Sejak SD saya selalu tidur jam 9 malam. Kata ayah saya, tidur harus jam 9. Saya tidak tahu apakah itu nasihat kesehatan atau program pembentukan karakter, tapi ternyata berhasil. Sampai umur 40 pun sistemnya masih berjalan. Jam 9 malam ngantuk. Jam 9.15 mulai tidak fokus. Jam 9.30 secara administratif masih hidup, tapi sudah tidak bisa diajak kerja sama.
Pernah suatu kali saya tidur bertiga dengan dua teman. Mereka masih ngobrol. Saya? Tidur. Bukan karena saya tidak tertarik dengan obrolannya. Memang tubuh saya punya jam kerja sendiri.
Saya juga bukan tipe orang yang bisa tidur sambil rapat. Tidak bisa tidur sambil duduk. Tidak bisa tidur sambil ngobrol. Tidak bisa “eh tadi ketiduran bentar. Apalagi tidur sambil nyetir. JELAS TIDAK.
Kalau saya bilang, “Aku mau tidur,” itu bukan kode. Itu artinya saya sudah menggelar kasur empuk, sudah rebahan, sudah pakai baju tidur, sudah set suhu AC, sudah menyiapkan posisi yang nyaman, dan semua persyaratan administratif untuk tidur sudah terpenuhi.
Saya tidak pernah ketiduran. Saya memutuskan untuk tidur. Dan sekarang saya pikir, kebiasaan ini sebenarnya lumayan baik juga. Tidur teratur, bangun pagi, badan tahu kapan harus istirahat. Cuma memang ada konsekuensinya. Ketika jam tidur saya berubah sedikit saja, maka banyak hal yang kemudian acak-acakan.
0 komentar:
Posting Komentar