Minggu, 01 Maret 2026

Tonic Of Wildness

Tadinya saya berpikir, dalam malam-malam yang pernah dilalui, yang ditutupi karena memalukan untuk mengakui kesedihan, bahwa maha masalah sebenar-benarnya adalah pada kesunyian. Tapi ternyata kesunyian yang dialami bukan kesunyian sejati. Pikiran yang kesepian di kota yang hiruk pikuk merindukan hubungan karena menganggap hubungan manusia dengan manusia merupakan hal penting. Hingga tanpa hal tersebut hidup menjadi hampa. Lebih parah, hidup namun mati. 

Di gunung yang kebetulan hari itu tanpa pendaki, di tengah alam murni atau "Tonik rimba" (tonic of wildness) menurut istilah Henry David Thoreau merujuk pada kebutuhan mendasar manusia untuk terhubung kembali dengan alam yang liar, tidak terjamah, dan asli, guna menyegarkan jiwa, pikiran, dan tubuh dari kelelahan hidup modern yang teratur. Konsep ini disampaikan Thoreau dalam bukunya yang terkenal Walden (1854). Kesunyian kemudian berubah menjadi karakter yang berbeda. Kesunyian itu sendiri menjadi sebuah hubungan. Hubungan antara diri sendiri dan dunia. Hubungan antara dirinya dan dirinya sendiri.

Media social membuat banyak orang bertemu dengan banyak orang sesuai minatnya namun juga membuat banyak orang merasa semakin kesepian. Seolah semua orang saling membenci karena kewalahan dengan "teman yang bukan teman". Dan semudah itu menyatakan benci karena merasa aman mengakui mereka bukan teman. Mereka bukan manusia yang memiliki perasaan?

Kalian pernah dengar soal angka Dunbar? Angka Dunbar adalah teori yang dicetuskan oleh antropolog Robin Dunbar, menyatakan batas kognitif manusia untuk mempertahankan hubungan sosial yang stabil dan bermakna adalah sekitar 150 orang. Angka ini mencakup orang yang dikenal secara personal, bukan sekadar kenalan. Meskipun populer, angka ini berkisar antara 100-230 orang. Karena itulah kemudian jumlah komunitas yang bertahan (selama bukan komunitas online) biasanya berjumlah sekitar itu. Dan di media social seperti Instagram, kita bisa bertemu manusia lebih dari jumlah tersebut dalam sejam! Apa yang kalian pikirkan? Persis. Tidak sehat. Otak tidak akan tahan. Itulah sebabnya kita merindukan komunikasi tatap muka lebih dari sebelumnya. 

Dan di atas gunung seperti saat ini. Keheningan membuat saya sadar betapa banyak bunyi-bunyian ditempat lain didunia. Saya tidak mau pergi ketempat ramai. Hari-hari selanjutnya saya akan ke tempat yang lebih sepi.


-Saya pasti pulang-
Share:

0 komentar:

Posting Komentar