Minggu, 04 Oktober 2026

Lulus, Cilok dan Ya Udah Saya Bingung Mau Ngasih Judul Apa.

Sebulan lalu saya habis ujian kompetensi. Soal-soal latihannya saya pelajari dari ChatGPT. Jadi selama beberapa waktu saya merasa sudah belajar cukup serius.

Lalu tibalah hari ujian. Ujian dimulai pukul 12.30 WIB. Saya tidak sempat makan siang. Itu kesalahan pertama. Masuk ruang ujian, mulai membaca soal. Lima menit pertama masih optimis. Lima belas menit kemudian mulai pusing. Setengah jam kemudian mulai bertanya-tanya apakah selama ini saya benar-benar belajar atau hanya rajin membuka soal. Wkwkw. 

Jam 15.45 WIB, asam lambung saya naik. Akhirnya saya keluar sebelum waktu ujian habis. Bukan karena sudah yakin semua jawabannya benar. Justru karena saya berpikir “Kalau saya baca ulang soal ini lima kali pun, kalau otak saya tidak tahu jawabannya, ya tetap tidak tahu. Kita tidak perlu mempermalukan diri sendiri lebih lama.” Wkwkwk.

Sampai perjalanan pulang naik kereta pun saya masih pesimis. Rasanya ingin menangis. Tapi bingung juga mau menangisi apa. Toh saya sudah mengerjakan semampunya.

Akhirnya saya beli cilok ayam. Ciloknya habis. Sedihnya masih. Saya ketiduran. Singkat padat, sampai rumah.

Lalu beberapa waktu kemudian pengumuman keluar. Ternyata saya lulus. Dan bukan sekadar lulus. Nilainya lumayan besar. Alhamdulillah.

Sampai sekarang saya juga tidak tahu harus mengambil hikmah apa dari kejadian ini. Apakah ini tentang jangan menyerah? Tentang percaya pada proses? Tentang tetap tenang menghadapi ujian? Entahlah.

Yang saya tahu, pada hari ujian saya sudah berusaha belajar. Saat ujian saya sudah mengerjakan sebisa saya. Saat merasa tidak sanggup, saya pulang. Saat pesimis, saya makan cilok. Saat lelah, saya tidur. Dan ternyata lulus.

Jadi untuk sementara saya tidak akan memaksakan diri mencari makna kehidupan dari semua ini. Saya sedang bahagia. Saya mau menikmati saja. Toh tidak semua kejadian harus menghasilkan kebijaksanaan. Ada juga yang cukup menghasilkan, Alhamdulillah, ternyata lulus.

Dan hari ini saya sedang menikmati kebahagiaan sederhana itu. Sambil tetap sedikit curiga pada sistem penilaian manusia. Karena kalau setelah keluar ujian dengan perasaan hancur ternyata nilainya bagus, berarti yang bermasalah mungkin bukan kemampuan saya. Mungkin memang saya saja yang dramatis.



-Saya pasti pulang-
Share:

0 komentar:

Posting Komentar