Pokoknya kalau hari itu memang sudah ditetapkan sebagai hari malas, aku akan malas dengan standar yang sangat tinggi. Aku curiga, orang yang dari lahir memang sudah berbakat malas pun mungkin akan kalah.

Karena mereka cuma malas. Aku? Aku perfectly malas. Aku akan membuat rencana bermalas-malasan dengan sangat terorganisir. Waktu, tempat, agenda. Ya pokoknya diatur seperfect mungkin agar hari bermalas-malasannya perfect. Wkwkwk. Mungkin memang bukan tugas hidupku untuk menghilangkan perfectionisme. Mungkin tugasku cuma belajar mengarahkannya ke hal-hal yang tidak terlalu merepotkan. Kalau akhirnya tetap perfectionis juga, ya sudah. 

Dan aku perfectionis dalam menerima bahwa aku perfectionis. Wkkww

-Saya pasti pulang-
Share:

Minggu, 04 Oktober 2026

Lulus, Cilok dan Ya Udah Saya Bingung Mau Ngasih Judul Apa.

Sebulan lalu saya habis ujian kompetensi. Soal-soal latihannya saya pelajari dari ChatGPT. Jadi selama beberapa waktu saya merasa sudah belajar cukup serius.

Lalu tibalah hari ujian. Ujian dimulai pukul 12.30 WIB. Saya tidak sempat makan siang. Itu kesalahan pertama. Masuk ruang ujian, mulai membaca soal. Lima menit pertama masih optimis. Lima belas menit kemudian mulai pusing. Setengah jam kemudian mulai bertanya-tanya apakah selama ini saya benar-benar belajar atau hanya rajin membuka soal. Wkwkw. 

Jam 15.45 WIB, asam lambung saya naik. Akhirnya saya keluar sebelum waktu ujian habis. Bukan karena sudah yakin semua jawabannya benar. Justru karena saya berpikir “Kalau saya baca ulang soal ini lima kali pun, kalau otak saya tidak tahu jawabannya, ya tetap tidak tahu. Kita tidak perlu mempermalukan diri sendiri lebih lama.” Wkwkwk.

Sampai perjalanan pulang naik kereta pun saya masih pesimis. Rasanya ingin menangis. Tapi bingung juga mau menangisi apa. Toh saya sudah mengerjakan semampunya.

Akhirnya saya beli cilok ayam. Ciloknya habis. Sedihnya masih. Saya ketiduran. Singkat padat, sampai rumah.

Lalu beberapa waktu kemudian pengumuman keluar. Ternyata saya lulus. Dan bukan sekadar lulus. Nilainya lumayan besar. Alhamdulillah.

Sampai sekarang saya juga tidak tahu harus mengambil hikmah apa dari kejadian ini. Apakah ini tentang jangan menyerah? Tentang percaya pada proses? Tentang tetap tenang menghadapi ujian? Entahlah.

Yang saya tahu, pada hari ujian saya sudah berusaha belajar. Saat ujian saya sudah mengerjakan sebisa saya. Saat merasa tidak sanggup, saya pulang. Saat pesimis, saya makan cilok. Saat lelah, saya tidur. Dan ternyata lulus.

Jadi untuk sementara saya tidak akan memaksakan diri mencari makna kehidupan dari semua ini. Saya sedang bahagia. Saya mau menikmati saja. Toh tidak semua kejadian harus menghasilkan kebijaksanaan. Ada juga yang cukup menghasilkan, Alhamdulillah, ternyata lulus.

Dan hari ini saya sedang menikmati kebahagiaan sederhana itu. Sambil tetap sedikit curiga pada sistem penilaian manusia. Karena kalau setelah keluar ujian dengan perasaan hancur ternyata nilainya bagus, berarti yang bermasalah mungkin bukan kemampuan saya. Mungkin memang saya saja yang dramatis.



-Saya pasti pulang-
Share:

Sabtu, 03 Oktober 2026

Muka Saya Bergaris Tiga?

Di postingan sebelumnya saya menulis mengenai adidas yang menuai kecaman publik dan seruan boikot global pada September 2026 setelah melibatkan mantan tentara Israel (IDF), Shalev Biton, dalam kampanye iklan lokal untuk layanan "Single Shoe Service" di Israel.
 
Hubungannya dengan saya? Saya penyuka barang yang casual sporty. Ketika membeli sepatu kerja, misalnya, saya berpikir bahwa sepatu itu minimal harus enak dipakai jalan jauh.

