Senin, 20 April 2026

Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari

Tulisan ini terinspirasi dari buku What I Talk About When I Talk About Running milik Haruki Murakami. Tulisan saya bukan Apa yang Saya Bicarakan Saat Saya Berbicara Tentang Lari melainkan Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari.

Pada dasarnya saya tidak suka berkompetisi. Jiwa kompetisi saya dari 10 sepertinya 0. Dalam hal apa? Apapun. Satu-satunya yang bisa membuat saya berkompetisi adalah diri saya sendiri melawan diri saya sendiri untuk memenangkan diri saya sendiri. Tapi apakah kemudian saya menjadi orang yang kolaboratif? Mudah diajak kerja sama? TIDAK. Saya lebih suka melakukan segala sesuatu sendiri. Maka ketika saya mulai berlari di tahun 2017, motivasi saya bukan untuk mendapatkan medali, bukan untuk menang perlombaan, bukan untuk suatu hal yang kaitannya memenangkan sesuatu, apapun itu. 100% karena saya butuh berolahraga untuk menyalurkan dorongan dalam diri saya yang ingin bergerak, tapi tidak suka keramaian. 

Sejak kapan saya lari? Sejak tahun 2017. Pada tahun itu belum musim klub lari di kota saya, belum semusim sekarang yang semua orang mengenal apa itu pace, belum seperti sekarang dimana banyak sekali ajang lomba lari yang dapat medali. 

Pernah ingin dapat medali? Pernah. Tapi nggak pernah saya realisasikan. Untuk ikut lomba kira-kira harus mengeluarkan biaya 200.000 rupiah per orang. Nantinya akan dapat jersey, produk sponsor, dan photo-photo kekinian. Saya tidak mau mengeluarkan uang 200.000 untuk mendapatkan jersey dengan produk sponsor yang tertempel dijersey yang saya bayar. Kalo mau, saya dong yang dibayar karena pakai jersey dengan produk sponsor itu. Wkwkw. Intinya, 200.000 rupiah kalo ditambahkan 2.400.000 bisa dapat smart watch yang saya dengan sangat suka rela beli, tapi kalo 200.000 dapat jersey yang ditempelin produk sponsor saya nggak mau. Bingung kan? Nggak usah bingung, saya rela beli ayam McD sesuai harga pada umumnya, kemudian karena jumlah pesanan saya agak banyak, saya diberi stiker yang kalo ditempel dimobil saya, lain kali kalo saya beli ayamnya McD lagi saya dapat harga lebih murah dari harga normal dengan tanda stiker McD itu. Apakah kemudian saya mau pasang stiker itu? TIDAK. Saya tidak ingin dilabeli. Kecuali, saya duluan yang ingin label itu.

Pertama kali lari apa yang dipikirkan? Waktu pertanyaan ini dilontarkan teman saya yang belum terbiasa lari, saya tersenyum. Karena itu adalah hal yang paling ribet yang pernah saya pikirkan sebelum lari. Saya takut ketemu orang. Apalagi orang yang dikenal. Wkwkw. Sebelum itu terjadi, otak saya sudah buat skenario yang menakut-nakuti diri saya sendiri. Gimana kalo begini, gimana kalo begitu. Tapi saya tetap lari. Sampai hari ini. Dan hari ini pikiran itu tidak ada lagi. Diri saya yang takut kalah dengan diri saya yang mau nggak mau butuh lari untuk mengeluarkan energi. Saya memang menghindari keramaian ketika membuat rute berlari. Tapi bukan lagi untuk menghindari orang yang dikenal. 

Saya ingat pertama kali lari saya kurang pemanasan. Hasilnya? Ya karena saya nggak sakti-sakti amat akhirnya saya cidera, wkkwwk. Setelah itu saya berusaha cari-cari tahu tentang bagaimana teknik lari yang benar, pemanasan itu bagaimana, makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan sebelum lari. Dan saya pakai pelatih! Iya betul, di tahun 2018 akhirnya saya memutuskan memakai pelatih. Bukan supaya jadi atlit, tapi untuk bisa berlari dengan benar, tanpa cidera. Karena sepertinya saya sudah sangat jatuh cinta dengan olahraga ini. 

