Sabtu, 31 Oktober 2026

Sinoman

Hari ini aku sinoman di tempat kakakku. Ceritanya, ponakanku menikah. Bagi yang belum familiar dengan istilah sinoman, ini adalah tradisi masyarakat Jawa ketika keluarga, tetangga, dan teman-teman saling membantu saat seseorang punya gawe atau hajatan. Ada yang memasak, menyiapkan hidangan, mengatur tamu, mencuci peralatan makan, sampai memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Semacam kerja bakti, tetapi dengan pakaian yang lebih rapi dan kemungkinan besar pulang dengan kaki pegal.

Aku mendapat tugas mempersilakan tamu makan. Awalnya kupikir pekerjaan ini cukup sederhana. Berdiri, menyambut tamu, mempersilakan mereka mengambil makanan, lalu tersenyum secukupnya. Ternyata aku salah besar. Tugas ini rupanya lebih mirip petugas pengendalian stok barang yang harus memiliki kemampuan membaca situasi secara cepat. Nasi hampir habis? Segera menuju bagian belakang untuk meminta tambahan. Piring mulai menipis sementara antrean tamu masih panjang? Segera hubungi bagian piring dan sendok agar peralatan yang masih basah segera dikeringkan. Jangan sampai tamu sudah siap makan sementara piringnya masih sibuk dijemur. Semua harus bergerak dalam koordinasi yang cukup baik. Aku bahkan merasa seperti sedang mengelola sebuah sistem logistik berskala kecil, hanya saja kali ini tidak ada komputer, database, atau aplikasi yang bisa membantuku memantau persediaan. Semuanya mengandalkan mata, komunikasi, dan kecepatan kaki.

Kegiatan yang berlangsung dari pukul sepuluh pagi sampai dua siang itu ternyata berhasil membuat jam tanganku bergetar. Notifikasi sepuluh ribu langkah tercapai muncul di tengah kesibukan. Wkwkwk. Rupanya, ada cara lain mencapai target olahraga selain treadmill, lari, atau jalan pagi. Cukup menjadi petugas pelayanan tamu dalam sebuah hajatan keluarga. Bedanya, kali ini tidak ada playlist olahraga dan tidak ada target pace. Yang ada adalah target memastikan nasi tidak habis, piring tersedia, dan tamu tidak menunggu terlalu lama. Capek? Tentu saja. Tetapi anehnya, aku juga menikmatinya.

Di sela-sela kesibukan itu, aku bertemu beberapa teman lama yang ternyata merupakan teman kakakku. Kami berbincang sebentar, dan tertawa. Aku juga bertemu saudara-saudara yang sudah bertahun-tahun tidak kujumpai. Ada yang wajahnya masih mudah dikenali, ada pula yang perlu beberapa detik untuk menghubungkan wajah dengan ingatan. Menyenangkan rasanya menyadari bahwa di luar rutinitas rumah dan pekerjaan, ternyata ada begitu banyak orang yang masih terhubung dengan kehidupan kita. Kadang-kadang hubungan itu hanya menunggu sebuah hajatan untuk kembali mempertemukan kami.

Aku jadi berpikir bahwa sinoman bukan hanya tentang membantu seseorang menyelenggarakan acara. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pekerjaan membagikan makanan atau memastikan peralatan makan tersedia. Ada kebersamaan yang terbentuk dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang mungkin tidak terlalu terlihat, tetapi semuanya penting. Tidak ada satu orang yang bisa mengurus semuanya sendiri. Seseorang menyiapkan makanan, seseorang mencuci piring, seseorang mengatur tamu, dan seseorang memastikan nasi selalu tersedia. Masing-masing punya peran, dan ketika semuanya bekerja bersama, sebuah hajatan bisa berjalan dengan baik. Barangkali memang seperti itulah kehidupan bermasyarakat seharusnya bekerja, tidak selalu harus menjadi orang yang paling menonjol, kadang cukup hadir, mengambil bagian, dan memastikan sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.

