Senin, 09 Maret 2026

Semut


Hari ini kita akan mendengarkan kisah semut. Semut adalah salah satu hewan yang disebut dalam alquran. Yaitu Surah An-Naml ayat 18–19. An Naml sendiri artinya adalah semut. Agar adik-adik lebih paham dengan bunyi dan terjemahan surat An Naml 18-19, baca yuk :

Surah An-Naml Ayat 18

Arab:
حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ

Artinya:
“Sehingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: ‘Wahai para semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’

Surah An-Naml Ayat 19

Arab:
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَ

Artinya:
“Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.’

Dan begini kisahnya :

Pada suatu hari, Nabi Sulaiman berjalan bersama pasukannya. Pasukannya sangat banyak karena pasukan nabi Sulaiman tidak hanya terdiri dari manusia tapi juga dari bangsa jin, dan juga bangsa burung. Pasukan ini kemudian berjalan melewati sebuah lembah yang penuh dengan sarang semut.

Di lembah tersebut hiduplah gerombolan semut kecil yang rajin bekerja setiap hari. Karena kedatangan pasukan nabi Sulaiman yang jumlahnya sangat banyak itu, tanah pun bergetar-getar dan suara gemuruh datang. Pemimpin semut segera sadar bahaya yang mengancam masyarakat semut kecil. 

Pemimpin semut itu pun berteriak : “Wahai warga semut! Cepat masuk ke dalam rumah kalian agar kalian tidak terinjak oleh Nabi Sulaiman dan pasukannya. Karena mereka tidak akan sadar keberadaan kita yang kecil ini". Mendengar itu, warga semut segera berlari kalang kabut masuk ke sarang mereka agar aman. Namun waktu sepertinya tidak cukup untuk semua warga semut masuk kedalam sarang. Masih ada beberapa yang dengan kaki kecilnya berusaha masuk namun keburu pasukan nabi Sulaiman sampai. 
 
Tanpa mereka sadari, ternyata nabi Sulaiman dapat mendengar teriakan warga semut itu. Karena ternyata Nabi Sulaiman diberi kemampuan oleh Allah untuk memahami bahasa hewan, beliau mendengar perkataan semut-semut itu. Beliau pun tersenyum karena kagum melihat semut kecil yang sangat peduli satu sama lain. Kemudian Nabi Sulaiman berdoa kepada Allah agar selalu bersyukur atas nikmat yang telah diberikan kepadanya.

Pasukan nabi Sulaiman itu berhenti dan menunggu sampai semua warga semut berada di daerah yang aman. Dan ketika berjalan melewatinya, pasukan nabi Sulaiman melakukannya dengan pelan dan sangat berhati-hati agar jangan sampai ada semut dan sarang semut yang terinjak dan rusak oleh pasukan nabi Sulaiman.   

Apa pesan baik dari kisah Semut ini adik-adik? Iya betul, kita harus saling peduli pada sesama makhluk. Jangan mentang-mentang jadi manusia lantas memperlakukan sesama makhluk seenaknya. Kita juga harus selalu bersyukur dan tidak sombong atas nikmat dari Allah karena dilahirkan sebagai manusia yang kata Allah adalah makhluk paling sempurna. 




-Saya pasti pulang-
Share:

Minggu, 08 Maret 2026

Gajah

Waktu lulus SMA sempet nulis dongeng buat anak-anak. Sekarang keinget lagi dan pengen nulis dongeng lagi. Kali ini dongengnya berseri yaitu tentang hewan-hewan yang disebut dalam alquran. Kita mulai dari gajah. 




Di kota Makkah berdiri sebuah bangunan suci bernama Ka'bah. Setiap tahun banyak orang datang ke sana untuk beribadah. Sehingga kota Makkah sangat terkenal sekali. 

Sementara itu di negeri jauh bernama Yaman, ada seorang raja yang sombong bernama Abrahah al-Asyram. Karena iri dengan ketenaran kota Makkah, Ia berkata dengan marah : “Mengapa orang-orang pergi ke Ka'bah? Mereka harus datang ke bangunanku!”. 

Ternyata Abrahah pun membangun sebuah gereja yang sangat besar dan indah. Tapi orang-orang tetap memilih pergi ke Ka'bah di Makkah. Abrahah menjadi sangat kesal. Sambil menggerutu dia bilang : “Kalau begitu, aku akan menghancurkan Ka'bah!”.

Abrahah mengumpulkan pasukan yang sangat besar. Dan menempatkan gajah bernama Mahmud untuk berada dibarisan paling depan. Mahmud adalah gajah yang sangat besar. Bisa dibayangkan dong, udah gajah besar, ini super besar. Hih takut. Pasukan itu berjalan jauh dari Yaman menuju Makkah.

Tidak seperti kita yang sering melihat gajah di kebun binatang atau bisa juga kita lihat di youtube, Orang-orang Arab jaman dahulu jarang sekali melihat gajah. Jadi ketika pasukan Abrahah masuk ke kota Mekkah banyak sekali masyarakat arab yang ketakutan. 

Di Makkah, pemimpin Quraisy bernama Abdul Muttalib mendengar kabar tentang pasukan gajah. Ia tidak panik. Ia berkata kepada penduduk : “Ka'bah ini punya Allah, maka Allah yang akan melindunginya.”. Lalu penduduk Makkah pun pergi ke bukit-bukit untuk berdoa kepada Allah.

Akhirnya pasukan Abrahah sampai dekat Makkah. Abrahah memerintahkan : “Majuuuu! Hancurkan Ka'bah!”. Tetapi sesuatu yang aneh terjadi. Gajah Mahmud tiba-tiba duduk dan tidak mau berjalan ke arah Ka'bah. Pasukan mencoba memukulnya. “Bangun! Jalan!” teriak mereka. Namun Mahmud tetap diam. Anehnya, jika diarahkan ke arah lain, gajah itu mau berjalan. Tetapi jika ke arah Ka'bah, ia berhenti lagi.
 
Tiba-tiba langit menjadi gelap. Bukan karena awan. Tetapi karena ribuan burung kecil yang terbang dari arah laut. Burung itu namanya burung ababil. Setiap burung membawa batu kecil di paruh dan kakinya. Lalu Mereka menjatuhkan batu-batu itu ke pasukan Abrahah. Batu kecil itu mengenai para tentara. Mereka panik dan berlarian. Pasukan besar itu akhirnya kalah dan hancur. Makkah dan Ka'bah pun selamat. Allah telah melindungi rumah-Nya. 

Peristiwa ini kemudian dikenal sebagai Peristiwa Tahun Gajah. Mengapa disebut begitu? Karena saat itu .ada pasukan yang membawa gajah. Yang lebih istimewa lagi, pada tahun yang sama lahirlah seorang bayi yang kelak menjadi nabi terakhir, yaitu Nabi Muhammad. 

Jadi adik-adik, jangan mengikuti kelakuan Abrahah yang sombong ya, karena Allah Maha Melihat segala apa bahkan yang tersembunyi didalam hati kita. Allah selalu melindungi kebenaran. Hal kecil pun bisa menjadi kuat jika Allah yang menolong.


-Saya pasti pulang-
Share:

Lapangan Dewa Ruci Mengori - Pemalang

Selama bulan ramadhan, saya menghindari stadion untuk berolahraga. Karena? Panas! Karena stadion ada ditengah kota dan kan dikelilingi tembok tinggi ya. Tapi karena olahraga itu wajib, maka saya ngide ke arah yang berbeda. Kali ini saya ke lapangan desa. Jaraknya sekitar 3 km dari rumahku. Saya tahu dari mana? Dari kebiasaan jalan kaki jarak jauh ketika Sabtu Minggu, saya kadang nyasar kemana gitu  -_-". Yang akhirnya saya nggak sengaja melewati lapangan yang akan saya ceritakan ini.

Namanya lapangan dewa ruci, Mengori, Pemalang. Karena lapangan, tentu tidak ada sekat dengan lingkungan sekitar. Dan masih asri. Bisa dilihat sendiri deh penampakannya. Ini adalah jam 07.30 wib tapi masih asri sekali. Lapangan ini rapi dan tidak ada sampah. Waktu musim hujan, jogging track yang tertutup pohon besar sangat licin dan itu wajar karena tidak terkena matahari. Air cepat banget keluar dari lapangan jadi tidak menggenang, yang bikin saluran air terbukti oke. 


Dan! Ketika saya ngeh namanya lapangan dewa ruci, seketika sinyal saya melihat nama lapangan-lapangan lain juga tinggi. Dan kebanyakan lapangan memang namanya lapangan dewa ruci. Jadi Siapa Dewa Ruci?

