Ada satu novel yang menuliskan dulce et utile. Langsung googling dan mencari tahu dong. Konsep dulce et utile berasal dari pemikiran Horatius, seorang penyair Romawi kuno. Secara harfiah: dulce = menyenangkan / indah, utile = bermanfaat / berguna.
Jadi, dulce et utile berarti karya (terutama sastra atau seni) sebaiknya tidak hanya menghibur, tetapi juga memberikan manfaat atau pelajaran. Penjelasannya sederhana karya yang baik itu yang seperti apa? enak dinikmati (seru, menarik, indah) tapi juga harus ada ada isinya (mengandung pesan moral, ilmu, atau nilai kehidupan).
Contoh, cerita anak yang lucu tapi mengajarkan kejujuran. Film yang seru tapi mengandung pesan tentang persahabatan. Puisi indah yang menyampaikan makna kehidupan. Intinya karya yang baik adalah karya yang menghibur sekaligus mendidik. Kalau hanya lucu tapi tidak bermakna artinya kurang “utile”. Kalau hanya serius tapi membosankan kurang “dulce”.
Contoh satu lagi :
Malam itu tenang. Angin berhembus pelan di sekitar sumur tua yang menghubungkan dua zaman.
Kagome duduk di tepinya, menatap langit penuh bintang.
“Sha...” gumamnya pelan. Kagome memanggil Inuyasha, karena kalo manggilnya inu, artinya jadi njing! Doh.
Tiba-tiba, terdengar suara langkah ringan di belakangnya.“Kau di sini rupanya.”
Kagome menoleh. Inuyasha berdiri dengan wajah biasa tapi matanya menyimpan sesuatu yang berbeda malam itu. Bukan bintitan ya. Ini cerita romantis lho, masa iya tokoh utamanya bintitan.
“Kau kenapa sendirian?” tanya Inuyasha.
Kagome
Inuyasha mendengus pelan, lalu duduk di sampingnya. “Kalau itu masalahnya, tinggal pilih saja. Kau mau di mana.”
Kagome menatapnya dengan mata bintitnya. “Tidak sesederhana itu. Di sana ada keluargaku… tapi di sini, ada kamu.”
Hening sejenak.
Untuk pertama kalinya, Inuyasha terlihat ragu. Ia menggenggam tangan Kagome, canggung, tapi hangat. Kayaknya kagome kolesterol nggak sih, masa malam-malam, angin berhembus tapi tangannya hangat?
“Kalau kau pergi… aku tetap di sini. Tapi…” ia menunduk kemudian meneruskan kembali. “…aku tidak akan berhenti menunggumu.”
Kagome terdiam. Hatinya bergetar. Kakinya juga bergetar, karena dia pakai rok pendek kan? “Kenapa?” bisiknya.
Inuyasha menghela napas, lalu berkata pelan, “Karena kau… rumahku.”
Air mata Kagome jatuh tanpa suara (iyalah tanpa suara, kalo bersuara namanya banjir bandang). Ia menggenggam tangan Inuyasha lebih erat. “Mungkin aku tidak bisa selalu ada di satu dunia…” kata Kagome, “tapi aku akan selalu memilih untuk kembali padamu.”
Angin malam berhembus, membawa kehangatan yang tak terlihat.
Di antara dua dunia, mereka akhirnya mengerti satu hal, ini bukan tentang di mana kita berada, tapi tentang siapa yang selalu kita pilih untuk kembali.
Lalu dimana letak dulce et utile pada cerita diatas?
Dulce-nya: cerita ini dibuat menggunakan tokoh yang mungkin milenials pasti tahu dan bernostalgia
Utile-nya: pembaca tidak lagi merekam percintaan inuyasha dan kagome sebagai hal serius, tapi direplace menjadi cerita absurd yang membuat pembaca agak ingin "nabok" penulisnya.
-Saya pasti pulang-
0 komentar:
Posting Komentar