Ashab Al-Ukhdud adalah sekelompok orang beriman yang dibakar hidup-hidup karena mempertahankan iman mereka kepada Allah. Kisah ini disebut dalam Al-Qur’an pada surah Al-Buruj ayat 4–10. Arti dari Ashab = para penghuni / orang-orang, Ukhdud = parit atau lubang besar di tanah. Jadi Ashab Al-Ukhdud berarti orang-orang yang dibunuh di dalam parit api.
Kisah ini terjadi di wilayah Yaman pada masa kerajaan Himyar. Raja yang berkuasa saat itu dikenal sebagai Dhu Nuwas. Ia memeluk agama Yahudi dan memaksa rakyatnya mengikuti agamanya. Di daerah Najran, banyak penduduk yang beriman kepada Allah dan menolak mengikuti perintah raja. Karena rakyat menolak meninggalkan iman mereka, raja memerintahkan Digali parit besar di tanah. Parit tersebut diisi kayu dan dinyalakan api besar. Orang-orang beriman dipaksa memilih meninggalkan iman atau dilempar ke dalam api. Banyak orang tetap beriman sehingga mereka dibakar hidup-hidup.
Dalam hadis panjang yang diriwayatkan oleh Muhammad dalam riwayat Sahih Muslim diceritakan bahwa Ada seorang ibu yang membawa bayinya. Ia ragu ketika akan dilempar ke api. Tiba-tiba bayinya berbicara : “Wahai ibu, bersabarlah. Sesungguhnya engkau berada di atas kebenaran.” Akhirnya ibu tersebut tetap teguh dan masuk ke dalam api bersama bayinya.
Dalam Surah Al-Buruj disebutkan orang yang membuat parit api dilaknat oleh Allah, mereka menyiksa orang beriman hanya karena beriman kepada Allah. Ini menunjukkan bahwa para korban dianggap sebagai syuhada (martir).
---
Tapi sebenarnya ada cerita yang lebih lengkap mengenai kenapa raja tersebut sampai melakukan hal tersebut. Berikut kisahnya.
Kisah anak kecil, rahib, dan penyihir adalah cerita yang menjelaskan awal terjadinya peristiwa Ashab Al-Ukhdud. Kisah ini diriwayatkan dalam hadis panjang oleh Nabi Muhammad dalam kitab Sahih Muslim dan berkaitan dengan ayat dalam Surah Al-Buruj.
Pada zaman dahulu ada seorang raja yang sangat zalim. Raja itu memiliki seorang penyihir tua yang biasa membantu kekuasaannya. Ketika penyihir itu sudah tua, ia berkata kepada raja “Aku sudah tua. Carilah seorang anak muda agar aku bisa mengajarkan ilmu sihir kepadanya.”. Raja kemudian memilih seorang anak laki-laki cerdas untuk belajar sihir.
Setiap hari anak itu pergi ke tempat penyihir untuk belajar. Di tengah perjalanan ia melewati seorang rahib (ahli ibadah) yang menyembah Allah. Anak itu tertarik dengan ajaran rahib dan sering duduk mendengarkan nasihatnya. Lama-kelamaan ia mulai percaya bahwa ajaran rahib adalah kebenaran dari Allah. Sihir penyihir adalah kebatilan. Karena sering berhenti di tempat rahib, ia kadang terlambat datang ke penyihir.
Suatu hari jalan menuju kota terhalang seekor binatang besar (dalam sebagian riwayat disebut singa) yang menakuti orang-orang. Anak itu berkata dalam hatinya “Hari ini aku akan tahu mana yang benar, rahib atau penyihir.” Ia mengambil batu dan berdoa “Ya Allah, jika ajaran rahib lebih Engkau cintai daripada sihir penyihir, maka bunuhlah binatang ini.” Ia melempar batu dan binatang itu mati. Orang-orang pun bisa melewati jalan itu. Anak itu sadar bahwa Allah telah menolongnya.
Setelah peristiwa itu, Allah memberi anak tersebut kemampuan untuk menyembuhkan orang buta, menyembuhkan penyakit, membantu orang dengan doa kepada Allah. Banyak orang akhirnya beriman kepada Allah melalui dirinya.
Seorang pejabat dekat raja mengalami kebutaan. Ia mendengar tentang anak tersebut lalu datang membawa banyak hadiah. Ia berkata “Jika kamu bisa menyembuhkan aku, semua ini milikmu.” Anak itu menjawab “Aku tidak menyembuhkan siapa pun. Yang menyembuhkan hanyalah Allah.” Setelah berdoa kepada Allah, orang itu sembuh dan akhirnya beriman kepada Allah.
Ketika orang yang sembuh itu kembali ke istana, raja bertanya “Siapa yang menyembuhkanmu?” Ia menjawab: “Tuhanku.”. Raja marah dan berkata “Apakah engkau punya tuhan selain aku?!”. Ia kemudian disiksa sampai akhirnya ia menyebut nama anak tersebut.
Raja menangkap anak itu dan rahib yang mengajarinya. Raja memaksa rahib meninggalkan imannya.
Rahib menolak. Akhirnya raja memerintahkan membelah tubuh rahib menjadi dua. Ia wafat sebagai syahid. Raja kemudian mencoba membunuh anak itu dengan berbagai cara. Percobaan pertama Ia dibawa ke puncak gunung untuk dijatuhkan. Anak itu berdoa “Ya Allah, selamatkan aku dari mereka.” Gunung itu berguncang dan para tentara jatuh mati, sementara anak itu selamat.
Percobaan kedua, Ia dimasukkan ke perahu untuk ditenggelamkan di laut. Anak itu kembali berdoa kepada Allah. Perahu terbalik dan tentara tenggelam, tetapi anak itu selamat. Anak itu akhirnya berkata kepada raja : “Engkau tidak akan bisa membunuhku kecuali dengan cara yang aku perintahkan.”. Ia berkata : "Kumpulkan semua orang, Ikat aku di batang pohon, Ambil anak panah dari kantongku, Ucapkan Dengan nama Allah, Tuhan anak ini., Lalu lepaskan panah."
Raja melakukan hal itu. Panah mengenai pelipis anak itu dan ia pun meninggal. Rakyat menjadi beriman. Melihat kejadian itu, rakyat berkata “Kami beriman kepada Tuhan anak ini!”. Raja panik karena rakyatnya beriman kepada Allah lalu terjadilah Ashab Al-Ukhdud.
-Saya pasti pulang-
0 komentar:
Posting Komentar