Bahasa : Indonesia
Penerbit : Mizan
Harga : 0 (Dikasih teman)
Cetakan 1 Tahun 2005
Buku ini adalah pemberian teman. Dua tahun yang lalu saat dia kasih buku ini, dia kasih catatan juga, "kamu harus baca buku ini Ki!" katanya. FYI, teman saya itu psikolog. Jadi saya pikir ini buku diberikan ke saya karena dia tahu saya suka baca dan dia punya buku baru tentang psikologi, sudah titik.
Sampai akhirnya dua tahun kemudian yaitu tahun 2026 buku ini baru saya baca ketika saya lapar sekali dengan bacaan yang ada "isinya". Buku ini terlihat kuno dilihat dari cover dan jenis kertasnya. Kertas yang dipakai masih kertas warna putih. Dengan kondisi mata saya yang silinder parah dan pterygium, agak cepat lelah saya bacanya.
Tapi namanya juga rayap buku (bukan lagi kutu), ketika sampai dihalaman 14, kemudian saya tidak bisa lagi menahan diri untuk membaca halaman-halaman berikutnya sampai selesai.
Membahas soal kematian bisa menimbulkan sebuah pemberontakan yang menyimpan kepedihan pada setiap jiwa manusia. Yaitu kesadaran dan keyakinan bahwa mati pasti akan tiba dan punahlah semua yang dicintai dan dinikmati dalam hidup ini. Kesadaran ini lalu memunculkan sebuah protes berupa penolakan bahwa masing-masing kita tidak mau mati. Setiap orang berusaha menghindari semua jalann yang mendekatkan ke pintu kematian. Jiwa kita selalu mendambakan dan membayangka keabadian. Pemberontakan dan penolakan akan kematian ini telah melahirkan dua mazhab psikologi kematian.
Mazhab pertama adalah mazhab religius, yaitu mereka yang menjadikan agama sebagai rujukan bahwa keabadian setalah mati itu ada dan untuk memperoleh kebahagiaan yang abadi, seseorang yang religisu menjadikan kehidupan akhirat sebagai obyek dan target paling tinggi. Kehidupan dunia selayaknya dinikmati, tetapi bukan tujuan akhir dari kehidupan. Apapun yang dilakukan di dunia dimaksudkan sebagai investasi kejayaan di akhirat.
Yang kedua adalah mazhab sekuler yang tidak peduli dan tidak yakin akan adanya kehidupan setelah mati. Namun secara psikologis keduanya memiliki kesamaan, yaitu spirit heorisme yang mendambakan keabadian hidup agar dirinya selalu dikenang sepanjang masa. Untuk memenuhi keinginan itu, setiap orang ingin menyumbangkan sesuatu yang besar dalam hidupnya, minimal untuk keluarganya. Maka setiap orang berusaha untuk meninggalkan warisan berupa potret diri, karya tulis, kuburan dan ada yang membuat patung besar. Ini semua secara psikologis menceritakan satu hal : Bahwa setiap orang sesungguhnya menolak kematian, ingin hidup dikenang sebagai pahlawan agar jiwanya tetap hidup.
Buku ini dikeluarkan tahun 2005, apakah ketika dibaca tahun 2026 masih relate? Ya masih, karena mau tahun kapan mati itu pasti datang. Kebetulan sampai tahun 2026 belum ada sih cara mencegah kematian datang. Ada yang mencoba kabur dari kiamat tapi kalo kabur dari kematian? kayaknya hanya ada di film drakula aja ya.

0 komentar:
Posting Komentar