Selama menekuni hobi saya ini, beberapa kali saya mengalami cidera sekalipun sudah terbiasa. Ini paling sering, entah sudah ke berapa kali saya mengalami runner's toe (disebabkan oleh trauma berulang berupa pendarahan di bawah kuku (hematoma subungual) akibat gesekan kuku dengan sepatu saat berlari), runner's knee sekali karena selama 30 hari saya lari tiap pagi tanpa istirahat sehari pun, plantar fasciitis (nyeri tumit) 1 kali tapi dua minggu nggak hilang karena half marathon. Saya juga pernah kesrempet mobil saat lari. Kalo dikejar orang gila termasuk cidera nggak? Karena ini juga pernah. Wkwk.

Apakah kaki menjadi besar setelah berlari? Sejak lahir, ibu saya menurunkan kaki yang memang sudah besar. Jadi kalo maksudnya berotot, iya. Tapi kalo kaki kamu ramping kemudian lari jadi besar, sepertinya tidak. 

Jika kamu mau mulai lari, selain pemanasan, musik yang kamu sukai akan sangat membantu. Apalagi kalo tempo nya agak cepat. Tapi, disesuaikan dengan kesukaan saja. Ini tips. 

Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari? Mengutip dari tulisan milik Haruki Murakami. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ranah pekerjaan, berkompetisi dengan orang lain bukanlah cara hidup yang kucari. Jika saya pernah menang lomba menulis, atau rangking 1 saat diklat penanganan insiden kebocoran akses data dikantor atau menjadi ketua tim untuk suatu proyek pekerjaan, maka itu bukan karena saya niat berkompetisi, swear! Wkwkw. Pokoknya saya jadi diri sendiri sajalah tahu-tahu menjadi ini itu. 

Manusia memiliki nilai di dalam diri mereka dan cara hidup masing-masing, begitu juga aku. Perbedaan kadang menimbulkan ketidak setujuan dan kombinasi berbagai ketidaksetujuan itu bahkan dapat menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas. Hasilnya, terkadang saya harus menerima kritik yang tak beralasan. Tentu saja tidak menyenangkan jika disalahpahami atau dikritik orang lain. Hal itu merupakan pengalaman yang menyakitkan dan kadang membuat hati sangat terluka.

Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, sedikit demi sedikit aku memahami bahwa kepedihan ataupun sakit hati merupakan hal yang diperlukan dalam hidup. Fakta bahwa manusia dapat menciptakan diri mereka sendiri sebagai makhluk individu yang mandiri karena setiap orang berbeda satu sama lain, jika dipikirkan oleh otakku adalah hal itu tepat. Dan jika diotakmu tidak tepat, ya tidak apa-apa. 

Ambillah contoh, aku yang terbiasa bekerja dengan kode pemrograman, menulis buku ketika dirumah, bukan di pelayanan, bukan bertemu langsung dengan manusia, maka ketika ada kesalahan pada aplikasi, aku akan lebih cepat bisa menyelesaikan masalah tersebut ketimbang orang lain yang berbeda bidang dengan aku. Jika ada detail bahasa yang kurang tepat, aku akan lebih ngeh ketimbang orang lain yang tidak hobi membaca apalagi menulis buku. Tapi kemudian aku tidak terlalu pintar membuka percakapan dengan orang asing sekalipun itu dengan anak kecil, berbeda dengan temanku yang suka bersosialisasi dengan banyak orang. Dan aku tetap menjalani hidupku yang berbeda itu dengan baik. Tidak apa kan? Fakta bahwa aku bisa dengan tenang menjalani diri sebagai aku tanpa pernah menjadi orang yang "tidak enakan" karena tidak sama dengan orang lain adalah ASET terbesarku. Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi mandiri dan menjadi diri sendiri di dunia ini.

Pada saat aku dikritik tanpa alasan atau ketika seseorang yang aku yakin memahamiku ternyata tidak, aku akan berlari lebih lama. Dengan berlari lebih lama dari biasanya, aku dapat menggunakan energi fisik untuk menghilangkan bagian yang menyakitkan itu. Berlari juga membuatku mampu mengurai kebuntuan. Aku tidak pernah berfikir bahwa sifatku akan disukai orang lain. Sebaliknya, kupikir dengan keteguhan hati tetap menjadi diri sendiri, aku akan menjadi orang yang tidak disukai dan itu dimataku justru lebih terlihat alami dari pada mendengarkan orang lain berbaik-baik padaku yang ujung-ujungnya ternyata cuma memanfaatkan minta tolong yang kemudian di lain waktu ketika manfaat sudah didapat, dia akan act like a stranger bukan mengulurkan pertemanan yang tulus. Tapi bukan berarti aku suka dibenci ya, itu hal lain. 

