Rabu, 14 Oktober 2026

Surat Terbuka Untuk Whatsapp

Aku sudah menghilangkan centang biru WhatsApp karena ingin hidup lebih santai. Salah satu efeknya, aku jadi tidak merasa harus buru-buru membalas pesan hanya karena sudah membacanya. Aku juga tidak lagi sibuk memikirkan siapa yang sudah melihat statusku. Mau dilihat, silakan. Tidak dilihat, ya sudah. Aku posting karena ingin posting, karena menemukan sesuatu yang lucu, karena ingin berbagi, atau karena sedang ingin saja. Tidak ada agenda tersembunyi, tidak ada target audiens, apalagi strategi pemasaran personal. Aku bukan sedang membangun citra, aku cuma sedang bersenang-senang.

Lalu entah sejak kapan WhatsApp menambahkan tombol love pada status. Sekilas, fitur yang menyenangkan, ya? Orang bisa memberikan respons tanpa harus mengetik pesan. Masalahnya, orang yang mengetuk love jadi ketahuan sudah melihat status kita. Nah, di sinilah persoalannya dimulai. Bukan karena aku keberatan orang melihat statusku, bukan pula karena aku tidak suka diberi love. Silakan saja kalau memang suka. Aku hanya merasa ada sesuatu yang berubah ketika respons itu menjadi terlihat. Tiba-tiba, aktivitas posting yang tadinya terasa bebas berubah sedikit menjadi seperti panggung yang menyediakan tombol penilaian penonton.

Padahal, aku tidak sedang meminta penilaian. Aku tidak sedang mengadakan survei kepuasan penonton. Aku juga tidak sedang menguji seberapa menarik diriku, seberapa lucu statusku, atau seberapa banyak orang yang tertarik dengan apa yang kubagikan. Aku cuma ingin posting sesuatu yang kusukai, lalu melanjutkan hidup. Selesai. Tidak perlu laporan evaluasi setelah kegiatan posting dilaksanakan. WKWKWK.

Aku baru menyadari bahwa ternyata ada perbedaan antara tidak keberatan dinilai dan tidak ingin merasa sedang dinilai. Orang lain tentu punya penilaian terhadap apa pun yang mereka lihat. Itu hak mereka dan aku tidak bisa mengatur isi kepala orang lain. Namun, aku juga tidak ingin aktivitas sehari-hariku berubah menjadi sesuatu yang kulakukan sambil memikirkan penilaian mereka. Aku tidak ingin setelah mengunggah sesuatu, pikiranku malah sibuk bertanya apakah status itu menarik, mengapa seseorang memberi love pada status yang satu tetapi tidak pada status lainnya, atau apa yang dipikirkan orang setelah melihatnya. Ya ampun, hidup sudah cukup banyak urusannya. Masa posting status juga harus disertai analisis hasil dan pembahasan?

Jadi, WhatsApp, terima kasih atas fitur love-nya. Aku tahu niatmu mungkin baik. Namun, kalau boleh memilih, aku lebih suka menikmati kebebasan berekspresi tanpa merasa sedang mengikuti ujian di hadapan penonton. Sayangnya, aku tidak bisa mengatur fitur yang kamu sediakan, sama seperti aku tidak bisa mengatur apa yang orang lain pikirkan tentangku. Yang bisa kuatur adalah bagaimana aku menyikapinya. Aku akan tetap posting kalau ingin, membagikan sesuatu yang kusukai, dan melanjutkan hidup tanpa harus menghitung siapa yang memberi respons dan siapa yang tidak.




-Saya pasti pulang-
Share:

Kekacauan Ini Sangat Konsisten

Saya punya proses kehidupan yang agak rumit antara hari Minggu dan Senin. Misi utama saya setiap hari Minggu adalah tidur siang yang lamaaaaa.

Masalahnya, tidur siang yang terlalu lama kemudian membuat saya tidak bisa tidur tepat waktu pada Minggu malam.

Malamnya saya “Ya sudah, nanti juga ngantuk.” Ternyata tidak. Jam 10 tidak ngantuk. Jam 11 tidak ngantuk. Jam 12 masih bisa mikir. Jam 1 mulai menyesal. Jam 2 mulai negosiasi dengan Tuhan.

Lalu Senin pagi datang. Saya berpikir "Minggu depan saya tidak akan tidur siang lama-lama.” Kemudian hari Minggu datang. Kemudian saya tidur siang lamaaaaa lagi. Bangun sore.