Hari ini aku pulang dengan kaki lelah, badan sedikit pegal, dan pengalaman yang menyenangkan. Aku datang dengan pikiran bahwa tugasku hanya mempersilakan tamu makan, tetapi ternyata pulang membawa cerita tentang koordinasi stok nasi, piring basah, sepuluh ribu langkah, teman-teman baru, dan saudara-saudara lama yang kembali kutemui. Sebuah pengingat kecil bahwa kehidupan tidak selalu harus dicari keseruannya jauh-jauh. Kadang-kadang, keseruan itu ada di sebuah hajatan keluarga, di antara tumpukan piring, nasi yang harus segera diisi ulang, dan orang-orang yang sudah lama tidak kita jumpai.

Besok mungkin aku kembali ke rutinitas seperti biasa. Tetapi hari ini, aku senang sudah menjadi bagian kecil dari sebuah kebahagiaan keluarga. Dan untuk urusan sepuluh ribu langkah, sepertinya aku sudah menemukan metode alternatif yang cukup efektif. Tinggal menunggu undangan sinoman berikutnya. Wkwkwk.

-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 22 Oktober 2026

Hampir Tanggal Satu

Hampir tanggal 1. Kepindahanku sudah dekat. Tahu apa yang aku pikirkan? Ke mana pindahnya? Bukan. Tempat pindahnya saja belum tahu, tetapi otakku sudah sampai pada tahap menyusun protokol penyambutan diri sendiri di lingkungan baru.

Orang lain mungkin sedang berpikir:

  • Aku akan ditempatkan di mana, ya?

  • Siapa nanti teman-teman kerjaku?

  • Kira-kira pekerjaannya bagaimana?


Rizki:

  • Kalau nanti masuk, aku harus menyapa siapa dulu?

  • Kalimat pembukanya apa?

  • Apa cukup bilang salam kenal, atau perlu sedikit basa-basi?

  • Bagaimana caranya supaya kesan pertamaku tidak terlalu kaku? 


Padahal belum tentu tanggal 1 sudah pindah. Belum tentu juga sudah ada suratnya. Si perfectionis ini bahkan belum menerima panggungnya, tetapi sudah latihan dialog di belakang layar. WKWKWK.

Sudahlah. Nanti kalau benar-benar pindah, ya cukup jadi Rizki yang seperti sekarang. Datang, menyapa, berkenalan, lalu bekerja. Jutek itu memang watermark, bukan bug aplikasi yang harus segera diperbaiki. Nggak usah terlalu diini-in, nggak usah terlalu diitu-itukan. Tidak perlu menyiapkan naskah pembukaan seperti hendak meresmikan gedung baru.


-Saya pasti pulang-
Share:

Toko Sembako

Aku tidak sering berkhayal, tapi pernah. Di khayalanku, aku membuka toko sembako. Tidak perlu pakai seragam, tidak perlu pusing memikirkan pengembangan aplikasi, apalagi menghadapi server mati di hari libur. Tidak usah ini, tidak usah itu. Namanya juga berkhayal, terserah saya, dong. Jadi, kalau saat membaca paragraf pertama kamu ingin bilang, “Banyakin bersyukur,” atau “Ya sudah, resign saja sana,” tolong jaga dulu isi hatinya yang busuk. Sssttt. Kalau tidak suka, di kanan atas browser ada tanda silang. Wkwkwk.

Tentu saja, khayalan itu kemudian ditampar oleh diri sendiri. “Heh! Memangnya kamu saja yang berusia 40 tahun? Memangnya kamu saja programmer perempuan di dunia ini? Memangnya kamu baru jadi perempuan? Kamu sudah bodoh dan berkurang kemampuannya? Lalu apa yang membuatmu ingin kabur?” Aku pun terdiam. Ya dari tadi berkhayal juga aku diam. Aku nggak berkhayal sambil jaipongan juga.

Aku bosan melihat orang terbelalak ketika tahu usiaku. Bukan karena aku berusaha menyembunyikannya. Sama sekali tidak. Hanya saja, industri tempatku berkecimpung banyak diisi Gen Z, dan rupanya usia 40 tahun masih bisa menjadi informasi yang mengejutkan bagi sebagian orang. Mereka mungkin punya bayangan tertentu tentang programmer yaitu anak muda, laki-laki, berkutat dengan kode, dan entah bagaimana harus selalu mengikuti perkembangan teknologi terbaru.

