Yunus Menyeru kepada Allah
Ninive adalah ibu kota kerajaan Asyur di negeri Maushil. Kerajaan itu telah mengembangkan kekuasaannya ke sebagian besar Asia, termasuk kota terkaya dan terbesar di bagian timur bumi pada zaman itu.
Kelapangan rezeki dan kekayaan yang luar biasa menyebabkan mereka tersesat dengan melakukan perbuatan-perbuatan jahat dan maksiat. Di samping itu, penduduk Ninive menyembah berhala dan tidak beriman kepada Allah Ta’ala.
Hampir saja mereka binasa, kalau saja Allah Ta’ala tidak menyelamatkan mereka dengan menurunkan rahmat-Nya dan mengutus Yunus a.s. kepada mereka untuk mengajak mereka beriman kepada Allah dan bertobat dari perbuatan-perbuatan dosa mereka.
Akan tetapi, mereka tetap berbuat keburukan dan tidak menghiraukan ajakannya, sehingga Yunus mengancam mereka dengan siksaan setelah lewat suatu masa.
Yunus menduga bahwa ia telah melaksanakan risalah dan menunaikan tugas yang diperintahkan Allah kepadanya. Ia pun keluar dari kota mereka dalam keadaan marah terhadap mereka karena pendurhakaan dan kekafiran mereka.
Adapun perbuatannya meninggalkan kota tanpa izin Tuhannya, karena ia beranggapan bahwa Allah tidak akan menyalahkannya atas perbuatan itu.
Ia pun terus pergi hingga tiba di tepi laut. Di situ ia berjumpa dengan sebuah perahu yang sedang berlayar, maka ia meminta kepada penumpang-penumpangnya untuk naik bersama mereka, dan mereka pun menerimanya.
Yunus di dalam Perut Ikan
Perahu berlayar menyusuri laut, tetapi Allah menurunkan angin kencang yang menyebabkan gelombang bergoncang dengan kuat dan menimbulkan ancaman tenggelam bagi perahu itu.
Para awak dan penumpang merasa cemas dan berkata: “Sesungguhnya di antara kita ada orang yang berdosa.”
Kemudian mereka bermusyawarah untuk mengadakan undian. Barang siapa yang terkena undian, ia akan dibuang ke laut agar kapal menjadi ringan.
Ketika mereka melakukan undian, jatuhlah undian itu kepada Nabi Yunus. Mereka berkata: “Ini adalah seorang laki-laki yang saleh, tidak mungkin ia seorang yang berdosa.”
Namun undian diulang kembali, dan tetap jatuh kepada Yunus. Ketika diulang untuk ketiga kalinya, hasilnya tetap sama. Maka jelaslah bahwa Allah menghendaki suatu perkara besar terhadap dirinya.
Yunus pun dilempar ke laut, lalu Allah mengutus seekor ikan besar untuk menelannya. (Q.S. Ash-Shaffat: 141)
Kesudahan Kaum Yunus
Ketika Yunus meninggalkan kaumnya, mereka yakin bahwa siksaan akan menimpa mereka karena tanda-tandanya telah tampak. Maka Allah menanamkan rasa tobat dalam hati mereka, sehingga mereka menyesali perbuatan yang telah lalu.
Mereka mengenakan pakaian kasar dan berdoa dengan khusyuk kepada Allah. Mereka juga mengembalikan barang-barang rampasan kepada pemiliknya. Maka Allah melenyapkan siksaan dari mereka dengan rahmat dan kasih sayang-Nya.
Allah Swt. berfirman:
“Mengapakah tidak ada suatu negeri pun yang beriman sehingga imannya itu bermanfaat baginya, selain kaum Yunus? Tatkala mereka beriman, Kami hilangkan dari mereka azab yang menghinakan dalam kehidupan dunia dan Kami beri kesenangan kepada mereka sampai waktu tertentu.”
(Q.S. Yunus: 98)
Maksud ayat ini adalah bahwa seandainya setiap negeri beriman, niscaya imannya akan bermanfaat bagi mereka. Namun kenyataannya tidak demikian, kecuali kaum Yunus. Ketika mereka beriman, Allah menghapus azab dari mereka dan memberikan kenikmatan hidup hingga akhir hayat mereka.
Keselamatan Yunus dan Petunjuk kepada Kaumnya
Ketika ikan besar menelan Yunus, Allah mengilhamkan kepada ikan itu agar tidak menyakitinya. Yunus tetap hidup di dalam perut ikan dan menyadari bahwa ia belum mati.
Ia pun bersujud kepada Allah seraya berkata: “Wahai Tuhanku, aku bersujud kepada-Mu di tempat yang tidak pernah didatangi manusia.”
Yunus tinggal di dalam perut ikan selama beberapa hari sambil bertasbih, beribadah, dan berdoa kepada Allah. Ia mengakui kesalahannya dan memohon ampun.
Maka Allah mengabulkan doanya dan menerima tobatnya. Allah memerintahkan ikan itu untuk memuntahkannya ke daratan yang tandus.
Yunus keluar dalam keadaan lemah dan sakit. Kemudian Allah menumbuhkan pohon yang rindang untuk melindunginya dari panas matahari hingga ia pulih kembali.
Setelah itu, Allah memerintahkannya kembali kepada kaumnya yang berjumlah lebih dari seratus ribu orang. Yunus pun menyeru mereka untuk beriman, dan mereka menjadi orang-orang yang mengikuti petunjuk Allah.
Allah memberikan kenikmatan kepada mereka selama hidup mereka karena keimanan mereka.
(Q.S. Ash-Shaffat: 143–148)
0 komentar:
Posting Komentar