Lucunya kemudian
Ingatan demi ingatan naik turun
Hilang datang
Ramai, ribut, riuh, uh
Lucunya baru kemudian
Seingatku Maret tahun kemarin belum lucu
Arab:وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى النَّحْلِ أَنِ اتَّخِذِي مِنَ الْجِبَالِ بُيُوتًا وَمِنَ الشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَTerjemahan (Indonesia):“Dan Tuhanmu mewahyukan kepada lebah: Buatlah sarang-sarang di gunung-gunung, di pohon-pohon, dan di tempat-tempat yang dibuat manusia.”
Arab:ثُمَّ كُلِي مِن كُلِّ الثَّمَرَاتِ فَاسْلُكِي سُبُلَ رَبِّكِ ذُلُلًا ۚ يَخْرُجُ مِن بُطُونِهَا شَرَابٌ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَانُهُ فِيهِ شِفَاءٌ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَةً لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَTerjemahan (Indonesia):“Kemudian makanlah dari segala macam buah-buahan dan tempuhlah jalan Tuhanmu yang telah dimudahkan bagimu. Dari perutnya keluar minuman (madu) yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat bagi manusia. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran Allah) bagi orang-orang yang berpikir.”Yuk, kita dengar kisahnya!
Arab:حَتَّىٰ إِذَا أَتَوْا عَلَىٰ وَادِ النَّمْلِ قَالَتْ نَمْلَةٌ يَا أَيُّهَا النَّمْلُ ادْخُلُوا مَسَاكِنَكُمْ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمَانُ وَجُنُودُهُ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَArtinya:“Sehingga ketika mereka sampai di lembah semut, berkatalah seekor semut: ‘Wahai para semut! Masuklah ke dalam sarang-sarangmu agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan bala tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari.’”
Surah An-Naml Ayat 19
Arab:فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّن قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ أَوْزِعْنِي أَنْ أَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِي أَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلَىٰ وَالِدَيَّ وَأَنْ أَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضَاهُ وَأَدْخِلْنِي بِرَحْمَتِكَ فِي عِبَادِكَ الصَّالِحِينَArtinya:“Maka dia (Sulaiman) tersenyum lalu tertawa karena mendengar perkataan semut itu. Dia berdoa: ‘Ya Tuhanku, berilah aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat-Mu yang telah Engkau anugerahkan kepadaku dan kepada kedua orang tuaku, dan agar aku mengerjakan kebajikan yang Engkau ridhai. Dan masukkanlah aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu yang saleh.’”
Penamaan ini umumnya merujuk pada kisah pewayangan Jawa yang sarat akan makna filosofis. Berikut adalah alasan utamanya: Simbol Perjalanan Spiritual dan Pencarian Jati Diri: Kisah Dewa Ruci (dalam lakon Bima Suci) mengisahkan perjalanan Werkudara (Bima) mencari Tirta Perwitasari (air kehidupan/ilmu sejati). Menggunakan nama ini diharapkan menjadi simbol pencarian ilmu, keberanian, dan kesempurnaan hidup.
Dewa Ruci adalah wujud dewa kecil yang masuk ke telinga Bima, melambangkan bahwa Tuhan atau kebenaran tertinggi ada di dalam diri manusia sendiri. Jadi, penggunaan nama Dewa Ruci di tempat umum biasanya untuk mengabadikan nilai-nilai keberanian, kejujuran, dan pencarian jati diri yang terkandung dalam cerita pewayangan tersebut.