Sabtu, 03 Oktober 2026
Single Shoe Service
Ini malam minggu tapi postingan ini agak serius. Saya tulis karena saya agak "akrab" dengan brand ini.
Ada kalanya sebuah iklan dimaksudkan untuk terlihat inklusif, tetapi justru jatuh pada momen dan konteks yang membuatnya terasa sangat tidak sensitif. Itulah yang terjadi pada Adidas pada September 2026. Perusahaan ini menuai kecaman dan seruan boikot setelah melibatkan Shalev Biton, mantan anggota militer Israel (IDF) yang kehilangan satu kakinya, dalam promosi lokal “Single Shoe Service” di Israel. Layanan tersebut pada dasarnya ditujukan bagi orang yang hanya membutuhkan satu sepatu karena memiliki perbedaan atau kehilangan anggota tubuh.
Di atas kertas, idenya terdengar sederhana, bagaimana kalau orang tidak harus membeli sepasang sepatu ketika memang hanya membutuhkan satu?
Masalahnya bukan sesederhana itu.
Iklan tersebut muncul ketika perang di Gaza masih menjadi sumber kontroversi dan penderitaan kemanusiaan yang sangat besar. Bagi banyak warga Palestina dan mereka yang menyoroti kondisi di Gaza, menjadikan amputasi seorang mantan tentara Israel sebagai bagian dari materi promosi terasa sangat problematis. Terlebih lagi, kehilangan anggota tubuh bukanlah isu yang abstrak bagi warga Gaza.
WHO dan PBB telah melaporkan tingginya jumlah warga Gaza yang mengalami amputasi akibat konflik, termasuk anak-anak. Karena itu, sesuatu yang mungkin dimaksudkan Adidas sebagai kampanye inklusivitas bagi penyandang disabilitas dapat dibaca sangat berbeda ketika ditempatkan dalam konteks tersebut.
Kritik pun berkembang lebih jauh. Sejumlah pihak menilai kampanye itu berpotensi memberikan kesan bahwa pengalaman seorang mantan tentara Israel sedang dijadikan simbol inspiratif, sementara pada saat yang sama terdapat ribuan warga Palestina yang mengalami kehilangan anggota tubuh dalam situasi perang. Israel sendiri tengah menghadapi tuduhan genosida terkait tindakannya di Gaza, tuduhan yang menjadi bagian dari proses hukum dan perdebatan internasional yang masih berlangsung.
Lalu media sosial melakukan apa yang biasanya dilakukan sebagai tupoksinya. Memperbesar semuanya.
Seruan boikot menyebar, kritik bermunculan, dan Adidas akhirnya memberikan klarifikasi sekaligus meminta maaf. Perusahaan menjelaskan bahwa iklan tersebut merupakan inisiatif tim lokal Adidas di Israel, bukan bagian dari kampanye pemasaran global. Adidas juga menegaskan bahwa “Single Shoe Service” memang dibuat dengan tujuan inklusivitas dan untuk memenuhi kebutuhan penyandang disabilitas.
Dan mungkin di sinilah persoalannya menjadi menarik.
Sebuah program bisa saja memiliki niat inklusif. Sebuah layanan bisa saja benar-benar bermanfaat. Tetapi komunikasi publik tidak pernah hanya soal niat. Ia juga soal konteks, siapa yang ditampilkan, kapan pesan itu disampaikan, dan bagaimana pesan tersebut akan diterima oleh orang-orang yang hidup dalam realitas yang berbeda.
Karena kadang-kadang, masalahnya bukan pada satu sepatu.
Masalahnya adalah pada cerita tentang siapa yang kehilangan kaki, bagaimana kaki itu hilang, dan siapa yang sedang diminta melihat kisah tersebut sebagai sesuatu yang inspiratif.
Jumat, 02 Oktober 2026
Tidak jadi belajar APi
Text Di Belakang Truk : Lupa Nama, Ingat Rasa.
Hari ini aku berangkat ke kantor naik sepeda. Jarak rumah ke kantor sekitar 3,5 km. Kok tahu? Kalo kamu nanya kenapa saya tahu jarak dengan detail tanpa buka map tanpa pakai skala peta, artinya kamu nggak deket-deket banget sama saya. Idih, paragraf pertama udah pick me banget emang saya. Wkwkkw.
Dari rumah ke kantor, kalau jalan kaki 30–40 menit. Naik motor 7 menit. Naik mobil 12 menit. Naik sepeda ternyata 20 menit saat berangkat dan 34 menit saat pulang.
Ngapain dihitung? Ya nggak tahu. Otak saya memang suka begitu. Hal-hal random bisa tiba-tiba dianggap penting dan dicatat dengan sangat serius. Jarak. Waktu tempuh. Perbandingan. Selisih. Pola.
Kenapa waktu tempuh yang diperlukan ketika berkendara dengan sepeda saat pulang lebih lama 14 menit daripada berangkat? Menarik. Tapi nama orang? Bisa hilang dalam hitungan detik. Dan ini bukan teori.
Saya pernah dimarahi seorang pejabat gara-gara saya tidak tahu nama beliau. “Masak kamu nggak tahu nama saya?”. Dalam hati saya bilang, sumpah, enggak tahu. Kenapa saya harus tahu?
Bukan karena saya meremehkan beliau. Bukan karena saya merasa beliau tidak penting. Memang otak saya tidak otomatis menyimpan nama orang hanya karena orang tersebut pejabat. Faktanya, saya sebenarnya bisa ingat detail lain.
Saya bisa ingat orang itu datang kapan, duduk di mana, pakai baju apa, ngomong soal apa, bahkan mungkin ingat urutan percakapannya. Tapi namanya? Hilang.
Seolah-olah otak saya punya sistem penyimpanan yang agak aneh. Informasi yang punya pola disimpan. Angka dan waktu disimpan. Hal random yang sebenarnya tidak berguna, simpan dulu siapa tahu berguna. Nama manusia yang baru saja memperkenalkan diri, kita putuskan nanti.
Makanya kadang orang mengira saya sombong. Padahal saya bukan tidak memperhatikan orang. Saya justru sering memperhatikan terlalu banyak hal. Hanya saja perhatian saya tidak selalu diarahkan ke hal yang dianggap penting oleh orang lain.
Buat saya, “Desi” itu cuma nama. Tapi kalau bilang, Desi yang kemarin datang jam 9, pakai blouse lurik, duduk dekat printer, terus ngomong soal pagu TPPnya tidak keluar.
Otak saya, ohhh Desi Ratnasari. Datanya langsung ketemu. Jadi kalau suatu hari saya lupa nama kamu, mohon jangan tersinggung. Bisa jadi saya masih ingat banyak hal tentang kamu.
Hanya saja nama kamu tidak lolos sistem seleksi internal. Bukan sombong. Ini sistem informasinya memang kacau.
Kamis, 01 Oktober 2026
Empat Anak Tangga
Gara-gara turun gunung sambil lari, lututku linu dan sakit bukan main. Awalnya kupikir, “Ah, paling capek biasa.” Ternyata bukan. Jalan biasa masih aman. Lancar. Bahkan kalau cuma jalan dari parkiran ke kantor, lutut masih bisa diajak kerja sama. Masalahnya muncul kalau lutut harus menanggung beban.
Squat? Linu. Naik turun tangga? Linu. Sampai kemudian harus menekan gas mobil saat macet di tanjakan. Selain linu, sakit bukan main dan mobilnya mundur!
Untung ruanganku di lantai 1. Tapi jangan salah. Untuk masuk kantor, ternyata ada 4 anak tangga menuju ruangan. Empat. ANAK. TANGGA. Yang kalau lutut sedang sehat, keberadaan mereka bahkan tidak pernah tercatat dalam sejarah hidupku.
Sekarang? Setiap pagi dan sore, empat anak tangga itu terasa seperti pendakian menuju puncak Everest. Naik satu. Tarik napas. Naik dua. Evaluasi kehidupan. Naik tiga. Mulai mempertanyakan keputusan ikut lari waktu turun gunung. Naik empat. Pengen pulang. Wkwkwk.
Karena sudah nggak tahan, akhirnya pergi ke dokter. Diagnosisnya Patellofemoral Pain Syndrome. Dokter juga memberikan salep yang mengandung diclofenac sodium untuk membantu meredakan nyeri. Dan ini bagian yang membuatku merasa seperti menemukan cheat code kehidupan. Begitu lutut mulai linu, segera oles. Beberapa saat kemudian dunia normal kembali.
Jadi sekarang aku sedang belajar bahwa ternyata usia 40 itu bukan berarti nggak boleh lari, nggak boleh naik gunung, atau nggak boleh olahraga. Boleh. Tapi mungkin tubuh mulai punya aturan baru “Boleh, tapi jangan sok jago.” Wkwkwkw.
Dan ternyata benar. Dulu empat anak tangga cuma tangga. Sekarang empat anak tangga adalah personal trainer gratis yang setiap pagi menguji mental. Semoga lutut segera pulih. Karena aku masih punya banyak rencana olahraga. Tapi untuk sementara, biarkan Everest yang di kantor itu kulewati dengan penuh kehormatan.
Rabu, 30 September 2026
Bukan Babi
Selasa, 29 September 2026
Dream Body. Catatan Sebelum Tidur Supaya Besok Tidak Lagi Lagi Makan Tahu Isi 5 Biji.
Saya sudah punya dream body sejak puber. Dulu, Britney adalah salah satu role model saya dalam urusan dream body. Saya suka tubuh yang skinny, tapi berotot. Perut yang defined, lengan yang terlihat kuat, badan yang ramping tapi nggak ringkih.
Cuma dulu agak malu mengakuinya. Karena setiap kali ngomong soal perempuan dengan otot perut atau lengan yang berisi otot, respons beberapa teman perempuan saya kurang lebih, “Iyuh.” Jadi ya sudah. Saya simpan saja sebagai selera pribadi.
Lucunya, bertahun-tahun kemudian dunia berubah. Medsos membuat saya dengan mudah menemukan perempuan-perempuan dengan abs yang grrrr. Sangar. Kuat. Ramping. Dan bukannya “iyuh”, saya malah mikir, “Nah. Ini dia.”
Ternyata selera saya nggak berubah. Dream body saya dari dulu bentuknya masih itu-itu juga: skinny, tapi berotot. Ini penting untuk dibedakan. Saya mau skinny, bukan skinny karena kurang makan.
Karena buat saya, tubuh yang bagus bukan cuma soal angka di timbangan. Saya suka tubuh yang terlihat ringan, tapi punya tenaga. Ramping, tapi kuat. Feminin, tapi grrrr.
Dan saya pernah mewujudkannya. Jadi saya tahu ini bukan sekadar angan-angan. Saya pernah sampai di sana. Tinggal jalan pulang lagi. Pelan-pelan.
Kali ini juga nggak perlu dipamerkan ke siapa-siapa. Saya cuma ingin melihat diri sendiri di kaca dan berpikir, “Yep. There she is.”
Dan kalau nanti saya jadi terlalu sering ngaca, ya maaf. Cara saya menikmati hasil kerja keras saya sendiri ya Ngaca teroooosss.