Kamis, 15 Oktober 2026

Dua Keping Citato


Kemarin aku membeli Citato, lalu menyisakan sekitar dua keping. Karena buru-buru pulang, aku lupa membuangnya ke tempat sampah yg sebelumnya sudah aku cari-cari ternyata sedang dibuang oleh OBku. Kemudian bungkusnya cuma kutaruh begitu saja di meja kantor. Tidak terpikir untuk melakukan apa-apa karena, ya, cuma dua keping Citato. Mau dimakan besok juga paling sudah melempem. Ternyata pagi ini aku menemukan sesuatu yang membuat hatiku mendadak lembek, padahal yang seharusnya lembek itu Citato kalau tidak diselamatkan. Bungkus Citato-ku ternyata sudah distaples oleh OB kantor supaya keripiknya tidak melempem.

Coba bayangkan, seseorang melihat sisa camilan di meja, lalu berinisiatif menutupnya kembali dengan stapler. Tidak ada yang menyuruh. Tidak ada yang meminta. Tidak ada pula keuntungan material yang akan diperoleh dari menyelamatkan dua keping Citato milik orang lain. Bahkan kalau keripiknya melempem pun, mungkin tidak akan ada rapat evaluasi khusus untuk membahas kerugian negara akibat hilangnya kerenyahan dua keping kentang berbumbu. Namun, beliau tetap melakukannya.

Aku tidak tahu apakah beliau memang terbiasa merapikan barang yang ditinggalkan orang lain atau sekadar tidak tega melihat bungkus makanan terbuka. Aku juga tidak tahu apakah beliau sadar bahwa tindakan sekecil itu bisa membuat seseorang terharu pada pagi hari. Yang jelas, aku merasa diperhatikan melalui sesuatu yang bahkan tidak pernah kuminta. Bukan karena Citato-nya mahal, bukan pula karena dua keping keripik itu begitu berharga. Justru karena tidak ada alasan besar untuk melakukannya, tetapi seseorang tetap melakukannya.

Mungkin beginilah bentuk kebaikan yang sering luput dari perhatian kita. Tidak selalu berupa pertolongan besar, nasihat bijak, atau pengorbanan dramatis yang pantas dijadikan adegan film dengan musik latar menyedihkan. Kadang kebaikan hanya berupa bungkus makanan yang ditutup kembali, barang yang dirapikan, atau sesuatu yang dijaga agar tetap baik meskipun bukan milik sendiri. Pelakunya mungkin sudah lupa lima menit kemudian, sementara penerimanya malah sibuk memikirkan kejadian itu sambil menahan haru.

Terima kasih, atas penyelamatan aset pangan pribadi ini. Semoga kebaikan kecil yang dilakukan tanpa banyak pikir itu kembali kepada beliau dalam bentuk yang menyenangkan. Dan semoga aku juga tidak terlalu sibuk mengejar hal-hal besar sampai lupa bahwa dunia bisa terasa lebih hangat hanya karena seseorang mau peduli pada hal yang kelihatannya sepele.

Hari ini aku belajar bahwa perhatian tidak selalu perlu diumumkan, dan kebaikan tidak harus menunggu sesuatu yang besar untuk dilakukan. Kadang cukup dua keping Citato, satu stapler, dan seseorang yang punya inisiatif sederhana.

-Saya pasti pulang-
Share:

0 komentar:

Posting Komentar