Jumat, 06 Maret 2026

Bangsa Kaldan

Bangsa Kaldan adalah bangsa kuno yang hidup di wilayah Mesopotamia (Irak selatan). Mereka dikenal dalam sejarah sebagai bangsa penyembah bintang dan benda langit, serta sebagai bangsa yang memiliki ilmu astronomi dan astrologi. Wilayah utama mereka berada di sekitar kota kuno Ur, di daerah yang sekarang termasuk negara Iraq. Bangsa ini sering dikaitkan dengan kisah Nabi Ibrahim. 

Bangsa Kaldan (Chaldeans) adalah bagian dari masyarakat Mesopotamia kuno yang berkembang sekitar 1000–500 SM. Ciri-ciri mereka adalah hidup di wilayah Babilonia, memiliki pengetahuan astronomi tinggi, mempelajari pergerakan bintang dan menyembah benda langit seperti matahari, bulan, dan bintang. Karena kebiasaan ini, mereka dikenal sebagai penyembah bintang.

Menurut banyak riwayat tafsir Islam, Nabi Ibrahim lahir di tengah masyarakat yang menyembah berhala, bintang, matahari, bulan. Ayahnya sendiri disebut dalam Al-Qur’an sebagai Azar atau yang membuat patung-patung berhala.

Ketika masih muda, Nabi Ibrahim memperhatikan benda-benda langit. Kisah ini diceritakan dalam Surah Al-An'am ayat 76–79. Beliau melihat bintang lalu berkata: “Ini Tuhanku.” Tetapi ketika bintang itu tenggelam, ia berkata bahwa ia tidak menyukai yang tenggelam. Bulan juga terbenam, matahari juga terbenam. Dari situ beliau menyimpulkan Tuhan yang sebenarnya adalah Allah yang menciptakan langit dan bumi.

Nabi Ibrahim kemudian berdakwah kepada kaumnya agar meninggalkan berhala.Beliau berkata bahwa patung-patung itu tidak bisa mendengar, tidak bisa menolong, tidak bisa memberi manfaat. Namun kaumnya menolak dan marah.

Suatu hari ketika masyarakat pergi merayakan pesta, Nabi Ibrahim masuk ke tempat berhala. Beliau  menghancurkan semua berhala menyisakan berhala terbesar. Ketika mereka kembali, mereka marah dan bertanya siapa yang melakukannya. Nabi Ibrahim berkata “Tanyakan saja kepada berhala yang besar itu.”. Mereka sadar bahwa berhala tidak bisa berbicara. Kisah ini disebut dalam Surah Al-Anbiya.

Kaum Kaldan sangat marah. Mereka memutuskan untuk menghukum Nabi Ibrahim dengan membakarnya hidup-hidup. Raja yang berkuasa saat itu sering disebut dalam tafsir sebagai Nimrod.  Mereka membuat api yang sangat besar lalu melempar Nabi Ibrahim ke dalamnya. Namun Allah berfirman “Wahai api, jadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim.”. Api itu tidak membakar beliau sedikit pun. Kisah ini disebut dalam Surah Al-Anbiya ayat 69.

Setelah kejadian itu, Nabi Ibrahim akhirnya meninggalkan negeri tersebut dan berhijrah menuju wilayah Levant untuk melanjutkan dakwahnya.


-Saya pasti pulang-
Share:

0 komentar:

Posting Komentar