Belakangan ini smartwatch-ku mulai aneh. Kemarin muncul notifikasi “Bahagia.” Hari ini muncul lagi “Puas.” Sejak kapan smartwatch ikut menilai kehidupan emosional pemiliknya? Setahuku selama ini kerjaannya cuma ngasih tahu “Sudah 7.000 langkah.” “Detak jantung sekian.” “Tidurmu kurang.” “Kalori terbakar sekian.” Sekarang tiba-tiba naik level menjadi “Kamu bahagia.” Waduh.
Yang bikin aku makin notice, di versi sebelumnya aku nggak pernah melihat notif semacam ini. Jadi ketika sekarang muncul kata “Bahagia” dan “Puas”, rasanya seperti Huawei sedang mencoba masuk ke wilayah yang selama ini bahkan aku sendiri kadang bingung menjawabnya. Sekarang tiba-tiba dia ikut memberi komentar tentang perasaanku. Wah. Berani juga. Wkwkw.
Setelah cari tahu, ternyata smartwatch ini tidak sedang membaca pikiran. Fitur tersebut menggunakan berbagai data aktivitas dan kondisi tubuh untuk memberikan gambaran mengenai emotional wellbeing. Jadi kurang lebih pesannya bukan “Saya tahu isi hatimu.”. Melainkan “Dari data yang saya punya, sepertinya hidupmu sedang cukup baik.”
Dan entah kenapa, kalimat sederhana itu membuatku berhenti sebentar. Mungkin memang iya. Mungkin akhir-akhir ini aku sedang bahagia. Bukan bahagia yang perlu diumumkan. Bukan bahagia yang harus terlihat sempurna di media sosial. Bukan juga bahagia yang berarti hidup sedang bebas masalah. Lebih seperti rasa nyaman karena akhirnya tidak terlalu sibuk melawan hidup.
Aku mulai bisa menikmati hal-hal kecil tanpa merasa semuanya harus punya makna besar. Kopi tetap kopi. Kucing tetap kucing. Pekerjaan ya dikerjakan. Kalau ada yang tidak perlu ditanggapi, ya tidak ditanggapi. Kalau ada yang bukan kewenanganku, ya bukan urusanku. Kalau ada orang yang salah paham tentang aku, ya ternyata dunia tetap berputar. Dan mungkin di situlah letak kepuasannya.
“Puas.” Bukan berarti hidup sudah sempurna. Hanya saja, mungkin aku sudah tidak menuntut hidup untuk menjadi sempurna agar aku bisa menikmatinya. Dan kalau dipikir-pikir lagi, itu cukup keren. Karena ternyata menjadi dewasa bukan selalu tentang punya lebih banyak. Kadang justru tentang lebih sedikit hal yang perlu kita pedulikan. Lebih sedikit drama. Lebih sedikit pembuktian. Lebih sedikit kebutuhan untuk menjelaskan diri. Lebih sedikit keinginan untuk memenangkan semua perdebatan. Dan lebih banyak ruang untuk hidup. Jadi, Huawei, Terima kasih atas analisisnya. Saya terima.
Untuk sekali ini, mesin dan perasaan saya ternyata sepakat. Tapi kalau besok notifikasinya berubah menjadi “Stres”, kita perlu duduk dan evaluasi ulang. Bisa jadi bukan hidup saya yang bermasalah. Bisa jadi cuma ada orang yang mulai bikin saya ingin mematikan notifikasi. Atau, paling realistis belum minum kopi.