Kadang-kadang ketika saya berlari, saya juga melihat langit yang indah, sawah yang hijau, kucing gendut yang lucu. Tapi sebenarnya itu hanya pemandangan sekelebat, aku tidak terlalu memikirkan hal-hal yang saya lihat itu. Sekalipun kadang saya photo, yang aku butuhkan hanya terus berlari dalam ruang hampaku yang sangat nyaman ditemani lagu-lagu favorit. Bagiku hal seperti itu sudah sangat menakjubkan. TIDAK PEDULI APA KATA ORANG, tidak peduli gebrakan apa yang orang lain lakukan. :)

-Saya pasti pulang-
Share:

Minggu, 19 April 2026

Apakah Aneh Jika Saya Tidak Suka Bola?

Apakah Aneh Jika Saya Tidak Suka Bola? Tidak aneh sama sekali. Minat pada olahraga adalah preferensi pribadi yang dibentuk oleh didikan, budaya, kepribadian, dan bagaimana kamu menghabiskan waktu luang. Jutaan orang menjalani kehidupan yang baik-baik saja, tetap penuh dan kaya secara sosial tanpa peduli dengan sepak bola.

Mengapa itu normal? 

Di banyak negara dan subkultur, sepak bola bukanlah hal utama. Ada aktivitas lain (musik, teknologi, seni, rekreasi luar ruangan) menempati ruang sosial dan emosional yang sama. Kemudian orang yang tumbuh di keluarga atau kelompok pertemanan yang tidak mengikuti sepak bola jarang mengembangkan keterikatan padanya. Dalam hal ini, hampir semua teman saya suka bola, begadang demi nonton bola, dan ketika pagi hari pembicaraannya adalah tentang bola yang sudah ditonton semalam dirumah masing-masing.

Beberapa orang lebih menyukai hobi yang menyendiri atau membutuhkan konsentrasi tinggi, yang lain lebih menyukai kegiatan fisik atau komunal tidak semua orang menganggap olahraga tim yang kompetitif menarik. Kegemaran sepak bola membutuhkan waktu dan investasi emosional jika kegiatan lain memberikan nilai lebih, sikap apatis adalah hal yang rasional.

Kenapa tiba-tiba saya kepikiran pertanyaan seperti pada judul? Sebenarnya tidak tiba-tiba, tapi kemarin-kemarin di tempat kerja, karena teman-teman membicarakan bola, saya jadi ingat masa SMP dan SMA saya dimana teman-teman saya heboh tentang score bola yang mereka tonton, kehebatan para pemain bola yang mereka sukai, tapi saya hanya diam, plonga plongo. Apakah saya pernah nonton bola? Pernah. Karena saya penasaran saya nonton bola dan nggak betah. Kemudian saya juga pernah nonton bola karena paksaan tiket gratisan sebagai pegawai umbies. Saya malah lebih excited sama langit sore yang ternyata bisa seindah itu terlihat dari bangku stadion. 

Apakah ada juga yang tidak suka sepak bola? Tidak menyukai sepak bola bukan berarti kekurangan. Itu hanya salah satu aspek budaya. Tidak usah takut dikucilkan. Wkwk.

Saya lebih suka proyek pemrograman akhir pekan dan olahraga individu. Berlari, berenang yang saya lakukan sendiri. Bukan nonton pertandingan dan tidak ikut pertandingan juga. 

Tapi sepertinya seseorang yang tumbuh di lingkungan di mana olahraga atau seni lain mendominasi kehidupan komunitas, seseorang yang mengikuti olahraga secara santai untuk acara-acara besar (Piala Dunia, Super Bowl) mungkin agak terheran dengan saya nggak suka sepak bola. Intinya, sikap acuh tak acuh terhadap sepak bola adalah hal biasa dan dapat diterima secara sosial. Hal itu mencerminkan selera pribadi, bukan kekurangan karakter. 

-Saya pasti pulang-
Share:

Aplikasi Buatan Google

Pernah penasaran ga sih, aplikasi apa saja yang dibuat google selain email google, mesin pencari dan google chrome? Ternyata sangat banyak! Google menyediakan berbagai aplikasi populer yang terbagi dalam kategori produktivitas (Workspace), pencarian, komunikasi, dan hiburan. Beberapa yang utama meliputi Gmail, Google Maps, Chrome, YouTube, Google Drive, Meet, Photos, Keep, Kalender, Dokumen, Spreadsheet, dan Slide. Aplikasi ini terintegrasi penuh untuk memudahkan pekerjaan dan aktivitas harian.