Malamnya tidak bisa tidur. Seninnya ngantuk. Dan begitu seterusnya. Sepertinya saya sedang menjalankan program yang bug-nya sudah diketahui tetapi tetap dipakai setiap minggu.


-Saya pasti pulang-
Share:

Kuat Olahraga, Nggak Kuat Berdiri Lama

Pernah nggak kalian upacara atau apel, lalu tiba-tiba mual, pandangan berkunang-kunang, dan kalau dipaksakan lama-lama pandangan gelap? Kalau tetap dipaksa, bisa sampai pingsan.

Tapi kalau sebelum dunia berubah jadi layar hitam kalian jongkok duluan, tiba-tiba sembuh. Nah, itu yang terjadi pada saya. Setiap Senin.

Yang bikin bingung, saya sebenarnya kuat olahraga. Jalan jauh kuat. Olahraga kuat. Bahkan kalau sudah olahraga, badan saya bisa diajak kerja sama. Tapi disuruh berdiri diam agak lama? Tubuh saya langsung mengajukan keberatan. Awalnya saya kira saya cuma manja sama upacara. Ternyata ada penjelasan fisiologisnya.

Kemungkinan saya mengalami presyncope, yaitu kondisi ketika tubuh sudah hampir pingsan tetapi kita belum benar-benar kehilangan kesadaran. Salah satu penyebabnya bisa berupa respons vasovagal atau tekanan darah yang turun ketika berdiri lama.

Saat berdiri diam, darah lebih mudah berkumpul di kaki. Sementara ketika kita berjalan atau olahraga, otot kaki terus berkontraksi dan membantu memompa darah kembali ke atas. Jadi olahraga dan berdiri lama itu ternyata bukan perkara yang sama. Saya bisa kuat lari, tapi bisa kalah oleh upacara. 

Dan kenapa jongkok bisa langsung membantu? Karena dengan mengubah posisi tubuh, aliran darah ke otak bisa membaik lagi. Makanya kalau sudah mulai mual, berkunang-kunang, atau pandangan mulai menyempit, jangan sok kuat. Jongkok atau duduk sebelum benar-benar pingsan.

Apakah ini bawaan lahir? Bisa saja seseorang memang punya kecenderungan tubuh seperti ini sejak lama. Tapi bukan berarti tidak ada solusi. Yang penting adalah mengenali pemicu dan tahu cara mencegahnya. Kalo saya cara agak mengurangi atau memperlambat mualnya datang adalah terus menggerakan kaki saya dalam keadaan berdiri. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Sabtu, 10 Oktober 2026

Mempersiapkan Warisan

Lucu juga. Setelah dinyatakan lulus UKOM, saya jadi sadar bahwa naik kelas jabatan ternyata bisa berarti kemungkinan pindah tempat kerja. Kalau formasinya tidak tersedia di kantor sekarang, ya saya bisa ditempatkan di mana saja. Namanya juga pegawai pemerintah. Bersedia ditempatkan di mana pun itu bagian dari konsekuensinya.

Dan entah kenapa, sejak kemungkinan pindah itu terasa semakin nyata, saya malah semakin rajin menyelesaikan PR. Menu-menu tambahan di aplikasi yang sebenarnya bisa dikerjakan tahun depan, malah saya kebut sekarang. Fitur yang tadinya masuk daftar “nanti”, tiba-tiba berubah menjadi “sekalian beresin deh.”

Saya sampai ketawa sendiri.

Harusnya kalau merasa akan pergi, logikanya kan “Ah, ngapain bikin macam-macam? Toh sebentar lagi bukan saya yang mengurus.” Tapi ternyata saya tidak bisa begitu. Semakin merasa mungkin akan pergi, semakin saya ingin meninggalkan semuanya dalam keadaan baik.

Mungkin karena saya memang seperti itu. Kalau sesuatu sudah menjadi tanggung jawab saya, rasanya ada yang mengganjal kalau saya meninggalkannya setengah jadi. Bukan karena saya tidak rela pergi. Justru mungkin karena saya mulai rela. Saya hanya ingin, kalau suatu hari benar-benar pergi, saya bisa menoleh sebentar dan berkata “Okay. Sudah saya kerjakan semampu saya. Silakan dilanjutkan.”

Mungkin saya sedang mempersiapkan diri untuk pergi, tapi cara saya mempersiapkan diri justru dengan membereskan rumah sebelum meninggalkannya. Khas perfeksionis. Sangat saya.

-Saya pasti pulang-
Share:

Jumat, 09 Oktober 2026

Prosedur Untuk Tidur

Sejak SD saya selalu tidur jam 9 malam. Kata ayah saya, tidur harus jam 9. Saya tidak tahu apakah itu nasihat kesehatan atau program pembentukan karakter, tapi ternyata berhasil. Sampai umur 40 pun sistemnya masih berjalan. Jam 9 malam ngantuk. Jam 9.15 mulai tidak fokus. Jam 9.30 secara administratif masih hidup, tapi sudah tidak bisa diajak kerja sama.

Pernah suatu kali saya tidur bertiga dengan dua teman. Mereka masih ngobrol. Saya? Tidur. Bukan karena saya tidak tertarik dengan obrolannya. Memang tubuh saya punya jam kerja sendiri.

Saya juga bukan tipe orang yang bisa tidur sambil rapat. Tidak bisa tidur sambil duduk. Tidak bisa tidur sambil ngobrol.  Tidak bisa “eh tadi ketiduran bentar. Apalagi tidur sambil nyetir. JELAS TIDAK.

Kalau saya bilang, “Aku mau tidur,” itu bukan kode. Itu artinya saya sudah menggelar kasur empuk, sudah rebahan, sudah pakai baju tidur, sudah set suhu AC, sudah menyiapkan posisi yang nyaman, dan semua persyaratan administratif untuk tidur sudah terpenuhi. 

Saya tidak pernah ketiduran. Saya memutuskan untuk tidur. Dan sekarang saya pikir, kebiasaan ini sebenarnya lumayan baik juga. Tidur teratur, bangun pagi, badan tahu kapan harus istirahat. Cuma memang ada konsekuensinya. Ketika jam tidur saya berubah sedikit saja, maka banyak hal yang kemudian acak-acakan.


-Saya pasti pulang-
Share:

Selasa, 06 Oktober 2026

COD, Sistem Pembayaran atau Celah Kejahatan?

Hari ini saya mendapat chat dari kurir J&T. “Bu, apakah punya paket COD dengan resi sekian?” Saya jawab: tidak. Memang saya tidak memesan apa pun minggu ini. 

Setelah itu saya malah berpikir, sebenarnya COD itu menarik sebagai studi kasus tentang bagaimana sebuah sistem yang dibuat untuk memudahkan transaksi bisa sekaligus menciptakan banyak titik untuk merugikan orang lain.

Bayangkan alurnya. Seseorang memasukkan nama, nomor telepon, dan alamat kita ke sebuah pesanan. Barang dikirim secara COD. Kurir datang. Kita tidak merasa memesan.

Kalau kita menolak, yang rugi bisa penjual karena biaya pengiriman dan retur. Kurir sudah membuang waktu dan tenaga. Penerima juga terganggu. Kalau penerima lengah dan membayar, pelaku mendapatkan keuntungan. Sederhana.

Dan yang lebih menarik, pelakunya bahkan tidak selalu harus menjual barang kepada kita.

Dalam kasus yang diberitakan pada 2025, seorang konten kreator di Lumajang menerima 17 paket COD yang tidak pernah ia pesan selama tujuh hari, dengan total nilai sekitar Rp21 juta. Barangnya bukan satu-dua jenis: ada TV, PlayStation, laptop, headphone, kasur, sampai akuarium. Ia menduga datanya digunakan untuk membuat pesanan palsu dan kemudian melaporkannya sebagai dugaan doxing.

Ada juga kasus konsumen yang memang sedang menunggu barang belanjaannya, tetapi kemudian menerima paket COD palsu dengan nominal yang sama. Ia baru sadar setelah membandingkan resi dan ekspedisi dengan pesanan aslinya.

Artinya, celahnya bukan cuma “orang membeli barang lalu barangnya tidak sesuai”. Celahnya bisa jauh lebih sederhana, data orang, dibuat pesanan, dikirim COD, seseorang membayar. Atau, data orang, dibuat pesanan palsu, penjual mengirim barang, penerima menolak, penjual menanggung kerugian.

Jadi pertanyaan saya kemudian, pelaku kejahatan ini untungnya apa? Kalau korbannya membayar, jelas, uang. Kalau korbannya menolak, pelaku mungkin tidak mendapatkan uang secara langsung. Tetapi ia tetap bisa mendapatkan sesuatu yang lain, mengganggu korban, menyalahgunakan data pribadi, merugikan penjual, atau sekadar membuat orang lain kerepotan.

