Sekelompok remaja itu menghitung ulang, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Lengkap. Tapi jika ditanya siapa orang ketujuh yang duduk di ujung dari urutan itu? Mungkin empat remaja diantaranya tidak akan ingat. Yang mereka ingat, photo tahunan mereka menjadi formasi yang sangat simetris dan estetik.
Sekelompok remaja itu menghitung ulang, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Lengkap. Tapi jika ditanya siapa orang ketujuh yang pergi ke perpustakaan paling rajin untuk mencari bahan materi diskusi kelompok pelajaran bahasa Indonesia? Mungkin empat remaja diantaranya tidak akan ingat. Yang mereka ingat, kelompok itu dapat nilai gemilang.
Sekelompok remaja itu menghitung ulang, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Lengkap. Tapi jika ditanya siapa orang ketujuh yang menyediakan rumah untuk basecamp? Mungkin empat remaja diantaranya tidak akan ingat. Yang mereka ingat, rumah itu sepi, tak pernah ada orang tua, mereka bebas membuka kulkas, menghabiskan jajanannya, tiduran dan sebagainya.
Sekelompok remaja itu menghitung ulang, satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh. Lengkap. Tapi jika ditanya siapa orang ketujuh yang pertama kali mereka cari ketika butuh pendengar? Mungkin empat remaja diantaranya tidak akan ingat. Yang mereka ingat, orang ketujuh ini selalu ada bagi siapapun yang butuh didengar.
Orang ketujuh ini bisa membuat dirinya tidak terlihat, bahkan jika dalam keramaian. Orang ketujuh ini tak pernah menampakan emosinya. Pagi, siang, malam. Berbulan-bulan, selama tiga tahun di Sekolah Menengah Atas template mukanya sama. Bahkan ketika ditanya, "Kenapa ibumu tak pernah dirumah?". Tak ada jawaban, ia hanya tersenyum kemudian dengan tekun kembali membaca buku atau menuliskan sesuatu di buku. Tak ada yang benar-benar menunggu jawabannya.
Orang ketujuh adalah orang yang keberadaannya seperti angka pelengkap dalam hitungan selalu ada agar formasi tampak utuh, tetapi jarang benar-benar dilihat. Orang yang hafal suara tawa teman-temannya, kebiasaan mereka saat sedih, cara mereka menyembunyikan marah, bahkan tahu siapa yang sedang pura-pura kuat, tetapi tak pernah benar-benar punya kesempatan untuk membiarkan orang lain menghafal dirinya dengan cara yang sama.
Tidak diduga, setelah bertahun-tahun orang ketujuh itu rindu menjadi orang ketujuh yang duduk di ujung, cukup dekat untuk mendengar semuanya, tetapi cukup jauh untuk tidak terlalu diperhatikan. Aneh memang, merindukan posisi seseorang yang nyaris terlupakan. Namun mungkin karena saat menjadi orang ketujuh, orang ketujuh tidak harus menjelaskan banyak hal. Tidak ada yang benar-benar bertanya terlalu dalam, tidak ada yang memaksa membuka pintu yang selama ini kututup rapat. Kesedihan bisa disimpan rapi seperti buku-buku di rak perpustakaan, terlihat ada, tapi tak pernah disentuh.
Kini mantan orang ketujuh mulai mengerti, ternyata melelahkan juga menjadi manusia yang dianggap. Semakin dewasa, semakin banyak hal yang menuntut untuk dipikul, semakin sedikit ruang untuk sekadar duduk diam dan menjadi tidak penting, tanpa pernah bertanya apakah punya tempat pulang ketika dunia terasa terlalu ramai.
Atau mungkin, sebenarnya rindu itu bukan rindu menjadi orang ketujuh itu, yang sebenarnya ingin dilakukan lagi adalah orang ketujuh itu juga ingin dicari, BUKAN KARENA AKU BERGUNA, tetapi karena orang ketujuh itu adalah orang ketujuh yang utuh, orang ketujuh juga ingin ditanya kabarnya lalu ditunggu jawabannya, orang ketujuh juga ingin suatu hari nanti, ketika orang menghitung satu, dua, tiga, empat, lima, enam, tujuh, ada seseorang yang berhenti sejenak lalu berkata, “eh, orang ketujuhnya mana?”.
-Saya pasti pulang-
0 komentar:
Posting Komentar