Hari ini aku berangkat ke kantor naik sepeda. Jarak rumah ke kantor sekitar 3,5 km. Kok tahu? Kalo kamu nanya kenapa saya tahu jarak dengan detail tanpa buka map tanpa pakai skala peta, artinya kamu nggak deket-deket banget sama saya. Idih, paragraf pertama udah pick me banget emang saya. Wkwkkw.
Dari rumah ke kantor, kalau jalan kaki 30–40 menit. Naik motor 7 menit. Naik mobil 12 menit. Naik sepeda ternyata 20 menit saat berangkat dan 34 menit saat pulang.
Ngapain dihitung? Ya nggak tahu. Otak saya memang suka begitu. Hal-hal random bisa tiba-tiba dianggap penting dan dicatat dengan sangat serius. Jarak. Waktu tempuh. Perbandingan. Selisih. Pola.
Kenapa waktu tempuh yang diperlukan ketika berkendara dengan sepeda saat pulang lebih lama 14 menit daripada berangkat? Menarik. Tapi nama orang? Bisa hilang dalam hitungan detik. Dan ini bukan teori.
Saya pernah dimarahi seorang pejabat gara-gara saya tidak tahu nama beliau. “Masak kamu nggak tahu nama saya?”. Dalam hati saya bilang, sumpah, enggak tahu. Kenapa saya harus tahu?
Bukan karena saya meremehkan beliau. Bukan karena saya merasa beliau tidak penting. Memang otak saya tidak otomatis menyimpan nama orang hanya karena orang tersebut pejabat. Faktanya, saya sebenarnya bisa ingat detail lain.
Saya bisa ingat orang itu datang kapan, duduk di mana, pakai baju apa, ngomong soal apa, bahkan mungkin ingat urutan percakapannya. Tapi namanya? Hilang.
Seolah-olah otak saya punya sistem penyimpanan yang agak aneh. Informasi yang punya pola disimpan. Angka dan waktu disimpan. Hal random yang sebenarnya tidak berguna, simpan dulu siapa tahu berguna. Nama manusia yang baru saja memperkenalkan diri, kita putuskan nanti.
Makanya kadang orang mengira saya sombong. Padahal saya bukan tidak memperhatikan orang. Saya justru sering memperhatikan terlalu banyak hal. Hanya saja perhatian saya tidak selalu diarahkan ke hal yang dianggap penting oleh orang lain.
Buat saya, “Desi” itu cuma nama. Tapi kalau bilang, Desi yang kemarin datang jam 9, pakai blouse lurik, duduk dekat printer, terus ngomong soal pagu TPPnya tidak keluar.
Otak saya, ohhh Desi Ratnasari. Datanya langsung ketemu. Jadi kalau suatu hari saya lupa nama kamu, mohon jangan tersinggung. Bisa jadi saya masih ingat banyak hal tentang kamu.
Hanya saja nama kamu tidak lolos sistem seleksi internal. Bukan sombong. Ini sistem informasinya memang kacau.