Jumat, 06 Maret 2026

Ashab Al-Fil

Ashab Al-Fil adalah kisah tentang pasukan besar yang menyerang Ka'bah di Makkah dengan gajah, tetapi dihancurkan oleh Allah sebelum mereka berhasil. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Fil. Peristiwa ini terjadi pada tahun kelahiran Nabi Muhammad.

Pada masa itu Yaman berada di bawah kekuasaan seorang gubernur bernama Abraha. Ia membangun sebuah gereja yang sangat megah di kota Sana'a. Gereja tersebut dinamakan Al-Qullays. Tujuannya agar orang-orang Arab berhaji ke sana dan tidak lagi pergi ke Ka'bah di Mecca. Namun bangsa Arab tetap datang ke Ka'bah. Hal ini membuat Abraha marah. 

Karena marah, Abraha memutuskan menghancurkan Ka'bah agar orang-orang berhenti berziarah ke sana.Ia menyiapkan pasukan besar dari Yaman yang dilengkapi dengan gajah perang. Gajah terbesar yang memimpin pasukan itu bernama Mahmud. Pasukan ini kemudian bergerak menuju Makkah.

Ketika pasukan Abraha mendekati Makkah, penduduk kota merasa tidak mampu melawan. Pemimpin Quraisy saat itu adalah Abdul Muttalib. Beliau memerintahkan penduduk mengungsi ke pegunungan dan menyerahkan Ka'bah kepada perlindungan Allah.

Sebelum penyerangan, Abdul Muttalib datang menemui Abraha untuk meminta kembali unta-unta miliknya yang dirampas pasukan. Abraha terkejut dan berkata “Aku datang untuk menghancurkan Ka'bah, tetapi kamu hanya meminta unta?”. Abdul Muttalib menjawab “Aku pemilik unta-unta itu. Adapun Ka'bah memiliki Tuhan yang akan menjaganya.”

Ketika pasukan siap menyerang Ka'bah, gajah terbesar tidak mau berjalan menuju Makkah. Namun ketika diarahkan ke arah lain, gajah itu mau berjalan. Ini dianggap sebagai tanda bahwa Allah melindungi Ka'bah.

Allah kemudian mengirim burung-burung kecil yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai Ababil. 
Burung-burung itu membawa batu kecil dari tanah yang terbakar dan menjatuhkannya ke pasukan Abraha. Akibatnya pasukan hancur, tubuh mereka rusak, banyak yang mati. Peristiwa ini disebut dalam Surah Al-Fil.

Abraha berhasil melarikan diri, tetapi tubuhnya mengalami penyakit parah dan akhirnya meninggal dalam perjalanan kembali ke Yaman. Pasukan besar itu pun hancur total.




-Saya pasti pulang-
Share:

Bangsa Kaldan

Bangsa Kaldan adalah bangsa kuno yang hidup di wilayah Mesopotamia (Irak selatan). Mereka dikenal dalam sejarah sebagai bangsa penyembah bintang dan benda langit, serta sebagai bangsa yang memiliki ilmu astronomi dan astrologi. Wilayah utama mereka berada di sekitar kota kuno Ur, di daerah yang sekarang termasuk negara Iraq. Bangsa ini sering dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim. 

Bangsa Kaldan (Chaldeans) adalah bagian dari masyarakat Mesopotamia kuno yang berkembang sekitar 1000–500 SM. Ciri-ciri mereka adalah hidup di wilayah Babilonia, memiliki pengetahuan astronomi tinggi, mempelajari pergerakan bintang dan menyembah benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang. Karena kebiasaan ini, mereka dikenal sebagai penyembah bintang.

Menurut banyak riwayat tafsir Islam, Nabi Ibrahim lahir di tengah masyarakat yang menyembah berhala, bintang, matahari, bulan. Ayahnya sendiri disebut dalam Al-Qur’an sebagai Azar atau yang membuat patung-patung berhala.

Ketika masih muda, Nabi Ibrahim memperhatikan benda-benda langit. Kisah ini diceritakan dalam Surah Al-An'am ayat 76–79. Beliau melihat bintang lalu berkata: “Ini Tuhanku.” Tetapi ketika bintang itu tenggelam, ia berkata bahwa ia tidak menyukai yang tenggelam. Bulan juga terbenam, matahari juga terbenam. Dari situ beliau menyimpulkan Tuhan yang sebenarnya adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Nabi Ibrahim kemudian berdakwah kepada kaumnya agar meninggalkan berhala.Beliau berkata bahwa patung-patung itu tidak bisa mendengar, tidak bisa menolong, tidak bisa memberi manfaat. Namun kaumnya menolak dan marah.

Suatu hari ketika masyarakat pergi merayakan pesta, Nabi Ibrahim masuk ke tempat berhala. Beliau  menghancurkan semua berhala menyisakan berhala terbesar. Ketika mereka kembali, mereka marah dan bertanya siapa yang melakukannya. Nabi Ibrahim berkata “Tanyakan saja kepada berhala yang besar itu.”. Mereka sadar bahwa berhala tidak bisa berbicara. Kisah ini disebut dalam Surah Al-Anbiya.

Kaum Kaldan sangat marah. Mereka memutuskan untuk menghukum Nabi Ibrahim dengan membakarnya hidup-hidup. Raja yang berkuasa saat itu sering disebut dalam tafsir sebagai Nimrod.  Mereka membuat api yang sangat besar lalu melempar Nabi Ibrahim ke dalamnya. Namun Allah berfirman “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”. Api itu tidak membakar beliau sedikit pun. Kisah ini disebut dalam Surah Al-Anbiya ayat 69.

Setelah kejadian itu, Nabi Ibrahim akhirnya meninggalkan negeri tersebut dan berhijrah menuju wilayah Levant untuk melanjutkan dakwahnya.


-Saya pasti pulang-
Share:

Ashab Al-Aykah

Sebelum menceritakan tentang Ashab Al Aykah, saya buat dulu pengantarnya karena ada yang berpendapat bahwa Ashab Al Aykah sama dengan kaum madyan dan ada juga yang bilang berbeda. Banyak ulama berpendapat Madyan dan Ashab Al-Aykah kemungkinan adalah kaum yang sama, hanya berbeda cara penyebutan dalam Al-Qur’an. Dan mereka sama-sama Kaum dari nabi Syuaib. Dari hasil pencarian saya di mesin telusur, saya mendapat kesimpulan berikut adalah perbedaannya.


Terdapat dua pendapat utama di kalangan ahli tafsir mengenai hubungan kedua kaum ini. 
  1. Mereka adalah Kaum yang Sama. Banyak mufassir, termasuk Ibnu Katsir (sebagaimana dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsrir), berpendapat bahwa Ashab al-Aykah dan Madyan adalah satu kaum yang sama. Penyebutan "Ashab al-Aykah" merujuk pada kebiasaan mereka menyembah pohon/semak belukar (Aykah), sedangkan "Madyan" adalah nama kabilah atau wilayah tempat tinggal mereka.
  2. Mereka adalah Dua Kaum yang Berbeda. Sebagian ahli tafsir, seperti Buya Hamka, berpendapat bahwa keduanya adalah entitas yang berbeda namun hidup di wilayah yang berdekatan dan sama-sama didakwahi oleh Nabi Syu'aib AS. Dalam Al-Qur'an, saat menyapa kaum Madyan, Nabi Syu'aib disebut sebagai "saudara mereka" (akhuhum) (QS. Al-A'raf: 85), namun saat menyapa Ashab al-Aykah, kata "saudara" tidak digunakan (QS. Asy-Syu'ara: 176). Hal ini dianggap sebagai isyarat bahwa Nabi Syu'aib berasal dari kabilah Madyan, tetapi bukan dari kabilah Aykah.
Oke demikian pengantarnya. 

Ashab al-Aykah adalah salah satu kaum yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai umat yang mendustakan nabi mereka dan akhirnya dihancurkan oleh Allah. Mereka dikenal sebagai kaum yang hidup di daerah yang banyak pepohonan dan melakukan kecurangan dalam perdagangan.

Mereka disebut dalam beberapa surat Al-Qur’an, di antaranya Surah Ash-Shu'ara ayat 176–191, Surah Al-Hijr ayat 78–79, Surah Sad ayat 13. Kata “Aykah” dalam bahasa Arab berarti hutan, pepohonan yang lebat, atau kebun yang rimbun. Sehingga Ashab al-Aykah berarti “penduduk daerah yang penuh pepohonan atau hutan lebat.”

Wilayah mereka diperkirakan berada di daerah sekitar Madyan di bagian barat laut Jazirah Arab. Ashab al-Aykah adalah kaum pedagang yang tinggal di daerah hutan lebat yang menolak dakwah Nabi Shu’aib dan terkenal karena kecurangan dalam timbangan, sehingga akhirnya Allah menghancurkan mereka dengan azab besar.





-Saya pasti pulang-
Share:

Ashab Al-Ukhdud

Ashab Al-Ukhdud adalah sekelompok orang beriman yang dibakar hidup-hidup karena mempertahankan iman mereka kepada Allah. Kisah ini disebut dalam Al-Qur’an pada surah Al-Buruj ayat 4–10. Arti dari Ashab = para penghuni / orang-orang, Ukhdud = parit atau lubang besar di tanah. Jadi Ashab Al-Ukhdud berarti orang-orang yang dibunuh di dalam parit api.

Kisah ini terjadi di wilayah Yaman pada masa kerajaan Himyar. Raja yang berkuasa saat itu dikenal sebagai Dhu Nuwas. Ia memeluk agama Yahudi dan memaksa rakyatnya mengikuti agamanya. Di daerah Najran, banyak penduduk yang beriman kepada Allah dan menolak mengikuti perintah raja. Karena rakyat menolak meninggalkan iman mereka, raja memerintahkan Digali parit besar di tanah. Parit tersebut diisi kayu dan dinyalakan api besar. Orang-orang beriman dipaksa memilih meninggalkan iman atau dilempar ke dalam api. Banyak orang tetap beriman sehingga mereka dibakar hidup-hidup.
 
Dalam hadis panjang yang diriwayatkan oleh Muhammad dalam riwayat Sahih Muslim diceritakan bahwa Ada seorang ibu yang membawa bayinya. Ia ragu ketika akan dilempar ke api. Tiba-tiba bayinya berbicara : “Wahai ibu, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Akhirnya ibu tersebut tetap teguh dan masuk ke dalam api bersama bayinya.

Dalam Surah Al-Buruj disebutkan orang yang membuat parit api dilaknat oleh Allah, mereka menyiksa orang beriman hanya karena beriman kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa para korban dianggap sebagai syuhada (martir).

---

Tapi sebenarnya ada cerita yang lebih lengkap mengenai kenapa raja tersebut sampai melakukan hal tersebut. Berikut kisahnya.

Kisah anak kecil, rahib, dan penyihir adalah cerita yang menjelaskan awal terjadinya peristiwa Ashab Al-Ukhdud. Kisah ini diriwayatkan dalam hadis panjang oleh Nabi Muhammad dalam kitab Sahih Muslim dan berkaitan dengan ayat dalam Surah Al-Buruj.

Pada zaman dahulu ada seorang raja yang sangat zalim. Raja itu memiliki seorang penyihir tua yang biasa membantu kekuasaannya. Ketika penyihir itu sudah tua, ia berkata kepada raja “Aku sudah tua. Carilah seorang anak muda agar aku bisa mengajarkan ilmu sihir kepadanya.”. Raja kemudian memilih seorang anak laki-laki cerdas untuk belajar sihir.

Setiap hari anak itu pergi ke tempat penyihir untuk belajar. Di tengah perjalanan ia melewati seorang rahib (ahli ibadah) yang menyembah Allah. Anak itu tertarik dengan ajaran rahib dan sering duduk mendengarkan nasihatnya. Lama-kelamaan ia mulai percaya bahwa ajaran rahib adalah kebenaran dari Allah. Sihir penyihir adalah kebatilan. Karena sering berhenti di tempat rahib, ia kadang terlambat datang ke penyihir.

Suatu hari jalan menuju kota terhalang seekor binatang besar (dalam sebagian riwayat disebut singa) yang menakuti orang-orang. Anak itu berkata dalam hatinya “Hari ini aku akan tahu mana yang benar, rahib atau penyihir.” Ia mengambil batu dan berdoa “Ya Allah, jika ajaran rahib lebih Engkau cintai daripada sihir penyihir, maka bunuhlah binatang ini.” Ia melempar batu dan binatang itu mati. Orang-orang pun bisa melewati jalan itu. Anak itu sadar bahwa Allah telah menolongnya.

Setelah peristiwa itu, Allah memberi anak tersebut kemampuan untuk menyembuhkan orang buta,  menyembuhkan penyakit, membantu orang dengan doa kepada Allah. Banyak orang akhirnya beriman kepada Allah melalui dirinya.

Seorang pejabat dekat raja mengalami kebutaan. Ia mendengar tentang anak tersebut lalu datang membawa banyak hadiah. Ia berkata “Jika kamu bisa menyembuhkan aku, semua ini milikmu.” Anak itu menjawab “Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Setelah berdoa kepada Allah, orang itu sembuh dan akhirnya beriman kepada Allah.

Ketika orang yang sembuh itu kembali ke istana, raja bertanya “Siapa yang menyembuhkanmu?” Ia menjawab: “Tuhanku.”. Raja marah dan berkata “Apakah engkau punya tuhan selain aku?!”. Ia kemudian disiksa sampai akhirnya ia menyebut nama anak tersebut.

Raja menangkap anak itu dan rahib yang mengajarinya. Raja memaksa rahib meninggalkan imannya. 
Rahib menolak. Akhirnya raja memerintahkan membelah tubuh rahib menjadi dua. Ia wafat sebagai syahid. Raja kemudian mencoba membunuh anak itu dengan berbagai cara. Percobaan pertama Ia dibawa ke puncak gunung untuk dijatuhkan. Anak itu berdoa “Ya Allah, selamatkan aku dari mereka.” Gunung itu berguncang dan para tentara jatuh mati, sementara anak itu selamat.

Percobaan kedua, Ia dimasukkan ke perahu untuk ditenggelamkan di laut. Anak itu kembali berdoa kepada Allah. Perahu terbalik dan tentara tenggelam, tetapi anak itu selamat. Anak itu akhirnya berkata kepada raja : “Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali dengan cara yang aku perintahkan.”. Ia berkata : "Kumpulkan semua orang, Ikat aku di batang pohon, Ambil anak panah dari kantongku, Ucapkan Dengan nama Allah, Tuhan anak ini., Lalu lepaskan panah."

Raja melakukan hal itu. Panah mengenai pelipis anak itu dan ia pun meninggal. Rakyat menjadi beriman. Melihat kejadian itu, rakyat berkata “Kami beriman kepada Tuhan anak ini!”. Raja panik karena rakyatnya beriman kepada Allah lalu terjadilah Ashab Al-Ukhdud. 



-Saya pasti pulang-
Share:

Kaum Tubba

Sebelum bingung dengan post yang sebelumnya yaitu kaum saba, berikut ini adalah perbedaan antara kaum saba dan kaum tubba. 


Kaum Tubba' adalah peradaban maju dari kerajaan Himyar di Yaman Selatan (sekitar 1000 tahun sebelum Nabi Muhammad SAW) yang dipimpin oleh raja-raja bergelar "Tubba'". Mereka dikenal kaya, memiliki bendungan besar (Ma'rib), dan pernah menganut Yahudi sebelum akhirnya ingkar dan dibinasakan oleh Allah, sebagaimana disebutkan dalam surat Ad-Dukhan dan Qaf.

Kaum Tubba' disebutkan dua kali, yaitu dalam Surat Ad-Dukhan ayat 37 dan Surat Qaf ayat 14, sebagai kaum yang mendustakan rasul-rasul sebelum akhirnya dibinasakan. Tubba' bukanlah satu orang, melainkan gelar untuk raja-raja dinasti Himyar di Yaman, serupa dengan istilah Firaun di Mesir atau Kisra di Persia

Salah satu rajanya yang terkenal adalah As'ad bin Kuraib bin Malikraba al-Yamani (Tubba' As'ad). Menurut sejarah, beliau adalah penganut agama Yahudi yang taat dan mengajak rakyatnya memeluk ajaran Musa sebelum kaum tersebut menyimpang. Raja Tubba' As'ad diketahui sebagai orang pertama yang menghias Ka'bah dengan kain panjang (kiswah) dan melakukan tawaf, setelah dinasihati oleh rabi Yahudi untuk tidak merobohkannya.

Menurut Republika Online, kaum Tubba' (terutama di masa raja yang beriman) sudah mengetahui tentang nabi akhir zaman (Ahmad) yang tertulis dalam kitab Taurat. Kaum Tubba' memiliki peradaban yang sangat maju dengan sistem irigasi, bendungan, dan mata uang sendiri. Setelah masa keimanan mereka berlalu, kaum ini menjadi musyrik dan menentang ajaran rasul, sehingga Allah membinasakan mereka.

Secara ringkas, kaum Tubba' digambarkan sebagai kaum yang awalnya berada di jalan yang benar (mengikuti ajaran Nabi Musa) namun kemudian ingkar, sehingga kisah mereka menjadi peringatan dalam Al-Qur'an.



-Saya pasti pulang-
Share:

Kaum Saba

Kaum Saba (Saba’) adalah salah satu kaum yang disebut dalam Al-Qur’an. Mereka dikenal sebagai bangsa yang sangat makmur, memiliki teknologi pengairan yang maju, tetapi akhirnya mendapat azab karena tidak bersyukur kepada Allah.

Kaum Saba adalah bangsa yang hidup di wilayah Yaman (Arab Selatan). Mereka membangun kerajaan besar yang disebut Kerajaan Saba. Kaum ini terkenal karena Negeri yang sangat subur, Sistem irigasi yang canggih, Perdagangan yang maju. Al-Qur’an menyebut negeri mereka sebagai “baldatun thayyibatun wa rabbun ghafur” (negeri yang baik dengan Tuhan yang Maha Pengampun).
 
Kisah kaum Saba disebut terutama dalam Surah Saba ayat 15–19. QS Saba ayat 15 : “Sesungguhnya bagi kaum Saba ada tanda (kekuasaan Allah) di tempat tinggal mereka, yaitu dua buah kebun di sebelah kanan dan kiri…”
 
Allah memberi banyak nikmat kepada mereka. Negeri yang subur, Mereka memiliki dua kebun besar, Hasil panennya sangat melimpah. Mereka membangun bendungan terkenal yaitu Bendungan Ma'rib. Bendungan ini mengatur air untuk pertanian dan membuat negeri mereka sangat makmur. 
Perjalanan antar kota dibuat dekat dan aman sehingga perdagangan berkembang pesat.

Walaupun diberi banyak nikmat, mereka Tidak bersyukur, Mulai sombong, Melanggar perintah Allah, Mereka bahkan meminta agar perjalanan dibuat jauh karena sudah bosan dengan kemudahan.

Allah kemudian menghancurkan bendungan mereka. Peristiwa ini disebut Banjir besar (Sail al-‘Arim)
Akibatnya bendungan hancur, Kebun mereka rusak, Negeri menjadi tandus, Kaum Saba tercerai-berai

Kehancuran Bendungan Ma'rib (Sail al-‘Arim) Secara Detail :
  1. Bendungan ini berada di wilayah Ma'rib, di negara Yaman, dan merupakan pusat peradaban Kerajaan Saba. Bendungan ini dikenal sebagai Bendungan Ma'rib dan merupakan salah satu teknologi pengairan paling maju di dunia kuno.
  2. Bendungan Ma'rib diperkirakan sudah dibangun sekitar abad ke-8 SM. Fungsinya menampung air hujan dari pegunungan, mengairi pertanian, mengendalikan banjir, strukturnya sangat canggih untuk zamannya. Panjang sekitar 580 meter, tinggi sekitar 14–15 meter, memiliki kanal irigasi kanan dan kiri, mengairi ribuan hektar kebun.
  3. Awal Kerusakan Bendungan. Bendungan mulai retak, air merembes, perawatan mulai diabaikan. Ada riwayat terkenal bahwa tikus-tikus menggali bagian bendungan, sehingga struktur menjadi lemah.
  4. Allah kemudian menurunkan bencana yang disebut dalam Al-Qur’an سَيْلَ الْعَرِمِ (Sail al-‘Arim) artinya: banjir besar yang menghancurkan bendungan
  5. Dampak Kehancuran Bendungan. Kebun Subur Hancur, Allah mengganti kebun mereka dengan tanaman buruk, pohon pahit, pohon berduri, pohon sidr yang sedikit.
  6. Ekonomi Hancur karena irigasi rusak, pertanian gagal, perdagangan menurun, kota kehilangan kemakmuran, Kerajaan Saba perlahan runtuh.
  7. Banyak suku Arab kemudian berpindah dari Yaman ke wilayah lain. Migrasi ini menyebarkan suku-suku Arab ke Hijaz, Syam, Irak. Banyak kabilah Arab besar dipercaya berasal dari migrasi ini.
  8. Para sejarawan memperkirakan kehancuran besar bendungan terjadi sekitar abad ke-6 Masehi
  9. (beberapa kali jebol sebelumnya, tetapi kehancuran besar terjadi menjelang masa Islam).Reruntuhan Bendungan Ma'rib masih bisa ditemukan di Ma'rib. Arkeolog menemukan sisa tembok bendungan,  kanal irigasi, prasasti kerajaan Saba. Ini membuktikan bahwa kisah yang disebut dalam Surah Saba memang memiliki bukti sejarah.

-Saya pasti pulang-
Share:

Bani Israil #2 - Kisah Bani Israil yang Jarang Diketahui

Setelah sebelumnya menceritakan tentang asal usul bani israil. Karena kalo diteruskan akan sangat panjang, maka ini adalah kisah bani israil yang saya potong di postingan yang lain yang masih nyambung dengan post yang ini BANI ISRAIL #1. Kali ini kita akan membaca kisah tentang bani israil yang kurang terkenal atau kurang diketahui orang. 

1. Kisah Kota yang Diminta Bani Israil. 
Setelah keluar dari Mesir bersama Nabi Musa, Bani Israil diperintahkan Allah untuk memasuki sebuah negeri dengan rendah hati dan memohon ampun. Namun mereka mengubah perintah Allah dan mengejeknya. Kisah ini ada dalam Surah Al-Baqarah ayat 58–59. 

Setelah masa "tersesat" (Tih) berakhir, Allah memerintahkan Bani Israil untuk memasuki kota (Baitul Maqdis) yang merupakan tanah warisan nenek moyang mereka, Nabi Ya'qub AS. Allah memerintahkan mereka masuk melalui pintu gerbang sambil bersujud (sebagai tanda syukur dan kerendahan hati) dan mengucapkan "Hiththah" (Ya Allah, ampunilah dosa-dosa kami). Allah menjanjikan bahwa jika mereka mematuhi perintah tersebut, dosa-dosa mereka akan diampuni dan Allah akan menambah pahala bagi mereka yang berbuat baik. Bani Israil tidak mematuhi perintah tersebut dengan cara yang semestinya. Sebagian dari mereka justru mengubah perkataan, masuk dengan merangkak (tidak bersujud), dan meremehkan perintah tersebut. Akibat kesombongan dan pembangkangan mereka, Allah menurunkan azab kepada mereka

2. Kisah Orang yang Hidup Kembali Setelah Mati
Ada seorang yang terbunuh di kalangan Bani Israil. Allah memerintahkan mereka menyembelih sapi. Ketika sebagian tubuh sapi itu dipukulkan kepada orang yang mati, orang itu hidup kembali dan memberitahu siapa pembunuhnya. Kisah ini ada dalam Surat Al Baqarah 72-73. 

Seorang kaya dari Bani Israil dibunuh, dan pelakunya tidak diketahui. Bani Israil saling menuduh, lalu bertanya kepada Nabi Musa.  Allah memerintahkan mereka menyembelih sapi betina dengan kriteria khusus, lalu memukul mayat tersebut dengan sebagian anggota tubuh sapi. Dengan izin Allah, mayat itu hidup kembali dan menyebutkan siapa yang membunuhnya, sehingga perdebatan terhenti.

3. Kisah Orang yang Keluar dari Kampung Karena Takut Mati. 
Kisah ribuan Bani Israil dalam QS. Al-Baqarah 243 menceritakan kaum yang melarikan diri dari wabah penyakit (tha'un) atau perang, karena takut mati. Meskipun mencoba menghindar, Allah mematikan mereka semua seketika, lalu menghidupkan mereka kembali melalui Nabi Hizqil (`alaihissalam) sebagai bukti kekuasaan-Nya dan pelajaran bahwa ajal tak bisa dihindari


4. Kisah Gunung yang Diangkat di Atas Bani Israil
Bani Israil enggan menerima kitab Taurat yang berisi perintah dan larangan yang berat. Allah memerintahkan gunung (Thursina) diangkat dari akarnya hingga melayang di atas kepala Bani Israil, membuat mereka ketakutan dan akhirnya bersedia berjanji setia. Untuk memaksa mereka mematuhi perjanjian dan mengambil apa yang diberikan dengan sungguh-sungguh agar bertakwa. lokasi ada di Gunung Sinai (Jabal Musa) di Semenanjung Sinai, Mesir. Peristiwa ini menunjukkan kerasnya hati Bani Israil serta kuasa Allah untuk memaksa ketundukan mereka. 

5. Kisah Sebagian Bani Israil yang Diubah Menjadi Kera.
Peristiwa ini terjadi pada masa Nabi Daud as. Allah melarang mereka bekerja (mencari ikan) pada hari Sabtu, namun ujian datang berupa ikan yang melimpah hanya pada hari tersebut. Sebagian penduduk melanggar aturan dengan berbagai siasat (tipu daya), sementara sebagian lain tidak melanggar.  Pelanggar tersebut diubah fisiknya menjadi kera, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur'an surah Al-Baqarah: 65, Al-A'raf: 166, dan Al-Ma'idah: 60. Mereka yang diubah wujud menjadi kera hanya hidup selama 3 hari, tidak beranak pinak, dan kemudian dibinasakan.

6. Kisah Seorang Mukmin dari Keluarga Firaun
Menurut riwayat, beliau adalah sepupu Firaun, bendahara, atau kerabat dekat yang menyembunyikan keimanannya selama bertahun-tahun. Ketika Firaun ingin membunuh Nabi Musa setelah ditunjukkan mukjizat, mukmin ini menentang keras dengan berkata, "Apakah kamu akan membunuh seseorang karena dia berkata, 'Tuhanku adalah Allah', padahal dia telah datang kepadamu dengan membawa bukti-bukti yang nyata?". Ia tidak hanya membela, tetapi juga menasihati kaumnya agar tidak terpedaya oleh kekuasaan sementara dan mengingatkan azab hari kiamat. Allah menyelamatkan mukmin ini dari kejahatan Firaun dan bala tentaranya. Selain kisah lelaki ini, terdapat juga sosok perempuan mulia dari keluarga Firaun, yaitu Asiyah, istri Firaun, yang juga beriman kepada Allah dan disiksa oleh Firaun karena keimanannya


-Saya pasti pulang-
Share: