Senin, 23 Februari 2026

Tenang, Disengaja dan Cukup

Hai, saya baru saja membaca sebuah artikel berjudul "The psychology of Enough (Why Chasing more doesnt Make Us happier)" by Rebecca Bridge, PayD di Medium. 

Salah satu paragraf nya berbunyi : 
The reason we often feel unsatisfied shortly after purchasing new items lies in two main psychological phenomena: hedonic adaptation and choice overload. These mechanisms create a cycle of consumerism where the brain constantly craves more. Minimalist practices act as a "psychological intervention" that breaks this cycle, retraining the brain to find satisfaction in less. 

Iya betul. Pada tahun 2019-2020 saat covid melanda Indonesia, saya ingat betul saya baru saja berkenalan dengan bukunya Fumio Sasaki yang judulnya Goodbye things (Hidup minimalis ala orang jepang). Dan itu saya masukan kedalam salah satu buku favorit saya karena isinya yang menyelamatkan hidup saya dengan tata cara hidup minimalis yang sampai sekarang masih saya terapkan (saat saya menulis artikel ini, saya merasa hampir kembali hedon, itulah alasan saya menulis ini, untuk mengingatkan diri saya sendiri kembali ke jalan yang saya yakini benar).

Mengapa Kita Terus Menginginkan Lebih Banyak? Adaptasi Hedonis (Treadmill): Manusia cenderung cepat kembali ke tingkat kebahagiaan dasar setelah perubahan hidup yang positif atau negatif. Ketika kamu membeli mobil atau gadget baru, kegembiraan awalnya nyata, tetapi segera memudar, dan kamu terbiasa dengan standar baru yang lebih tinggi. Otak kemudian mencari "sensasi" baru, yang mengarah pada pengejaran tanpa henti untuk pembelian berikutnya.

Choice Overload (Paradoks Pilihan): Banyaknya pilihan sebenarnya membuat kita kurang puas dengan keputusan kita dan lebih rentan terhadap penyesalan. Terlalu banyak pilihan menyebabkan kelebihan beban kognitif, sehingga sulit untuk memutuskan, mengurangi kepuasan, dan mendorong kita untuk merasa bahwa kita bisa membuat pilihan yang "lebih baik".

Otak kita dirancang untuk mencari hal-hal baru dan mengumpulkan sumber daya untuk bertahan hidup, yang terkait dengan sistem dopamin. Di zaman modern, naluri ini mendorong kita untuk membeli barang-barang agar merasa istimewa atau untuk "mengikuti gaya hidup orang lain". Kita sering membeli barang untuk mengatasi stres atau untuk meningkatkan suasana hati kita sementara waktu. Namun, "terapi belanja" ini hanya memberikan kepuasan jangka pendek, seringkali menyebabkan kekacauan dan penyesalan. Pada pengalaman saya 5 tahun yang lalu, penyesalan itu muncul disertai rasa muak yang sangat. Seperti hidup tanpa isi. Ya yang penting hidup saja. Segera setelah saya kosongkan isi lemari dan rumah saya (bukan ngerampok ya :D) diri saya kembali hadir dengan sadar pada waktunya.

Interrupting Hedonic Adaptation: By voluntarily reducing the influx of new, "exciting" items, we stop the "high-low" cycle of purchasing. Minimalism teaches us to find contentment with what we have, reducing the reliance on external, material goods for happiness.

Dengan menetapkan batasan (misalnya, aturan "satu masuk, satu keluar," atau menunggu 24 jam sebelum membeli), kita melatih otak untuk memprioritaskan kepuasan jangka panjang daripada kepuasan impulsif dan instan. Ini memperkuat pengendalian diri kita dan mengurangi pengaruh dorongan konsumerisme yang didorong oleh FOMO (Fear of Missing Out). Pada intinya, minimalisme bertindak sebagai alat pelatihan ulang untuk otak, mengalihkannya dari keadaan konsumsi yang konstan dan cemas ke keadaan yang TENANG, DISENGAJA, dan CUKUP. 


-Saya pasti pulang-
Share:

0 komentar:

Posting Komentar