Sabtu, 31 Oktober 2026
Kamis, 22 Oktober 2026
Hampir Tanggal Satu
Hampir tanggal 1. Kepindahanku sudah dekat. Tahu apa yang aku pikirkan? Ke mana pindahnya? Bukan. Tempat pindahnya saja belum tahu, tetapi otakku sudah sampai pada tahap menyusun protokol penyambutan diri sendiri di lingkungan baru.
Orang lain mungkin sedang berpikir:
Aku akan ditempatkan di mana, ya?
Siapa nanti teman-teman kerjaku?
Kira-kira pekerjaannya bagaimana?
Rizki:
Kalau nanti masuk, aku harus menyapa siapa dulu?
Kalimat pembukanya apa?
Apa cukup bilang salam kenal, atau perlu sedikit basa-basi?
Bagaimana caranya supaya kesan pertamaku tidak terlalu kaku?
Padahal belum tentu tanggal 1 sudah pindah. Belum tentu juga sudah ada suratnya. Si perfectionis ini bahkan belum menerima panggungnya, tetapi sudah latihan dialog di belakang layar. WKWKWK.
Sudahlah. Nanti kalau benar-benar pindah, ya cukup jadi Rizki yang seperti sekarang. Datang, menyapa, berkenalan, lalu bekerja. Jutek itu memang watermark, bukan bug aplikasi yang harus segera diperbaiki. Nggak usah terlalu diini-in, nggak usah terlalu diitu-itukan. Tidak perlu menyiapkan naskah pembukaan seperti hendak meresmikan gedung baru.
Toko Sembako
Aku tidak sering berkhayal, tapi pernah. Di khayalanku, aku membuka toko sembako. Tidak perlu pakai seragam, tidak perlu pusing memikirkan pengembangan aplikasi, apalagi menghadapi server mati di hari libur. Tidak usah ini, tidak usah itu. Namanya juga berkhayal, terserah saya, dong. Jadi, kalau saat membaca paragraf pertama kamu ingin bilang, “Banyakin bersyukur,” atau “Ya sudah, resign saja sana,” tolong jaga dulu isi hatinya yang busuk. Sssttt. Kalau tidak suka, di kanan atas browser ada tanda silang. Wkwkwk.
Tentu saja, khayalan itu kemudian ditampar oleh diri sendiri. “Heh! Memangnya kamu saja yang berusia 40 tahun? Memangnya kamu saja programmer perempuan di dunia ini? Memangnya kamu baru jadi perempuan? Kamu sudah bodoh dan berkurang kemampuannya? Lalu apa yang membuatmu ingin kabur?” Aku pun terdiam. Ya dari tadi berkhayal juga aku diam. Aku nggak berkhayal sambil jaipongan juga.
Aku bosan melihat orang terbelalak ketika tahu usiaku. Bukan karena aku berusaha menyembunyikannya. Sama sekali tidak. Hanya saja, industri tempatku berkecimpung banyak diisi Gen Z, dan rupanya usia 40 tahun masih bisa menjadi informasi yang mengejutkan bagi sebagian orang. Mereka mungkin punya bayangan tertentu tentang programmer yaitu anak muda, laki-laki, berkutat dengan kode, dan entah bagaimana harus selalu mengikuti perkembangan teknologi terbaru.
Ketika bertemu aku, bayangan itu bertabrakan dengan kenyataan. Aku bosan harus menjadi semacam anomali yang perlu dijelaskan keberadaannya.
Apakah aku satu-satunya programmer berusia 40 tahun? Tentu tidak. Lalu, masalahnya apa? Apakah aku mulai meragukan kemampuan sendiri, bosan dengan pekerjaan, atau sekadar ingin hidup tanpa perlu memikirkan server yang mati saat hari libur? Aku tidak tahu. Barangkali aku hanya sedang ingin membayangkan kehidupan yang berbeda. Dan untuk saat ini, sepertinya aku tidak harus punya jawaban atas semuanya. Wkwkwk.
Programmer Senior, Katanya.
-Saya pasti pulang-
Selasa, 20 Oktober 2026
Lagi Bosan.
Akhir-akhir ini aku bosan banget lihat medsos. Sampai Threads yang tadinya kupikir bakal jadi tempat nongkrong dalam jangka waktu lama, ternyata dalam sekejap juga bikin bosan. Scroll sebentar. Bosan. Scroll lagi. Bosan. Tutup. Buka lagi. Bosan lagi.
