Aku sudah menghilangkan centang biru WhatsApp karena ingin hidup lebih santai. Salah satu efeknya, aku jadi tidak merasa harus buru-buru membalas pesan hanya karena sudah membacanya. Aku juga tidak lagi sibuk memikirkan siapa yang sudah melihat statusku. Mau dilihat, silakan. Tidak dilihat, ya sudah. Aku posting karena ingin posting, karena menemukan sesuatu yang lucu, karena ingin berbagi, atau karena sedang ingin saja. Tidak ada agenda tersembunyi, tidak ada target audiens, apalagi strategi pemasaran personal. Aku bukan sedang membangun citra, aku cuma sedang bersenang-senang.
Lalu entah sejak kapan WhatsApp menambahkan tombol love pada status. Sekilas, fitur yang menyenangkan, ya? Orang bisa memberikan respons tanpa harus mengetik pesan. Masalahnya, orang yang mengetuk love jadi ketahuan sudah melihat status kita. Nah, di sinilah persoalannya dimulai. Bukan karena aku keberatan orang melihat statusku, bukan pula karena aku tidak suka diberi love. Silakan saja kalau memang suka. Aku hanya merasa ada sesuatu yang berubah ketika respons itu menjadi terlihat. Tiba-tiba, aktivitas posting yang tadinya terasa bebas berubah sedikit menjadi seperti panggung yang menyediakan tombol penilaian penonton.
Padahal, aku tidak sedang meminta penilaian. Aku tidak sedang mengadakan survei kepuasan penonton. Aku juga tidak sedang menguji seberapa menarik diriku, seberapa lucu statusku, atau seberapa banyak orang yang tertarik dengan apa yang kubagikan. Aku cuma ingin posting sesuatu yang kusukai, lalu melanjutkan hidup. Selesai. Tidak perlu laporan evaluasi setelah kegiatan posting dilaksanakan. WKWKWK.
Aku baru menyadari bahwa ternyata ada perbedaan antara tidak keberatan dinilai dan tidak ingin merasa sedang dinilai. Orang lain tentu punya penilaian terhadap apa pun yang mereka lihat. Itu hak mereka dan aku tidak bisa mengatur isi kepala orang lain. Namun, aku juga tidak ingin aktivitas sehari-hariku berubah menjadi sesuatu yang kulakukan sambil memikirkan penilaian mereka. Aku tidak ingin setelah mengunggah sesuatu, pikiranku malah sibuk bertanya apakah status itu menarik, mengapa seseorang memberi love pada status yang satu tetapi tidak pada status lainnya, atau apa yang dipikirkan orang setelah melihatnya. Ya ampun, hidup sudah cukup banyak urusannya. Masa posting status juga harus disertai analisis hasil dan pembahasan?
Jadi, WhatsApp, terima kasih atas fitur love-nya. Aku tahu niatmu mungkin baik. Namun, kalau boleh memilih, aku lebih suka menikmati kebebasan berekspresi tanpa merasa sedang mengikuti ujian di hadapan penonton. Sayangnya, aku tidak bisa mengatur fitur yang kamu sediakan, sama seperti aku tidak bisa mengatur apa yang orang lain pikirkan tentangku. Yang bisa kuatur adalah bagaimana aku menyikapinya. Aku akan tetap posting kalau ingin, membagikan sesuatu yang kusukai, dan melanjutkan hidup tanpa harus menghitung siapa yang memberi respons dan siapa yang tidak.
-Saya pasti pulang-