Gara-gara turun gunung sambil lari, lututku linu dan sakit bukan main. Awalnya kupikir, “Ah, paling capek biasa.” Ternyata bukan. Jalan biasa masih aman. Lancar. Bahkan kalau cuma jalan dari parkiran ke kantor, lutut masih bisa diajak kerja sama. Masalahnya muncul kalau lutut harus menanggung beban.
Squat? Linu. Naik turun tangga? Linu. Sampai kemudian harus menekan gas mobil saat macet di tanjakan. Selain linu, sakit bukan main dan mobilnya mundur!
Untung ruanganku di lantai 1. Tapi jangan salah. Untuk masuk kantor, ternyata ada 4 anak tangga menuju ruangan. Empat. ANAK. TANGGA. Yang kalau lutut sedang sehat, keberadaan mereka bahkan tidak pernah tercatat dalam sejarah hidupku.
Sekarang? Setiap pagi dan sore, empat anak tangga itu terasa seperti pendakian menuju puncak Everest. Naik satu. Tarik napas. Naik dua. Evaluasi kehidupan. Naik tiga. Mulai mempertanyakan keputusan ikut lari waktu turun gunung. Naik empat. Pengen pulang. Wkwkwk.
Karena sudah nggak tahan, akhirnya pergi ke dokter. Diagnosisnya Patellofemoral Pain Syndrome. Dokter juga memberikan salep yang mengandung diclofenac sodium untuk membantu meredakan nyeri. Dan ini bagian yang membuatku merasa seperti menemukan cheat code kehidupan. Begitu lutut mulai linu, segera oles. Beberapa saat kemudian dunia normal kembali.
Jadi sekarang aku sedang belajar bahwa ternyata usia 40 itu bukan berarti nggak boleh lari, nggak boleh naik gunung, atau nggak boleh olahraga. Boleh. Tapi mungkin tubuh mulai punya aturan baru “Boleh, tapi jangan sok jago.” Wkwkwkw.
Dan ternyata benar. Dulu empat anak tangga cuma tangga. Sekarang empat anak tangga adalah personal trainer gratis yang setiap pagi menguji mental. Semoga lutut segera pulih. Karena aku masih punya banyak rencana olahraga. Tapi untuk sementara, biarkan Everest yang di kantor itu kulewati dengan penuh kehormatan.
0 komentar:
Posting Komentar