Dan di sinilah saya mulai mempertanyakan desain sistemnya. COD memang punya manfaat. Tidak semua orang nyaman atau bisa menggunakan pembayaran digital. Tetapi ketika identitas penerima dapat digunakan untuk membuat pesanan yang tidak pernah ia buat, sementara kurir menjadi orang yang harus berhadapan langsung dengan penerima, penjual menanggung risiko retur, dan konsumen harus terus-menerus membuktikan bahwa ia tidak pernah memesan. Saya jadi bertanya, Apakah kemudahan COD masih sebanding dengan celah yang diciptakannya?

Bahkan J&T sendiri dalam syarat pengirimannya menyebut bahwa pengirim wajib memberikan identitas penerima secara benar, dan paket yang ditolak penerima dapat berujung pada proses retur. Dan ini yang menurut saya sering luput. Ketika sistem disalahgunakan, korban kejahatan bukan cuma pembeli. Penjual bisa rugi. Kurir bisa repot. Ekspedisi ikut menangani komplain. Dan penerima yang tidak pernah memesan apa-apa tiba-tiba harus menjadi “petugas keamanan” untuk transaksi yang bahkan tidak pernah ia lakukan.

Jadi saya tidak sedang mengatakan bahwa semua COD buruk. Saya cuma merasa, kalau sebuah fitur pembayaran bisa dengan relatif mudah dipakai untuk mengerjai pembeli, penjual, bahkan kurir, mungkin yang perlu dievaluasi bukan hanya perilaku penggunanya. Mungkin desain sistemnya juga.

Karena teknologi yang baik bukan cuma yang memudahkan orang melakukan transaksi. Tapi juga yang membuat orang yang tidak pernah melakukan transaksi sulit untuk dijadikan korban.



-Saya pasti pulang-
Share:

Short Hair Era

Saya cenderung menjadi orang yang itu-itu saja. Termasuk gaya rambut. Bahkan sebelum saya berhijab pun model rambut saya ya panjang, lurus, diikat dua saat berangkat sekolah SD, diikat seperti ekor kuda saat SMP s.d SMA, digerai saat dirumah. 

Banyak trend berlalu lalang, ada trend shaggy, trend ikal dipinggir saja biar kaya pacarnya pendekar harum, diikal seluruhnya, diwarnai seperti agnes monica, di catok, diluruskan maksimal sepeti papan, dan banyak lagi tapi tidak ada satupun yang saya ikuti. Alasannya? Nggak tahu. Saya juga bingung kenapa saya nggak ngikutin trend ya, padahal ngikutin juga kan gapapa. Wkkwk. 

Dua tahun kebelakang rambutku rontok. Baca reels kebanyakan bilang, kerontokan dikarenakan stress, stress berkepanjangan, stress parah, bla bla bla. Eh saya malah stress ini baca reels begitu. Sedih. Dari pakai tonic sampai minyak kemiri hasilnya nihil. Karena putus asa ya udah ke salon. Niatnya potong rambut aja. Ternyata ibuk salonnya bilang, wah ini sih rontoknya karena rambut mbak tebal dan banyak. Singkat kata potong rambut layering. Biar beban kulit kepalanya nggak terlalu berat. 

Dan ternyataaaa berhasil. Wkkwkw. Selama ini saya kira rambut saya rontok karena stres. Ternyata bukan. Rambut saya cuma terlalu tebal, terlalu banyak, dan terlalu panjang. Jadi bukan rambut saya yang bermasalah. Jumlah nya saja yang kebanyakan.

Setelah dipotong, kerontokan jauh berkurang. Rambut terasa lebih sehat, lebih ringan, dan perawatannya juga lebih gampang. Karena sehat, sekarang rambut saya sudah panjang lagi.

Dan ya saya mau potong lagi. Bukan karena kapok punya rambut panjang. Justru sebaliknya. Saya suka sekali rambut panjang saya. Bisa diikat dua. Persis Sailor Moon. Huhuhu.

Tapi ternyata saya harus adaptasi dengan short hair era. Toh rambut pendek itu praktis. Cepat kering. Tidak perlu ritual panjang hanya untuk keramas. Tidak terlalu banyak rambut yang harus dipelihara. Dan yang paling penting, lebih sedikit drama.

Tapi sebenarnya saya lebih suka rambut panjang. Jadi untuk sementara, selamat tinggal rambut Sailor Moon. Kita akan bertemu lagi nanti kapan-kapan.  Sekarang saya mau kembali menjadi perempuan yang keramas tanpa merasa sedang mencuci karpet.


-Saya pasti pulang-
Share: