Senin, 02 November 2026

Andai Cuti

Tadi siang saya bercakap-cakap dengan seorang teman tentang cuti. Dia bilang, mau cuti juga buat apa? Saya sampai tercengang. Rupanya tidak semua orang menganggap cuti sebagai kebutuhan yang harus dijadwalkan secara rutin. Saya sendiri cukup teratur mengambil cuti setiap bulan. Pada hari itu, telepon genggam bahkan saya matikan. Untuk menghindari pekerjaan? Itu salah satunya. Alasan lainnya lebih sederhana, saya tidak ingin menghabiskan waktu cuti dengan scrolling HP, melihat kehidupan orang lain, atau sekadar berpindah dari satu aplikasi ke aplikasi berikutnya tanpa tahu sedang mencari apa. Teman-teman kantor sudah cukup memahami kebiasaan ini. Mereka tahu kapan saya sedang tidak ingin diganggu dan, untungnya, mereka menghormatinya.

Kemudian, entah kenapa, saya iseng bertanya kepada ChatGPT. Kebetulan saya memang sering bertukar pandangan hidup dengannya, meskipun secara teknis dia tidak punya kehidupan yang bisa dijadikan bahan perbandingan. Saya bertanya, kalau saya diberi cuti tujuh hari penuh berturut-turut, kira-kira apa yang akan saya lakukan? Jawabannya membuat saya ngakak. Dia menebak dengan akurasi yang menurut saya sudah masuk kategori mencurigakan. Katanya, hari pertama saya akan menghilang dari peradaban dengan ditandai bangun sampai siang, membersihkan rumah, mengganti sprei, merapikan desktop, lalu menikmati kasur. Hari kedua merawat diri, ngopi, mungkin membeli bunga. Hari ketiga memasak sesuatu yang agak merepotkan. Hari keempat naik kereta dan pergi ke kota lain. Hari kelima bermain dengan kucing. Hari keenam berolahraga, makan enak, dan tidur siang. Hari ketujuh merapikan rumah, menyiapkan pakaian, lalu kembali menjadi ASN. Saya tertawa karena semuanya terdengar sangat mungkin terjadi. Bahkan dia menambahkan bahwa saya mungkin tidak akan terlalu sibuk membuat status tentang betapa menyenangkannya cuti, karena sedang sibuk menikmati cuti itu sendiri.

Masalahnya, saya memang manusia yang cukup terorganisasi. Di kantor ada notepad berisi daftar pekerjaan. Di rumah ada catatan di HP tentang barang yang harus dibeli dan makanan yang akan dimasak hari itu. Kalau bepergian, itinerary saya konon lebih terencana daripada perjalanan bersama pemandu wisata. Saya mulai curiga, jangan-jangan saya bukan sedang menjalani kehidupan, melainkan sedang mengelola sebuah perusahaan kecil bernama Diri Sendiri. Ada jadwal operasional, daftar kebutuhan, target harian, dan evaluasi berkala. Tinggal menunggu audit internal. 

Mungkin itu salah satu bentuk kemewahan yang sedang saya pelajari memiliki waktu sendiri tanpa merasa harus mengisinya dengan sesuatu yang luar biasa. Tidak perlu pergi jauh, tidak perlu terlihat menyenangkan, tidak perlu ada yang tahu. Cukup hidup dengan baik, dengan sopan, dan sesekali membiarkan agenda berantakan. Meskipun, jujur saja, kemungkinan besar saya tetap akan membuat checklist untuk semua itu. Tapi cuti berikutnya akan aku coba membuat 1 checklist saja, 
[ ] Menikmati hidup.
Tidak ada subtask. Tidak ada deadline. Tidak ada evaluasi kinerja.

-Saya pasti pulang-
Share:

0 komentar:

Posting Komentar