Ketika bertemu aku, bayangan itu bertabrakan dengan kenyataan. Aku bosan harus menjadi semacam anomali yang perlu dijelaskan keberadaannya.

Apakah aku satu-satunya programmer berusia 40 tahun? Tentu tidak. Lalu, masalahnya apa? Apakah aku mulai meragukan kemampuan sendiri, bosan dengan pekerjaan, atau sekadar ingin hidup tanpa perlu memikirkan server yang mati saat hari libur? Aku tidak tahu. Barangkali aku hanya sedang ingin membayangkan kehidupan yang berbeda. Dan untuk saat ini, sepertinya aku tidak harus punya jawaban atas semuanya. Wkwkwk.


-Saya pasti pulang-
Share:

Programmer Senior, Katanya.

Sebentar lagi mungkin akan ada perkumpulan programmer. Membayangkan pesertanya didominasi Gen Z, aku jadi membayangkan di antara mereka. Perempuan, 40 tahun, programmer aplikasi pemerintahan. Apakah mereka ngeh? Tidak. Tapi ketika aku sudah berkumpul dengan "gerombolanku" mereka (si gen z) itu akan mulai mengajak ngobrol dan terbelalak karena aku bilang angkatan 2014, kemudian terbelalak lagi karena dalam satu perangkat daerah hanya ada 2 orang IT, kemudian terbelalak lagi karena aku pasti datang sendirian tanpa supir tanpa teman. Dari tahun ke tahun begitu skenarionya. Wkwkw.

Mereka mungkin datang membawa laptop dengan spesifikasi terbaru, framework kekinian, dan istilah-istilah yang terdengar seperti nama karakter anime. Sementara aku datang membawa pengalaman hidup, aplikasi warisan, dan trauma ringan melihat query yang tidak pakai index. Wkwk.

Mereka mungkin akan membicarakan mengenai developer yang menyembunyikan source code pemrograman aplikasi mereka, mereka mungkin akan bicara bagaimana AI bisa membangun aplikasi baru dalam waktu singkat. Sementara aku hanya bisa mengangguk-angguk sambil membayangkan aku yang sehari-hari hanya mencari tahu kenapa aplikasi yang kemarin baik-baik saja mendadak punya kepribadian seperti remaja puber.

Aku juga tidak berencana menyamar menjadi anak muda. Tidak perlu mengganti gaya berpakaian, belajar bahasa gaul, atau tiba-tiba bilang literally setiap tiga kalimat. Tidak. Semoga pertemuan berjalan lancar. Semoga ilmunya bertambah. Semoga tidak ada yang bertanya kenapa aplikasi masih pakai PHP 7.2. Amin yang paling teknis.

-Saya pasti pulang-

Share:

Selasa, 20 Oktober 2026

Lagi Bosan.

Akhir-akhir ini aku bosan banget lihat medsos. Sampai Threads yang tadinya kupikir bakal jadi tempat nongkrong dalam jangka waktu lama, ternyata dalam sekejap juga bikin bosan. Scroll sebentar. Bosan. Scroll lagi. Bosan. Tutup. Buka lagi. Bosan lagi. 

Akhirnya karena bingung mau ngapain, aku malah kebanyakan nulis blog. Apa saja ditulis. Hal yang kupikirkan. Hal yang baru kualami. Hal yang sebenarnya nggak penting-penting amat. Kadang setelah selesai nulis aku malah mikir, “Ini oversharing nggak sih?” Terus malu sendiri.

Tapi siapa juga yang mau baca blog? Jadi sebenarnya aku oversharing sama siapa? Ke orang yang nyasar lewat Google? Dan sebenarnya ini bukan pertama kalinya aku begini. Bosen.

Dulu aku pernah nulis di Multiply. Dari pertama kali dia buka, sampai akhirnya Multiply tutup permanen. Sebelum itu dan sesudahnya juga sempat mampir ke mana-mana. Friendster. Kaskus sampai akunku pernah mau dibeli orang saking sesepuhnya. Plurk. Facebook. Twitter. YM. 

