Sore ini panas, mataku mengernyit. Silau. Baru kena matahari. Tidur. Bangun. Tidur lagi. Bangun lagi. Masih bisa bangun lagi ternyata. Tenggorokanku kering. Tidur kemalaman, sahur kepagian. Ah berantakan. Rupanya begini rasanya merayakan liburan tanpa ada yang pesan : "Jangan lupa bawa laptop".
Dalam rangka merayakan liburan tanpa ada yang pesan : "Jangan lupa database dibackup", aku sudah membuat list panjang film-film apa saja yang akan aku tonton. Kali ini aku tidak baca buku. Liburan tanpa ada yang pesan ini akan aku habiskan dengan hal-hal yang jarang-jarang bisa aku lakukan. Salah satu film membuatku menarik nafas panjang. Sebuah ending yang tidak terlalu diharapkan penonton. Iya, sebuah perpisahan.
Dari jauh kudengar suara anak kampung sebelah main petasan. Lewat jendela kamarku, pikiranku melambung diudara. Kenapa setiap perpisahan menghasilkan rasa apa ya? kesedihan? bukan. Ini adalah kesepian yang dalam. Sangat gelap. Seperti kita menyalakan petasan, apakah selesai setelah habis dibakar? Tidak, sumbu petasan yang dibakar, jika habis bukan kemudian selesai, ia candu.
Lalu bagaimana cara mengucapkan perpisahan yang benar? Mari kita googling.
Mengucapkan perpisahan yang benar dan berkesan sebaiknya dilakukan dengan tulus, menunjukkan empati, menyampaikan terima kasih atas kontribusi/kenangan, serta mendoakan kesuksesan di masa depan. Hindari kesan negatif dengan fokus pada hubungan baik yang tetap terjaga.
Google tidak salah juga ya. Tapi karena referensinya adalah film yang menceritakan kesalahpahaman dua tokoh utamanya, jadi jawaban google itu tidak sesuai dengan yang aku ingin. Jadi dalam rangka merayakan liburan tanpa ada yang pesan : "Maaf kak menganggu dihari libur, bisa cek kan bla bla bla", aku pikir aku menemukan tata cara mengucapkan perpisahan yang benar, agar dua tokoh utama pada film itu tidak meninggalkan perasaan kosong dan kesepian satu sama lain.
Kalian masih ingat rasanya ketika kita ketiduran didepan TV kemudian keesokan harinya kita sudah bangun diatas kasur tanpa pernah mencoba mengingat bagaimana bisa sampai dikasur? Bagaimana kita ditata sedemikian rupa agar nyaman. Dipakaikan selimut, diucapkan doa-doa, dicium kening kita kemudian diakhiri dengan mematikan saklar lampu kamar kita. Hangat digendong ayah setiap malam.
Dan ketika ketiduran lagi didepan TV, kegiatan digendong ayah pun terulang kembali. Paginya kita tidak ingat. Tapi hidup masih terus berjalan. Sampai pagi, sampai lulus SD, sampai lulus SMP, sampai segede ini.
Mungkin, begitulah seharusnya tata cara mengucapkan selamat tinggal yang benar. Gini gini aku buatkan scriptnya, untuk tokoh utama 1 ke tokoh utama 2 atau dibalik juga boleh deh :
Hai kamu, santai dulu, tulisan ini tidak akan membahas masalah terakhir kita, tulisan ini tidak akan ada maaf-maafan. Semuanya sudah aku terima. Terimakasih sudah sempat jadi teman tertawa, teman berfilosofi tentang hidup, teman adu lirik lagu, teman main game online (hey terakhir score kita seri, apakah itu pertanda?, haha), terimakasih sudah jadi teman menertawakan reels receh, teman kirim-kiriman kopi, teman bertukar photo. Walau tak bisa diteruskan, pertemanan yang singkat ini sangat membahagiakan.
Tidurlah lebih awal, hiduplah dengan baik. Selamat Tinggal.
Pesan perpisahan mungkin seharusnya begitu? Ah sudahlah tak usah terlalu dipikir, saya akan melanjutkan merayakan liburan tanpa ada yang pesan : "Mbak, perintah pak kepala, agar bla bla bla". Aku sibuk, masih ada sederet film yang mau aku tonton sambil rebahan.
-Saya pasti pulang-