Penamaan ini umumnya merujuk pada kisah pewayangan Jawa yang sarat akan makna filosofis. Berikut adalah alasan utamanya: Simbol Perjalanan Spiritual dan Pencarian Jati Diri: Kisah Dewa Ruci (dalam lakon Bima Suci) mengisahkan perjalanan Werkudara (Bima) mencari Tirta Perwitasari (air kehidupan/ilmu sejati). Menggunakan nama ini diharapkan menjadi simbol pencarian ilmu, keberanian, dan kesempurnaan hidup. 
Dewa Ruci adalah wujud dewa kecil yang masuk ke telinga Bima, melambangkan bahwa Tuhan atau kebenaran tertinggi ada di dalam diri manusia sendiri. Jadi, penggunaan nama Dewa Ruci di tempat umum biasanya untuk mengabadikan nilai-nilai keberanian, kejujuran, dan pencarian jati diri yang terkandung dalam cerita pewayangan tersebut.

Oke kapan-kapan saya review lapangan dewa ruci yang lain. 



-Saya pasti pulang-
Share:

Bakso Cuanki

Ceritanya semalem waktu saya habis buka puasa bersama, saya nemu abang-abang cuanki di pinggir jalan. Biasanya saya jarang tertarik sama bakso cuanki, karena saya nggak suka tekstur pangsit yang udah krispi tapi dicemplungin ke air. Menurut saya, makanan kalo udah krispi ya udah makan pas krispi, jangan kerupuk dicemplungin kuah bakso, misalnya. Atau kalo itu memang harus dimakan dengan kuah ya udah makanlah dengan kuahnya, jangan malah jadi pentol (menurut saya pentol adalah bakso kuah yang tidak berkuah, ini beda dengan cilok yang memang terlahir tanpa kuah). Sebagai contoh lagi, jika dalam keadaan tidak mendesak sekali (apa keadaan mendesak itu? terlantar di hutan belantara, misalnya), maka saya bukan orang yang makan mie instant goreng jadi mie nyemek, goreng ya udah goreng tanpa kuah, kuah ya udah pake kuah, kalo mau nyemek ya beli bakmi. Makanlah makanan seperti seharusnya nggak usah kebanyakan variasi, gitu menurut saya.

Oke balik lagi ke abang-abang cuanki. Ini penampakan beliau. Saya sudah izin unggah photonya ya. Sangat rapi. Dan! Cuankinya alamak, enak betul. Ini cuanki terenak yang pernah saya makan yang akhirnya karena saking enaknya saya punya ide buat posting ini. Hihi.


Cuanki adalah jajanan khas Bandung berkuah gurih yang berisi bakso sapi/ikan, tahu, dan pangsit (goreng/kukus). Kuliner ini konon singkatan dari CARI UANG JALAN KAKI karena awalnya dijajakan keliling dengan dipikul. Cuanki disajikan panas dengan kaldu bening, seledri, bawang goreng, dan sambal, seringkali menyertakan pangsit "lidah" yang renyah. Tapi abang cuanki yang saya temui pakai sepeda. Apa kemudian ganti nama jadi Cuanda? Cari Uang Pakai Sepeda, halah.

Komponen Utama Cuanki adalah tentu Bakso. Bakso daging sapi atau ikan tenggiri. Tahu putih yang diisi adonan ikan atau ayam. Pangsit goreng atau kukus yang renyah atau lembut. Kuahnya adalah kaldu bening berbahan dasar tulang sapi atau ayam, dengan bumbu bawang putih dan merica. Diberi pelengkap Mie kuning, bihun, daun bawang, seledri, bawang goreng, kecap manis, dan sambal.

Cuanki sering ditemukan di Bandung dengan harga yang terjangkau, sering kali dianggap sebagai versi lebih ringkas dari batagor kuah atau bakso Malang





-Saya pasti pulang-
Share:

Jumat, 06 Maret 2026

Ashab Al-Fil

Ashab Al-Fil adalah kisah tentang pasukan besar yang menyerang Ka'bah di Makkah dengan gajah, tetapi dihancurkan oleh Allah sebelum mereka berhasil. Kisah ini diabadikan dalam Al-Qur’an pada Surah Al-Fil. Peristiwa ini terjadi pada tahun kelahiran Nabi Muhammad.