Twitter bahkan sekarang sudah berubah jadi X, seolah-olah dia mengalami krisis identitas di usia tertentu. Dan zaman dulu kalau kenal orang dari internet, bisa lho sampai kopi darat. Anak jaman sekarang nyebutnya meet up. Yang semula cuma tahu dari username lalu jadi tahu muka aslinya kaya apa, suaranya kaya apa, kehidupan sebenarnya kaya apa. Hai kalian, anjar, sopie pilosopiana, bang mario agus, ayip, hilda, pipet weleri, baskoro baskom, sakti, yan, yuliana arifiani, tanti, mas bayu, om heri dan sebagai-sebagainyaaaa teman yang semula cuma ketemu di MIRC room #tegalku akhirnya nyamperin ke warnet dan berlanjut chit chat sampai sekarang. 

Sekarang dipikir-pikir agak ajaib juga. Saya tumbuh bersama internet, pindah dari satu platform ke platform lain, menyaksikan beberapa platform mati, beberapa berganti nama, beberapa ditinggalkan begitu saja. Dih. Nggak tahu lah. Besok juga mungkin pindah platform lagi. Wwkkw.


-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 15 Oktober 2026

Dua Keping Citato


Kemarin aku membeli Citato, lalu menyisakan sekitar dua keping. Karena buru-buru pulang, aku lupa membuangnya ke tempat sampah yg sebelumnya sudah aku cari-cari ternyata sedang dibuang oleh OBku. Kemudian bungkusnya cuma kutaruh begitu saja di meja kantor. Tidak terpikir untuk melakukan apa-apa karena, ya, cuma dua keping Citato. Mau dimakan besok juga paling sudah melempem. Ternyata pagi ini aku menemukan sesuatu yang membuat hatiku mendadak lembek, padahal yang seharusnya lembek itu Citato kalau tidak diselamatkan. Bungkus Citato-ku ternyata sudah distaples oleh OB kantor supaya keripiknya tidak melempem.

Coba bayangkan, seseorang melihat sisa camilan di meja, lalu berinisiatif menutupnya kembali dengan stapler. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang meminta. Tidak ada pula keuntungan material yang akan diperoleh dari menyelamatkan dua keping Citato milik orang lain. Bahkan kalau keripiknya melempem pun, mungkin tidak akan ada rapat evaluasi khusus untuk membahas kerugian negara akibat hilangnya kerenyahan dua keping kentang berbumbu. Namun, beliau tetap melakukannya.

Aku tidak tahu apakah beliau memang terbiasa merapikan barang yang ditinggalkan orang lain atau sekadar tidak tega melihat bungkus makanan terbuka. Aku juga tidak tahu apakah beliau sadar bahwa tindakan sekecil itu bisa membuat seseorang terharu pada pagi hari. Yang jelas, aku merasa diperhatikan melalui sesuatu yang bahkan tidak pernah kuminta. Bukan karena Citato-nya mahal, bukan pula karena dua keping keripik itu begitu berharga. Justru karena tidak ada alasan besar untuk melakukannya, tetapi seseorang tetap melakukannya.

Mungkin beginilah bentuk kebaikan yang sering luput dari perhatian kita. Tidak selalu berupa pertolongan besar, nasihat bijak, atau pengorbanan dramatis yang pantas dijadikan adegan film dengan musik latar menyedihkan. Kadang kebaikan hanya berupa bungkus makanan yang ditutup kembali, barang yang dirapikan, atau sesuatu yang dijaga agar tetap baik meskipun bukan milik sendiri. Pelakunya mungkin sudah lupa lima menit kemudian, sementara penerimanya malah sibuk memikirkan kejadian itu sambil menahan haru.

Terima kasih, atas penyelamatan aset pangan pribadi ini. Semoga kebaikan kecil yang dilakukan tanpa banyak pikir itu kembali kepada beliau dalam bentuk yang menyenangkan. Dan semoga aku juga tidak terlalu sibuk mengejar hal-hal besar sampai lupa bahwa dunia bisa terasa lebih hangat hanya karena seseorang mau peduli pada hal yang kelihatannya sepele.

Hari ini aku belajar bahwa perhatian tidak selalu perlu diumumkan, dan kebaikan tidak harus menunggu sesuatu yang besar untuk dilakukan. Kadang cukup dua keping Citato, satu stapler, dan seseorang yang punya inisiatif sederhana.

-Saya pasti pulang-
Share:

Rabu, 14 Oktober 2026

Surat Terbuka Untuk Whatsapp

Aku sudah menghilangkan centang biru WhatsApp karena ingin hidup lebih santai. Salah satu efeknya, aku jadi tidak merasa harus buru-buru membalas pesan hanya karena sudah membacanya. Aku juga tidak lagi sibuk memikirkan siapa yang sudah melihat statusku. Mau dilihat, silakan. Tidak dilihat, ya sudah. Aku posting karena ingin posting, karena menemukan sesuatu yang lucu, karena ingin berbagi, atau karena sedang ingin saja. Tidak ada agenda tersembunyi, tidak ada target audiens, apalagi strategi pemasaran personal. Aku bukan sedang membangun citra, aku cuma sedang bersenang-senang.

Lalu entah sejak kapan WhatsApp menambahkan tombol love pada status. Sekilas, fitur yang menyenangkan, ya? Orang bisa memberikan respons tanpa harus mengetik pesan. Masalahnya, orang yang mengetuk love jadi ketahuan sudah melihat status kita. Nah, di sinilah persoalannya dimulai. Bukan karena aku keberatan orang melihat statusku, bukan pula karena aku tidak suka diberi love. Silakan saja kalau memang suka. Aku hanya merasa ada sesuatu yang berubah ketika respons itu menjadi terlihat. Tiba-tiba, aktivitas posting yang tadinya terasa bebas berubah sedikit menjadi seperti panggung yang menyediakan tombol penilaian penonton.

Padahal, aku tidak sedang meminta penilaian. Aku tidak sedang mengadakan survei kepuasan penonton. Aku juga tidak sedang menguji seberapa menarik diriku, seberapa lucu statusku, atau seberapa banyak orang yang tertarik dengan apa yang kubagikan. Aku cuma ingin posting sesuatu yang kusukai, lalu melanjutkan hidup. Selesai. Tidak perlu laporan evaluasi setelah kegiatan posting dilaksanakan. WKWKWK.

Aku baru menyadari bahwa ternyata ada perbedaan antara tidak keberatan dinilai dan tidak ingin merasa sedang dinilai. Orang lain tentu punya penilaian terhadap apa pun yang mereka lihat. Itu hak mereka dan aku tidak bisa mengatur isi kepala orang lain. Namun, aku juga tidak ingin aktivitas sehari-hariku berubah menjadi sesuatu yang kulakukan sambil memikirkan penilaian mereka. Aku tidak ingin setelah mengunggah sesuatu, pikiranku malah sibuk bertanya apakah status itu menarik, mengapa seseorang memberi love pada status yang satu tetapi tidak pada status lainnya, atau apa yang dipikirkan orang setelah melihatnya. Ya ampun, hidup sudah cukup banyak urusannya. Masa posting status juga harus disertai analisis hasil dan pembahasan?

Jadi, WhatsApp, terima kasih atas fitur love-nya. Aku tahu niatmu mungkin baik. Namun, kalau boleh memilih, aku lebih suka menikmati kebebasan berekspresi tanpa merasa sedang mengikuti ujian di hadapan penonton. Sayangnya, aku tidak bisa mengatur fitur yang kamu sediakan, sama seperti aku tidak bisa mengatur apa yang orang lain pikirkan tentangku. Yang bisa kuatur adalah bagaimana aku menyikapinya. Aku akan tetap posting kalau ingin, membagikan sesuatu yang kusukai, dan melanjutkan hidup tanpa harus menghitung siapa yang memberi respons dan siapa yang tidak.




-Saya pasti pulang-
Share: