Rabu, 04 November 2026

Rosa Parks

Rosa Parks adalah aktivis hak sipil asal Amerika Serikat yang terkenal karena menolak menyerahkan kursinya di bus kepada penumpang kulit putih pada 1 Desember 1955.

Kejadiannya berlangsung di Montgomery, Alabama, ketika masih berlaku aturan segregasi rasial (pemisahan berdasarkan warna kulit).

Pada masa itu, penumpang kulit putih mendapat tempat duduk di bagian depan bus, penumpang kulit hitam harus duduk di bagian belakang, jika bus penuh, penumpang kulit hitam bisa diperintahkan berdiri agar penumpang kulit putih mendapat tempat duduk.

Rosa Parks, yang saat itu berusia 42 tahun dan bekerja sebagai penjahit, menolak perintah sopir untuk memberikan kursinya kepada penumpang kulit putih. Ia kemudian ditangkap. Penangkapannya memicu Montgomery Bus Boycott, yaitu gerakan boikot bus selama 381 hari oleh masyarakat kulit hitam di Montgomery.

Gerakan tersebut dipimpin oleh Martin Luther King Jr. dan berkontribusi pada berakhirnya segregasi rasial di bus umum Montgomery.

Rosa Parks bukan sekadar perempuan lelah yang kebetulan tidak mau berdiri. Ia sudah lama menjadi aktivis NAACP dan memahami betul ketidakadilan yang sedang dilawannya. Penolakannya merupakan tindakan perlawanan yang disengaja. 

Ia kemudian dikenal sebagai salah satu tokoh penting gerakan hak sipil Amerika.

Menurutku, bagian paling menarik dari kisahnya adalah keberanian untuk tidak mematuhi aturan yang memang tidak adil. Dan itu berbeda dengan sekadar tidak suka diatur. OKE, JADI NGGAK USAH DI SAMA SAMAIN SAMA KAMU YANG SOK IYE, SOK BISA SEGALA-GALANYA SENDIRI, TAPI KALO DITANYA MAU MAKAN APA? JAWABANNYA : TERSERAH. 


-Saya pasti pulang-
Share:

Selasa, 03 November 2026

George Orwell - Animal Farm

Dalam novel alegoris klasik George Orwell, Animal Farm, kita dikenalkan dengan Boxer sang kuda. Ia digambarkan sosok setia dan tangguh. Jawaban atas segala kegagalannya adalah "AKU AKAN BERUSAHA LEBIH KERAS". Hingga akhirnya ia kehabisan tenaga dan tumbang kemudian dikirim ke bagian satwa buangan di pejagalan. Nasibnya tragis. MESKI DIDASARI NIAT PALING BAIK, USAHANYA YG TERUS DITAMBAH SESUNGGUHNYA MEMPERBURUK NASIBNYA SENDIRI DI PETERNAKAN ITU.

Ini rangkuman yang cukup kuat. Dan menurutku, bagian paling penting justru kalimat terakhir usaha yang terus ditambah tidak selalu memperbaiki keadaan. Dalam situasi tertentu, justru memperburuk nasib kita sendiri. Boxer adalah gambaran tragis seseorang yang, selalu merasa dirinya harus berbuat lebih banyak. Menganggap kegagalan sebagai tanda bahwa usahanya belum cukup. Tidak mempertanyakan apakah sistem tempat ia bekerja memang adil. Terus memberikan tenaga, bahkan ketika dirinya sudah dieksploitasi. Ada ironi besar di sana. Kesetiaan dan kerja keras yang seharusnya menjadi kekuatan justru dimanfaatkan untuk menghancurkannya.

Mungkin ada satu pelajaran yang bisa kita bawa dari Boxer. Tidak setiap masalah harus dijawab dengan menambah usaha. Kadang kita perlu berhenti, melihat situasi, mempertanyakan sistemnya, dan menyadari bahwa kita tidak selalu menjadi pihak yang harus memperbaiki semuanya. Dan ini berbeda dengan menyerah.

Boxer tidak kekurangan kemauan. Ia kekurangan kesempatan untuk mempertanyakan apakah pengorbanannya memang layak. Menurutku, ini salah satu bagian paling menyedihkan dari Animal Farm.

-Saya pasti pulang-
Share:

Senin, 02 November 2026

Andai Cuti

Tadi siang saya bercakap-cakap dengan seorang teman tentang cuti. Dia bilang, mau cuti juga buat apa? Saya sampai tercengang. Rupanya tidak semua orang menganggap cuti sebagai kebutuhan yang harus dijadwalkan secara rutin. Saya sendiri cukup teratur mengambil cuti setiap bulan. Pada hari itu, telepon genggam bahkan saya matikan. Untuk menghindari pekerjaan? Itu salah satunya. Alasan lainnya lebih sederhana, saya tidak ingin menghabiskan waktu cuti dengan scrolling HP, melihat kehidupan orang lain, atau sekadar berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi berikutnya tanpa tahu sedang mencari apa. Teman-teman kantor sudah cukup memahami kebiasaan ini. Mereka tahu kapan saya sedang tidak ingin diganggu dan, untungnya, mereka menghormatinya.