Akhirnya karena bingung mau ngapain, aku malah kebanyakan nulis blog. Apa saja ditulis. Hal yang kupikirkan. Hal yang baru kualami. Hal yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Kadang setelah selesai nulis aku malah mikir, “Ini oversharing nggak sih?” Terus malu sendiri.
Tapi siapa juga yang mau baca blog? Jadi sebenarnya aku oversharing sama siapa? Ke orang yang nyasar lewat Google? Dan sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku begini. Bosen.
Dulu aku pernah nulis di Multiply. Dari pertama kali dia buka, sampai akhirnya Multiply tutup permanen. Sebelum itu dan sesudahnya juga sempat mampir ke mana-mana. Friendster. Kaskus sampai akunku pernah mau dibeli orang saking sesepuhnya. Plurk. Facebook. Twitter. YM.
Twitter bahkan sekarang sudah berubah jadi X, seolah-olah dia mengalami krisis identitas di usia tertentu. Dan zaman dulu kalau kenal orang dari internet, bisa lho sampai kopi darat. Anak jaman sekarang nyebutnya meet up. Yang semula cuma tahu dari username lalu jadi tahu muka aslinya kaya apa, suaranya kaya apa, kehidupan sebenarnya kaya apa. Hai kalian, anjar, sopie pilosopiana, bang mario agus, ayip, hilda, pipet weleri, baskoro baskom, sakti, yan, yuliana arifiani, tanti, mas bayu, om heri dan sebagai-sebagainyaaaa teman yang semula cuma ketemu di MIRC room #tegalku akhirnya nyamperin ke warnet dan berlanjut chit chat sampai sekarang.
Sekarang dipikir-pikir agak ajaib juga. Saya tumbuh bersama internet, pindah dari satu platform ke platform lain, menyaksikan beberapa platform mati, beberapa berganti nama, beberapa ditinggalkan begitu saja. Dih. Nggak tahu lah. Besok juga mungkin pindah platform lagi. Wwkkw.
Kamis, 15 Oktober 2026
Dua Keping Citato
Coba bayangkan, seseorang melihat sisa camilan di meja, lalu berinisiatif menutupnya kembali dengan stapler. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang meminta. Tidak ada pula keuntungan material yang akan diperoleh dari menyelamatkan dua keping Citato milik orang lain. Bahkan kalau keripiknya melempem pun, mungkin tidak akan ada rapat evaluasi khusus untuk membahas kerugian negara akibat hilangnya kerenyahan dua keping kentang berbumbu. Namun, beliau tetap melakukannya.
Aku tidak tahu apakah beliau memang terbiasa merapikan barang yang ditinggalkan orang lain atau sekadar tidak tega melihat bungkus makanan terbuka. Aku juga tidak tahu apakah beliau sadar bahwa tindakan sekecil itu bisa membuat seseorang terharu pada pagi hari. Yang jelas, aku merasa diperhatikan melalui sesuatu yang bahkan tidak pernah kuminta. Bukan karena Citato-nya mahal, bukan pula karena dua keping keripik itu begitu berharga. Justru karena tidak ada alasan besar untuk melakukannya, tetapi seseorang tetap melakukannya.
Mungkin beginilah bentuk kebaikan yang sering luput dari perhatian kita. Tidak selalu berupa pertolongan besar, nasihat bijak, atau pengorbanan dramatis yang pantas dijadikan adegan film dengan musik latar menyedihkan. Kadang kebaikan hanya berupa bungkus makanan yang ditutup kembali, barang yang dirapikan, atau sesuatu yang dijaga agar tetap baik meskipun bukan milik sendiri. Pelakunya mungkin sudah lupa lima menit kemudian, sementara penerimanya malah sibuk memikirkan kejadian itu sambil menahan haru.
Terima kasih, atas penyelamatan aset pangan pribadi ini. Semoga kebaikan kecil yang dilakukan tanpa banyak pikir itu kembali kepada beliau dalam bentuk yang menyenangkan. Dan semoga aku juga tidak terlalu sibuk mengejar hal-hal besar sampai lupa bahwa dunia bisa terasa lebih hangat hanya karena seseorang mau peduli pada hal yang kelihatannya sepele.
Hari ini aku belajar bahwa perhatian tidak selalu perlu diumumkan, dan kebaikan tidak harus menunggu sesuatu yang besar untuk dilakukan. Kadang cukup dua keping Citato, satu stapler, dan seseorang yang punya inisiatif sederhana.
