Nabi Syuaib

Syuaib adalah salah satu dari empat nabi bangsa Arab, yaitu Hud, Shaleh, Syuaib, dan Muhammad Saw.

Telah diriwayatkan mengenai Syuaib bahwa ia dijuluki juru pidato para nabi karena kefasihan dan kemampuannya dalam berdakwah kepada kaumnya supaya mereka beriman kepada risalahnya.

Kaum Syuaib adalah penduduk Madyan, yaitu sebuah desa yang terletak di daerah Ma'an di pelosok Syam yang berbatasan dengan Hijaz dan dekat dari danau Luth.

Mereka adalah orang Arab yang berasal dari Madyan bin Ibrahim Al-Khalil as. Mereka kebanyakan adalah para pedagang, karena kota mereka merupakan tempat persinggahan kafilah-kafilah dagang.

Kesesatan Penduduk Madyan
Penduduk Madyan tidak beriman kepada Allah. Mereka menyembah kepada selain-Nya dan berlaku buruk dalam muamalah, mengurangi takaran dan timbangan jika mereka menjual barang yang ditimbang. Maka Allah mengutus seorang laki-laki dari kalangan mereka kepada kaum Madyan, yaitu rasul-Nya Syuaib as., yang menyeru untuk menyembah Allah saja. Allah menguatkannya dengan mukjizat-mukjizat.

Syuaib melarang mereka melakukan perbuatan-perbuatan buruk, menyuruh mereka berbuat keadilan, dan memperingatkan mereka akan akibat perbuatan aniaya dengan menegaskan bahwa harta yang mereka peroleh secara halal lebih baik bagi mereka daripada harta yang mereka kumpulkan secara batil.

Allah Swt berfirman:

“Dan kepada kaum Madyan Kami utus saudara mereka, Syuaib. Ia berkata: ‘Hai kaumku, sembahlah Allah, tidaklah kamu mempunyai Tuhan selain Dia. Telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu. Maka sempurnakanlah takaran dan timbangan, dan janganlah kamu mengurangi hak orang lain, serta janganlah kamu berbuat kerusakan di bumi setelah diperbaiki. Yang demikian itu lebih baik bagimu jika kamu orang-orang yang beriman.’”
(Q.S. Al-A’raf: 85)

Di antara kesesatan mereka adalah mereka sering duduk di jalan-jalan untuk mengawasi orang-orang yang datang kepada Syuaib, guna menghalangi mereka dari jalan Allah. Mereka juga mencela dakwahnya serta mengancam orang-orang yang beriman.

Maka Syuaib mengecam perbuatan mereka dan mengingatkan akan kenikmatan-kenikmatan yang telah diberikan kepada mereka, seperti jumlah mereka yang banyak padahal sebelumnya sedikit, serta kekayaan setelah sebelumnya miskin. Ia juga menyuruh mereka merenungkan hukuman yang telah ditimpakan kepada orang-orang sebelum mereka yang berbuat kerusakan.

Kemudian Syuaib berkata: “Sesungguhnya kalian terbagi menjadi dua golongan: orang-orang yang beriman kepada Allah dan membenarkan ajakanku, serta orang-orang yang kafir dan mendustakan ajakanku. Aku memohon kepada Allah Swt agar memutuskan perkara di antara kita dengan adil, dan Dia adalah sebaik-baik pemberi keputusan.”
(Q.S. Al-A’raf: 86–87)

Namun kaum Syuaib tetap enggan mengikuti ajakannya. Mereka bahkan mengejeknya hingga habislah kesabaran Syuaib. Kemudian para pemuka kaum itu mengancamnya dengan berkata:

“Kami akan mengusir kamu dan orang-orang yang beriman bersamamu dari negeri kami, kecuali jika kamu kembali kepada agama kami.”

Syuaib menjawab: “Apakah kami harus kembali kepada agama kalian, padahal kami tidak menyukainya? Hal itu tidak akan terjadi selamanya. Jika kami kembali, berarti kami telah berdusta terhadap Allah setelah Dia memberi petunjuk kepada kami. Tidaklah pantas kami kembali kepada agama kalian, kecuali jika Allah menghendaki. Namun hal itu mustahil, karena Tuhan kami Maha Mengetahui dan tidak meridai kami kembali kepada kebatilan. Kami bertawakal kepada Allah dan memohon keputusan yang adil dari-Nya.”
(Q.S. Al-A’raf: 88–89)

Disebutkan pula dalam Al-Qur’an ancaman kaum Madyan terhadap Syuaib dalam surah lain:

“Mereka berkata: ‘Hai Syuaib, kami tidak banyak mengerti apa yang kamu katakan, dan kami melihat kamu sebagai orang yang lemah di antara kami. Kalau bukan karena keluargamu, tentu kami telah merajammu, dan kamu bukan orang yang kuat terhadap kami.’ Syuaib berkata: ‘Hai kaumku, apakah keluargaku lebih kalian segani daripada Allah? Sungguh Tuhanku Maha Mengetahui apa yang kalian kerjakan.’”
(Q.S. Hud: 91–92)

Kebinasaan Kaum Madyan
Tatkala perintah Allah datang untuk menghancurkan kaum Madyan sebagai balasan atas kedurhakaan mereka, Allah menyelamatkan Syuaib dan orang-orang yang beriman bersamanya sebagai rahmat dari-Nya.

Kemudian Allah membinasakan orang-orang kafir dengan petir yang keras disertai gempa yang dahsyat, sehingga mereka mati bergelimpangan. Lenyaplah mereka seakan-akan tidak pernah tinggal di negeri itu.

Ketahuilah bahwa kaum Madyan dibinasakan dan dijauhkan dari rahmat Allah, sebagaimana kaum Tsamud telah dibinasakan sebelumnya.
(Q.S. Hud: 94–95)

0 komentar:

Posting Komentar