Tidak tiba-tiba semuanya jadi bisa diterima. Rasional dalam satu malam. Tapi sudah membosankan. Sudah hapal, sudah bosan, sangat bosan, bosan sekali. Jika ini ujian, saat soalnya belum keluar. Saya sudah keluar, membawa semua jawaban bernilai 100. Karena pintar? Justru karena sangat bodoh dan akhirnya harus remedial berkali-kali. Pengawas ujian sudah bosan. Saya-nya belum.
Betul mungkin kata Pythagoras, Angka adalah hakikat segala sesuatu, bahwa alam semesta disusun berdasarkan prinsip matematika dan proporsi geometris, alam fisik memiliki pola tersembunyi yang dapat dijelaskan melalui angka, polaritas, dan proporsi.
Apa yang hilang? Apa yang dimiliki? Pak polisi bilang, syarat kehilangan harus memiliki. Saya kehilangan pak. Pak polisi siap mencatat. Dengan pulpen dan kertas, semacam formulir laporan. Tolong dicatat pak, saya kehilangan perasaan kehilangan. Pak polisi mencatat strip, strip, strip lagi. Sampai akhir hanya strip, mending dari pada tak ada yang dicatat. Kemudian kulihat dia ambil nafas dalam, serakah sekali pada pasokan oksigen disekitar, memang hak milik dia? Kemudian dia hembuskan nafas sisa-sisa kesabaran yang panjang. Huuuuhhhh. Seharusnya yang keluar karbondioksida sih pak, bukan sisa kesabaran.
Temanku memberi saran agar aku kuliah lagi. Pada jurusan yang menantang. Aku melirik, temanku tahu, lirikanku artinya, klasik, ide lawas, kuno, ide itu ditolak hanya dengan lirikan mataku yang besaaar seperti barongsai. Temanku yang satu memberi ide agar aku daftar jadi dosen. Aku mengernyit. Tak terbesit. Sebenarnya aku diuntungkan dengan keadaan ini, tidurku nyenyak!
Kedua temanku kembali memotong kue dan menyeruput kopi. Seolah plafon kafe itu memberi kunci jawaban, tiba-tiba aku punya ide,
"Bagaimana kalo aku ambil cuti panjang?"
"Mau ngapain?"
"Biasa dia cuti panjang cuma mau lari-lari"
Aku memberi isyarat serius,
"Kalian pasti tahu"
"Apa? Mau kemana?"
"Ziarah ke makam Pythagoras"
Teman-temanku angkat tangan. Menjejalkan sedotan dari gelas kopiku, lalu menyuruhku wudhu.
0 komentar:
Posting Komentar