Tulisan ini terinspirasi dari buku What I Talk About When I Talk About Running milik Haruki Murakami. Tulisan saya bukan Apa yang Saya Bicarakan Saat Saya Berbicara Tentang Lari melainkan Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari.
Pada dasarnya saya tidak suka berkompetisi. Jiwa kompetisi saya dari 10 sepertinya 0. Dalam hal apa? Apapun. Satu-satunya yang bisa membuat saya berkompetisi adalah diri saya sendiri melawan diri saya sendiri untuk memenangkan diri saya sendiri. Tapi apakah kemudian saya menjadi orang yang kolaboratif? Mudah diajak kerja sama? TIDAK. Saya lebih suka melakukan segala sesuatu sendiri. Maka ketika saya mulai berlari di tahun 2017, motivasi saya bukan untuk mendapatkan medali, bukan untuk menang perlombaan, bukan untuk suatu hal yang kaitannya memenangkan sesuatu, apapun itu. 100% karena saya butuh berolahraga untuk menyalurkan dorongan dalam diri saya yang ingin bergerak, tapi tidak suka keramaian.
Sejak kapan saya lari? Sejak tahun 2017. Pada tahun itu belum musim klub lari di kota saya, belum semusim sekarang yang semua orang mengenal apa itu pace, belum seperti sekarang dimana banyak sekali ajang lomba lari yang dapat medali.
Pernah ingin dapat medali? Pernah. Tapi nggak pernah saya realisasikan. Untuk ikut lomba kira-kira harus mengeluarkan biaya 200.000 rupiah per orang. Nantinya akan dapat jersey, produk sponsor, dan photo-photo kekinian. Saya tidak mau mengeluarkan uang 200.000 untuk mendapatkan jersey dengan produk sponsor yang tertempel dijersey yang saya bayar. Kalo mau, saya dong yang dibayar karena pakai jersey dengan produk sponsor itu. Wkwkw. Intinya, 200.000 rupiah kalo ditambahkan 2.400.000 bisa dapat smart watch yang saya dengan sangat suka rela beli, tapi kalo 200.000 dapat jersey yang ditempelin produk sponsor saya nggak mau. Bingung kan? Nggak usah bingung, saya rela beli ayam McD sesuai harga pada umumnya, kemudian karena jumlah pesanan saya agak banyak, saya diberi stiker yang kalo ditempel dimobil saya, lain kali kalo saya beli ayamnya McD lagi saya dapat harga lebih murah dari harga normal dengan tanda stiker McD itu. Apakah kemudian saya mau pasang stiker itu? TIDAK. Saya tidak ingin dilabeli. Kecuali, saya duluan yang ingin label itu.
Pertama kali lari apa yang dipikirkan? Waktu pertanyaan ini dilontarkan teman saya yang belum terbiasa lari, saya tersenyum. Karena itu adalah hal yang paling ribet yang pernah saya pikirkan sebelum lari. Saya takut ketemu orang. Apalagi orang yang dikenal. Wkwkw. Sebelum itu terjadi, otak saya sudah buat skenario yang menakut-nakuti diri saya sendiri. Gimana kalo begini, gimana kalo begitu. Tapi saya tetap lari. Sampai hari ini. Dan hari ini pikiran itu tidak ada lagi. Diri saya yang takut kalah dengan diri saya yang mau nggak mau butuh lari untuk mengeluarkan energi. Saya memang menghindari keramaian ketika membuat rute berlari. Tapi bukan lagi untuk menghindari orang yang dikenal.
Saya ingat pertama kali lari saya kurang pemanasan. Hasilnya? Ya karena saya nggak sakti-sakti amat akhirnya saya cidera, wkkwwk. Setelah itu saya berusaha cari-cari tahu tentang bagaimana teknik lari yang benar, pemanasan itu bagaimana, makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan sebelum lari. Dan saya pakai pelatih! Iya betul, di tahun 2018 akhirnya saya memutuskan memakai pelatih. Bukan supaya jadi atlit, tapi untuk bisa berlari dengan benar, tanpa cidera. Karena sepertinya saya sudah sangat jatuh cinta dengan olahraga ini.
Selama menekuni hobi saya ini, beberapa kali saya mengalami cidera sekalipun sudah terbiasa. Ini paling sering, entah sudah ke berapa kali saya mengalami runner's toe (disebabkan oleh trauma berulang berupa pendarahan di bawah kuku (hematoma subungual) akibat gesekan kuku dengan sepatu saat berlari), runner's knee sekali karena selama 30 hari saya lari tiap pagi tanpa istirahat sehari pun, plantar fasciitis (nyeri tumit) 1 kali tapi dua minggu nggak hilang karena half marathon. Saya juga pernah kesrempet mobil saat lari. Kalo dikejar orang gila termasuk cidera nggak? Karena ini juga pernah. Wkwk.
Apakah kaki menjadi besar setelah berlari? Sejak lahir, ibu saya menurunkan kaki yang memang sudah besar. Jadi kalo maksudnya berotot, iya. Tapi kalo kaki kamu ramping kemudian lari jadi besar, sepertinya tidak.
Jika kamu mau mulai lari, selain pemanasan, musik yang kamu sukai akan sangat membantu. Apalagi kalo tempo nya agak cepat. Tapi, disesuaikan dengan kesukaan saja. Ini tips.
Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari? Mengutip dari tulisan milik Haruki Murakami. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ranah pekerjaan, berkompetisi dengan orang lain bukanlah cara hidup yang kucari. Jika saya pernah menang lomba menulis, atau rangking 1 saat diklat penanganan insiden kebocoran akses data dikantor atau menjadi ketua tim untuk suatu proyek pekerjaan, maka itu bukan karena saya niat berkompetisi, swear! Wkwkw. Pokoknya saya jadi diri sendiri sajalah tahu-tahu menjadi ini itu.
Manusia memiliki nilai di dalam diri mereka dan cara hidup masing-masing, begitu juga aku. Perbedaan kadang menimbulkan ketidak setujuan dan kombinasi berbagai ketidaksetujuan itu bahkan dapat menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas. Hasilnya, terkadang saya harus menerima kritik yang tak beralasan. Tentu saja tidak menyenangkan jika disalahpahami atau dikritik orang lain. Hal itu merupakan pengalaman yang menyakitkan dan kadang membuat hati sangat terluka.
Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, sedikit demi sedikit aku memahami bahwa kepedihan ataupun sakit hati merupakan hal yang diperlukan dalam hidup. Fakta bahwa manusia dapat menciptakan diri mereka sendiri sebagai makhluk individu yang mandiri karena setiap orang berbeda satu sama lain, jika dipikirkan oleh otakku adalah hal itu tepat. Dan jika diotakmu tidak tepat, ya tidak apa-apa.
Ambillah contoh, aku yang terbiasa bekerja dengan kode pemrograman, menulis buku ketika dirumah, bukan di pelayanan, bukan bertemu langsung dengan manusia, maka ketika ada kesalahan pada aplikasi, aku akan lebih cepat bisa menyelesaikan masalah tersebut ketimbang orang lain yang berbeda bidang dengan aku. Jika ada detail bahasa yang kurang tepat, aku akan lebih ngeh ketimbang orang lain yang tidak hobi membaca apalagi menulis buku. Tapi kemudian aku tidak terlalu pintar membuka percakapan dengan orang asing sekalipun itu dengan anak kecil, berbeda dengan temanku yang suka bersosialisasi dengan banyak orang. Dan aku tetap menjalani hidupku yang berbeda itu dengan baik. Tidak apa kan? Fakta bahwa aku bisa dengan tenang menjalani diri sebagai aku tanpa pernah menjadi orang yang "tidak enakan" karena tidak sama dengan orang lain adalah ASET terbesarku. Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi mandiri dan menjadi diri sendiri di dunia ini.
Pada saat aku dikritik tanpa alasan atau ketika seseorang yang aku yakin memahamiku ternyata tidak, aku akan berlari lebih lama. Dengan berlari lebih lama dari biasanya, aku dapat menggunakan energi fisik untuk menghilangkan bagian yang menyakitkan itu. Berlari juga membuatku mampu mengurai kebuntuan. Aku tidak pernah berfikir bahwa sifatku akan disukai orang lain. Sebaliknya, kupikir dengan keteguhan hati tetap menjadi diri sendiri, aku akan menjadi orang yang tidak disukai dan itu dimataku justru lebih terlihat alami dari pada mendengarkan orang lain berbaik-baik padaku yang ujung-ujungnya ternyata cuma memanfaatkan minta tolong yang kemudian di lain waktu ketika manfaat sudah didapat, dia akan act like a stranger bukan mengulurkan pertemanan yang tulus. Tapi bukan berarti aku suka dibenci ya, itu hal lain.
Kadang-kadang ketika saya berlari, saya juga melihat langit yang indah, sawah yang hijau, kucing gendut yang lucu. Tapi sebenarnya itu hanya pemandangan sekelebat, aku tidak terlalu memikirkan hal-hal yang saya lihat itu. Sekalipun kadang saya photo, yang aku butuhkan hanya terus berlari dalam ruang hampaku yang sangat nyaman ditemani lagu-lagu favorit. Bagiku hal seperti itu sudah sangat menakjubkan. TIDAK PEDULI APA KATA ORANG, tidak peduli gebrakan apa yang orang lain lakukan. :)
0 komentar:
Posting Komentar