Kalo penulis yang satu ini sudah tidak asing lagi ya. My Favorit! Selain puisinya Bapak Joko Pinurbo tentu, saya memfavoritkan beliau. Sejak mengeluarkan serial supernova-nya, saya selalu membeli on time tiap ada buku dari beliau yang terbit. Nggak ada yang luput. Swear! Bahkan saya pernah menang lomba menulis surat untuk beliau. Lihat di link ini kalo nggak percaya. Judul surat ini adalah SURAT INI HARUS SAMPAI. Metal-metal begini bahasa cinta saya adalah Words of Affirmation tahu. Haha!
Dewi Lestari Simangunsong, yang lebih dikenal dengan nama pena Dee Lestari, merupakan salah satu figur paling fenomenal dalam kancah sastra dan hiburan Indonesia karena kemampuannya yang luar biasa dalam menggabungkan intelektualitas, spiritualitas, dan narasi yang emosional. Lahir di Bandung pada 20 Januari 1976, ia awalnya merambah dunia publik sebagai anggota trio vokal Rida Sita Dewi (RSD) yang populer di era 90-an, namun transformasi terbesarnya terjadi pada tahun 2001 ketika ia merilis novel debutnya yang berjudul Supernova: Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh.
Novel tersebut seketika mendobrak pakem sastra Indonesia dengan menyajikan jalinan plot yang berani mencampurkan konsep sains kuantum, filsafat eksistensial, dan romansa modern dalam gaya bahasa yang sangat segar. Keberaniannya mengeksplorasi tema-tema yang tidak lazim dalam fiksi populer menjadikan Dee sebagai pionir penulis yang mampu menjembatani selera pasar luas dengan kedalaman pemikiran yang filosofis, yang kemudian berlanjut hingga seri Supernova mencapai enam volume dan menetapkan standar tinggi bagi genre fiksi kontemporer tanah air.
Perjalanan kreatif Dee Lestari tidak berhenti pada kesuksesan seri epiknya, melainkan terus berkembang melalui eksplorasi berbagai bentuk cerita, mulai dari kumpulan prosa dan cerita pendek yang legendaris seperti Filosofi Kopi dan Rectoverso sebuah proyek hibrida unik yang memadukan musik dan sastra hingga novel sejarah bertajuk Aroma Karsa yang menonjolkan riset mendalam mengenai dunia penciuman dan mitologi Jawa.
Sebagai seorang penulis, Dee dikenal dengan kedisiplinan risetnya yang sangat ketat, di mana setiap detail teknis dalam ceritanya selalu didasarkan pada fakta yang solid sebelum dibalut dengan imajinasi yang melankolis namun kuat. Selain dedikasinya di dunia literasi, ia juga tetap menjadi pencipta lagu yang ulung, melahirkan banyak hits yang dibawakan oleh penyanyi papan atas Indonesia, membuktikan bahwa dirinya adalah seorang seniman multidimensi yang sejati. Dengan segala pencapaiannya, Dee Lestari bukan sekadar seorang novelis, melainkan arsitek cerita yang telah berhasil mengubah cara pembaca Indonesia memandang hubungan antara ilmu pengetahuan, cinta, dan pencarian makna hidup yang paling dalam.
Berikut adalah daftar karya-karya utama dari Dee Lestari (Dewi Lestari)
- Ksatria, Puteri, dan Bintang Jatuh (2001)
- Akar (2002)
- Petir (2004)
- Partikel (2012)
- Gelombang (2014)
- Inteligensi Embun Pagi (2016)
- Filosofi Kopi (2006)
- Rectoverso (2008)
- Madre (2011)
- Perahu Kertas (2009)
- Aroma Karsa (2018)
- Rapijali (2021)
- Di Balik Jendela (2010)
- Rantai Tak Putus (2020)
Dibawah ini adalah cuplikan kata-kata dari salah satu novelnya mbak Dee yang akan selalu aku ingat. Karena memenangkan lomba, karena sampai saya tuliskan dalam buku harian saya saking indahnya.
Engkaulah getar pertama yang meruntuhkan gerbang tak berujungku mengenal Hidup
Engkaulah tetes embun pertama yang menyesatkan dahagaku dalam Cinta tak bermuara.
Engkaulah matahari Firdausku yang menyinari kata pertama di cakrawala aksara.
Kau hadir dengan ketiadaan. Sederhana dalam ketidakmengertian. Gerakmu tiada pasti.
Namun aku terus di sini.
Mencintaimu.
Entah kenapa.
-Saya pasti pulang-


