Agak kaget namun mulutku bahkan tidak menyebut apapun apalagi menyebut ayam eh ayam ayam. Temanku menyerahkan telepon genggamnya. Aku bertanya "Siapa?". Dia menjawab dengan isyarat mengangkat bahu. Tak tahu. "Katanya penting banget".
"Halo" Kataku.
"Halo" Suara diseberang sana menjawab.
Kemudian diam, hening, "sial" dalam hatiku. Aku bahkan tidak ingin mendengar suara ini lagi. Tapi bahkan tanpa menyebutkan nama sekalipun aku masih ingat suara siapa diseberang sana.
Temanku satu ruangan memperhatikan. Keheningan ini begitu busuk sampai auranya terlempar kesekitar. Seolah tahu apa yang akan aku lakukan. Suara diseberang sana memecah "Tolong jangan ditutup dulu. Tolong blokir wa ku dibuka. Aku akan telepon ke nomor kamu. Ini penting"
Aku ingat betul ketika SD, aku pernah ketemu anjing liar ketika pulang ngaji sekitar jam 20.00 wib. Tak ada manusia dewasa, jalanan sepi. Dan hal pertama dalam keadaan terdesak ternyata aku tidak lari. Dalam keadaan takut setengah mati, aku ambil batu, kemudian anjing itu pergi. Walau ketika anjing itu pergi, kemudian aku menangis sejadi-jadinya sambil jalan pulang kerumah, bahkan setelah sampai rumah.
Ketika dewasa kemudian aku sadar. Dalam keadaan takut, aku jarang menampakan ekspresi yang seharusnya, dalam keadaan terdesak hampir tidak pernah minta tolong dan secara spontan, otakku membuat keputusan melawan walaupun kemudian berakhir dengan pulang kerumah, masuk kamar dan nangis sejadinya semalaman karena rasa ketakutan yang susah dijelaskan.
Dan kali ini, mendengar suara ini, respon dasar terhadap bahaya yang aku lakukan adalah berkata :
"Tidak mau".
Telepon itu aku serahkan kembali ke temanku. Entah sudah ditutup atau belum. Aku tidak peduli. Aku hanya perlu menyelamatkan diri. Aku pulang kerumah, kali ini bukan lagi menangis sejadi-jadinya. Tapi wudhu. Najis lu!
0 komentar:
Posting Komentar