Karena saya kerja di lapangan? Noooo. Kerja saya duduk 8 jam. Tapi ada saat-saat tertentu ketika saya banyak bergerak. Misalnya saat dinas luar. Biasanya sesi olahraga harian saya ganti dengan jalan-jalan pagi atau malam di tempat-tempat yang agak jauh dari hotel, tetapi saya tempuh dengan berjalan kaki. Bisa 3–5 km sekali jalan. Males kalo harus bawa sepatu double. 

Kenyamanan tetap menjadi pertimbangan saya ketika memilih sepatu. Berbagai merek sport juga pernah saya beli. Sebut saja Puma, Nike, Adidas, 910, Skechers, dan lain-lain.

Biasanya sudah saya keranjangin lama, kemudian saya checkout ketika memang sedang butuh dan kebetulan diskonnya besar. 

Nah, pernah ada kejadian, waktu melewati Sport Station, teman saya tiba-tiba nyeletuk, “Aku kalau lihat kamu tuh Adidas banget. Tiap lihat Adidas apa pun, itu kamu banget. Entah kenapa aku selalu mikir kamu yang pakai.”

Kemudian menjelang tidur, kami ngobrol lagi. Dan pembahasan itu kembali muncul ketika dia sedang scroll HP. “Lihat sepatu ini. Ini kamu banget.”

Apa sih? Muka aku bergaris tiga? Wkkwkw. Akhirnya saya minta penjelasan.

Jadi, kata teman saya, Adidas itu punya karakter desain yang khas. Casual, sporty, tetapi tetap clean. Banyak desainnya mengambil bentuk klasik atau retro, tetapi tidak terasa kuno. Sederhana, tetapi tetap punya karakter.

Bukan tipe desain yang terlalu ramai, terlalu feminin, terlalu mewah, atau terlalu berusaha kelihatan keren. Ada kesan effortless. Dipakai olahraga bisa. Dipakai jalan-jalan bisa. Dipadukan dengan outfit casual juga masuk. Dan katanya, entah kenapa, karakter seperti itu yang dia lihat pada saya.

Saya suka sesuatu yang nyaman dan fungsional, tetapi tetap enak dilihat. Tidak harus mengikuti tren. Tidak harus kelihatan mahal. Tidak harus mencolok. Apa ya kalimat yang pas. Saya suka sesuatu yang punya karakter, tetapi tidak berisik. Nah. 

Dan ternyata, itu yang menurut dia terasa “Adidas banget.” Yang lucu, justru Adidas bukan merek yang paling sering saya beli. Wkwkkw. 

Jadi kesimpulannya, saya bukan penggemar Adidas. Saya cuma berkepribadian Adidas. Dan sekarang saya jadi penasaran. Jangan-jangan teman saya sebenarnya bukan sedang mengenali selera saya. Tapi sedang mengiklankan Adidas kepada saya secara personal.

Kalau besok saya tiba-tiba beli Samba, berarti marketingnya berhasil. Wkkwkw. 



-Saya pasti pulang-
Share:

Single Shoe Service

Ini malam minggu tapi postingan ini agak serius. Saya tulis karena saya agak "akrab" dengan brand ini. 

Ada kalanya sebuah iklan dimaksudkan untuk terlihat inklusif, tetapi justru jatuh pada momen dan konteks yang membuatnya terasa sangat tidak sensitif. Itulah yang terjadi pada Adidas pada September 2026. Perusahaan ini menuai kecaman dan seruan boikot setelah melibatkan Shalev Biton, mantan anggota militer Israel (IDF) yang kehilangan satu kakinya, dalam promosi lokal “Single Shoe Service” di Israel. Layanan tersebut pada dasarnya ditujukan bagi orang yang hanya membutuhkan satu sepatu karena memiliki perbedaan atau kehilangan anggota tubuh.

Di atas kertas, idenya terdengar sederhana, bagaimana kalau orang tidak harus membeli sepasang sepatu ketika memang hanya membutuhkan satu?

Masalahnya bukan sesederhana itu.

Iklan tersebut muncul ketika perang di Gaza masih menjadi sumber kontroversi dan penderitaan kemanusiaan yang sangat besar. Bagi banyak warga Palestina dan mereka yang menyoroti kondisi di Gaza, menjadikan amputasi seorang mantan tentara Israel sebagai bagian dari materi promosi terasa sangat problematis. Terlebih lagi, kehilangan anggota tubuh bukanlah isu yang abstrak bagi warga Gaza.

WHO dan PBB telah melaporkan tingginya jumlah warga Gaza yang mengalami amputasi akibat konflik, termasuk anak-anak. Karena itu, sesuatu yang mungkin dimaksudkan Adidas sebagai kampanye inklusivitas bagi penyandang disabilitas dapat dibaca sangat berbeda ketika ditempatkan dalam konteks tersebut.

