Sabtu, 03 Oktober 2026

Muka Saya Bergaris Tiga?

Di postingan sebelumnya saya menulis mengenai adidas yang menuai kecaman publik dan seruan boikot global pada September 2026 setelah melibatkan mantan tentara Israel (IDF), Shalev Biton, dalam kampanye iklan lokal untuk layanan "Single Shoe Service" di Israel.
 
Hubungannya dengan saya? Saya penyuka barang yang casual sporty. Ketika membeli sepatu kerja, misalnya, saya berpikir bahwa sepatu itu minimal harus enak dipakai jalan jauh.

Karena saya kerja di lapangan? Noooo. Kerja saya duduk 8 jam. Tapi ada saat-saat tertentu ketika saya banyak bergerak. Misalnya saat dinas luar. Biasanya sesi olahraga harian saya ganti dengan jalan-jalan pagi atau malam di tempat-tempat yang agak jauh dari hotel, tetapi saya tempuh dengan berjalan kaki. Bisa 3–5 km sekali jalan. Males kalo harus bawa sepatu double. 

Kenyamanan tetap menjadi pertimbangan saya ketika memilih sepatu. Berbagai merek sport juga pernah saya beli. Sebut saja Puma, Nike, Adidas, 910, Skechers, dan lain-lain.

Biasanya sudah saya keranjangin lama, kemudian saya checkout ketika memang sedang butuh dan kebetulan diskonnya besar. 

Nah, pernah ada kejadian, waktu melewati Sport Station, teman saya tiba-tiba nyeletuk, “Aku kalau lihat kamu tuh Adidas banget. Tiap lihat Adidas apa pun, itu kamu banget. Entah kenapa aku selalu mikir kamu yang pakai.”

Kemudian menjelang tidur, kami ngobrol lagi. Dan pembahasan itu kembali muncul ketika dia sedang scroll HP. “Lihat sepatu ini. Ini kamu banget.”

Apa sih? Muka aku bergaris tiga? Wkkwkw. Akhirnya saya minta penjelasan.

Jadi, kata teman saya, Adidas itu punya karakter desain yang khas. Casual, sporty, tetapi tetap clean. Banyak desainnya mengambil bentuk klasik atau retro, tetapi tidak terasa kuno. Sederhana, tetapi tetap punya karakter.

Bukan tipe desain yang terlalu ramai, terlalu feminin, terlalu mewah, atau terlalu berusaha kelihatan keren. Ada kesan effortless. Dipakai olahraga bisa. Dipakai jalan-jalan bisa. Dipadukan dengan outfit casual juga masuk. Dan katanya, entah kenapa, karakter seperti itu yang dia lihat pada saya.

Saya suka sesuatu yang nyaman dan fungsional, tetapi tetap enak dilihat. Tidak harus mengikuti tren. Tidak harus kelihatan mahal. Tidak harus mencolok. Apa ya kalimat yang pas. Saya suka sesuatu yang punya karakter, tetapi tidak berisik. Nah. 

Dan ternyata, itu yang menurut dia terasa “Adidas banget.” Yang lucu, justru Adidas bukan merek yang paling sering saya beli. Wkwkkw. 

Jadi kesimpulannya, saya bukan penggemar Adidas. Saya cuma berkepribadian Adidas. Dan sekarang saya jadi penasaran. Jangan-jangan teman saya sebenarnya bukan sedang mengenali selera saya. Tapi sedang mengiklankan Adidas kepada saya secara personal.

Kalau besok saya tiba-tiba beli Samba, berarti marketingnya berhasil. Wkkwkw. 



-Saya pasti pulang-
Share:

0 komentar:

Posting Komentar