Salah satu buku beliau pernah saya ulas di SINI. Dan puisi yang paling suka adalah Kumpul Kopi.
Menurut saya, puisi-puisi beliau memiliki ciri kata sederhana, bercerita sepi, masa lalu. Puisi lain yang saya kutip dari goodread yaituKumpul KopiKetika dua atau tiga cangkir kopiberkumpul untuk merayakan sepipuisi ada di tengah-tengahnya
Joko Pinurbo, atau yang akrab disapa Jokpin, merupakan salah satu penyair kontemporer Indonesia paling terkemuka yang berhasil merevolusi gaya perpuisian tanah air dengan membawa bahasa sehari-hari ke tingkat estetika yang jenaka sekaligus getir. Lahir di Sukabumi pada 11 Mei 1962 dan menetap di Yogyakarta hingga wafatnya pada April 2024, ia dikenal sebagai arsitek kata yang mampu mengubah benda-benda remeh dan domestik—seperti celana, sarung, kamar mandi, hingga telepon genggam—menjadi metafora mendalam tentang kesepian, iman, perlawanan sosial, dan eksistensi manusia. Gaya penulisan Jokpin yang minimalis, penuh parodi, namun sarat dengan nuansa spiritualitas Katolik yang membumi, membuatnya sangat dicintai oleh berbagai kalangan, mulai dari akademisi sastra hingga generasi muda yang akrab dengan kutipan-kutipannya di media sosial. Ia adalah sosok yang membuktikan bahwa puisi tidak harus selalu tampil dengan diksi yang berat dan "langit", melainkan bisa hadir di tengah-tengah percakapan warung kopi dengan kejutan-kejutan imajinatif yang sering kali berakhir dengan senyum kecut atau renungan filosofis.
Sepanjang karier sastranya, Joko Pinurbo telah melahirkan banyak kumpulan puisi ikonik seperti Celana (1999), Kekasihku (2004), Baju Bulan (2013), hingga Perjamuan Khitah (2020), yang banyak di antaranya telah meraih penghargaan bergengsi termasuk Penghargaan Sastra Khatulistiwa dan Penghargaan dari Badan Bahasa. Salah satu kekuatannya yang paling menonjol adalah kemampuannya melakukan "otopsi" terhadap realitas sosial dengan cara yang sangat halus; ia sering kali menyisipkan kritik tajam terhadap kekuasaan atau ketidakadilan melalui humor gelap yang terasa akrab. Selain itu, keterikatannya yang kuat dengan kota Yogyakarta memberikan warna tersendiri dalam karya-karyanya, menjadikannya salah satu ikon budaya yang tak terpisahkan dari denyut nadi kreativitas kota tersebut. Meskipun ia telah tiada, warisan sastranya tetap hidup melalui bait-baitnya yang abadi, seperti kutipan terkenalnya tentang Jogja yang "terbuat dari rindu, pulang, dan angkringan," yang kini telah menjadi bagian dari memori kolektif bangsa Indonesia dalam memandang identitas dan rasa memiliki.
- Celana (1999) – Buku debut yang langsung mendobrak tradisi perpuisian Indonesia dengan metafora "celana".
- Di Bawah Kibaran Sarung (2001) – Melanjutkan eksplorasi objek-objek domestik.
- Era 2000-an (Pemantapan Gaya "Jokpinan")
- Pacarku Kecilku (2002).
- Telepon Genggam (2003) – Memotret perubahan gaya hidup manusia modern melalui teknologi.
- Kekasihku (2004).
- Kepada Cium (2007).
- Tahilalat (2012).
- Baju Bulan: Seuntai Puisi Pilihan (2013) – Berisi pilihan puisi dari buku-buku sebelumnya plus karya baru.
- Bulat Bulat (2014).
- Surat Kopi (2014) – Salah satu bukunya yang paling populer dan banyak dikutip.
- Kamus Kecil: Kumpulan Puisi (2015).
- Malam Ini Aku Tidur di Matamu (2015).
- Selamat Menunaikan Ibadah Puisi (2016) – Judul yang menjadi slogan ikonik bagi para pencinta puisi.
- Buku Latihan Tidur (2017).
- Salah Piknik (2018).
- Perjamuan Khitah (2020).
- Sepotong Hati di Angkringan (2021).
- Kabar Sukacita (2021) – Kumpulan puisi bertema rohani dan kemanusiaan.
- Epigram Kasih Sayang (2022).
- Tak Ada Asu di Antara Kita (2023) – Salah satu buku terakhir yang diterbitkan sebelum beliau wafat.
- Srimenanti (2019) – Sebuah novel/prosa liris yang memadukan narasi dengan elemen puisi.
- Ode bagi Kota yang Tak Pernah Tidur – Seleksi puisi mengenai kota dan suasana urban.
0 komentar:
Posting Komentar