Kritik pun berkembang lebih jauh. Sejumlah pihak menilai kampanye itu berpotensi memberikan kesan bahwa pengalaman seorang mantan tentara Israel sedang dijadikan simbol inspiratif, sementara pada saat yang sama terdapat ribuan warga Palestina yang mengalami kehilangan anggota tubuh dalam situasi perang. Israel sendiri tengah menghadapi tuduhan genosida terkait tindakannya di Gaza, tuduhan yang menjadi bagian dari proses hukum dan perdebatan internasional yang masih berlangsung.

Lalu media sosial melakukan apa yang biasanya dilakukan sebagai tupoksinya. Memperbesar semuanya.

Seruan boikot menyebar, kritik bermunculan, dan Adidas akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf. Perusahaan menjelaskan bahwa iklan tersebut merupakan inisiatif tim lokal Adidas di Israel, bukan bagian dari kampanye pemasaran global. Adidas juga menegaskan bahwa “Single Shoe Service” memang dibuat dengan tujuan inklusivitas dan untuk memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas.

Dan mungkin di sinilah persoalannya menjadi menarik.

Sebuah program bisa saja memiliki niat inklusif. Sebuah layanan bisa saja benar-benar bermanfaat. Tetapi komunikasi publik tidak pernah hanya soal niat. Ia juga soal konteks, siapa yang ditampilkan, kapan pesan itu disampaikan, dan bagaimana pesan tersebut akan diterima oleh orang-orang yang hidup dalam realitas yang berbeda.

Karena kadang-kadang, masalahnya bukan pada satu sepatu.

Masalahnya adalah pada cerita tentang siapa yang kehilangan kaki, bagaimana kaki itu hilang, dan siapa yang sedang diminta melihat kisah tersebut sebagai sesuatu yang inspiratif.


-Saya pasti pulang-
Share:

Jumat, 02 Oktober 2026

Tidak jadi belajar APi

Hari ini niatnya belajar API. Ternyata nggak jadi. Karena sebelum belajar API, saya harus bikin nama aplikasi yang memakai API tersebut. Nah. Di sinilah saya tersesat.
Karena ini aplikasi pemerintahan, namanya tidak boleh nyleneh. Harus terdengar resmi, masuk akal, punya kepanjangan yang jelas, tidak terlalu panjang, tidak terlalu pendek, dan yang paling penting aman dibawa rapat pimpinan.

Akhirnya saya googling. Cari inspirasi nama aplikasi pemerintahan. Tidak ketemu.

Saya tanya AI. AI memberikan banyak sekali pilihan. Saya baca satu-satu.

Lalu mulai muncul pertanyaan-pertanyaan yang semakin tidak berhubungan dengan API. “Jumlah suku katanya berapa?”, “Enak nggak kalau disebut dalam rapat?”, “Ada aura pemerintahannya nggak?”, “Aura pemerintahannya biru atau navy?”, “Sky blue?” “Biru aja ternyata banyak banget versinya. Idih.”

Lalu saya mulai mikir warna. Aplikasi terakhir, saya berhasil memaksa atasan menerima warna pilihan saya, pink. Kali ini kayaknya saya nggak bisa maksa lagi. Kalau saya bikin hitam aja gimana? Biar garang. Grrrrrr. Tapi takutnya malah dikira aplikasi penjualan organ. Hueeeee.

Akhirnya balik lagi ke AI. “Nama ini aman nggak dibawa rapat pimpinan?” Karena ini bagian yang paling dag-dig-dug. Saya sebenarnya nggak terlalu suka direvisi. Ya, semua orang juga nggak suka direvisi, sih. Tapi saya punya spesifikasi tambahan, Saya tidak suka aplikasi buatan saya direvisi bagian tampilannya.

Karena kalau saya sudah menentukan tampilan, biasanya di kepala saya sudah ada dunia kecilnya sendiri. Misalnya saya bikin tema Sailor Moon. Ya mohon diterima saja, Pak. Yang penting aplikasinya berjalan dengan baik, sesuai fungsi, datanya benar, API-nya nyambung, dan tidak error. Kenapa yang dipermasalahkan warna? Toh Sailor Moon juga menyelamatkan dunia.

Akhirnya hari ini saya tidak belajar API. Saya belajar bahwa membuat aplikasi pemerintahan itu ternyata dimulai dari mencari nama, menghitung suku kata, membaca aura warna, mempertimbangkan persepsi publik, memprediksi ekspresi pimpinan, dan berdamai dengan kemungkinan revisi.

API-nya? Besok saja. Kalau nama aplikasinya sudah ketemu. Kalau belum ya udahlah buat nama apliksinya API, kalo ditanya kepanjangannya ya yang sebenarnya saja. Aku Pusing Ini. API. 


-Saya pasti pulang-
Share: