Hari ini saya merasa bangga pada diri sendiri.
Bukan karena mendapat pujian soal seberapa cepat saya bekerja, seberapa banyak yang bisa saya kerjakan, atau prestasi-prestasi semacam itu di tempat kerja. Justru karena sesuatu yang kelihatannya sederhana. Saya dianggap paling bisa untuk menolak. Wkwkkw.
Hari ini dalam rapat, atasan saya menjelaskan bahwa bidang dimana saya ditempatkan diminta bekerja sama dengan salah satu dinas. Dari pengalaman di tahun-tahun sebelumnya, ketika bekerja sama dengan dinas ini, permintaan bekerja sama ini kadang melampaui batas kewenangan yang seharusnya bidang saya kerjakan. Bidang saya jadi repot sendiri padahal pekerjaan itu bukan kewenangan di bidang saya. Karena tidak ada hubungannya dengan aplikasi, pada awal rapat saya tidak menduga atasan saya akan memilih saya sebagai perwakilan dari bidang.
Saya mengernyit. Atasan saya tahu pasti bahwa keputusan itu membuat banyak pertanyaan di kepala saya. Atasan saya memberikan alasan kenapa saya yang dipilih padahal pekerjaan ini tidak berkaitan dengan aplikasi. Dia bilang, karena saya paling bisa menolak. Jika dinas tersebut meminta untuk bekerja diluar kewenangan bidang, hanya saya yang bisa menolak dengan tegas. Wow.
Saya spontan tertawa, teman-teman yang lain mengangguk-mengangguk. Beberapa mengiyakan. Beberapa menceritakan kembali bagaimana permintaan dinas tersebut di tahun-tahun sebelumnya selalu di iyakan dan berakhir dengan kerepotan pada bidang saya. Dan entah kenapa, mendengar itu rasanya menyenangkan sekali.
Dari dulu saya memahami bahwa justru salah satu bentuk profesionalitas adalah tahu apa yang memang menjadi tanggung jawab saya, dan apa yang seharusnya dikembalikan kepada pemilik kewenangannya.
Bukan menolak untuk lepas tangan. Bukan pula karena tidak mau membantu. Tetapi karena setiap pekerjaan punya ruang, batas, tanggung jawab, dan konsekuensinya masing-masing. Dan ternyata, kemampuan mengenali batas itu juga sebuah kompetensi.
Hari ini saya pulang dengan perasaan sedikit lebih bangga kepada diri sendiri. Mungkin saya belum menjadi orang yang paling hebat. Tapi setidaknya, saya mulai menjadi seseorang yang tahu kapan harus berkata “Bisa saya bantu.” dan kapan harus berkata “Maaf, ini bukan kewenangan kami.”
Ternyata, setelah bertahun-tahun belajar menjadi orang yang bisa mengerjakan banyak hal, salah satu pencapaian yang paling membuat saya bahagia justru ketika orang lain percaya bahwa saya cukup tahu batasan.
0 komentar:
Posting Komentar