Berikut adalah daftar aplikasi dan layanan Google terpopuler:
1. Produktivitas & Workspace (Google Workspace)Gmail: Layanan email dengan keamanan tinggi.
  • Google Drive: Penyimpanan cloud untuk file, dokumen, foto, dan video.
  • Google Dokumen (Docs) : Aplikasi pengolah kata online.
  • Google Spreadsheet (Sheets): Aplikasi pengolah angka.
  • Google Slide: Aplikasi untuk membuat presentasi.
  • Google Formulir (Forms): Aplikasi untuk membuat kuesioner atau survei.
  • Google Kalender (Calendar): Manajemen jadwal dan waktu.
  • Google Keep: Aplikasi catatan dan pengingat.
  • Google Meet: Konferensi video untuk rapat online.

2. Pencarian & NavigasiGoogle Search: Mesin pencari utama.
  • Google Maps: Layanan peta, navigasi, dan lokasi.
  • Google Earth: Visualisasi bola dunia 3D.
  • Google Translate: Penerjemah bahasa.
  • Google Trends: Alat untuk melihat tren pencarian.

3. Komunikasi & BrowserGoogle Chrome: Peramban web (browser).
  • Google Chat: Aplikasi pesan instan.
  • Google Duo/Meet: Aplikasi panggilan video.

4. Hiburan & MediaYouTube: Platform berbagi video.
  • Google Play Store: Toko aplikasi, game, buku, dan film untuk Android.
  • Google Photos: Penyimpanan dan pengelola foto/video.

5. LainnyaGoogle Assistant: Asisten virtual berbasis suara.
  • Google Ads: Layanan periklanan.
  • Android Auto: Versi Android yang dioptimalkan untuk mobil.

Semua layanan ini terhubung melalui satu Akun Google pribadi yang mempermudah sinkronisasi data antar perangkat. Bahkan saya pernah percobaan mengganti email pribadi saya dengan selain google di aplikasi kepegawaian dan ternyata, token perubahan passwordnya tidak bisa terkirim. Luar biasa. Wkwk.



-Saya pasti pulang-
Share:

Sabtu, 18 April 2026

Andrea Hirata

Sampai juga di Andrea Hirata yang tulisannya penuh semangat! Kalo sedang dalam paragraf romantis, amboy meleleh! Tapi yang saya tangkap lebih ke pesan semangatnya. Dari buku saja bisa ya membuat seorang yang hampir putus asa jadi semangat kembali. Itulah kekuatan tulisan. Saya dikenalkan dengan tulisan Andrea Hirata oleh seorang teman saya, halo teman yang suatu sore ke warnet membawakan novel laskar pelangi, apa kabar? I hope you are always fine. As kind as your heart, as warm as your attitude towards others. Novel itu sampai dimeja kerja di warnetku dengan keadaan sudah ditandai pada beberapa halamannya, disertai dengan catatan-catatan yang siap dijadikan bahan diskusi. What a good friend ever

Andrea Hirata adalah salah satu penulis Indonesia paling berpengaruh di era modern, dikenal luas melalui karya-karyanya yang inspiratif, penuh nilai pendidikan, dan sarat dengan pesan kehidupan. Ia lahir di Pulau Belitung dan memiliki nama asli Aqil Barraq Badruddin Seman Said Harun, namun lebih dikenal dengan nama pena Andrea Hirata. Karya-karyanya banyak terinspirasi dari pengalaman hidupnya sendiri, terutama masa kecilnya yang penuh keterbatasan ekonomi namun kaya akan semangat belajar. Novel fenomenalnya, Laskar Pelangi, menjadi titik balik kariernya dan sekaligus membuka mata dunia terhadap potensi sastra Indonesia. 

Buku tersebut tidak hanya sukses secara komersial, tetapi juga diadaptasi menjadi film yang sangat populer dan menginspirasi jutaan orang untuk menghargai pendidikan. Gaya penulisan Andrea Hirata dikenal sederhana namun puitis, dengan sentuhan humor, kritik sosial, serta filosofi hidup yang mendalam. Ia juga dikenal sebagai penulis yang konsisten mengangkat tema perjuangan, mimpi, dan pentingnya pendidikan sebagai jalan perubahan hidup. Kesuksesannya tidak berhenti pada satu karya, melainkan berkembang menjadi rangkaian novel yang saling berkaitan maupun berdiri sendiri, yang semakin mengukuhkan posisinya sebagai salah satu sastrawan Indonesia terkemuka.

