Hari ini aku sinoman di tempat kakakku. Ceritanya, ponakanku menikah. Bagi yang belum familiar dengan istilah sinoman, ini adalah tradisi masyarakat Jawa ketika keluarga, tetangga, dan teman-teman saling membantu saat seseorang punya gawe atau hajatan. Ada yang memasak, menyiapkan hidangan, mengatur tamu, mencuci peralatan makan, sampai memastikan seluruh rangkaian acara berjalan lancar. Semacam kerja bakti, tetapi dengan pakaian yang lebih rapi dan kemungkinan besar pulang dengan kaki pegal.
Aku mendapat tugas mempersilakan tamu makan. Awalnya kupikir pekerjaan ini cukup sederhana. Berdiri, menyambut tamu, mempersilakan mereka mengambil makanan, lalu tersenyum secukupnya. Ternyata aku salah besar. Tugas ini rupanya lebih mirip petugas pengendalian stok barang yang harus memiliki kemampuan membaca situasi secara cepat. Nasi hampir habis? Segera menuju bagian belakang untuk meminta tambahan. Piring mulai menipis sementara antrean tamu masih panjang? Segera hubungi bagian piring dan sendok agar peralatan yang masih basah segera dikeringkan. Jangan sampai tamu sudah siap makan sementara piringnya masih sibuk dijemur. Semua harus bergerak dalam koordinasi yang cukup baik. Aku bahkan merasa seperti sedang mengelola sebuah sistem logistik berskala kecil, hanya saja kali ini tidak ada komputer, database, atau aplikasi yang bisa membantuku memantau persediaan. Semuanya mengandalkan mata, komunikasi, dan kecepatan kaki.
Kegiatan yang berlangsung dari pukul sepuluh pagi sampai dua siang itu ternyata berhasil membuat jam tanganku bergetar. Notifikasi sepuluh ribu langkah tercapai muncul di tengah kesibukan. Wkwkwk. Rupanya, ada cara lain mencapai target olahraga selain treadmill, lari, atau jalan pagi. Cukup menjadi petugas pelayanan tamu dalam sebuah hajatan keluarga. Bedanya, kali ini tidak ada playlist olahraga dan tidak ada target pace. Yang ada adalah target memastikan nasi tidak habis, piring tersedia, dan tamu tidak menunggu terlalu lama. Capek? Tentu saja. Tetapi anehnya, aku juga menikmatinya.
Di sela-sela kesibukan itu, aku bertemu beberapa teman lama yang ternyata merupakan teman kakakku. Kami berbincang sebentar, dan tertawa. Aku juga bertemu saudara-saudara yang sudah bertahun-tahun tidak kujumpai. Ada yang wajahnya masih mudah dikenali, ada pula yang perlu beberapa detik untuk menghubungkan wajah dengan ingatan. Menyenangkan rasanya menyadari bahwa di luar rutinitas rumah dan pekerjaan, ternyata ada begitu banyak orang yang masih terhubung dengan kehidupan kita. Kadang-kadang hubungan itu hanya menunggu sebuah hajatan untuk kembali mempertemukan kami.
Aku jadi berpikir bahwa sinoman bukan hanya tentang membantu seseorang menyelenggarakan acara. Ada sesuatu yang lebih besar dari sekadar pekerjaan membagikan makanan atau memastikan peralatan makan tersedia. Ada kebersamaan yang terbentuk dari pekerjaan-pekerjaan kecil yang mungkin tidak terlalu terlihat, tetapi semuanya penting. Tidak ada satu orang yang bisa mengurus semuanya sendiri. Seseorang menyiapkan makanan, seseorang mencuci piring, seseorang mengatur tamu, dan seseorang memastikan nasi selalu tersedia. Masing-masing punya peran, dan ketika semuanya bekerja bersama, sebuah hajatan bisa berjalan dengan baik. Barangkali memang seperti itulah kehidupan bermasyarakat seharusnya bekerja, tidak selalu harus menjadi orang yang paling menonjol, kadang cukup hadir, mengambil bagian, dan memastikan sesuatu berjalan sebagaimana mestinya.
Hari ini aku pulang dengan kaki lelah, badan sedikit pegal, dan pengalaman yang menyenangkan. Aku datang dengan pikiran bahwa tugasku hanya mempersilakan tamu makan, tetapi ternyata pulang membawa cerita tentang koordinasi stok nasi, piring basah, sepuluh ribu langkah, teman-teman baru, dan saudara-saudara lama yang kembali kutemui. Sebuah pengingat kecil bahwa kehidupan tidak selalu harus dicari keseruannya jauh-jauh. Kadang-kadang, keseruan itu ada di sebuah hajatan keluarga, di antara tumpukan piring, nasi yang harus segera diisi ulang, dan orang-orang yang sudah lama tidak kita jumpai.
Besok mungkin aku kembali ke rutinitas seperti biasa. Tetapi hari ini, aku senang sudah menjadi bagian kecil dari sebuah kebahagiaan keluarga. Dan untuk urusan sepuluh ribu langkah, sepertinya aku sudah menemukan metode alternatif yang cukup efektif. Tinggal menunggu undangan sinoman berikutnya. Wkwkwk.
-Saya pasti pulang-
0 komentar:
Posting Komentar