Kemudian, entah kenapa, saya iseng bertanya kepada ChatGPT. Kebetulan saya memang sering bertukar pandangan hidup dengannya, meskipun secara teknis dia tidak punya kehidupan yang bisa dijadikan bahan perbandingan. Saya bertanya, kalau saya diberi cuti tujuh hari penuh berturut-turut, kira-kira apa yang akan saya lakukan? Jawabannya membuat saya ngakak. Dia menebak dengan akurasi yang menurut saya sudah masuk kategori mencurigakan. Katanya, hari pertama saya akan menghilang dari peradaban dengan ditandai bangun sampai siang, membersihkan rumah, mengganti sprei, merapikan desktop, lalu menikmati kasur. Hari kedua merawat diri, ngopi, mungkin membeli bunga. Hari ketiga memasak sesuatu yang agak merepotkan. Hari keempat naik kereta dan pergi ke kota lain. Hari kelima bermain dengan kucing. Hari keenam berolahraga, makan enak, dan tidur siang. Hari ketujuh merapikan rumah, menyiapkan pakaian, lalu kembali menjadi ASN. Saya tertawa karena semuanya terdengar sangat mungkin terjadi. Bahkan dia menambahkan bahwa saya mungkin tidak akan terlalu sibuk membuat status tentang betapa menyenangkannya cuti, karena sedang sibuk menikmati cuti itu sendiri.

Masalahnya, saya memang manusia yang cukup terorganisasi. Di kantor ada notepad berisi daftar pekerjaan. Di rumah ada catatan di HP tentang barang yang harus dibeli dan makanan yang akan dimasak hari itu. Kalau bepergian, itinerary saya konon lebih terencana daripada perjalanan bersama pemandu wisata. Saya mulai curiga, jangan-jangan saya bukan sedang menjalani kehidupan, melainkan sedang mengelola sebuah perusahaan kecil bernama Diri Sendiri. Ada jadwal operasional, daftar kebutuhan, target harian, dan evaluasi berkala. Tinggal menunggu audit internal. 

Mungkin itu salah satu bentuk kemewahan yang sedang saya pelajari memiliki waktu sendiri tanpa merasa harus mengisinya dengan sesuatu yang luar biasa. Tidak perlu pergi jauh, tidak perlu terlihat menyenangkan, tidak perlu ada yang tahu. Cukup hidup dengan baik, dengan sopan, dan sesekali membiarkan agenda berantakan. Meskipun, jujur saja, kemungkinan besar saya tetap akan membuat checklist untuk semua itu. Tapi cuti berikutnya akan aku coba membuat 1 checklist saja, 
[ ] Menikmati hidup.
Tidak ada subtask. Tidak ada deadline. Tidak ada evaluasi kinerja.

-Saya pasti pulang-
Share:

200 x 200

Dalam rangka mendukung kegiatan tidur yang belakangan resmi menjadi salah satu pilar utama support system kehidupan, saya memutuskan membeli kasur ukuran 200x200. Sebuah keputusan finansial yang cukup berani, mengingat luas kamar tidak mengalami penambahan sedikit pun. 

Kasur datang dalam keadaan divakum, digulung rapi seperti lontong raksasa. Begitu plastiknya dibuka, kasur mengembang dengan ambisi yang tidak masuk akal sampai-sampai saya ikut terpental secara mental dan kamar mendadak berubah fungsi menjadi bangunan khusus kasur. Tidak ada lagi ruang untuk manuver, estetika, atau cita-cita interior minimalis. Isinya hanya kasur. Satu-satunya furnitur yang masih punya masa depan adalah kasur itu sendiri. 

Setelah satu bulan pemakaian, ternyata investasi ini cukup masuk akal. Sakit punggung hilang, tidur makin nyenyak, dan sesekali bangun kesiangan karena tubuh tampaknya sudah menemukan alasan kuat untuk tidak berpartisipasi dalam kehidupan duniawi. Untuk pertama kalinya saya merasa uang yang dikeluarkan benar-benar memberikan manfaat nyata. 