Pada masa itu Yaman berada di bawah kekuasaan seorang gubernur bernama Abraha. Ia membangun sebuah gereja yang sangat megah di kota Sana'a. Gereja tersebut dinamakan Al-Qullays. Tujuannya agar orang-orang Arab berhaji ke sana dan tidak lagi pergi ke Ka'bah di Mecca. Namun bangsa Arab tetap datang ke Ka'bah. Hal ini membuat Abraha marah. 

Karena marah, Abraha memutuskan menghancurkan Ka'bah agar orang-orang berhenti berziarah ke sana.Ia menyiapkan pasukan besar dari Yaman yang dilengkapi dengan gajah perang. Gajah terbesar yang memimpin pasukan itu bernama Mahmud. Pasukan ini kemudian bergerak menuju Makkah.

Ketika pasukan Abraha mendekati Makkah, penduduk kota merasa tidak mampu melawan. Pemimpin Quraisy saat itu adalah Abdul Muttalib. Beliau memerintahkan penduduk mengungsi ke pegunungan dan menyerahkan Ka'bah kepada perlindungan Allah.

Sebelum penyerangan, Abdul Muttalib datang menemui Abraha untuk meminta kembali unta-unta miliknya yang dirampas pasukan. Abraha terkejut dan berkata “Aku datang untuk menghancurkan Ka'bah, tetapi kamu hanya meminta unta?”. Abdul Muttalib menjawab “Aku pemilik unta-unta itu. Adapun Ka'bah memiliki Tuhan yang akan menjaganya.”

Ketika pasukan siap menyerang Ka'bah, gajah terbesar tidak mau berjalan menuju Makkah. Namun ketika diarahkan ke arah lain, gajah itu mau berjalan. Ini dianggap sebagai tanda bahwa Allah melindungi Ka'bah.

Allah kemudian mengirim burung-burung kecil yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai Ababil. 
Burung-burung itu membawa batu kecil dari tanah yang terbakar dan menjatuhkannya ke pasukan Abraha. Akibatnya pasukan hancur, tubuh mereka rusak, banyak yang mati. Peristiwa ini disebut dalam Surah Al-Fil.

Abraha berhasil melarikan diri, tetapi tubuhnya mengalami penyakit parah dan akhirnya meninggal dalam perjalanan kembali ke Yaman. Pasukan besar itu pun hancur total.




-Saya pasti pulang-
Share:

Bangsa Kaldan

Bangsa Kaldan adalah bangsa kuno yang hidup di wilayah Mesopotamia (Irak selatan). Mereka dikenal dalam sejarah sebagai bangsa penyembah bintang dan benda langit, serta sebagai bangsa yang memiliki ilmu astronomi dan astrologi. Wilayah utama mereka berada di sekitar kota kuno Ur, di daerah yang sekarang termasuk negara Iraq. Bangsa ini sering dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim. 

Bangsa Kaldan (Chaldeans) adalah bagian dari masyarakat Mesopotamia kuno yang berkembang sekitar 1000–500 SM. Ciri-ciri mereka adalah hidup di wilayah Babilonia, memiliki pengetahuan astronomi tinggi, mempelajari pergerakan bintang dan menyembah benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang. Karena kebiasaan ini, mereka dikenal sebagai penyembah bintang.

Menurut banyak riwayat tafsir Islam, Nabi Ibrahim lahir di tengah masyarakat yang menyembah berhala, bintang, matahari, bulan. Ayahnya sendiri disebut dalam Al-Qur’an sebagai Azar atau yang membuat patung-patung berhala.

Ketika masih muda, Nabi Ibrahim memperhatikan benda-benda langit. Kisah ini diceritakan dalam Surah Al-An'am ayat 76–79. Beliau melihat bintang lalu berkata: “Ini Tuhanku.” Tetapi ketika bintang itu tenggelam, ia berkata bahwa ia tidak menyukai yang tenggelam. Bulan juga terbenam, matahari juga terbenam. Dari situ beliau menyimpulkan Tuhan yang sebenarnya adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Nabi Ibrahim kemudian berdakwah kepada kaumnya agar meninggalkan berhala.Beliau berkata bahwa patung-patung itu tidak bisa mendengar, tidak bisa menolong, tidak bisa memberi manfaat. Namun kaumnya menolak dan marah.

Suatu hari ketika masyarakat pergi merayakan pesta, Nabi Ibrahim masuk ke tempat berhala. Beliau  menghancurkan semua berhala menyisakan berhala terbesar. Ketika mereka kembali, mereka marah dan bertanya siapa yang melakukannya. Nabi Ibrahim berkata “Tanyakan saja kepada berhala yang besar itu.”. Mereka sadar bahwa berhala tidak bisa berbicara. Kisah ini disebut dalam Surah Al-Anbiya.

Kaum Kaldan sangat marah. Mereka memutuskan untuk menghukum Nabi Ibrahim dengan membakarnya hidup-hidup. Raja yang berkuasa saat itu sering disebut dalam tafsir sebagai Nimrod.  Mereka membuat api yang sangat besar lalu melempar Nabi Ibrahim ke dalamnya. Namun Allah berfirman “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”. Api itu tidak membakar beliau sedikit pun. Kisah ini disebut dalam Surah Al-Anbiya ayat 69.

Setelah kejadian itu, Nabi Ibrahim akhirnya meninggalkan negeri tersebut dan berhijrah menuju wilayah Levant untuk melanjutkan dakwahnya.


-Saya pasti pulang-
Share:

Ashab Al-Aykah

Sebelum menceritakan tentang Ashab Al Aykah, saya buat dulu pengantarnya karena ada yang berpendapat bahwa Ashab Al Aykah sama dengan kaum madyan dan ada juga yang bilang berbeda. Banyak ulama berpendapat Madyan dan Ashab Al-Aykah kemungkinan adalah kaum yang sama, hanya berbeda cara penyebutan dalam Al-Qur’an. Dan mereka sama-sama Kaum dari nabi Syuaib. Dari hasil pencarian saya di mesin telusur, saya mendapat kesimpulan berikut adalah perbedaannya.


Terdapat dua pendapat utama di kalangan ahli tafsir mengenai hubungan kedua kaum ini. 
  1. Mereka adalah Kaum yang Sama. Banyak mufassir, termasuk Ibnu Katsir (sebagaimana dikutip dalam Tafsir Ibnu Katsrir), berpendapat bahwa Ashab al-Aykah dan Madyan adalah satu kaum yang sama. Penyebutan "Ashab al-Aykah" merujuk pada kebiasaan mereka menyembah pohon/semak belukar (Aykah), sedangkan "Madyan" adalah nama kabilah atau wilayah tempat tinggal mereka.
  2. Mereka adalah Dua Kaum yang Berbeda. Sebagian ahli tafsir, seperti Buya Hamka, berpendapat bahwa keduanya adalah entitas yang berbeda namun hidup di wilayah yang berdekatan dan sama-sama didakwahi oleh Nabi Syu'aib AS. Dalam Al-Qur'an, saat menyapa kaum Madyan, Nabi Syu'aib disebut sebagai "saudara mereka" (akhuhum) (QS. Al-A'raf: 85), namun saat menyapa Ashab al-Aykah, kata "saudara" tidak digunakan (QS. Asy-Syu'ara: 176). Hal ini dianggap sebagai isyarat bahwa Nabi Syu'aib berasal dari kabilah Madyan, tetapi bukan dari kabilah Aykah.
Oke demikian pengantarnya. 

Ashab al-Aykah adalah salah satu kaum yang disebut dalam Al-Qur’an sebagai umat yang mendustakan nabi mereka dan akhirnya dihancurkan oleh Allah. Mereka dikenal sebagai kaum yang hidup di daerah yang banyak pepohonan dan melakukan kecurangan dalam perdagangan.

Mereka disebut dalam beberapa surat Al-Qur’an, di antaranya Surah Ash-Shu'ara ayat 176–191, Surah Al-Hijr ayat 78–79, Surah Sad ayat 13. Kata “Aykah” dalam bahasa Arab berarti hutan, pepohonan yang lebat, atau kebun yang rimbun. Sehingga Ashab al-Aykah berarti “penduduk daerah yang penuh pepohonan atau hutan lebat.”

Wilayah mereka diperkirakan berada di daerah sekitar Madyan di bagian barat laut Jazirah Arab. Ashab al-Aykah adalah kaum pedagang yang tinggal di daerah hutan lebat yang menolak dakwah Nabi Shu’aib dan terkenal karena kecurangan dalam timbangan, sehingga akhirnya Allah menghancurkan mereka dengan azab besar.





-Saya pasti pulang-
Share: