Ini murni pandangan saya pribadi.
Karena sekarang sering bekerja dengan gen Z, sebagai backsound bekerja otomatis musiknya juga dipengaruhi oleh musik yang kata mereka lagi mereka banget (duh ya pokoknya gitu). Iya betul, lagu bergenre hipdut. Atau hiphop dangdut. Dari yang tadinya biasa saja sampai akhirnya terngiang-ngiang dan bisa diterima dikuping seperti Eaa a nya Dia. Selain itu, ada lagu yang sebenarnya menurut saya pribadi enak juga. Lagunya Naykilla berjudul so asu. Entah bagaimana saya terus mikir, ada keinginan kuat pada diri saya untuk menentang otak agar tidak ingat lagu itu. Kalo saya bilang itu musiknya bagus, brati apanya? Iya saya persis paham itu karena judulnya dan ya pasti harus diucapkan ketika menyanyikannya, walaupun cuma dalam hati.
Saya terbuka dengan berbagai macam jenis musik. Kalo enak ya didenger kalo enggak ya nggak didenger. Segampang itu. Ketika mendengar lagu ini, saya bilang saya agak punya kesadaran untuk tidak memasukannya ke dalam playlist saya padahal saya rasa lagunya enak. Saya bertanya-tanya, kenapa? Iya betul saya tidak bisa menerima liriknya. Mulut saya tidak bisa mengucapkannya, otak saya tidak mau jika mulut saya mengucapkannya, otak saya tidak mau jika hati saya mendengungkannya, walaupun itu lagunya enak.
Mungkin, ada yang berpendapat, ya kalo enak didenger aja. Oke gapapa berpendapat. Sekali lagi di paragraph pertama, ini murni pandangan saya pribadi. Ini yang saya pikirkan tentang lagu-lagu dengan judul yang "hmm". Kemudian saya browsing dan ketemu mungkin agak melegakan karena walaupun ini pandangan saya pribadi, saya juga perlu jawaban, kenapa saya demikian?
Menurut Pierre Bourdieu, Dalam bukunya La Distinction: A Social Critique of the Judgement of Taste (1979), Pierre Bourdieu berpendapat bahwa selera (taste) bukan sekadar preferensi pribadi, melainkan alat untuk membedakan diri (distinction) dan menegaskan status sosial. Selera mencerminkan posisi kelas dan digunakan untuk mempertahankan hierarki, di mana budaya kelas atas dianggap superior dibanding budaya kelas bawah.
Berikut adalah poin-poin kunci mengenai konsep distinction Bourdieu:
- Selera sebagai Penanda Kelas: Selera estetika, gaya hidup, konsumsi barang, makanan, hingga musik digunakan untuk menunjukkan kelas sosial seseorang.
- Modal Budaya (Cultural Capital): Individu dari kelas atas menggunakan modal budaya (pengetahuan, selera, pendidikan) untuk membedakan diri dan mengesampingkan kelas yang lebih rendah.
- Habitus: kebiasaan yang tertanam sejak dini—membentuk selera individu secara tidak sadar, yang kemudian memandu pilihan konsumsi mereka.
- Dominasi Simbolik: Pilihan estetika kelas atas (misalnya apresiasi seni "tinggi") dijadikan standar universal, sementara selera kelas bawah sering dianggap "norak" atau tidak berbudaya, memperkuat ketimpangan sosial.
- Arena Pertarungan: Distinction adalah bagian dari perjuangan simbolik yang konstan di mana individu mempertahankan atau mengubah posisi mereka dalam struktur sosial.
Secara ringkas distinction adalah mekanisme di mana "selera" disalahartikan sebagai bakat alami, padahal sebenarnya merupakan produk dari lingkungan sosial yang digunakan untuk melegitimasi ketimpangan sosial dan kekuasaan.
Dalam hal saya pribadi, saya mungkin menggunakan poin nomor 3 sebagai jawaban. Habitus atau kebiasaan. Karena dalam keluarga saya bilang anjing masih oke, but asu itu kasar. Saking dianggap kasar dan tidak sopannya, saat saya dengan tidak sengaja mengucapkannya, mulut saya langsung ciuman sama sandal carvil ayah saya. Jadi sudah jelas, bukan genre lagunya, hanya liriknya saja yang saya tidak cocok.
0 komentar:
Posting Komentar