Senin, 16 Maret 2026

Kuda, Keledai dan Benggal



Dalam Al-Qur’an ada ayat yang menyebut kuda, bagal (benggal), dan keledai sekaligus. Hewan-hewan ini disebut sebagai nikmat Allah untuk manusia, terutama sebagai alat transportasi pada zaman dahulu.

Allah berfirman dalam Surah An‑Nahl ayat 8:

وَالْخَيْلَ وَالْبِغَالَ وَالْحَمِيرَ لِتَرْكَبُوهَا وَزِينَةً ۚ وَيَخْلُقُ مَا لَا تَعْلَمُونَ

“Dan (Dia telah menciptakan) kuda, bagal, dan keledai untuk kamu tunggangi dan menjadi perhiasan. Dan Allah menciptakan apa yang tidak kamu ketahui.”
Ayat ini menjelaskan bahwa kuda digunakan untuk kendaraan cepat dan peperangan. Bagal (benggal) adalah hasil persilangan kuda dan keledai, kuat untuk membawa beban. Keledai sering dipakai untuk mengangkut barang dan perjalanan. Pada zaman Nabi, ketiga hewan ini adalah alat transportasi utama, seperti mobil dan motor pada masa sekarang.
 
Kuda juga muncul dalam kisah Nabi Sulaiman. Allah menyebutnya dalam Surah Sad ayat 31–33. 
Surah Sad Ayat 31
اِذْ عُرِضَ عَلَيْهِ بِالْعَشِيِّ الصّٰفِنٰتُ الْجِيَادُۙ
"(Ingatlah) ketika pada suatu petang dipertunjukkan kepadanya (Nabi Sulaiman) kuda-kuda yang jinak lagi sangat cepat larinya."
Surah Sad Ayat 32
فَقَالَ اِنِّيْٓ اَحْبَبْتُ حُبَّ الْخَيْرِ عَنْ ذِكْرِ رَبِّيْۚ حَتّٰى تَوَارَتْ بِالْحِجَابِۗ
"Dia (Sulaiman) berkata, “Sesungguhnya aku menyukai kesenangan terhadap (kuda) yang baik sehingga aku melupakan (untuk mengingat) Tuhanku sampai (kuda-kuda) itu hilang dari pandangan.”
Surah Sad Ayat 33
رُدُّوْهَا عَلَيَّۗ فَطَفِقَ مَسْحًاۢ بِالسُّوْقِ وَالْاَعْنَاقِ
"(Dia berkata lagi), “Bawalah kuda-kuda itu kembali kepadaku.” Lalu, dia mengusap-usap kaki dan lehernya."

Nabi Sulaiman memiliki kuda-kuda perang yang sangat indah dan cepat. Suatu sore, beliau sedang memperhatikan dan mengagumi kuda-kuda tersebut. Namun karena terlalu lama melihatnya, beliau hampir terlambat mengingat Allah menjelang waktu ibadah. Lalu Nabi Sulaiman berkata bahwa cintanya pada kuda bukan karena dunia, tetapi karena kuda membantu perjuangan di jalan Allah.

Keledai juga muncul dalam perumpamaan yang unik. Dalam Surah Luqman ayat 19, Allah menyebut 
“Sesungguhnya suara yang paling buruk adalah suara keledai.” Maknanya bukan menghina keledai, tetapi sebagai perumpamaan agar manusia tidak berteriak-teriak atau berbicara kasar.

وَاقْصِدْ فِيْ مَشْيِكَ وَاغْضُضْ مِنْ صَوْتِكَۗ اِنَّ اَنْكَرَ الْاَصْوَاتِ لَصَوْتُ الْحَمِيْرِࣖ
"Dan sederhanakanlah dalam berjalan dan lunakkanlah suaramu. Sesungguhnya seburuk-buruk suara ialah suara keledai." 


-Saya pasti pulang-
Share:

0 komentar:

Posting Komentar