Jumat, 24 April 2026

Bertumpuk-tumpuk

Galery ini isinya langit
Banyak juga gambar kopi
Tidak sedikit photo golden hour
Dan beberapa photo sengaja dengan exposure diturunkan

Beberapa arsip chat kadang dibuka untuk dihapus
Namun berakhir dibaca lagi
Runtut dari awal sampai akhir
Meresapi gejolak emosi saat percakapan itu terjadi

Apakah penting? tergantung
Apakah membahagiakan? tergantung
Coba jawab selain tergantung kali ini!
Sedang apa sih? Menumpuk-numpuk rindu




-Saya pasti pulang-
Share:

Angka, Polaritas, dan Proporsi

Tidak tiba-tiba semuanya jadi bisa diterima. Rasional dalam satu malam. Tapi sudah membosankan. Sudah hapal, sudah bosan, sangat bosan, bosan sekali. Jika ini ujian, saat soalnya belum keluar. Saya sudah keluar, membawa semua jawaban bernilai 100. Karena pintar? Justru karena sangat bodoh dan akhirnya harus remedial berkali-kali. Pengawas ujian sudah bosan. Saya-nya belum.

Betul mungkin kata Pythagoras, Angka adalah hakikat segala sesuatu, bahwa alam semesta disusun berdasarkan prinsip matematika dan proporsi geometris, alam fisik memiliki pola tersembunyi yang dapat dijelaskan melalui angka, polaritas, dan proporsi.

Apa yang hilang? Apa yang dimiliki? Pak polisi bilang, syarat kehilangan harus memiliki. Saya kehilangan pak. Pak polisi siap mencatat. Dengan pulpen dan kertas, semacam formulir laporan. Tolong dicatat pak, saya kehilangan perasaan kehilangan. Pak polisi mencatat strip, strip, strip lagi. Sampai akhir hanya strip, mending dari pada tak ada yang dicatat. Kemudian kulihat dia ambil nafas dalam, serakah sekali pada pasokan oksigen disekitar, memang hak milik dia? Kemudian dia hembuskan nafas sisa-sisa kesabaran yang panjang. Huuuuhhhh. Seharusnya yang keluar karbondioksida sih pak, bukan sisa kesabaran.

Temanku memberi saran agar aku kuliah lagi. Pada jurusan yang menantang. Aku melirik, temanku tahu, lirikanku artinya, klasik, ide lawas, kuno, ide itu ditolak hanya dengan lirikan mataku yang besaaar seperti barongsai. Temanku yang satu memberi ide agar aku daftar jadi dosen. Aku mengernyit. Tak terbesit. Sebenarnya aku diuntungkan dengan keadaan ini, tidurku nyenyak! 

Kedua temanku kembali memotong kue dan menyeruput kopi. Seolah plafon kafe itu memberi kunci jawaban, tiba-tiba aku punya ide, 
"Bagaimana kalo aku ambil cuti panjang?"
"Mau ngapain?"
"Biasa dia cuti panjang cuma mau lari-lari"
Aku memberi isyarat serius, 
"Kalian pasti tahu"
"Apa? Mau kemana?"
"Ziarah ke makam Pythagoras"
Teman-temanku angkat tangan. Menjejalkan sedotan dari gelas kopiku, lalu menyuruhku wudhu. 



-Saya pasti pulang-
Share:

Malam Ini Tak Ada Puisi

Ada banyak poetry terserak dalam draft
Sambil menunjuk nunjuk dengan jari telunjuk
Kau bilang itu bagus
Yang itu juga bagus

Kau bingung memilih
Membaca singkat kemudian pindah ke file lain dalam sekejab
Masih menunjuk, menggumam, kadang terdengar menggerutu
Aku bingung meredakan jantungku

Maaf sayang, malam ini sepertinya tak ada puisi
Niatnya aku mau banyak-banyak mengaji
Serasa naik roller coaster, jantungku tak kuat
Melihat kau dari jarak dekat


-Saya pasti pulang-
Share:

Kamis, 23 April 2026

Konversi Desimal ke Biner

Oke kali ini kita akan mengubah bilangan desimal menjadi biner. Maka bagilah bilangan desimal tersebut dengan 2.

Contoh soal 1 : Konversikan (25) 10 ke bilangan biner.
Jawab : Buat tabel seperti pada tabel dibawah



Dari tabel tersebut, kita dapat menulis jawabannya adalah (25) 10 = (11001) 2


*MSB (Most Significant Bit) adalah bit paling kiri dalam bilangan biner dengan bobot nilai tertinggi, sedangkan LSB (Least Significant Bit) adalah bit paling kanan dengan bobot nilai terendah. MSB menentukan tanda (positif/negatif) pada komplemen dua, sementara LSB sering digunakan dalam steganografi.


Contoh soal 2 : Ubah (13) 10 ke biner
Jawab : Buat tabel seperti pada tabel dibawah









Dari tabel tersebut, kita dapat menulis jawabannya adalah (13) 10 = (1101) 2






Catatan :
  • Selalu bagi 2 terus sampai hasilnya 0
  • Catat sisa (0 atau 1)
  • Baca sisa dari bawah ke atas untuk mendapatkan hasil biner



-Saya pasti pulang-
Share:

Rabu, 22 April 2026

Tabel Konversi Bilangan

Postingan paling banyak dikunjungi di blog ini adalah cara konversi bilangan. Ada beberapa konversi bilangan seperti :
  1. Sistem Bilangan Biner ke Desimal
  2. Sistem Bilangan Biner ke Oktal 
  3. Sistem Bilangan Biner ke Heksadesimal
  4. Sistem Bilangan Desimal ke Biner
  5. Sistem Bilangan Desimal ke Heksadesimal
  6. Sistem Bilangan Desimal ke Oktal
  7. Sistem Bilangan Oktal ke Desimal
  8. Sistem Bilangan Oktal ke Biner
  9. Sistem Bilangan Oktal ke Heksadesimal
  10. Sistem Bilangan Heksadesimal ke Desimal
Baru ada 2 yang saya tulis di tahun 2012. Karena sudah dijelaskan dengan detail cara hitung yang benar, maka ini saya sediakan tabelnya langsung. Tapi kalian juga harus tahu cara hitungnya ya. Jadi tanpa tabel ini sekalipun kalian bisa hitung. Nanti saya buatkan di postingan lain untuk 4 cara konversi lainnya. 


Bilangan Biner

Bilangan OktalBilangan Desimal

Bilangan Heksadesimal

0000

00

0

0001

11

1

0010

22

2

0011

33

3

0100

44

4

0101

55

5

0110

66

6

0111

77

7

1000

108

8

1001

119

9

1010

1210

A

1011

1311

B

1100

1412

C

1101

1513

D

1110

1614

E

1111

1715

F



-Saya pasti pulang-
Share:

Selasa, 21 April 2026

Kartini dan Feminisme di Indonesia

Raden Ajeng Kartini merupakan tokoh penting dalam sejarah lahirnya kesadaran feminisme di Indonesia, khususnya pada akhir abad ke-19 hingga awal abad ke-20 di masa penjajahan Belanda. Lahir pada tahun 1879 di Jepara, Kartini berasal dari keluarga priyayi Jawa yang memberinya akses terhadap pendidikan dasar, sesuatu yang sangat langka bagi perempuan pribumi saat itu. 

Namun, setelah usia tertentu, ia harus menjalani tradisi pingitan yang membatasi kebebasannya, termasuk untuk melanjutkan pendidikan. Dalam keterbatasan tersebut, Kartini tidak berhenti belajar; ia aktif membaca buku dan menjalin korespondensi dengan sahabat-sahabatnya di Eropa. Melalui surat-suratnya, yang kemudian dibukukan dalam karya terkenal Habis Gelap Terbitlah Terang, Kartini mengkritik kuat sistem sosial yang menindas perempuan, seperti praktik pernikahan paksa, poligami, dan pembatasan akses pendidikan. Pemikirannya mencerminkan semangat awal feminisme, yakni perjuangan untuk kesetaraan hak antara laki-laki dan perempuan, terutama dalam bidang pendidikan dan kebebasan berpikir. 

Gagasan Kartini kemudian menjadi inspirasi besar bagi gerakan perempuan di Indonesia pada masa berikutnya, termasuk lahirnya organisasi-organisasi perempuan pada era pergerakan nasional. Meskipun istilah “feminisme” belum populer di kalangan masyarakat Indonesia saat itu, nilai-nilai yang diperjuangkan Kartini sejalan dengan prinsip feminisme modern, yaitu keadilan, kesetaraan, dan pemberdayaan perempuan. Hingga kini, warisan pemikirannya terus dikenang dan diperingati setiap tanggal 21 April sebagai Hari Kartini, yang tidak hanya menjadi simbol penghormatan terhadap dirinya, tetapi juga momentum refleksi atas perjuangan panjang perempuan Indonesia dalam meraih hak dan kesetaraan di Indonesia.

Pernah ke Jepara? Saya pernah, 2x. Dan di kunjungan kedua, saya menuliskan museum kartini sebagai destinasi wajib. Jepara merupakan kota pesisir di Jawa Tengah yang dikenal sebagai tempat lahir Raden Ajeng Kartini pada 21 April 1879. Lingkungan Jepara pada masa itu tidak hanya menjadi pusat pemerintahan lokal, tetapi juga wilayah yang terbuka terhadap interaksi budaya karena letaknya di jalur perdagangan pesisir utara Jawa. Kondisi ini turut memengaruhi cara pandang Kartini yang sejak kecil sudah bersentuhan dengan berbagai pemikiran, termasuk dari dunia Barat. Jepara juga dikenal sebagai kota ukir dengan tradisi seni dan kerajinan yang kuat, mencerminkan kekayaan budaya lokal yang turut membentuk karakter masyarakatnya. 

Di tengah lingkungan sosial yang masih kental dengan adat Jawa, termasuk tradisi pingitan bagi perempuan bangsawan, Kartini tumbuh dengan kesadaran akan pentingnya pendidikan dan kebebasan berpikir. Hingga kini, Jepara tidak hanya dikenang sebagai kota kelahiran Kartini, tetapi juga sebagai simbol awal tumbuhnya semangat emansipasi perempuan di Indonesia, dengan berbagai situs sejarah dan peringatan yang terus menjaga warisan perjuangannya.

Selamat Hari Kartini untuk seluruh manusia Indonesia baik laki-laki maupun perempuan. Bukan hanya dengan memakai kebaya. Tapi hati kita hari ini kita mengenang perjuangan Raden Ajeng Kartini yang telah membuka jalan bagi perempuan Indonesia untuk bermimpi lebih tinggi, belajar lebih luas, dan berani menentukan masa depannya sendiri. Sebagai perempuan Indonesia, kita adalah simbol kekuatan, keteguhan, dan kelembutan yang berpadu menjadi satu. Dari rumah hingga ruang publik, dari tradisi hingga inovasi, kita terus melangkah membawa perubahan dan harapan ke arah yang baik. Mari kita lanjutkan semangat Hari Kartini dengan terus berkarya, saling menguatkan, dan percaya bahwa suara serta langkah kita berarti bagi bangsa ini.


-Saya pasti pulang-
Share:

Senin, 20 April 2026

Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari

Tulisan ini terinspirasi dari buku What I Talk About When I Talk About Running milik Haruki Murakami. Tulisan saya bukan Apa yang Saya Bicarakan Saat Saya Berbicara Tentang Lari melainkan Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari.

Pada dasarnya saya tidak suka berkompetisi. Jiwa kompetisi saya dari 10 sepertinya 0. Dalam hal apa? Apapun. Satu-satunya yang bisa membuat saya berkompetisi adalah diri saya sendiri melawan diri saya sendiri untuk memenangkan diri saya sendiri. Tapi apakah kemudian saya menjadi orang yang kolaboratif? Mudah diajak kerja sama? TIDAK. Saya lebih suka melakukan segala sesuatu sendiri. Maka ketika saya mulai berlari di tahun 2017, motivasi saya bukan untuk mendapatkan medali, bukan untuk menang perlombaan, bukan untuk suatu hal yang kaitannya memenangkan sesuatu, apapun itu. 100% karena saya butuh berolahraga untuk menyalurkan dorongan dalam diri saya yang ingin bergerak, tapi tidak suka keramaian. 

Sejak kapan saya lari? Sejak tahun 2017. Pada tahun itu belum musim klub lari di kota saya, belum semusim sekarang yang semua orang mengenal apa itu pace, belum seperti sekarang dimana banyak sekali ajang lomba lari yang dapat medali. 

Pernah ingin dapat medali? Pernah. Tapi nggak pernah saya realisasikan. Untuk ikut lomba kira-kira harus mengeluarkan biaya 200.000 rupiah per orang. Nantinya akan dapat jersey, produk sponsor, dan photo-photo kekinian. Saya tidak mau mengeluarkan uang 200.000 untuk mendapatkan jersey dengan produk sponsor yang tertempel dijersey yang saya bayar. Kalo mau, saya dong yang dibayar karena pakai jersey dengan produk sponsor itu. Wkwkw. Intinya, 200.000 rupiah kalo ditambahkan 2.400.000 bisa dapat smart watch yang saya dengan sangat suka rela beli, tapi kalo 200.000 dapat jersey yang ditempelin produk sponsor saya nggak mau. Bingung kan? Nggak usah bingung, saya rela beli ayam McD sesuai harga pada umumnya, kemudian karena jumlah pesanan saya agak banyak, saya diberi stiker yang kalo ditempel dimobil saya, lain kali kalo saya beli ayamnya McD lagi saya dapat harga lebih murah dari harga normal dengan tanda stiker McD itu. Apakah kemudian saya mau pasang stiker itu? TIDAK. Saya tidak ingin dilabeli. Kecuali, saya duluan yang ingin label itu.

Pertama kali lari apa yang dipikirkan? Waktu pertanyaan ini dilontarkan teman saya yang belum terbiasa lari, saya tersenyum. Karena itu adalah hal yang paling ribet yang pernah saya pikirkan sebelum lari. Saya takut ketemu orang. Apalagi orang yang dikenal. Wkwkw. Sebelum itu terjadi, otak saya sudah buat skenario yang menakut-nakuti diri saya sendiri. Gimana kalo begini, gimana kalo begitu. Tapi saya tetap lari. Sampai hari ini. Dan hari ini pikiran itu tidak ada lagi. Diri saya yang takut kalah dengan diri saya yang mau nggak mau butuh lari untuk mengeluarkan energi. Saya memang menghindari keramaian ketika membuat rute berlari. Tapi bukan lagi untuk menghindari orang yang dikenal. 

Saya ingat pertama kali lari saya kurang pemanasan. Hasilnya? Ya karena saya nggak sakti-sakti amat akhirnya saya cidera, wkkwwk. Setelah itu saya berusaha cari-cari tahu tentang bagaimana teknik lari yang benar, pemanasan itu bagaimana, makanan apa saja yang boleh dan tidak boleh dimakan sebelum lari. Dan saya pakai pelatih! Iya betul, di tahun 2018 akhirnya saya memutuskan memakai pelatih. Bukan supaya jadi atlit, tapi untuk bisa berlari dengan benar, tanpa cidera. Karena sepertinya saya sudah sangat jatuh cinta dengan olahraga ini. 

Selama menekuni hobi saya ini, beberapa kali saya mengalami cidera sekalipun sudah terbiasa. Ini paling sering, entah sudah ke berapa kali saya mengalami runner's toe (disebabkan oleh trauma berulang berupa pendarahan di bawah kuku (hematoma subungual) akibat gesekan kuku dengan sepatu saat berlari), runner's knee sekali karena selama 30 hari saya lari tiap pagi tanpa istirahat sehari pun, plantar fasciitis (nyeri tumit) 1 kali tapi dua minggu nggak hilang karena half marathon. Saya juga pernah kesrempet mobil saat lari. Kalo dikejar orang gila termasuk cidera nggak? Karena ini juga pernah. Wkwk.

Apakah kaki menjadi besar setelah berlari? Sejak lahir, ibu saya menurunkan kaki yang memang sudah besar. Jadi kalo maksudnya berotot, iya. Tapi kalo kaki kamu ramping kemudian lari jadi besar, sepertinya tidak. 

Jika kamu mau mulai lari, selain pemanasan, musik yang kamu sukai akan sangat membantu. Apalagi kalo tempo nya agak cepat. Tapi, disesuaikan dengan kesukaan saja. Ini tips. 

Apa Yang Saya Pikirkan Ketika Saya Lari? Mengutip dari tulisan milik Haruki Murakami. Seperti yang sudah dijelaskan sebelumnya, baik dalam kehidupan sehari-hari maupun dalam ranah pekerjaan, berkompetisi dengan orang lain bukanlah cara hidup yang kucari. Jika saya pernah menang lomba menulis, atau rangking 1 saat diklat penanganan insiden kebocoran akses data dikantor atau menjadi ketua tim untuk suatu proyek pekerjaan, maka itu bukan karena saya niat berkompetisi, swear! Wkwkw. Pokoknya saya jadi diri sendiri sajalah tahu-tahu menjadi ini itu. 

Manusia memiliki nilai di dalam diri mereka dan cara hidup masing-masing, begitu juga aku. Perbedaan kadang menimbulkan ketidak setujuan dan kombinasi berbagai ketidaksetujuan itu bahkan dapat menimbulkan kesalahpahaman yang lebih luas. Hasilnya, terkadang saya harus menerima kritik yang tak beralasan. Tentu saja tidak menyenangkan jika disalahpahami atau dikritik orang lain. Hal itu merupakan pengalaman yang menyakitkan dan kadang membuat hati sangat terluka.

Akan tetapi, seiring bertambahnya usia, sedikit demi sedikit aku memahami bahwa kepedihan ataupun sakit hati merupakan hal yang diperlukan dalam hidup. Fakta bahwa manusia dapat menciptakan diri mereka sendiri sebagai makhluk individu yang mandiri karena setiap orang berbeda satu sama lain, jika dipikirkan oleh otakku adalah hal itu tepat. Dan jika diotakmu tidak tepat, ya tidak apa-apa. 

Ambillah contoh, aku yang terbiasa bekerja dengan kode pemrograman, menulis buku ketika dirumah, bukan di pelayanan, bukan bertemu langsung dengan manusia, maka ketika ada kesalahan pada aplikasi, aku akan lebih cepat bisa menyelesaikan masalah tersebut ketimbang orang lain yang berbeda bidang dengan aku. Jika ada detail bahasa yang kurang tepat, aku akan lebih ngeh ketimbang orang lain yang tidak hobi membaca apalagi menulis buku. Tapi kemudian aku tidak terlalu pintar membuka percakapan dengan orang asing sekalipun itu dengan anak kecil, berbeda dengan temanku yang suka bersosialisasi dengan banyak orang. Dan aku tetap menjalani hidupku yang berbeda itu dengan baik. Tidak apa kan? Fakta bahwa aku bisa dengan tenang menjalani diri sebagai aku tanpa pernah menjadi orang yang "tidak enakan" karena tidak sama dengan orang lain adalah ASET terbesarku. Perkara sakit hati adalah harga yang harus dibayar untuk menjadi mandiri dan menjadi diri sendiri di dunia ini.

Pada saat aku dikritik tanpa alasan atau ketika seseorang yang aku yakin memahamiku ternyata tidak, aku akan berlari lebih lama. Dengan berlari lebih lama dari biasanya, aku dapat menggunakan energi fisik untuk menghilangkan bagian yang menyakitkan itu. Berlari juga membuatku mampu mengurai kebuntuan. Aku tidak pernah berfikir bahwa sifatku akan disukai orang lain. Sebaliknya, kupikir dengan keteguhan hati tetap menjadi diri sendiri, aku akan menjadi orang yang tidak disukai dan itu dimataku justru lebih terlihat alami dari pada mendengarkan orang lain berbaik-baik padaku yang ujung-ujungnya ternyata cuma memanfaatkan minta tolong yang kemudian di lain waktu ketika manfaat sudah didapat, dia akan act like a stranger bukan mengulurkan pertemanan yang tulus. Tapi bukan berarti aku suka dibenci ya, itu hal lain. 

Kadang-kadang ketika saya berlari, saya juga melihat langit yang indah, sawah yang hijau, kucing gendut yang lucu. Tapi sebenarnya itu hanya pemandangan sekelebat, aku tidak terlalu memikirkan hal-hal yang saya lihat itu. Sekalipun kadang saya photo, yang aku butuhkan hanya terus berlari dalam ruang hampaku yang sangat nyaman ditemani lagu-lagu favorit. Bagiku hal seperti itu sudah sangat menakjubkan. TIDAK PEDULI APA KATA ORANG, tidak peduli gebrakan apa yang orang lain lakukan. :)

-Saya pasti pulang-
Share: