Selama bulan ramadhan, saya menghindari stadion untuk berolahraga. Karena? Panas! Karena stadion ada ditengah kota dan kan dikelilingi tembok tinggi ya. Tapi karena olahraga itu wajib, maka saya ngide ke arah yang berbeda. Kali ini saya ke lapangan desa. Jaraknya sekitar 3 km dari rumahku. Saya tahu dari mana? Dari kebiasaan jalan kaki jarak jauh ketika Sabtu Minggu, saya kadang nyasar kemana gitu -_-". Yang akhirnya saya nggak sengaja melewati lapangan yang akan saya ceritakan ini.
Namanya lapangan dewa ruci, Mengori, Pemalang. Karena lapangan, tentu tidak ada sekat dengan lingkungan sekitar. Dan masih asri. Bisa dilihat sendiri deh penampakannya. Ini adalah jam 07.30 wib tapi masih asri sekali. Lapangan ini rapi dan tidak ada sampah. Waktu musim hujan, jogging track yang tertutup pohon besar sangat licin dan itu wajar karena tidak terkena matahari. Air cepat banget keluar dari lapangan jadi tidak menggenang, yang bikin saluran air terbukti oke.
Dan! Ketika saya ngeh namanya lapangan dewa ruci, seketika sinyal saya melihat nama lapangan-lapangan lain juga tinggi. Dan kebanyakan lapangan memang namanya lapangan dewa ruci. Jadi Siapa Dewa Ruci?
Penamaan ini umumnya merujuk pada kisah pewayangan Jawa yang sarat akan makna filosofis. Berikut adalah alasan utamanya: Simbol Perjalanan Spiritual dan Pencarian Jati Diri: Kisah Dewa Ruci (dalam lakon Bima Suci) mengisahkan perjalanan Werkudara (Bima) mencari Tirta Perwitasari (air kehidupan/ilmu sejati). Menggunakan nama ini diharapkan menjadi simbol pencarian ilmu, keberanian, dan kesempurnaan hidup.
Dewa Ruci adalah wujud dewa kecil yang masuk ke telinga Bima, melambangkan bahwa Tuhan atau kebenaran tertinggi ada di dalam diri manusia sendiri. Jadi, penggunaan nama Dewa Ruci di tempat umum biasanya untuk mengabadikan nilai-nilai keberanian, kejujuran, dan pencarian jati diri yang terkandung dalam cerita pewayangan tersebut.
Oke kapan-kapan saya review lapangan dewa ruci yang lain.

0 komentar:
Posting Komentar