Tidak perlu validasi, tidak perlu tepuk tangan, tidak perlu ada yang tahu. Saya hanya butuh kasur besar, tidur berkualitas, dan punggung yang tidak lagi mengajukan surat pengunduran diri setiap pagi. Kalau selama ini orang berinvestasi pada saham, properti, atau masa depan, saya memilih berinvestasi pada kegiatan horizontal. Ternyata cukup menjanjikan. Wkwkkw. 

-Saya pasti pulang-
Share:

Sabtu, 31 Oktober 2026

Sinoman

Hari ini aku sinoman di tempat kakakku. Ceritanya, ponakanku menikah. Bagi yang belum familiar dengan istilah sinoman, ini adalah tradisi masyarakat Jawa ketika keluarga, tetangga, dan teman-teman saling membantu saat seseorang punya gawe atau hajatan. Ada yang memasak, menyiapkan hidangan, mengatur tamu, mencuci peralatan makan, sampai memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Semacam kerja bakti, tetapi dengan pakaian yang lebih rapi dan kemungkinan besar pulang dengan kaki pegal.

Aku mendapat tugas mempersilakan tamu makan. Awalnya kupikir pekerjaan ini cukup sederhana. Berdiri, menyambut tamu, mempersilakan mereka mengambil makanan, lalu tersenyum secukupnya. Ternyata aku salah besar. Tugas ini rupanya lebih mirip petugas pengendalian stok barang yang harus memiliki kemampuan membaca situasi secara cepat. Nasi hampir habis? Segera menuju bagian belakang untuk meminta tambahan. Piring mulai menipis sementara antrean tamu masih panjang? Segera hubungi bagian piring dan sendok agar peralatan yang masih basah segera dikeringkan. Jangan sampai tamu sudah siap makan sementara piringnya masih sibuk dijemur. Semua harus bergerak dalam koordinasi yang cukup baik. Aku bahkan merasa seperti sedang mengelola sebuah sistem logistik berskala kecil, hanya saja kali ini tidak ada komputer, database, atau aplikasi yang bisa membantuku memantau persediaan. Semuanya mengandalkan mata, komunikasi, dan kecepatan kaki.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul sepuluh pagi sampai dua siang itu ternyata berhasil membuat jam tanganku bergetar. Notifikasi sepuluh ribu langkah tercapai muncul di tengah kesibukan. Wkwkwk. Rupanya, ada cara lain mencapai target olahraga selain treadmill, lari, atau jalan pagi. Cukup menjadi petugas pelayanan tamu dalam sebuah hajatan keluarga. Bedanya, kali ini tidak ada playlist olahraga dan tidak ada target pace. Yang ada adalah target memastikan nasi tidak habis, piring tersedia, dan tamu tidak menunggu terlalu lama. Capek? Tentu saja. Tetapi anehnya, aku juga menikmatinya.

Di sela-sela kesibukan itu, aku bertemu beberapa teman lama yang ternyata merupakan teman kakakku. Kami berbincang sebentar, dan tertawa. Aku juga bertemu saudara-saudara yang sudah bertahun-tahun tidak kujumpai. Ada yang wajahnya masih mudah dikenali, ada pula yang perlu beberapa detik untuk menghubungkan wajah dengan ingatan. Menyenangkan rasanya menyadari bahwa di luar rutinitas rumah dan pekerjaan, ternyata ada begitu banyak orang yang masih terhubung dengan kehidupan kita. Kadang-kadang hubungan itu hanya menunggu sebuah hajatan untuk kembali mempertemukan kami.

Aku jadi berpikir bahwa sinoman bukan hanya tentang membantu seseorang menyelenggarakan acara. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pekerjaan membagikan makanan atau memastikan peralatan makan tersedia. Ada kebersamaan yang terbentuk dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang mungkin tidak terlalu terlihat, tetapi semuanya penting. Tidak ada satu orang yang bisa mengurus semuanya sendiri. Seseorang menyiapkan makanan, seseorang mencuci piring, seseorang mengatur tamu, dan seseorang memastikan nasi selalu tersedia. Masing-masing punya peran, dan ketika semuanya bekerja bersama, sebuah hajatan bisa berjalan dengan baik. Barangkali memang seperti itulah kehidupan bermasyarakat seharusnya bekerja, tidak selalu harus menjadi orang yang paling menonjol, kadang cukup hadir, mengambil bagian, dan memastikan sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.

Hari ini aku pulang dengan kaki lelah, badan sedikit pegal, dan pengalaman yang menyenangkan. Aku datang dengan pikiran bahwa tugasku hanya mempersilakan tamu makan, tetapi ternyata pulang membawa cerita tentang koordinasi stok nasi, piring basah, sepuluh ribu langkah, teman-teman baru, dan saudara-saudara lama yang kembali kutemui. Sebuah pengingat kecil bahwa kehidupan tidak selalu harus dicari keseruannya jauh-jauh. Kadang-kadang, keseruan itu ada di sebuah hajatan keluarga, di antara tumpukan piring, nasi yang harus segera diisi ulang, dan orang-orang yang sudah lama tidak kita jumpai.

Besok mungkin aku kembali ke rutinitas seperti biasa. Tetapi hari ini, aku senang sudah menjadi bagian kecil dari sebuah kebahagiaan keluarga. Dan untuk urusan sepuluh ribu langkah, sepertinya aku sudah menemukan metode alternatif yang cukup efektif. Tinggal menunggu undangan sinoman berikutnya. Wkwkwk.

-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 22 Oktober 2026

Hampir Tanggal Satu

Hampir tanggal 1. Kepindahanku sudah dekat. Tahu apa yang aku pikirkan? Ke mana pindahnya? Bukan. Tempat pindahnya saja belum tahu, tetapi otakku sudah sampai pada tahap menyusun protokol penyambutan diri sendiri di lingkungan baru.

Orang lain mungkin sedang berpikir:

  • Aku akan ditempatkan di mana, ya?

  • Siapa nanti teman-teman kerjaku?

  • Kira-kira pekerjaannya bagaimana?


Rizki:

  • Kalau nanti masuk, aku harus menyapa siapa dulu?

  • Kalimat pembukanya apa?

  • Apa cukup bilang salam kenal, atau perlu sedikit basa-basi?

  • Bagaimana caranya supaya kesan pertamaku tidak terlalu kaku? 


Padahal belum tentu tanggal 1 sudah pindah. Belum tentu juga sudah ada suratnya. Si perfectionis ini bahkan belum menerima panggungnya, tetapi sudah latihan dialog di belakang layar. WKWKWK.

Sudahlah. Nanti kalau benar-benar pindah, ya cukup jadi Rizki yang seperti sekarang. Datang, menyapa, berkenalan, lalu bekerja. Jutek itu memang watermark, bukan bug aplikasi yang harus segera diperbaiki. Nggak usah terlalu diini-in, nggak usah terlalu diitu-itukan. Tidak perlu menyiapkan naskah pembukaan seperti hendak meresmikan gedung baru.


-Saya pasti pulang-
Share:

Toko Sembako

Aku tidak sering berkhayal, tapi pernah. Di khayalanku, aku membuka toko sembako. Tidak perlu pakai seragam, tidak perlu pusing memikirkan pengembangan aplikasi, apalagi menghadapi server mati di hari libur. Tidak usah ini, tidak usah itu. Namanya juga berkhayal, terserah saya, dong. Jadi, kalau saat membaca paragraf pertama kamu ingin bilang, “Banyakin bersyukur,” atau “Ya sudah, resign saja sana,” tolong jaga dulu isi hatinya yang busuk. Sssttt. Kalau tidak suka, di kanan atas browser ada tanda silang. Wkwkwk.

Tentu saja, khayalan itu kemudian ditampar oleh diri sendiri. “Heh! Memangnya kamu saja yang berusia 40 tahun? Memangnya kamu saja programmer perempuan di dunia ini? Memangnya kamu baru jadi perempuan? Kamu sudah bodoh dan berkurang kemampuannya? Lalu apa yang membuatmu ingin kabur?” Aku pun terdiam. Ya dari tadi berkhayal juga aku diam. Aku nggak berkhayal sambil jaipongan juga.

Aku bosan melihat orang terbelalak ketika tahu usiaku. Bukan karena aku berusaha menyembunyikannya. Sama sekali tidak. Hanya saja, industri tempatku berkecimpung banyak diisi Gen Z, dan rupanya usia 40 tahun masih bisa menjadi informasi yang mengejutkan bagi sebagian orang. Mereka mungkin punya bayangan tertentu tentang programmer yaitu anak muda, laki-laki, berkutat dengan kode, dan entah bagaimana harus selalu mengikuti perkembangan teknologi terbaru.

Ketika bertemu aku, bayangan itu bertabrakan dengan kenyataan. Aku bosan harus menjadi semacam anomali yang perlu dijelaskan keberadaannya.

Apakah aku satu-satunya programmer berusia 40 tahun? Tentu tidak. Lalu, masalahnya apa? Apakah aku mulai meragukan kemampuan sendiri, bosan dengan pekerjaan, atau sekadar ingin hidup tanpa perlu memikirkan server yang mati saat hari libur? Aku tidak tahu. Barangkali aku hanya sedang ingin membayangkan kehidupan yang berbeda. Dan untuk saat ini, sepertinya aku tidak harus punya jawaban atas semuanya. Wkwkwk.


-Saya pasti pulang-
Share: