Sabtu, 09 Mei 2026

Tak Lagi Ada Pertunjukan

"apa sih mbak susahnya angkat telpon?"
"apa sih mbak susahnya balas chat sebentar, ga sampai semenit kok"
"apa harus dipanggil dulu kaya gini?"
"jadi bisa kan datanya diubah?"  

Tergagap pun tidak. Seperti orang bisu. Aku diam. Semua orang menunggu mulutku yg biasanya lantang untuk menggelar fakta. Mau apa? membela diri? perang? Ini tidak seimbang. Dihadapanku adalah symmetric warfare. Dalam situasi ini, pihak yang lebih lemah tidak akan menang jika bertempur secara konvensional melawan pihak yang lebih kuat. Maka aku mengambil taktik perang lain, aku urung menghibur kalian dengan pertunjukan si kuat vs si lemah. Tak seru kan? Sudah kalian bubar.

Dalam perjalanan kembali, ada yang ingin meledak. Entah kepalaku, entah jantungku. Perutku rasanya penuh. Namun tidak ada nafas naik turun. Semuanya terasa lebih tenang. Si pihak lemah ini sedang merasakan sensasi berbeda dari 39 tahun kehidupannya. Tak ada perlawanan pun adalah jalan keluar. Dibuang sejauhnya menurutku adalah misi penyelamatan. Semua orang menunggu aku menceritakan sesuatu selepas pergi. Tapi aku diam. Sudah kubilang, tak ada pertunjukan tuan. Semuanya mending bubar.

Aku semakin tua dan sama sekali tidak ingin menolak kenyataan itu. Jika kemudian keberanianku yang selama ini membantuku bertahan, kemudian dengan kesadaran aku kekang, lalu kalian sebut  semua itu dengan kekalahan, ya sudah, aku kalah. Selesaikan ini segera. Tak usah bertele-tele.

Aku hanya ingin pulang. Berbulan-bulan sudah aku pikirkan. Dan semakin mantap. Aku akan meminta maaf pada ayahku yang memiliki putri yang nyatanya menyerah ditengah-tengah setelah bangun tidur dan sadar bahwa dirinya bukan sailormoon yang punya kekuatan bulan. Yang menyebalkan-menyebalkan itu nanti ketemu sialnya sendiri, aku menepuk-nepuk dadaku sendiri. Dulu aku pikir, setidaknya ada 1 orang yang  menyusahkan mereka berbuat kejahatan-kejahatan itu. Tapi sudahlah, tinggiku yang hanya 150 cm tidak cukup membantu tingginya cita-citaku. Aku akan menarik diri. Berdiam, menyayangi diri sendiri yg selama ini aku abaikan karena cosplay jadi pahlawan kesiangan.

Kalian berhasil membungkam satu mulut. Tapi jarinya tidak. Menurut Andrea Hirata sekelompok manusia dalam ruangan itu sudah mengalami sakit gila nomor 30. Merasa dirinya seperti Dewa Marduk pujaan kaum sesat Babilonia, bisa menghidupkan orang mati. Tidak ada obat. Dan itu urusan kalian. Sekarang sudah sampai rumah, aku akan tidur. Nanti malam, akan aku adukan kalian dihadapan Tuhan.



-Saya pasti pulang-
Share:

0 komentar:

Posting Komentar