Berikut adalah daftar buku karya Andrea Hirata yang telah terbit:

  • Laskar Pelangi (2005)
  • Sang Pemimpi (2006)
  • Edensor (2007)
  • Maryamah Karpov (2008)
  • Padang Bulan (2010)
  • Cinta di Dalam Gelas (2010)
  • Sebelas Patriot (2011)
  • Laskar Pelangi Song Book (2012)
  • Ayah (2015)
  • Sirkus Pohon (2017)
  • Orang-Orang Biasa (2019)

Karya-karya tersebut menunjukkan konsistensi Andrea Hirata dalam menghadirkan cerita yang menghibur sekaligus menginspirasi, dengan latar yang kental akan budaya lokal Indonesia namun tetap relevan bagi pembaca dari berbagai latar belakang.


-Saya pasti pulang-
Share:

Jumat, 17 April 2026

Apa Itu Tadi

Tadi pagi dengan terpaksa aku turun gunung ke ruang pelayanan. Padahal biasanya aku figuran, pemain di belakang layar. Temanku bilang harus diperbaiki dari databaseAku mengernyit, arti database pun aku sangsi dia paham. 

Aku tidak melakukan 3S layaknya orang di ruang pelayanan. Langsung to the point aku bertanya masalahnya apa? Kronologisnya bagaimana? Kudengarkan tamu itu bercerita. Mengulang dengan semangat seolah pokoknya kantor saya salah! Kalian salah! Hayo gimana solusinya! Duar!

Belum selesai dia cerita, aku langsung paham kemana alurnya. Ah masalah berat apanya, 5 menit jadi ini sih, kesombonganku mengudara tanpa keluar dalam bentuk suara. Kesombonganku menyamar dalam bentuk keadaan : membuka laptop, menunjukan deretan koding warna-warni dengan background hitam. Biar terlihat misterius. Ah brengsek, bukan. Mataku punya silinder parah, background cerah membuatnya cepat lelah dan kemudian memerah mirip banteng mau nyeruduk. 

Ku minta tamu itu sebut NIP nya. Dia bilang lupa. Suara dalam hatiku nyinyir : "mana ada NIP lupa". "Nama lengkap saja pak", kataku kemudian. Yang dia sebut namamu. Lengkap. Aku minta dia mengeja, huruf per huruf. Persis. Aku menatapnya. Ini adalah tatapan pertama antara aku dan tamu itu. Tamu itu terlihat gugup. Seolah membuat kesalahan. Padahal tidak.

Benar-benar sesuai prediksiku, 5 menit jadi, masalah selesai. Tamu yang punya nama sama dengan namamu itu berterima kasih. Bla bla bla kemudian menyalamiku dan pamit. Terlihat bahagia. Temanku yang sedari tadi duduk disampingku pun berucap sama, "terima kasih ya" lalu pergi, katanya makan siang.

Ruang pelayanan itu sekarang sepi. Padahal ini siang. Tapi hari Jumat selalu terasa berbeda kan? Sendirian disana dengan lampu yang tidak semua dinyalakan karena sedang efisiensi dan AC yang terasa sangat dingin membuatku sedikit tidak nyaman. Apa itu tadi? 


-Saya pasti pulang-
Share:

Ruang Sapa

Beberapa teman kerja pernah bertanya 
Kenapa pesan chatnya di whatsapp selalu lambat dibalas
Saat itu aku tengah sibuk 
Buka tutup direct message instagram

Kemudian pernah aku lupa buka instagram
Sampai terlambat tahu berita di dunia
Pun tak jadi masalah besar
Aku sedang suka melihat-lihat status whatsapp




-Saya pasti pulang-
Share:

Jarak

Apakahkamumerindukankuakhirakhirini? Karenaakutidak.

Tanpa spasi kalimatku tetap terbaca
Karena itu kalimat pendek
Karena kalimat itu pasaran
Sering kita dengungkan
Namun jika aku menulis dalam 100 halaman A4
Tanpa aku akal-akali, aku pasti lelah
Matamupun pasti muak
Terlihat sepele namun spasi ternyata entitas krusial dalam sebuah tulisan ya
Kedekatan yang terus menerus ternyata juga bukan hal yang baik
Manusia biasa seperti kita menyebutnya apa?

J A R A K


-Saya pasti pulang-
Share: